Disukai
0
Dilihat
9
SESAJEN UNTUK KAFE ITAS
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

 

Ruang utama sudah rapi. Meja dan kursi tertata apik. Tiga lukisan vintage dan satu banner terpajang molek di dinding. Seulas senyum puas sudah nyaris menyeruak di bibir Itas, ketika mendadak ia merasa ada sesuatu yang aneh. Hidungnya mengendus-endus.

“Kok ada bau bunga dan kemenyan sih?” pikirnya. “Dari mana ini?”

Ia berkeliling ke seluruh ruangan. Tak sulit menemukan sumbernya. Di salah satu sisi dinding di bawah pigura besar sebuah lukisan alam, ada satu nampan besar penuh dengan bunga aneka warna. Di sebelahnya, di nampan yang lebih kecil tergolek seonggok dupa, beberapa keping uang logam, dan tiga batang rokok kretek.

Sesesorang melangkah turun dari lantai dua. Itas menengok. Adiknya, Icus, bergerak turun bak bidadari dari khayangan sambil menyisir rambut panjangnya yang terurai nyaris ke pinggangnya.

“Cus, sini!” ia memanggil adiknya. “Ini kok ada bunga-bungaan sama kemenyan ini, siapa yang naruh ya?”

Icus melangkah mendekat.

“Oh, . . . itu aku yang masang disitu, Mbak.”

Mata Itas melebar. “Hah? Lha untuk apa kembang-kembangan kayak gini, Cus?”

Pandangan Icus menatap teduh bunga-bunga itu. “Yah, supaya acara pembukaan kafe kita nanti selamat dan lancar, Mbak.”

Itas ternganga untuk kedua kalinya.

“Sejak kapan kamu suka yang mistis-mistis kek gini, Cus? Ini gak bagus. Kafe modern kok ada sesajen kayak gini. Ini mau dibiarkan disini sepanjang acara? Ya ampun, nanti apa kata para tamu, Cus?!”

Kedua mata Icus yang lebar menatap wajah kakaknya. Raut wajahnya datar mendekati dingin. Di akhir rentetan ujaran sang kakak, ia membuka mulut.

“Mbak, ini untuk tujuan baik, kok. Supaya mereka yang menunggu alam halus di ruang ini merasa dilibatkan. Yah sekedar mohon restu dan kulonuwun saja kepada mereka.”

“Alam halus apaan?! Ya ampun, Cus, kamu kok jadi percaya takhayul kayak gitu. Sejak kapan kamu main-main ginian?”

“Aku ndak main-main, Mbak. Malah dosa kalau ini hanya main-main. Aku kan sudah sejak lama menekuni budaya kita sendiri, budaya Jawa.”

Itas menggetok dahinya sendiri dengan telapak tangannya. “Duh, salah dulu bapak ibu mengijinkan kamu kuliah di jurusan antropologi itu . . .”

Seorang pria muncul dari ruang sebelah. Tangannya mengacak-acak rambutnya yang tebal dengan handuknya. Ia mendekati kedua perempuan itu dengan wajah bertanya.

“Ini, Mas Ngubi,” Itas berujar kepadanya. “Coba lihat apa yang ditaruh Icus disini.”

Ngubi, suami Itas, melihat nampan penuh bunga itu dan keningnya berkerut.

“Buat yang menunggu alam halus di sini, Mas,” Icus menjelaskan dengan nada tenang. “Supaya mereka juga merestui acara kita nanti petang.”

“Acara pembukaan kafe mah ga usah yang beginian, Cus,” kata pria itu. “Doa aja udah cukup. Aku menghadiri pembukaan kafe dimana-mana ya baru kali ini nemu yang ginian.”

“Ini kan buat kita supaya nyaman aja, Mas. Supaya yang penunggu tempat ini juga ikut merasa dilibatkan.”

“Emang kalau ndak dilibatkan mereka marah gitu, kah?”

Icus hanya bisa menunduk sambil menarik nafas panjang. Lalu ia menemukan keberanian untuk bertanya, “emang kalau bunga-bunga ini tetap disini, apa to ruginya, Mbak, Mas?”

“Ya aneeh, Cus!” sahut sang kakak. “Nanti para tamu kita mengira kita percaya takhayul. Padahal kita semua orang modern. Tamu-tamu kita juga orang modern. Nanti mereka mikir ya ampun, keluarganya Mbak Itas sama mas Ngubi ternyata masih percaya mistis, naruh sesajen di ruang kafe—”

“Jangan-jangan nanti mereka terus mikir kafe kita pake pesugihan, pake tuyul, jin segala macam,” sambung Ngubi.

“Nnaaah!” Itas membenarkan pendapat suaminya. “Mampus kita kalo sampek ada yang mikir gitu.”

Seorang pria tua mendekat, disusul seorang wanita. Mereka menoleh. Ayah dan ibu mereka memasuki arena percakapan.

“Ini apa to pagi-pagi udah bengkrengan?”

Sambil mendengarkan laporan Itas, sang pria mengambil sejumput bunga itu. Ia menoleh ke istrinya, bertanya tentang jenisnya. Sang istri memberi tahu bahwa bunga-bunga itu adalah mawar merah dan putih, melati, kenanga, dan kanthil.

“Ini buat apa, Nduk?” tanya sang ayah kepada si bungsu.

“Ini untuk sarana penghormatan, Pak,” suara Icus tenang dan datar. “Untuk yang menunggu di alam halus ruang ini.”

“Emang kamu sudah pernah lihat alam halusnya, Cus?!”

“Ya, secara langsung ya belum. Tapi kalau kita punya perasaan peka dan kepercayaan, ya kita pasti bisa merasakan, Mbak.”

“Lha terus kalau yang datang setan dari alam halus, gimana, Cus?” ibunya kali ini bertanya. “Mana kamu tahu yang ada disana itu setan atau jin atau hanya penunggu saja?”

Icus terdiam sejenak. Setelah menarik nafas panjang, ia berkata lagi dengan nada sedikit lebih tinggi: “kita ini kan orang Jawa, Pak, Bu, Mbak, Mas. Kita hidup di tanah Jawa, di budaya Jawa. Ya kan ada baiknya kita menghormati leluhur yang ada di sekeliling kita, sesuai alam Jawa.”

“Kita sudah punya agama masing-masing, Cus,” tukas ayahnya. “Sudah ndak percaya yang kejawen gitu-gituan.”

Lantas entah bagaimana semua terdiam sesaat. Bapak Icus dan Itas dulu seorang Kristen, lalu memeluk Islam setelah berpacaran dengan ibu mereka dan menikah. Itas mendapat suami Katolik. Si Ngubi ini Katolik yang setidaknya muncul di gereja dua kali, yaitu Misa Natal dan Misa Paskah. Icus sendiri pernah berhijab di tahun-tahun awal kuliahnya, lalu entah kenapa ia akhirnya memutuskan untuk melepas hijabnya. Bapak dan ibu mereka sebenarnya sudah punya cukup uang untuk menunaikan ibadah Haji, namun mereka merasa lebih baik uangnya digunakan untuk membangun bisnis kafe keluarga.

 Itas menengok jam di dinding.

“Ayolah, kamu pindah aja bunga-bunga sama sesajen ini ke belakang, Cus. Terus kita siap-siap lagi. Ini sudah tambah siang.”

Icus berkerut kening. Ia bergerak maju menghalangi anggota keluarganya ke arah bunga-bunga itu.

“Lha kok malah disingkirkan, gimana to, Mbak Itas? Ya sudah biarkan disini saja. Wong maksudnya baik—”

“Kan sudah kami bilang tadi, Cus, ini aneh kalau dlihat tamu-tamu kita! Apa kita mau mereka jadi berpikiran yang aneh-aneh tentang kepercayaan kita?”

“Cus, emang apa bedanya kita naruh bunga disini sama di belakang sana?”

“Lho ya jelas beda, to, Bu! Acara utamanya kan nanti disini. Ini juga ruang utama kafe. Kalau kita taruh bunganya di belakang, itu kayak mengundang tamu ke ruang makan tapi meletakkan makanannya di belakang sana. Kan ya aneh to Bu?”

“Yang aneh itu ya kamu, Nduk. Sudah jaman modern masih percaya yang sesajen-sesajenan kayak gini—”

“Bu, kita ini hidup di Jawa, Bu. Kita orang Jawa. Ini tanah sakti. Alam luarnya mungkin sudah modern, tapi alam halusnya kan tetap ada? Apa pantes—”

“Cus, kamu berani jamin ndak ada apa-apa yang aneh kalau sesajen itu tetap disini?!”

“Setidaknya kita merasa nyaman, Mas, bahwa kita sudah menghormati yang menunggu alam halus disini. Ini kan juga bangunan baru to, Mas? Kita ndak tahu dulunya ini tanah bekas apa.”

“Cus, kamu itu mbok coba berpikir dari sudut pandang para tamu. Kebanyakan punya bisnis, atau lulusan kampus ternama, atau pejabat setempat. Kalau mereka lihat bunga-bunga ini terus mikir yang enggak-enggak tentang kita, gimana? Belum juga jualan kita sudah disingkiri orang karena disangka bersekutu dengan alam gaib.”

“Udah, Cus, perkara penghormatan penunggu alam halus nanti aja belakangan kita lakukan. Apa iya penunggunya marah kalau ritualnya digeser ke belakangan aja?”

Icus terdiam sesaat. Wajahnya tertutup mendung. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah bibirnya dan memandang ke bawah.

“Ya ndak enak, aja, Pak,” ia berucap pelan. “Kita punya hajat besar ndak mau kulonuwun sedikitpun sama mereka.”

Itas menggulirkan kedua bola matanya ke atas. Lalu ia berkata tegas: “Oke, Cus. Ini sudah tambah siang. Percuma kita debat kek gini ndak ada ujungnya. Aku putuskan kita gelar acara tanpa bunga-bunga sesaji ini. Yuk, bantu memindahkan ke belakang. Nggak dibuang, kok, dipindahkan aja!”

Icus hanya bisa menatap dingin ketika saudara-saudaranya mengangkat nampan berisi bunga-bunga aneka rupa itu dan membawanya ke belakang.

***

Acara pembukaan dimulai ketika jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Itas dan Ngubi menerima para tamu undangan dengan wajah berbinar-binar dan senyum tak putus. Ayah dan ibu mereka duduk di kursi besar, menyambut jabatan tangan para undangan dengan senyum ramah dan basa-basi. Para tamu, sebagian besar orang muda dengan penampilan elok, makin meramaikan suasana dengan obrolan dan tawanya. Beberapa pria dan wanita paruh baya melenggang masuk setelah beberapa lama. Hampir semua berdiri menyambut mereka.

“Selamat malam dan selamat datang, Bapak dan Ibu Wakil Wali Kota!”

Rangkaian acara bergulir. Setelah doa pembukaan dan sambutan dari Ngubi selaku pengelola kafe, mereka bersiap menyimak tayangan video dari sebuah LCD yang menyorotkan citranya ke layar besar di depan pigura lukisan. Yokar, adik Ngubi, mulai memainkan video itu sambil mengendalikan sound system. Ngubi dan istrinya mengawali sajian dengan lancar.

Mereka baru juga sampai pada awal video kedua ketika tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap. Listrik mati!

Itas dan Ngubi kaku di tempatnya masing-masing. Ayahnya mengeluarkan seruan pendek. “Waduuh . . .!” katanya. Cahaya senter ponsel bermunculan dari beberapa kursi. Seseorang bergerak serampangan dan menyenggol sebuah perabot yang lalu terjun bebas ke tanah memekikkan suara benturan.

Sejenak para tuan rumah dan tamu-tamunya berpandangan dalam gelap.

“Ndak ada genset kah, Mas Ngubi?” seseorang bertanya keras. Yang ditanya bahkan tak menemukan kekuatan untuk menjawab ya atau tidak.

“Biasanya daerah sini jarang lho mati lampu!” kata seseorang. “Iya, kan, Pak RT?”

Bapak RT hanya mengangguk.

“Surat ijinnya sudah kami kirim jauh hari ke Bapak RT,” ucap Itas di tengah kegelapan. “Mestinya kan . . .”

Lampu tak kunjung menyala.

Ngubi meneriakkan beberapa perintah. Beberapa pembantunya tergopoh-gopoh mengambil lampu darurat dan memasangnya.

“Mohon maaf, mohon maaaf, Bapak Ibu,” Ngubi susah payah mengujarkan ucapannya. “Kita lanjutkan saja dengan santap malam. Monggo dipersilakan.”

Para tamu menyantap hidangan di tengah cahaya remang-remang beberapa lampu darurat. Itas bergerak sigap melayani mereka, memaksakan senyum dan suara ramahnya. Ketika berjalan melintasi ruangan, ia melihat Icus sedang duduk tegak, diam tak bergerak di kegelapan di dekat dinding.

***

Pagi merekah. Sisa acara pembukaan semalam masih berserakan di ruang utama. Ngubi duduk dengan wajah keruh menatap layar ponselnya.

“Ini PLN bilang katanya memang ada pemadaman bergilir karena terbatasnya suplai listrik di musim kemarau,” ia membaca isi sebuah berita di media daringnya.

Yokar ikut membaca. “Ah, Mas, itu sudah berita minggu lalu. Berita terakhir dua hari lalu katanya suplai sudah pulih, kok.”

“Hmm . . jadi kenapa bisa mendadak mati yah?” Itas bertanya entah ke siapa. “Pasti ada penyebabnya. Hmm, jangan-jangan sabotase orang yang ga suka kita buka bisnis di daerah ini?”

“Terlalu jauh mikir sabotase segala,” suaminya bertutur pelan dengan mata menerawang. “Tapi pasti ada sebabnya. Kerusakan teknis, mungkin? Atau . . .”

Wajah Yokar mengerut. “Jangan-jangan penunggu dari alam halusnya marah karena . . . kita kemarin—”

“Hei, hei, Yook!” kakaknya memotong. “Kamu ini lulusan terbaik Teknik Industri. Peganganmu iPhone seri tujuhbelas. Paket AI mu lengkap. Kok bisa lho masih miara pikiran takhayul kayak gitu??!”

Yokar tersipu. “Ya deh, . . . ya ayo aku bantu cari penyebab logisnya. Pasti adalah sebabnya.”

Ketiganya lalu termangu-mangu. Itas perlahan menoleh ke arah adik bungsunya.

Icus duduk tenang bersila di lantai. Pandangannya dingin menerawang ke depan. Tangannya terangkat lalu membelai-belai rambut panjangnya.

* * * *

CATATAN: Ini adalah karya fiksi. Semua nama, tempat, dan peristiwa murni adalah hasil imajinasi penulis. Kesamaan dengan dunia nyata adalah hasil kebetulan belaka. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi