Sebuah cermin panjang di pojok ruang tengah tentu bukan hal yang luar biasa. Paling banter seorang tamu hanya akan mengagumi ukiran bingkainya yang berlekuk liku elok dan halus. Lalu ia akan iseng melihat wajahnya sendiri di cermin itu dan sedikit tersenyum. Semua terasa biasa saja, sampai sang tuan rumah mengatakan sesuatu dengan nada rendah.
“Kadang ada wanita muda berambut panjang berdiri di depan cermin itu. Lalu lenyap begitu saja.”
Rupanya cerita itu sudah tersebar dari mulut ke mulut di kalangan kerabat Sunit, pemilik rumah itu. Kakak iparnya dan dua orang sepupunya mengaku sudah pernah melihat wanita itu walau hanya sekejap. Seorang pembantu rumah tangga yang mengaku pernah bertatapan dengan hantu itu bahkan bisa menjelaskan dengan lebih terperinci: “Cantik. Kulitnya terang, langsing, Cuma matanya kayak agak sendu. Pas mau saya sapa, dia hilang wuzz begitu saja.” Suami Sunit, Kimyun, mengaku belum pernah melihatnya dan kelihatan tidak berminat pada wacana arwah gentayangan di rumahnya. Maklum, sebagai seorang sutradara terkenal, Kimyun lebih banyak berada di luar kota, membuat film selama berbulan-bulan. Setiap kali pulang, ia sering menaruh beberapa peralatan syuting filmnya di dekat cermin itu.
Beberapa kali rumah Sunit menjadi tempat persiapan pesta besar, entah resepsi pernikahan, acara wisuda, atau sekedar perayaan sebuah pencapaian. Beberapa kerabat yang perlu mematut penampilannya setelah dirias tidak mau sama sekali menggunakan cermin itu. Mereka lebih memilih mematut di cermin kamar mandi atau bahkan di jendela kaca yang sebenarnya bukan cermin. Hanya ada satu perempuan separuh baya yang berani mematut dirinya di depan cermin itu. Namanya Hansohi, seorang bibi dari pihak ayah Sunit.
Setelah beberapa kali hal itu berulang, mereka menyadari sesuatu yang sulit dijelaskan akal sehat. Setelah merias dan mematut dirinya di depan cermin itu, tante Hansohi entah bagaimana kelihatan jauh lebih cantik, lebih menawan kendati usianya sudah melebihi setengah abad. Lebih parah lagi, beberapa kerabatnya yang jauh lebih muda jadi kelihatan kurang elok. Ada saja yang terasa salah. Entah itu bibir yang terlalu merah atau sebaliknya terlalu pucat, atau riasan bedak yang sulit menyatu dengan kulit, atau maskara yang terlalu tebal atau terlalu tipis, atau lengkung alis yang terlalu menukik, atau kedua mata yang tidak simetris, dan sebagainya. Semua ini tidak hanya kelihatan oleh yang lain, namun juga nampak jelas ketika mereka berfoto bersama.
Tante Hansohi sendiri tertawa ringan ketika seseorang menyampaikan keanehan itu kepadanya.
“Cermin mah hanya cermin,” katanya. “Yang penting rasa percaya diri dan ketelatenan merias wajah. Juga, lebih penting inner beauty daripada penampilan luar.”
“Lalu kenapa Tante tidak merias diri di cermin kamar saja?”
“Lah, lha sudah ada cermin itu di sini, kenapa harus jauh-jauh ke kamar? Mana kalau di kamar antri pula sama kalian-kalian.”
Mereka lalu mengatakannya kepada Sunit.
“Ah, itu cuma sugesti kalian saja,” Sunit menanggapi mereka dengan ringan .“Kalian semua lebih muda daripada tante Hansohi. Makanya kalian merasa terpacu harus jadi lebih cantik daripada dia. Itu bikin kalian tanpa sadar menaikkan standar cantik. Jadinya semua yang kelihatan salah sedikit saja langsung kelihatan bikin tampang ancur padahal ya biasa aja.”
Pada sebuah pertemuan keluarga di akhir tahun, beberapa kerabatnya mencecar Sunit tentang cermin itu. Mereka menyarankan agar Sunit memanggil orang pintar untuk mengusirnya, atau menjual saja benda pemantul citra itu.
“Tapi dia tidak mengganggu, kok,” kilah Sunit. “Ya sudah mbok biarkan saja di situ. Aku suka model cerminnya. Dan menurut buku Feng Shui yang kubaca, justru letak cermin itu sudah ideal untuk energi baik mengalir di sekeliling ruang ini.”
“Ah, tapi itu berarti bersekutu dengan setan, Mbak,” kilah sepupunya.
“Feng Shui bukan aliran setan,” Sunit membalas.
“Ya sekarang kayaknya dia membantu. Tapi itu nanti pasti minta tumbal. Entah nyawa, entah harta,” sambung saudara lainnya.
Makin lama suara yang mendesaknya untuk memindahkan cermin itu makin keras. Sunit kewalahan. Akhirnya dengan berat hati ia mengatakan untuk menyanggupi memindahkan cermin itu ke gudang belakang saja.
Semua bernafas lega.
Tibalah pada saat pemindahan dua hari berikutnya. Dua orang tukang yang menggotong cermin itu hanya kuat setelah beberapa meter saja. Setelah itu mereka nampak makin bersusah payah menyeret atau mengangkatnya.
“Ya ampuun,” keluh seorang di antaranya. “Lha kok jadi berat sekali gini tho?!”
“Masak?” tanya Jingun, seorang sepupu Sunit. “Tadi bisa kok. Coba lagi, Pak.”
Kedua pria itu mencoba sekali lagi. Kali ini bahkan cermin itu bergeming. Rasanya seperti menyeret tank, kata seorang tukang. Jingun turun tangan sendiri mencoba menggesernya. Baru juga satu hentakan napas wajahnya langsung pucat.
“Panggil Pak Rambo,” katanya. Adapun Pak Rambo ini kuli bangunan yang sedang menggarap kamar di belakang. Tubuhnya tinggi besar dan berotot.
Pak Rambo datang. Setelah tahu duduk perkaranya, matanya menatap mantap ke cermin itu. Ia singsingkan lengan bajunya dengan gerak tegas, lalu membantu mereka bertiga menggotong cermin itu. Cermin tak bergeser semilimeterpun. Pak Rambo mencoba lagi, dan lagi. Setengah tersengal, kali ini pandangannya menatap Sunit dengan mata agak menyipit. “Ini ada penunggunya kah, Mbak?”
Sunit menatapnya balik. Lalu ia berkata dingin, “kan sudah aku bilang bairkan dia di sini saja. Dia tidak mau dipindah.”
“Sudahlah,” Jingun menyela. “Kalau tenaga fisik tidak mempan, kita panggilkan tenaga halus. Kita undang Pak Suneo untuk membantu kita.”
Pak Suneo, orang pintar yang sering mereka mintai nasehat tentang nasib dan peruntungan, datang sore itu juga. Ia hening sejenak. Mulutnya komat-kamit dan tangannya bergerak-gerak seolah menyapu udara. Lalu ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali dalam satu pelepasan yang panjang.
Ia membuka matanya yang sejak tadi terpejam.
“Coba lagi,” bisiknya.
Kembali ketiga tukang itu menggotong cermin. Kali ini dengan mudahnya mereka mengangkat benda itu dan memindahkannya ke gudang di belakang, dekat garasi.
“Sudah,” kata Sunit. “Semoga kalian puas sekarang.”
Tiga malam berikutnya, Jingun, Parko, dan Iwed, kerabat Sunit yang paling ngotot memindahkan cermin itu, menerima undangan Sunit untuk bermalam satu hari saja di rumahnya.
“Ayo kalian bermalam di sini,” ajaknya lewat pesan digital. “Akan aku tunjukkan sesuatu yang menarik!”
“Apaan, Mbak Sunit?” balas Iwed. “Aku emoh lho kalau soal setan-setanan.”
“Bukaan, bukan setaan. Cuma . . . ada deh. Ntar juga kalian akan tahu sendiri.”
Iwed masih mencoba menolak. Tapi toh akhirnya dia datang juga mendampingi Jingun dan Parko yang nampak lebih ingin tahu.
Seusai santap malam dan menonton film thriller yang menegangkan sampai larut, mereka pun beranjak ke kamar tidur. Iwed tidur bersama Sunit, sementara kedua pria saudaranya tidur di kamar belakang. Sunit berpesan untuk menyalakan ponsel mereka dan tidak mematikan nada deringnya.
Jam menunjukkan pukul dua subuh lebih dua puluh menit ketika Sunit menelpon ke ponsel mereka semua.
“Kalian dengar kah?”
Jelas sekali. Keempat orang itu mendengar dari gudang suara benda dibanting, dinding dipukul-pukul, laci dibuka lalu dihempaskan sekeras-kerasnya, dan entah suara keras apalagi.
“Setiap subuh selalu seperti itu,” kata Sunit lewat ponselnya. “Itu dimulai sejak kita memindahkan cermin itu ke gudang.”
“Pasti ada sumbernya,” kata Jingun lewat ponselnya. “Itu pasti tikus atau kucing tengkar atau apalah. Ayo kita lihat!”
Mereka berempat memutuskan keluar bersama-sama untuk melihat sendiri tempat yang dilanda heboh itu di bawah. Jingun melangkah paling depan, diikuti Parko, lalu Sunit, dan terakhir Iwed yang sudah setengah terkencing di celananya.
Mereka sampai di tempat cermin ditaruh, di sebuah sudut di gudang, menghadap ke tembok. Lampu ponsel mereka menyorot ke titik itu. Suara gaduh masih terdengar, namun tak ada seorang pun atau satu barang pun bergerak di tempat itu. Hanya sekilas mereka melihat sendiri bagaimana cermin itu bergetar keras beberapa kali, lalu diam lagi.
“Sudahlah, Mbak Sunit,” kata Parko keesokan paginya ketika mereka sarapan. “Relakan saja cermin itu. Dihibahkan saja ke siapa gitu kek yang mau. Atau dijual.”
“Tapi itu peninggalan almarhum ayah ibuku, lho,” kilah Sunit. “Mau gimana juga aku ndak bisa gitu saja melepasnya. Ada kenangan yang akan ikut terbuang.”
“Haduh, kenangan apa tho, Mbak?” tanya Iwed. “Mau warisan bagus kayak apa juga kalau sudah dihuni hantu ya lebih baik dibuang.”
Mereka kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Iwed meneruskan kegiatannya merampungkan tesis S2 nya. Parko kembali ke kantornya berjuang menaikkan volume penjualan mobil. Jingun kembali ke proyek pengeboran lepas pantai, dan Sunit kembali menulis buku dari rumahnya.
Sekali waktu setelah beberapa bulan kemudian mereka berkumpul lagi di rumah Sunit. Iwed, Parko, dan Jingun mengernyitkan kening melihat cermin berhantu itu ternyata sudah kembali ke tempatnya semula di pojok ruang tengah.
“Aku ndak mau diganggu suara berisik terus di gudang setiap subuh,” Sunit menjelaskan. Nadanya tidak membuka ruang tanya. “Jadi aku kembalikan kesitu dan nyatanya semua jadi tenang kembali.”
Mereka berbincang tentang suami Sunit yang sedang menjadi buah bibir di negaranya ketika filmnya berhasil menyabet penghargaan tertinggi di festival bergengsi berskala dunia. Menyelip pula topik tentang tante Hansohi yang baru saja didapuk menjadi ketua perkumpulan kesehatan untuk manusia usia lanjut. Ia merebut kekaguman dari banyak orang ketika berhasil menarik suara dukungan jauh lebih tinggi daripada seorang ibu pejabat yang menjadi pesaing utamanya.
Menjelang siang, Sunit pamit untuk mengambil pesanan makanan di sebuah kedai makan terkenal agak jauh dari rumahnya. Sementara dia pergi, ketiga saudaranya duduk berbincang santai di meja ruang tengahnya.
Mereka baru terdiam oleh satu jeda di tengah pembicaraan, ketika mendadak semua merasa tergerak untuk menoleh ke arah cermin di pojok ruang.
Di depan cermin itu, seorang wanita muda berambut panjang berkulit terang sedang mematut wajahnya. Blus putihnya berenda apik, dengan rok hitam selutut. Ia nampak mengusapkan jarinya dengan lembut ke alisnya yang melengkung bagus. Lalu ia menoleh ke arah ketiga bersaudara itu. Senyumnya lebar, diikuti oleh sedikit kerutan di kedua ujung matanya yang memancarkan kehangatan apa kabar.
Lalu ia lenyap dari pandangan.
Juli 2026