Angin petang berdesau kencang. Arusnya menerpa hiasan kelenengan yang tergantung dari langit-langit teras, memaksanya memekik terlalu nyaring nan kering bak anak kecil menjerit disiksa. Gumpalan awan gelap melintas cepat di langit. Hawa dingin seperti kepala kobra meliuk cepat melewati lubang angin lalu berputar dan menancap di pesan WA: “Patris left.”
Kucing Manis, salah satu wanita dari keempat orang yang sedang termenung-menung di ruang tamu rumah itu, adalah yang pertama melihat pesan itu. Cahaya lampu kuning redup di ruang itu tak kuasa menyembunyikan kerutan di dahinya.
“Wah,” bisiknya. “Pak Patris left grup!”
Teman-temannya sontak melihat ponsel mereka masing-masing.
“Hmm, . . “ gumam Jleger, salah satu pria.
“Lah, kok le...