Ketika hubungan kami dinyatakan berakhir, orang-orang sibuk mencari pelakunya.
"Siapa yang salah?"
"Dia selingkuh?"
"Ada orang ketiga?"
"Kalian bertengkar?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti lampu sorot yang hanya mengenal dua warna: hitam dan putih. Seolah setiap cinta yang mati harus ada pembunuhnya, harus ada sidik jari yang tertinggal, harus ada seseorang yang layak dipersalahkan. Aku tidak menjawab satu pun. Sebab semakin kupikirkan, hubungan kami tidak pernah benar-benar dibunuh. Namun justru meninggal perlahan.
Seperti organ yang berhenti bekerja satu demi satu, tanpa suara, tanpa ledakan, tanpa darah yang tercecer di lantai. Dan sejak hari itu, aku punya kebiasaan yang terdengar ganjil. Setiap malam, sebelum tidur, aku membayangkan diriku mengenakan jas laboratorium putih, berdiri sendirian di sebuah ruang autopsi yang begitu dingin hingga embun tipis keluar dari setiap helaan napas. Di hadapanku terbujur sesuatu yang dahulu kusebut "kita". Tubuhnya tertutup kain putih. Tidak bergerak, tidak lagi bernapas, tidak lagi meminta kesempatan kedua. Aku mendekat untuk mengetahui penyebab kematiannya, sebab aku percaya, ada cinta yang tidak bisa diselamatkan, tetapi masih bisa dipahami.
Ruangan itu selalu sama dalam imajinasiku. Lampu operasi menggantung rendah di atas meja baja. Dindingnya berwarna pucat, hampir kehilangan identitasnya sendiri. Jam dinding terus berdetak, tetapi tidak pernah benar-benar menunjukkan pukul berapa. Waktu, di tempat itu, seolah berhenti memiliki arti. Aku mengenakan sarung tangan lateks, mengambil pisau bedah, lalu membuka map tipis bertuliskan satu kalimat.
Kasus Nomor 27.
Penyebab kematian: belum diketahui.
Aneh. Hubungan kami telah berakhir berbulan-bulan lalu. Namun sampai hari itu, aku masih belum mampu menjawab pertanyaan paling sederhana. Apa, atau siapa sebenarnya yang membunuhnya?
Aku bertemu dengannya tiga tahun sebelumnya. Tidak ada kisah yang pantas difilmkan. Kami tidak bertabrakan di jalan. Tidak berebut buku terakhir di toko. Tidak pula dipertemukan oleh takdir yang terlalu dramatis. Kami hanya dua orang yang kebetulan saling menemukan waktu sedang sama-sama percaya bahwa hidup terasa lebih ringan jika dibagi kepada orang lain.
Ia sering berkata bahwa aku terlalu tenang. Sedangkan aku selalu menganggap ketenangannya hanyalah sesuatu yang dipinjam sementara. Ada gelisah yang terus bersembunyi di balik caranya tersenyum. Namun waktu itu aku terlalu sibuk menikmati kebersamaan hingga lupa bertanya dari mana gelisah itu berasal. Barangkali memang demikian cara cinta bekerja. Ia membuat kita mengagumi cahaya seseorang, sementara bayangan yang mengikutinya perlahan tumbuh tanpa kita sadari.
Sayatan pertama, pisau bedah menyentuh permukaan kenangan. Bukan tubuh, tapi ingatan.
Aku membuka lembar pertama dari hubungan kami. Tidak ada pertengkaran besar, pula tidak ada kebohongan yang mengubah segalanya. Yang kutemukan justru sesuatu yang jauh lebih sunyi, yaitu ketidaksiapan. Ia sering mengatakan kalimat yang dahulu terdengar biasa saja.
"Aku takut mengecewakanmu."
"Aku takut tidak bisa menjadi pasangan yang baik."
"Aku takut nanti berubah."
Saat itu aku menganggap semua orang memang punya ketakutan masing-masing. Aku selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
"Kita belajar pelan-pelan."
Kini aku baru memahami sesuatu, bahwa ada manusia yang mengucapkan ketakutannya sebagai bentuk kerendahan hati. Ada pula yang sebenarnya sedang memberi tahu bahwa dirinya memang belum siap tinggal. Sayangnya, cinta sering membuat pendengaran kita menjadi selektif. Aku hanya mendengar harapan, dan aku menolak mendengar peringatannya.
Beberapa bulan setelah kami bersama, aku mulai menyadari pola-pola kecil yang tidak pernah terlihat ketika seseorang sedang jatuh cinta. Setiap kali hubungan kami mulai terasa semakin dekat, ia justru mengambil beberapa langkah ke belakang. Ketika aku mulai membicarakan masa depan, ia mengalihkan pembicaraan. Ketika aku mulai membangun rencana, ia lebih senang berbicara tentang kemungkinan. Tentang "nanti", tentang "kalau", tentang… "barangkali".
Ia hidup di dalam kata-kata yang tidak pernah meminta kepastian. Sedangkan aku selalu menanam pohon dengan keyakinan bahwa suatu hari akan ada buah yang bisa dipetik.
Kami ternyata sedang membangun rumah dengan dua jenis fondasi yang berbeda. Aku menggunakan batu, ia menggunakan kabut. Dan aku sangat terlambat menyadari bahwa kabut tidak pernah mampu menopang bangunan.
Pisau bedah berhenti. Aku mencatat sesuatu di lembar pemeriksaan.
Temuan pertama:
Tidak ditemukan niat jahat. Yang ditemukan hanyalah seseorang yang ingin dicintai, tetapi belum siap hidup bersama cinta itu.
Aku meletakkan pena, lalu mengusap wajah. Tiba-tiba ruang autopsi itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Ternyata aku mulai memahami mengapa selama ini aku tidak pernah benar-benar marah kepadanya. Ya, karena kematian hubungan kami tidak lahir dari kebencian, tapi justru lahir dari ketidaksiapan yang terlalu lama disamarkan sebagai proses. Dan aku keliru mengira waktu selalu menyembuhkan. Padahal ada manusia yang menggunakan waktu hanya untuk menunda keputusan yang sejak awal telah ia ketahui.
Aku menutup map sementara. Di luar ruang autopsi, lorong panjang tampak lengang. Tidak ada keluarga yang menunggu. Tidak ada tangis. Tidak ada bunga. Hubungan ini bahkan mati dengan cara yang sepi. Namun aku tahu pemeriksaan belum selesai. Sebab sejauh ini aku baru menemukan mengapa ia tidak mampu bertahan. Aku belum menemukan mengapa aku memilih bertahan selama itu. Dan sering kali, penyebab kematian tidak hanya ditemukan pada tubuh yang terbujur di atas meja. Kadang, jawabannya justru tersembunyi di tangan orang yang terlalu lama berusaha menghidupkannya kembali.
Pisau bedah kembali kuangkat. Besi tipis itu memantulkan cahaya lampu operasi yang dingin. Di ruang ini, tidak ada yang memiliki nama. Semua hanya disebut sebagai objek pemeriksaan. Mungkin memang demikian seharusnya agar kesimpulan tidak dipengaruhi belas kasihan.
Aku menarik napas panjang, membuka lembar kedua. Di sudut kanan atas tertulis:
Pemeriksaan Lanjutan.
Organ yang akan diteliti: komitmen.
Aku menyentuhkan ujung pisau pada dada kenangan itu. Tidak ada darah yang mengalir. Yang keluar justru percakapan-percakapan lama yang selama ini terkubur begitu dalam hingga aku lupa pernah mendengarnya.
"Kita jalani saja dulu."
"Aku belum tahu nanti seperti apa."
"Aku takut membuat janji."
Kalimat-kalimat itu melayang memenuhi ruangan, seperti rekaman yang diputar kembali dari alat yang telah lama rusak.
Aneh. Dulu aku mendengarnya sebagai bentuk kehati-hatian. Sekarang aku mendengarnya sebagai pengakuan. Bukan pengakuan bahwa ia tidak mencintaiku, tapi pengakuan bahwa ia tidak pernah yakin dirinya mampu tinggal.
Aku berhenti menulis, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah kuberikan kepada diriku sendiri. Mengapa aku begitu sibuk menerjemahkan semua keraguannya menjadi harapan? Mengapa setiap keraguan selalu kuubah menjadi alasan untuk semakin mencintainya? Barangkali manusia memang punya kemampuan yang luar biasa untuk memalsukan kenyataan ketika yang dipertaruhkan adalah seseorang yang sangat ingin dipertahankan.
Aku teringat pada sebuah sore di penghujung tahun. Kami duduk di ruang tamu kosanku. Di meja ada dua cangkir teh yang mulai kehilangan hangatnya. Ia menatap keluar jendela cukup lama, lalu berkata tanpa menoleh kepadaku, "Pernah tidak, kamu merasa ingin lari?"
"Lari dari apa?"
"Dari sesuatu yang sebenarnya kamu inginkan."
Aku tertawa kecil. "Kalau menginginkannya, kenapa harus lari?"
Ia tidak menjawab. Baru sekarang aku memahami bahwa pertanyaan itu tidak sedang ditujukan kepadaku. Ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Tentang seseorang yang menginginkan kedekatan, tetapi panik setiap kali kedekatan itu benar-benar datang. Tentang seseorang yang meminta dicintai, tetapi merasa sesak ketika cinta mulai memiliki bentuk yang nyata. Sayangnya, saat itu aku memilih menjadi penjawab. Padahal yang ia butuhkan mungkin hanyalah keberanian untuk mengakui isi kepalanya sendiri.
Aku kembali ke meja autopsi. Kertas pemeriksaan mulai dipenuhi catatan.
Temuan kedua:
Tidak ditemukan penolakan terhadap cinta. Yang ditemukan adalah ketakutan terhadap konsekuensi dari cinta.
Perbedaannya sangat tipis. Namun justru di situlah letak seluruh tragedinya. Seseorang bisa memelukmu dengan sepenuh hati hari ini, lalu menjauh esok hari karena hubungan itu mulai meminta keputusan-keputusan yang tidak sanggup ia ambil.
Aku mulai mengerti mengapa setiap kali hubungan kami memasuki tahap yang lebih serius, ia selalu tampak seperti seseorang yang kehilangan arah. Ia tidak sedang menjauh dariku, ia hanya sedang melarikan diri dari dirinya sendiri. Dan tidak ada manusia yang mampu mengejar seseorang yang terus berlari ke dalam labirinnya sendiri.
Aku membuka laci besi di bawah meja. Di dalamnya tersimpan barang bukti: foto-foto, tangkapan layar percakapan, surat kecil, tiket perjalanan. Semua telah kuberi nomor agar tidak ada detail yang lolos dari pemeriksaan.
Aku mengambil sebuah foto. Dalam foto itu, kami sedang tertawa, sementara ia memegang lenganku. Aku menatapnya. Namun ada sesuatu yang baru kusadari bertahun-tahun kemudian. Matanya tidak sedang melihatku. Tatapannya melewati bahuku. Jauh. Seolah selalu ada sesuatu di belakangku yang lebih menarik untuk dipandang.
Aku membalik foto itu. Di belakangnya terdapat tulisan tangannya.
"Terima kasih sudah selalu sabar."
Tidak ada kata cinta. Tidak ada kata selamanya. Hanya terima kasih. Barangkali sejak awal ia memang lebih banyak berterima kasih daripada benar-benar menetap. Dan aku, dengan segala kebodohanku, mengira rasa syukur adalah bentuk lain dari komitmen.
Di tengah keheningan ruang autopsi, terdengar suara langkah kaki. Aku menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Mungkin hanya ingatanku sendiri yang akhirnya datang menyusul. Ia berdiri di ujung lorong, persis seperti terakhir kali kami bertemu. Tentunya bukan sebagai manusia, tapi sebagai pertanyaan.
"Apa sebenarnya yang kurang dariku?"
Pertanyaan itu dulu terus menghantuiku. Kini aku hanya tersenyum. Ternyata aku selama ini bertanya kepada orang yang salah. Pertanyaan itu seharusnya kutujukan kepada diriku sendiri. Mengapa aku merasa harus cukup untuk menyembuhkan seseorang? Mengapa aku menganggap cinta memiliki kewajiban menyelesaikan perang yang bahkan telah dimulai jauh sebelum aku hadir?
Ada kesombongan yang diam-diam bersembunyi di balik ketulusan. Aku mengira kasih sayangku mampu memperbaiki segala sesuatu. Padahal cinta bukan operasi. Ia tidak bisa mengangkat trauma seperti dokter mengangkat tumor. Ia tidak bisa menjahit masa lalu yang koyak hanya dengan kesetiaan. Dan yang paling penting, tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan sebelum ia sendiri memilih masuk ke ruang pemulihan.
Aku kembali mencatat. Tanganku kali ini tidak lagi gemetar.
Temuan ketiga:
Korban sekunder menunjukkan gejala "kompleks penyelamat". Subjek meyakini bahwa kasih sayang yang cukup besar akan mengubah seseorang. Hipotesis tersebut tidak terbukti.
Aku memandangi tulisan itu cukup lama. Rasanya seperti sedang membaca diagnosis untuk diriku sendiri. Selama ini aku selalu menyebutnya kesetiaan. Padahal mungkin itu hanya ketakutanku menerima kenyataan bahwa ada orang yang tidak bisa kucapai, sekeras apa pun aku mencintainya.
Lampu operasi mulai berkedip pelan. Malam di luar ruang forensik semakin larut. Pada saat pemeriksaan hampir selesai, aku sudah mengetahui mengapa ia tidak mampu tinggal. Demikian pula aku mulai mengetahui mengapa aku terus bertahan. Namun masih ada satu organ yang belum kubuka. Organ yang paling sering menjadi penyebab kematian dalam hubungan yang tampaknya baik-baik saja.
Harapan.
Entah mengapa, sebelum pisau itu benar-benar menyentuh bagian terakhir, aku sudah memiliki firasat bahwa apa yang akan kutemukan di sana bukan lagi tentang dirinya, tapi tentang diriku sendiri. Tentang seseorang yang berkali-kali berhasil menghidupkan hubungan yang sekarat hingga lupa bahwa dokter pun punya batas sebelum akhirnya ikut mati bersama pasien yang terus menolak diselamatkan.
Lampu operasi masih menyala. Cahayanya jatuh tegak lurus di atas meja baja tempat tubuh yang dahulu kusebut "kita" terbujur tanpa suara. Seluruh pemeriksaan hampir selesai. Berlembar-lembar catatan telah memenuhi map perkara. Setiap luka telah diukur. Setiap memar telah dicatat. Setiap organ telah kubuka dengan ketelitian yang bahkan tidak pernah kumiliki ketika hubungan itu masih hidup.
Aneh.
Selama kami bersama, aku lebih sering berusaha menyelamatkan daripada memahami. Baru setelah semuanya mati, aku benar-benar belajar melihat.
Aku menarik map terakhir. Di sampulnya hanya ada satu kata.
Harapan.
Tanganku berhenti beberapa detik di atas meja karena aku tahu, bagian ini tidak akan lagi menjelaskan dirinya. Bagian ini akan menguliti diriku sendiri.
Aku membuat sayatan terakhir. Namun kali ini tidak ada kenangan yang keluar. Yang muncul justru wajahku sendiri. Wajah lelaki yang selama ini terus kukenal sebagai seseorang yang sabar, setia, lebih-lebih pengertian. Ternyata semua itu belum tentu keliru. Hanya saja, ada satu hal yang selama ini tidak pernah berani kuakui. Ya, aku kecanduan harapan. Aku memperlakukannya seperti obat yang harus diminum setiap kali hubungan kami menunjukkan gejala-gejala kematian. Setiap kali ia berkata, "Beri aku waktu." Aku percaya. Setiap kali ia berkata, "Aku sedang bingung." Aku menunggu. Setiap kali ia berkata, "Nanti kita perbaiki." Aku kembali membangun.
Aku mengira sedang mempertahankan cinta. Padahal sesungguhnya aku sedang menunda perpisahan.
Ada perbedaan yang sangat tipis di antara keduanya. Dan manusia yang sedang jatuh cinta hampir selalu gagal membedakannya.
Aku kembali membuka seluruh berkas pemeriksaan dari awal. Ketidaksiapan, ketakutan memilih, komitmen yang selalu mundur setiap kali masa depan mulai mengetuk pintu, lalu kompleks penyelamat yang diam-diam tumbuh di dalam diriku sendiri. Semuanya saling berkaitan seperti potongan anatomi yang akhirnya membentuk satu tubuh utuh. Tidak ada satu pun yang berdiri sendirian. Hubungan kami tidak mati oleh satu luka besar. Namun ternyata ia mati karena organ-organ kecil berhenti bekerja pada waktu yang berbeda.
Kepercayaan melemah lebih dulu, kemudian keberanian, lalu kepastian, dan ketika harapan menjadi satu-satunya organ yang masih bertahan hidup, tubuh itu sesungguhnya sudah terlalu lama kehilangan kesempatan untuk pulih.
Aku tersenyum getir. Ternyata hubungan pun mengenal gagal fungsi organ.
Di ruang autopsi itu, aku mendengar suara dosen forensikku semasa kuliah dahulu. Suara yang entah mengapa muncul begitu jelas di kepalaku.
"Jangan pernah jatuh cinta kepada dugaan."
Dulu aku mengira kalimat itu hanya berlaku di ruang penyelidikan. Kini aku memahami maknanya. Aku terlalu lama mencintai kemungkinan. Kemungkinan ia berubah. Kemungkinan ia siap. Kemungkinan suatu pagi nanti seluruh keraguannya akan menghilang begitu saja. Padahal ilmu forensik mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Kesimpulan tidak boleh ditulis berdasarkan harapan. Ia harus lahir dari bukti. Dan bukti-bukti yang ada di hadapanku sejak awal sesungguhnya telah berbicara sangat lantang. Ia berkali-kali mengatakan belum siap. Ia berkali-kali mundur ketika hubungan meminta arah. Ia berkali-kali memilih keraguan dibanding keputusan. Semua bukti itu nyata. Yang tidak nyata hanyalah keyakinanku bahwa cinta dapat menghapus semuanya.
Aku menolak membaca laporan yang telah ditulis kehidupan, sebaliknya aku lebih memilih menyuntingnya sesuai keinginanku sendiri.
Aku mengambil formulir terakhir. Bagian yang paling sederhana. Namun juga yang paling menentukan.
Sebab Kematian.
Pulpen di tanganku tidak lagi gemetar. Kali ini aku tidak membutuhkan waktu lama, maka kutulis perlahan.
"Kematian terjadi secara perlahan akibat ketidakmampuan kedua pihak berada pada tahap kehidupan yang sama."
Aku berhenti, lalu mencoret kalimat itu. Tidak. Itu belum sepenuhnya jujur. Maka kutulis lagi.
"Korban meninggal akibat satu pihak terus berusaha menghidupkan sesuatu yang sejak awal tidak pernah punya kesiapan untuk bertahan."
Aku kembali menggeleng. Masih kurang tepat. Sebab kalimat itu masih terdengar seperti tuduhan. Padahal setelah seluruh pemeriksaan selesai, aku tidak lagi ingin mencari terdakwa. Aku hanya ingin menemukan kebenaran. Maka akhirnya kutulis satu kalimat yang terasa paling sunyi.
"Tidak ditemukan unsur pembunuhan. Hubungan dinyatakan meninggal karena kegagalan dua manusia memahami waktu yang tepat untuk saling memilih."
Aku meletakkan pena karena dadaku terasa lapang. Bukan karena rasa sakitnya hilang. Namun karena ia akhirnya memiliki nama. Dan setiap luka yang telah diberi nama selalu lebih mudah diterima daripada luka yang terus dibiarkan menjadi misteri.
Aku menutup tubuh itu perlahan dengan kain putih. Gerakanku tenang, tidak lagi tergesa seperti dahulu ketika setiap pertengkaran selalu kuanggap sebagai keadaan darurat yang harus segera kuselamatkan. Kini tidak ada lagi yang harus diselamatkan. Yang tersisa hanyalah penghormatan terakhir.
Maka aku berdiri beberapa saat di samping meja.
"Terima kasih."
Entah kepada siapa kalimat itu kutujukan. Mungkin kepada perempuan yang pernah mengajariku bahwa cinta tidak selalu cukup. Mungkin kepada diriku sendiri yang, meski terlambat, akhirnya berhenti memikul tanggung jawab yang bukan milikku. Atau mungkin kepada hubungan ini. Sebab meskipun gagal bertahan, ia tetap berhasil mengajarkanku sesuatu yang tidak pernah kutemukan di buku mana pun. Bahwa mencintai seseorang tidak pernah otomatis memberi kita kemampuan menyembuhkannya.
Lampu ruang autopsi kupadamkan satu per satu. Lorong panjang di luar ruangan tampak lengang. Aku menoleh untuk terakhir kalinya. Di balik pintu itu tidak ada lagi kenangan yang menunggu dihidupkan. Yang tertinggal hanyalah arsip. Dan arsip tidak pernah meminta kita kembali tinggal di dalamnya. Ia hanya disimpan agar suatu hari nanti kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Aku melangkah keluar. Pintu besi tertutup perlahan di belakangku dengan bunyi pendek, tapi cukup untuk mengakhiri seluruh pemeriksaan. Di ujung lorong, sinar matahari jatuh melalui jendela tinggi, membentuk garis terang di lantai yang dingin. Aku melewatinya tanpa menoleh lagi.
Kini aku mengerti, perpisahan tidak selalu meminta kita melupakan. Kadang ia hanya meminta kita berhenti melakukan resusitasi terhadap sesuatu yang telah lama dinyatakan meninggal. Sebab tidak semua kematian adalah kegagalan. Ada yang justru menjadi akhir dari penderitaan yang terlalu lama dipaksakan hidup. Dan mungkin, itulah bentuk belas kasih yang paling dewasa. Bukan mempertahankan setiap detak yang tersisa. Lebih kepada berani mengatakan bahwa perjuangan telah selesai.
Autopsi kututup. Map perkara kusimpan. Tidak ada vonis. Tidak ada terdakwa. Tidak ada pihak yang menang. Yang ada hanyalah dua manusia yang datang dengan harapan berbeda, saling mencintai dengan kemampuan yang berbeda, lalu berpisah ketika cinta tidak lagi sanggup menjembatani jarak di antara keduanya.
Kasus dinyatakan selesai karena akhirnya aku berhenti mencari cara untuk menghidupkan jasad yang sejak awal hanya bisa kukenang, bukan kupulangkan.
Di luar gedung, kehidupan bergerak seperti biasa. Maka aku melangkah bukan sebagai seseorang yang baru kehilangan cinta. Namun kini sebagai saksi terakhir yang telah selesai menuliskan penyebab kematian sebuah perpisahan.
Autopsi selesai.
Tidak ada lagi yang perlu dibedah. Sebab yang tersisa hanyalah keberanian untuk hidup tanpa terus membawa jasad masa lalu di dalam dada.
-II-