Pria tua renta itu tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Kepalanya nyaris gundul dengan hanya beberapa helai rambut putih saja. Matanya setengah tertutup, tanpa ekspresi. Hidungnya yang ringkih kelihatan sesak menahan dua selang oksigen. Mulutnya ternganga sedikit.
“Pak Noharta,” seorang pria yang nyaris sama tuanya dengan dia memanggilnya. Pria yang berdiri di depannya itu memegang lengannya, lalu meraba dadanya. “Bapak?”
Ia melihat lebih cermat dan menangkap gerakan naik turun tipis di dada sang pasien. Ia menghembuskan nafas lega.
Seorang pria lain masuk ke kamar. Wajahnya halus, rambutnya tersisir rapi, dan pakaiannya pun rapi.
“Selamat pagi, pak Damit,” ia menyapa. “Saya Balbo, dari persekutuan doa Zamrud Tuhan. Saya juga mendapat tugas kunjungan orang-orang tua yang sedang sakit.”
Mereka berjabatan tangan.
Damit segera akrab dengan Balbo walaupun usia mereka terpaut jauh.
“Saya sudah masuk tujuh puluh tujuh tahun ini,” kata Damit. “Sudah kenyang manis getirnya hidup. Jadi di sisa usia, saya ingin sedikit membaktikan diri untuk sesama yang tidak se...