Disukai
0
Dilihat
19
SABER DAN SUKU PREMANSABAR
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Namanya Saber. Tinggi semampai dengan rambut panjang berkulit terang, wajahnya berhiaskan hidung bangir, bibir berlekuk menawan, dan suara alto yang ulem mengiringi ujaran-ujarannya. Tawanya renyah dan sikapnya jauh dari pongah. Sebagai gadis dari keluarga menengah ke atas, Saber hidup berkelimpahan. Berwisata ke seluruh penjuru dunia, menghiasi diri dengan aksesoris terbaru dari merek terkenal, plus gadget-gadget tipe tercanggih bukanlah hal yang sulit dia capai.

Suatu hari dia membuat heboh. Kenapa? Tertangkap sedang pesta narkoba? Tidak. Hamil di luar nikah? Tidak juga. Merebut laki orang? Ah, tidak juga.

Saber lenyap.

Dia lenyap begitu saja di suatu malam setelah pulang dari sebuah pesta kebun seorang temannya. Mobil Mercynya masih terparkir rapi beberapa ratus meter dari gedung ajang pesta itu, pertanda bahwa dia belum sempat memasuki mobilnya ketika tahu-tahu lenyap.

Upaya melacak jejaknya pun langsung dilakukan. Pendekatan digital, tradisional, sampai supernatural dikerahkan untuk menemukan gadis itu. Nihil. Saber lenyap tanpa jejak. Piranti digital paling canggih pun tak kuasa menemukan jejaknya, apalagi embah supernatural yang hanya bermodalkan rapalan dan pendulum tua.

Sebulan berlalu, lalu dua bulan, setengah tahun, setahun, setahun setengah, dua tahun. Tak ada tanda-tanda gadis itu muncul kembali. Memasuki tiga tahun sejak kehilangannya, keluarganya pun pasrah. Mereka menganggap Saber sudah meninggal entah dimana.

Lalu suatu hari terbetiklah berita bahwa seorang penjelajah alam bertemu dengan seorang gadis tinggi ramping berambut panjang di sebuah hutan di kaki gunung ratusan kilometer dari kota asalnya. Melalui ponselnya, penjelajah alam itu merekam pertemuannya dengan sang gadis. Seluruh keluarga, kerabat, dan teman-teman dekatnya langsung berkumpul melihat rekaman video itu. Mereka melihat sosok seorang gadis tinggi semampai berambut panjang. Sepotong kain menutup bagian atas tubuhnya, dan sepasang celana pendek dari kain kasar melapis bagian tubuh bawahnya. Pandangannya tenang menatap kamera. Mereka pun terpekik! Ya, tak salah lagi itu Saber! Wajahnya nyaris tak berubah kecuali kulitnya menjadi lebih gelap.

“Kembalilah, Saber!” seru ayah ibunya dan teman-temannya.

Di luar dugaan, Saber menggeleng.

“Hah? Kenapa??!”

“Aku sudah nyaman disini, bersama mereka.”

“Mereka siapaa??!”

Kamera ponsel beralih ke sebuah titik tak jauh dari Saber berdiri. Tampaklah sekumpulan manusia berwajah keras, berkulit gelap, berpakaian sederhana hanya berkaos dan celana pendek. Dua pria diantaranya malah bertelanjang dada menunjukkan otot yang liat pejal menopang tubuh tegap dan kokoh.

“Ini suku Premansabar, penduduk asli di pegunungan sini,” Saber menjelaskan. “Mereka hidup dengan sederhana dari bercocok tanam dan berburu. Tidak ada televisi, radio, apalagi ponsel. Mereka bisa tetap hidup karena semangat kebersamaannya luar biasa kuat. Semua makanan mereka olah bersama dan mereka bagi rata; tak ada yang memiliki lebih banyak daripada yang lain, dan mereka tahu sekali bahwa cukup adalah cukup, tidak lebih, tidak kurang. “

“Kamu diapakan sama mereka?! Kamu gadis cantik, kamu pasti diapa-apakan!”

Saber menggeleng. “Tidak juga,” jawabnya. “Aku memang diculik oleh beberapa orang dari mereka dengan cara dibujuk dan mungkin setengahnya dihipnotis. Sesampainya disini, aku diserahkan ke satu keluarga; ada pria, wanita, dan dua anak kecil. Mereka merawatku dengan baik. Mereka saling percaya satu sama lain sehingga mereka tak khawatir meninggalkanku sendiri di kampung hanya dijaga oleh dua orang pria sementara yang lain pergi berburu atau merawat kebunnya.”

“Kamu mandinya gimanaa??!”

“Ya, aku mandi aja disini. Di sungai. Bersama yang lain–”

“Astagaaa! Lha gimana kamu mandi sama banyak orang dan pasti dilihat—“

“Kan sudah aku katakan tadi ,” Saber memotong ujaran ngeri temannya itu. “Mereka saling percaya satu sama lain bahwa setiap orang mampu menjaga kesejahteraan yang lain. Urusan mandi bukan hal heboh. Biasa aja, sebiasa alam yang gelap menjelang malam lalu terang kembali setelah subuh.”

“Saber, hentikan racauanmu. Kembalilah, nak, kamu anak modern, bukan anak liar seperti itu.”

“Liar?” Saber menatap dengan wajah heran. “Tidak ada yang liar disini. Semuanya terasa mengalir begitu saja seiring dengan denyut alam. Kami hidup seiring alam. Itu yang ternyata membuatku betah. Aku menemukan identitas sejati sebagai seorang manusia disini. Aku merasa diterima sebagai bagian dari keluarga mereka. Sulit kupercaya, tapi alam ternyata melindungiku sehingga aku tetap sehat seperti ini.”

“Tidak bisa! Kamu bagian dari masyarakat modern. Kamu lahir di tengah peradaban modern, dan kamu harus kembali ke tatanan modern.”

Saber bergeming. Dia menyuruh si penjelajah alam mematikan videonya. Lalu dia pun lenyap kembali ke tengah hutan.

Yakin bahwa lokasi anaknya sudah ditandai oleh pihak berwajib lewat perekaman video tadi, sang ayah mengirimkan , atau lebih tepatnya membayar, sepasukan tentara untuk membawa Saber keluar dari hutan dan kembali ke tengah keluarganya. Mereka berhasil. Saber berhasil mereka rebut dan mereka bawa paksa ke kota asalnya.

Seminggu setelah kembali ke kota, Saber mulai menunjukkan gejala tertekan. Gairah hidupnya meredup, wajahnya makin muram, senyumnya hilang, dan harinya semakin banyak dihabiskan hanya untuk mengurung diri di kamarnya. Undangan pesta, wisata kuliner, fasilitas istimewa dari berbagai maskapai penerbangan dan hotel-hotel bintang lima, dan traveling ke berbagai atraksi hiburan baru yang dulu selalu membuatnya bergairah lewat begitu saja dari perhatiannya.

“Ini kehidupan modern,” ujar seorang psikolog yang dikirim keluarganya untuk membantunya. “Kamu bagian dari peradaban modern. Kenapa kamu tidak menyukainya?”

“Karena hidup disini seperti hidup dalam sel penjara,” keluh Saber. “Aku bisa merasakan sekat-sekat sel itu ketika pergi kemana-mana. Ada sel status sosial, sel etnis, sel kepercayaan, sel selera pakaian, bahkan sel ras. Papaku terpenjara di sel bisnisnya, mamaku di sel kelompok wanita pengusaha, teman-temanku juga tidak sepenuhnya kompak. Masing-masing berkelompok dengan gang nya sendiri. Setelah merasakan betapa nyamannya hidup tanpa sekat seperti di suku Premansabar itu, aku merasa tercekik dan kesepian disini. Aku ingin bersahabat dan bekerja sama dengan semua orang seperti di Premansabar dulu, tapi di dunia yang kata Anda modern itu ternyata lebih mudah merontokkan sel beton daripada sel-sel psikologis seperti yang kusebutkan tadi.”

Buat sang psikolog dan keluarganya, omongan Saber itu adalah murni racauan orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. Maka alih-alih membebaskannya, mereka mulai berharap dan berdoa sederas-derasnya untuknya supaya dia kembali normal.

Suatu malam ketika mereka sedang sibuk merapal doa, terdengar suara lolongan dari kamar Saber. Bergidik, mereka mengintip ke dalam kamar. Gadis itu sedang berlutut menungging di lantai. Rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya, kedua tangannya mencengkeram lantai, dan tahu-tahu lehernya terangkat dan dia melolong. Lolongan perawan yang indah, sangat indah, panjang melengking tanpa memekakkan telinga seolah cahaya kasar tapi tulus dan murni terangkat ke surga. Sang mama tak kuasa lagi menahan perasaannya, dan dia jatuh terhempas pingsan. Tubuh gembrotnya menimpa kaki sang papa yang asam uratnya sedang kambuh. Kontan sang papa terkial-kial kesakitan, membentur penyangga pot keramik besar yang langsung tumbang menghantam kepalanya. Keduanya pingsan dalam galau.

Hari berikutnya Saber lenyap dari kamarnya. Jejaknya tak ketahuan, tak tercium, tak teraba, tak terasa. Kontan semua keluarga dan teman-temannya ribut lagi, tapi hanya sehari. Setelah itu mereka pun tak ambil perduli lalu pergi kembali ke selnya masing-masing. Yang ke gereja A sama-sama di gereja A, yang ras B kumpul-kumpul lagi dengan sesama ras B, yang jadi pimpinan kembali lagi ke sel pemimpin, yang karyawan kembali ke sel karyawan, dan beberapa gelintir yang selnya ndak jelas lalu luntang-lantung sambil mengimpikan suatu ketika diculik oleh suku Premansabar seperti yang dialami Saber . . .

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi