Disukai
0
Dilihat
3
Cemburu
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

(Cerpen ini lanjutan langsung dari Cerpen berjudul "Perjalanan Singkat Satu Gerbong Bersamamu") 

Jakarta. Senin pagi. Ibukota menyambutku kembali dengan polusi udara yang pekat, klakson yang bersahutan, dan realita yang menampar pipi kiri kanan. Seminggu yang lalu, di Stasiun Cirebon, aku adalah Aryo The Savior. Pahlawan penyelamat balita. Pria yang membuat Devi, bidadari kantor Divisi Akunting, terkagum-kagum. Hari ini? Aku kembali menjadi Aryo The Cleaning Service.

Seragam OB warna biru muda ini terasa lebih berat dari biasanya. Kain pel di tanganku terasa seperti tongkat hukuman. Aku mengepel lantai lobi dengan gerakan slow motion, membayangkan lantai ini adalah wajah nasibku yang suram.

Tapi, ada satu hal yang membuat semangatku tetap menyala setara api las karbit: Notifikasi WhatsApp. Tadi malam, Devi mengirim pesan. "Yo, besok pagi ke kubikel aku ya. Ambil tas sama kamera kamu. Aku bawain sekalian oleh-oleh dari Surabaya."

Jantungku berdegup kencang. Ini bukan sekadar ambil kamera. Ini adalah Momen Pertemuan Kembali. Aku sudah menyisir rambutku dengan pomade sisa kondangan, menyemprotkan parfum refill aroma "Blue Ocean" (yang baunya lebih mirip sabun cuci piring), dan menyiapkan senyum terbaikku.

"Oke Aryo. Fokus. Ambil kamera, bilang makasih, tatap matanya selama 3 detik (jangan lebih nanti dikira hipnotis), lalu ajak makan siang di kantin basemen," gumamku menyemangati diri sendiri di depan cermin toilet.

Aku keluar dari toilet dengan langkah tegap. Aku berjalan menuju lobi untuk mengganti galon dispenser tamu yang sudah kosong, sekalian modus lewat depan area lift dimana Devi biasanya lewat.

Dan di sanalah... kiamat kecil itu terjadi.

 

Di dekat pintu kaca lobi utama, aku melihat Devi. Dia terlihat cantik sekali hari ini. Memakai blouse warna cream dan rok span hitam. Rambutnya digerai indah. Tapi Devi tidak sendirian.

Di depannya, berdiri sesosok makhluk Tuhan yang sepertinya dicetak menggunakan printer 3D kualitas premium. Seorang pria. Tinggi: Sekitar 180 cm (aku cuma 168 cm kalau jinjit). Kulit: Putih bersih, pori-porinya sepertinya sudah diusir secara paksa. Wajah: Tampan. Gabungan antara aktor Korea dan model majalah pria dewasa. Pakaian: Kemeja slim fit yang dimasukkan rapi, celana bahan yang potongannya sempurna, dan sepatu pantofel yang kilapnya bisa buat ngaca.

Duniaku berhenti berputar. Siapa dia? Klien? Bos baru? Malaikat pencabut nyawa?

Lalu, gerakan itu terjadi. Pria itu menunduk sedikit sambil tersenyum manja. Devi... Mbak Devi-ku... mengeluarkan selembar tisu dari tasnya. Dengan gerakan lembut penuh kasih sayang, Devi mengelap keringat di dahi pria itu. Lalu turun mengelap pipinya. Lalu merapikan kerah baju pria itu.

KRAK. Itu bukan suara ranting patah. Itu suara hatiku yang terbelah dua simetris.

Aku membeku di balik pilar besar, memeluk galon kosong erat-erat seolah galon itu adalah satu-satunya pegangan hidupku.

"Hati-hati ya," suara Devi terdengar samar tapi jelas di telingaku yang mendadak tajam setara radar kapal selam. "Jangan lupa makan siang lho. Nanti sakit maag-nya kambuh."

Pria itu mengangguk, lalu mengacak-acak rambut Devi pelan (tindakan yang HARAM hukumnya dilakukan kecuali hubungan mereka sudah level Dewa). "Siap. Semangat kerjanya ya!,"

Pria itu berjalan keluar gedung dengan langkah gagah. Bau parfumnya tertinggal di udara—wangi kayu cendana mahal yang langsung membunuh aroma parfum refill "Blue Ocean"-ku.

Devi melambaikan tangan, lalu berbalik badan menuju lift. Dia melihatku yang sedang berdiri mematung memeluk galon.

"Eh, Aryo! Pagi!" sapa Devi ceria. Senyumnya merekah lebar.

Aku menatap senyum itu. Dulu, senyum itu adalah matahari bagiku. Sekarang, senyum itu terasa seperti ledekan. Senyum palsu. Senyum yang menyembunyikan fakta bahwa dia sudah punya Pangeran K-Pop dan aku hanyalah butiran debu di kolong meja.

Lidahku kelu. Tenggorokanku tercekat seolah menelan biji kedondong utuh. "Pagi... Mbak," jawabku. Suaraku datar. Dingin. Mati.

"Nanti ke meja aku ya? Ambil kamera?" tanya Devi, tidak menyadari perubahan auraku yang sudah menggelap setara langit mendung.

"Ya... Oke Mbak. Nanti," jawabku singkat, lalu buru-buru berbalik badan, menyeret galon kosong itu dengan perasaan hancur lebur.

 

Hari itu, dan hari-hari berikutnya, hidupku berubah menjadi video klip lagu galau tahun 2000-an. Warnanya sepia, slow motion, dan penuh air mata.

Senin Siang: Aku mengambil kamera di meja Devi. Devi menyambutku antusias. "Yo! Ini kameranya! Terus ini aku beliin Lapis Surabaya buat kamu. Enak lho!" Aku menatap kotak kue itu. "Makasih Mbak." "Kamu kenapa Yo? Kok pucet? Sakit?" Devi mencoba memegang dahiku. Aku mundur selangkah, menghindar. "Enggak Mbak. Saya sibuk. Permisi." Aku pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Devi yang bingung dengan tangan menggantung di udara. Lapis Surabaya itu kumakan di gudang belakang sambil menangis. Rasanya hambar. Sehambar hidupku.

Selasa: Aku mengepel lantai koridor. Dari kejauhan, aku melihat Devi berjalan keluar kantor jam makan siang. Pria Tampan itu (sebut saja si Pangeran Glowing) sudah menunggu di lobi. Devi berlari kecil menghampirinya, lalu mereka tertawa bersama. Mereka naik GrabCar berdua. Aku melihat plat nomor mobil itu menjauh. Tanganku lemas. Kain pel terjatuh. Ember tersenggol. Air pel tumpah membanjiri koridor. "ARYO! KAMU NGELAMUN APA SIH?!" bentak Pak Bos (Si Botak) yang kebetulan lewat dan hampir terpeleset. "Lantai ini banjir kayak Jakarta! Kerja yang bener!" "Maaf Pak... Maaf..." Aku mengepel air mata dan air lantai sekaligus.

Rabu: Aku melihat mereka lagi. Pagi hari: Pangeran Glowing mengantar Devi naik motor NMax baru. Devi memeluk pinggangnya erat. (Padahal itu pegangan behel motor sebenernya, tapi mataku yang cemburu melihatnya pelukan). Sore hari: Pangeran Glowing menjemput lagi. Membawakan tas Devi. Aku bersembunyi di balik pot tanaman lidah mertua, mengintip seperti kriminal. "Ganteng banget sih tuh cowok..." gumamku ngenes. "Pantesan Devi mau. Dibanding gue? Gue mah apa... cuma remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan."

Kamis: Depresiku mencapai puncaknya. Aku salah memasukkan garam ke dalam kopi Pak Bos. Harusnya gula. Pak Bos menyembur kopi itu ke mukaku. "ARYO! KAMU MAU MERACUNI SAYA?! INI ASIN!" "Maaf Pak... hidup saya lagi pait, jadi saya kira butuh garem biar gurih..." jawabku ngawur. "KELUAR KAMU!"

Aku duduk di tangga darurat. Menatap langit-langit beton. Sudah cukup. Aku tidak kuat. Setiap sudut kantor ini mengingatkanku pada Devi. Setiap galon yang kuangkat mengingatkanku pada beban cintaku. Aku harus pergi. Aku harus menghilang.

 

Jumat sore. Tekadku sudah bulat. Bulat sempurna seperti tekad tahu bulat digoreng dadakan. Aku mengambil secarik kertas HVS dan pulpen. Aku menulis surat pengunduran diri. Kutulis surat pengunduran diri ini dengan sesenggukan, dadaku sesak, air mataku menetes, meluncur di pipiku.

Surat itu kulipat rapi. Akan kuserahkan Senin depan. Lalu aku mengambil HP. Menelepon satu-satunya wanita yang tidak akan pernah menyakitiku (kecuali kalau aku lupa beli beras). Simbok.

"Halo, Mbok..." suaraku parau menahan tangis.

"Halo Le? Kenopo? Kok suaramu kayak wong kejepit pintu?" tanya Simbok di ujung telepon.

"Mbok... Aryo mau pulang..."

"Lho? Kowe barusan balik Jakarta kok mau mulih meneh? Dipecat to?"

"Bukan dipecat Mbok. Aryo mau resign. Aryo gak kuat di Jakarta. Jakarta kejam Mbok. Aryo mau jadi petani aja. Nanti Aryo nanem singkong di belakang rumah."

"Walah Le... Le... Singkong lagi murah. Kowe ki nyapo? Putus cinta?"

"Belum jadian udah putus Mbok..."

"Yowis, nek kowe ra kuat, mulih wae. Nanti Simbok masakin sambel korek. Tapi iling yo, di kampung sinyal susah."

"Gak papa Mbok. Aryo butuh ketenangan. Aryo mau bertapa."

Telepon ditutup. Tiket bus sudah kupesan untuk besok malam. Tapi sebelum aku pergi selamanya dari kehidupan Devi, aku punya satu misi terakhir. The Gentleman's Closure. Aku harus menemui pria itu. Aku harus mengucapkan selamat. Aku harus membuktikan bahwa walau aku miskin, aku punya jiwa besar (walau hatinya kerdil karena sakit).

Jam 16.45. Aku sudah standby di depan gedung kantor. Bersembunyi di balik pilar, mengawasi jalanan. Aku hafal jadwal Pangeran Glowing. Dia biasanya muncul jam segini untuk menjemput Devi.

Benar saja. Lima menit kemudian, sosok tinggi tegap itu berjalan mendekat dari arah stasiun MRT. Dia memakai kemeja biru muda yang digulung sesiku. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung. Dia berjalan sambil bersiul, memutar-mutar kunci motor. Tampan sekali. Sialan.

Aku menarik napas panjang. Menguatkan mental. "Ayo Aryo. Ini terakhir kalinya. Jadilah laki-laki."

Aku keluar dari persembunyian. Menghadang langkahnya. "Mas!" panggilku lantang.

Pria itu berhenti. Dia menurunkan kacamata hitamnya. Menatapku bingung. "Ya? Mas panggil saya?"

Aku berdiri di depannya. Tinggi badanku cuma sebatas dagunya. Aku harus mendongak sedikit. "Iya. Saya mau bicara sebentar. Laki-laki ke laki-laki."

Pria itu mengernyit. "Oke... Kenapa ya Mas? Mas mau nawarin asuransi? Atau kredit panci? Maaf saya buru-buru."

"Bukan Mas. Saya Aryo. OB di kantor ini."

"Oh... oke. Terus?"

Aku menatap matanya tajam (setajam silet yang tumpul). "Saya cuma mau bilang... Selamat."

"Selamat?" Pria itu makin bingung. "Selamat apa? Saya ulang tahunnya masih bulan depan Mas."

"Selamat... karena Mas adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini." Suaraku mulai bergetar dramatis, ala pembacaan puisi perpisahan. "Mas telah berhasil mendapatkan hati seorang wanita yang... bagi saya, adalah segalanya. Wanita yang hatinya sekeras baja karena beban pekerjaan, wanita yang senyumnya bisa menerangi satu gedung, wanita yang makannya banyak tapi tetep kurus."

Pria itu melongo. "Hah? Mas ini ngomongin siapa?"

"Jangan pura-pura gak tau Mas. Wanita yang setiap hari Mas jemput. Wanita yang Mas elap keringetnya. Wanita yang Mas bonceng pake motor NMax." Air mataku mulai menggenang di pelupuk mata. "Tolong Mas... Tolong jaga dia. Dia itu rapuh walau keliatannya galak. Dia butuh cokelat kalau lagi stress. Dia butuh didengerin kalau lagi ngomel soal bos botak. Tolong... bahagiakan dia, karena saya... saya gak mampu melakukan itu."

Pria itu menatapku dengan tatapan aneh. Antara kasihan dan takut kalau aku ini orang gila yang lepas dari RSJ. "Mas... sebentar. Mas ini kayaknya salah orang deh. Atau salah minum obat?"

"Saya gak salah Mas! Saya liat sendiri! Mas dan dia... pasangan yang serasi. Bagaikan Pangeran dan Putri. Sedangkan saya... cuma kodok bangkong di pinggir kali."

"Mas, tolong sebut nama. Siapa wanita yang Mas maksud? Biar jelas."

Aku menarik napas panjang. Mengucapkan nama keramat itu. "Wanita itu..." Belum sempat aku menyebut nama Devi, tiba-tiba pria itu melambaikan tangan ke arah belakangku.

"MBAK DEVIIII! SINI MBAK!" teriaknya.

JEDER. Tubuhku kaku. Darahku berhenti mengalir. Aku menoleh patah-patah ke belakang. Devi baru saja keluar dari lobi gedung. Dia membawa tas laptop dan totebag.

"Lho? Aryo?" Devi mendekat dengan wajah bingung. "Kamu ngapain di sini sama... Yoseph?"

Mbak? Pangeran Glowing ini memanggilnya Mbak? Yoseph? Siapa Yoseph? Namanya Yoseph?

"Mbak kenal sama Mas ini?" tanya pria bernama Yoseph itu sambil menunjukku. "Ini orang aneh banget Mbak. Tiba-tiba nyegat aku, terus ngomong puitis banget. Katanya ngucapin selamat karena aku udah berhasil 'membuka hati wanita beku'."

Devi melongo. Dia menatapku, lalu menatap Yoseph. "Hah? Membuka hati wanita beku? Maksudnya Elsa Frozen?"

"Gak tau Mbak!" Yoseph mengangkat bahu. "Dia bilang aku laki-laki paling beruntung. Terus dia nitip pesen suruh jagain cewek itu, katanya ceweknya makannya banyak."

Wajah Devi berubah. Alisnya menukik tajam. Dia menatap adiknya itu dengan tatapan kakak perempuan yang siap menerkam. Tangan Devi bergerak cepat meraih kupingnya. WEEERR! Dia menjewer telinga Yoseph.

"ADUH! SAKIT MBAK! SAKIT!" Yoseph menjerit.

"KAMU PACARAN YA?!" semprot Devi galak. "Udah Mbak bilangin jangan pacaran dulu! Kamu tuh baru lulus! Baru kerja seminggu! Gaji pertama aja belum turun! Udah sok-sokan main cewek! Mau dikasih makan apa anak orang?! Batu?!"

"AMPUN MBAK! SUMPAH ENGGAK!" Yoseph meronta-ronta, hilang sudah wibawa Pangeran Glowing-nya. "Aku gak pacaran! Sumpah! Mas ini yang bilang! Aku gak tau apa-apa!"

Devi melepas jewerannya, lalu menatapku dengan tatapan interogasi. "Aryo? Maksudnya apa? Siapa yang pacaran? Kamu liat Yoseph sama siapa?"

Aku berdiri mematung. Otakku loading keras. Prosesor di kepalaku berputar dengan kecepatan cahaya.

ANALISIS FAKTA:

  1. Pria ini namanya Yoseph.
  2. Devi memanggilnya "kamu", menjewer telinganya, dan melarang pacaran.
  3. Yoseph memanggil Devi "Mbak".
  4. KESIMPULAN: INI ADIK KANDUNGNYA! BUKAN PACARNYA!

SYSTEM REBOOT. ERROR 404: JEALOUSY NOT FOUND. HAPPINESS RESTORED 100%.

Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadaku. Rasanya seperti menahan napas selama 5 hari lalu akhirnya bisa menghirup oksigen murni. Dia adiknya! Adiknya! Darah dagingnya sendiri! Pantesan sama-sama putih! Pantesan Devi elapin keringetnya! Pantesan boncengan!

Tapi tunggu... Sekarang aku dalam masalah. Devi menatapku menuntut penjelasan. Yoseph menatapku menuntut klarifikasi. Kalau aku bilang "Aku kira dia pacar kamu Mbak, aku cemburu," aku bakal mati malu di sini. Harga diriku hancur.

Aku butuh alibi. Aku butuh kebohongan paling absurd untuk menyelamatkan muka.

"Ehm... anu Mbak..." Aku tergagap. "Itu... Saya... Saya..."

"Kamu liat dia sama cewek mana Yo? Kasih tau aku! Biar aku sidang anak ini!" desak Devi.

"I-itu Mbak! Tadi siang! Pas saya lagi beli gado-gado!" otakku mulai mengarang bebas. "Saya liat orang... yang mirip banget sama Mas Yoseph ini! Gandengan tangan sama cewek! Mesra banget! Suap-suapan gado-gado!"

"Hah? Gado-gado?" Yoseph bingung. "Aku makan siang di kantin kantor Mbak! Sumpah!"

"Nah! Itu dia!" potongku cepat. "Ternyata... pas saya liat dari deket sekarang... beda! Yang tadi tahi lalatnya di kiri, Mas Yoseph di kanan! Salah orang Mbak! Maaf banget! Sumpah salah orang! Mata saya siwer efek kebanyakan ngepel!"

Devi menatapku curiga. "Beneran salah orang?"

"Beneran Mbak! Serius! Maaf ya Mas Yoseph! Saya kira Mas itu cowok playboy yang tadi saya liat! Ternyata Mas Yoseph adiknya Mbak Devi ya? Wah, pantesan ganteng, mirip kakaknya!" (Sempet-sempetnya muji).

Yoseph mengusap telinganya yang merah. "Aneh banget sih Mas ini. Bikin aku kena jewer aja."

"Maaf Mas, maaf. Namanya juga manusia tempatnya salah dan lupa," kataku sambil membungkuk-bungkuk minta maaf.

Devi menghela napas, lalu menepuk bahu Yoseph. "Yaudah, untung salah orang. Awas ya kalau kamu diem-diem pacaran. Bayar kosan aja masih numpang Mbak."

Devi lalu menoleh padaku. "Oh iya Yo, kenalin ini Yoseph. Adik aku. Baru keterima kerja di gedung sebelah situ. Karena dia anak baru dan belum dapet gaji, dia numpang di kosan aku sementara. Jadi ya gitu deh, aku jadi supir pribadinya dia tiap hari."

"Halo Mas Aryo," Yoseph menyalami tanganku (agak ragu karena tadi aku aneh banget). "Halo Mas Yoseph. Sukses ya kerjaan barunya." Aku menyalami tangannya dengan erat dan penuh kehangatan. Dalam hati aku bersorak: "HALO ADIK IPAR! SELAMAT DATANG DI KELUARGA!"

"Yaudah Yo, kita duluan ya. Mau cari makan nih, anak ini (Yoseph) makannya banyak banget kayak kuli," kata Devi.

"Siap Mbak! Hati-hati di jalan! Mas Yoseph, jagain kakaknya ya!" teriakku semangat.

Mereka berdua berjalan menjauh menuju parkiran motor. Aku melihat punggung mereka. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi rasa cemburu. Yang ada hanya rasa lega yang membuatku ingin menari Hula-Hula di trotoar Sudirman.

"Adiknya... Ternyata adiknya..." Aku tertawa sendiri seperti orang gila. "Aryo, Aryo... Dasar korban sinetron. Makanya kalau cemburu tuh riset dulu!"

Aku berlari kembali ke kantor. Langkahku ringan, seringan kapas. Aku masuk ke pantry (untung belum dikunci). Aku merogoh saku celana. Mengeluarkan surat keramat itu. Surat Pengunduran Diri.

Aku menatap surat itu dengan jijik. "Dasar surat bodoh. Siapa yang mau resign? Gila apa? Kerjaan enak gini, deket sama bidadari, masa mau ditinggalin demi nanem singkong?"

Aku mengambil korek api (yang biasa buat nyalain kompor pantry). Aku membakar ujung surat itu di atas wastafel. Api melahap kertas itu. Melahap kata-kata galauku. "Selamat tinggal kegalauan. Selamat datang harapan baru."

Abu kertas itu kusiram air. Hilang tak berbekas. Misi Resign dibatalkan secara sepihak.

Lalu aku mengambil HP. Menelepon Simbok lagi.

"Halo Mbok..." suaraku ceria, penuh energi.

"Halo Le? Wes siap to? Wis tuku tiket bus?" tanya Simbok.

"Anu Mbok... Gak jadi pulang."

"Lho? Piye to? Jare atimu remuk redam? Jare mau nanem singkong?"

"Atine wis di-lem Mbok. Wis rapet meneh. Singkong e biar ditanem Pak Tani aja. Aryo tetep di Jakarta."

"Walah... labil tenan kowe ki Le."

Telepon ditutup. Aku keluar dari pantry sambil bersiul lagu dangdut koplo. Aku melihat galon di dispenser lobi yang tadi kupeluk sambil nangis. "Halo Galon. Kita berjuang bareng lagi ya."

Malam ini, Jakarta terasa indah. Polusi udara terasa seperti aromaterapi. Klakson macet terdengar seperti simfoni. Dan aku, Aryo, kembali menjadi OB dengan hati yang utuh, siap menyongsong hari esok dengan strategi baru: PDKT Jalur Adik Ipar.

"Tunggu strategi gue selanjutnya, Mas Yoseph. Gue bakal jadi kakak ipar terbaik lu," gumamku dengan senyum yang tak bisa hilang.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi