Ada sebuah rombong baru di jalan depan sekolah SMA swasta itu. Letaknya berhadapan dengan penjual dawet enak milik Mas Bajang dan rombong bakso Cak Remek beberapa meter di sebelah kirinya. Seorang temanku bilang, “coba kamu ke rombong soto yang baru itu. Pasti kamu akan langsung membeli sotonya!”
Tentu aku tidak percaya omongan teman yang lebih suka mabuk dan percaya mistis itu. Maka hari ini aku pergi ke rombong soto itu. Baru juga aku sampai di depannya, aku langsung tahu mengapa temanku yang slebor itu mengatakannya.
Penjual soto itu membuat mataku tak berkedip. Semampai, lekuk tubuh dan busung dadanya terbalut gaun kuning berenda, dengan rambutnya jatuh terurai ke pundaknya, ia memandangku dengan matanya yang tajam namun teduh. “Sotonya, Mas, monggo . . .” ucapan ramahnya terlontar mengalun bak musik merdu nian.
Aku memesan seman...