Setiap orang pasti memiliki satu memori masa SMA yang akan terus menghantui mereka hingga liang lahat. Bagi sebagian orang, memori itu mungkin tentang cinta pertama yang ditolak, dipalak kakak kelas di kantin, atau ketahuan membawa ponsel saat razia OSIS.
Namun bagiku, Heru, pemuda yang nasib sialnya sudah tergariskan sejak zigot, memori paling kelam di masa putih abu-abu bukanlah tentang asmara atau kenakalan remaja. Memoriku adalah sebuah tragedi biologis. Sebuah perang epik antara kekuatan tekad manusia melawan kehendak alam semesta yang diwujudkan dalam bentuk kontraksi usus besar.
Kisah ini terjadi saat aku duduk di kelas XI IPS 2. Sebuah kelas yang terkenal sebagai penampungan murid-murid buangan, tempat di mana harapan guru-guru telah lama pupus.
Semuanya bermula pada jam istirahat kedua. Hari itu, cuaca Jakarta sedang panas-panasnya, seolah matahari turun sejengkal di atas genteng sekolah. Di tengah cuaca yang membakar itu, logika remajaku yang cacat justru memutuskan untuk membeli "Seblak Jeletot Level Kiamat Sugro" di warung Mang Ujang belakang sekolah.
Seblak itu bukanlah makanan, ia adalah senjata pemusnah massal berbahan dasar kerupuk bantat, makaroni, dan cabai rawit merah yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah dosaku. Aku memakannya dengan rakus, ditemani es teh manis plastik yang disedot habis hingga bunyi srrruuutt yang menyedihkan.
TENG! TENG! TENG!
Bel masuk berbunyi nyaring.
Aku mengusap keringat di dahiku yang mengucur deras akibat kepedasan. Perutku terasa hangat, tapi aku mengabaikannya. "Ah, cuma efek cabai. Nanti juga hilang sendiri," batinku meremehkan hukum gastroenterologi.
Aku berlari masuk ke kelas. Mengapa aku berlari? Karena jam pelajaran berikutnya adalah Sejarah. Dan guru yang mengajar adalah Pak Torro.
Pak Torro adalah entitas yang ditakuti oleh seluruh makhluk bernapas di SMA kami, termasuk tukang kebun dan kucing sekolah. Beliau adalah guru Killer dengan K kapital. Posturnya tinggi besar, kepalanya botak plontos yang kilapnya bisa memantulkan cahaya proyektor, dan suaranya menggelegar layaknya guntur di bulan Desember.
Beliau memiliki satu aturan absolut yang terukir tak kasat mata di papan tulis: "Dilarang keluar kelas dengan alasan apa pun selama pelajaran saya berlangsung. Izin ke toilet sama dengan nilai nol untuk satu semester, dan silakan berdiri menghormat tiang bendera sampai bel pulang."
Bagi Pak Torro, kandung kemih dan usus murid-muridnya harus tunduk pada jadwal pelajarannya. Tidak ada tawar-menawar.
Aku duduk di bangku baris ketiga dari depan, tepat di tengah-tengah. Sebuah posisi strategis yang membuatku berada tepat di garis pandang mata elang Pak Torro. Teman sebangkuku, Dimas, sedang sibuk menggambar pola abstrak di buku catatannya.
Pak Torro masuk ke kelas. Hening. Suasana mendadak mencekam layaknya ruang isolasi penjara Alcatraz. Beliau meletakkan setumpuk buku tebal di atas meja guru dengan bunyi BRAK! yang membuat nyawa kami semua melompat sejenak.
"Buka buku paket halaman 145! Hari ini kita bahas Perang Dunia Kedua! Yang tidak mencatat, saya keluarkan!" raungnya.
Kami semua serentak membuka buku. Tangan kami gemetar memegang pulpen.
Dan tepat pada menit kelima pelajaran Pak Torro... Hukum Karma atas Seblak Kiamat Sugro itu mulai bekerja.
Krrruuuucccuuukkk... Ggrrrrr...
Suara itu sangat pelan, namun di telingaku, suaranya seperti gempa tektonik berkekuatan 8 Skala Richter yang berpusat di lambungku. Sebuah pergerakan fluida kental terjadi di dalam usus besarku. Rasanya hangat, padat, dan menuntut untuk segera dibebaskan. Magma sisa-sisa kerupuk bantat dan ekstrak cabai rawit itu sedang melakukan pawai unjuk rasa menuju pintu keluar (sphincter).
Mataku membelalak. Keringat dingin sebesar biji kelengkeng tiba-tiba menetes dari pelipisku.
"N-nggak... jangan sekarang... tolong..." bisikku dalam hati, mulai panik.
Aku melirik jam dinding kelas yang berdetak lambat. Pukul 13.15 WIB. Pelajaran Pak Torro baru akan selesai pukul 14.45 WIB. MASIH ADA SATU SETENGAH JAM LAGI!
Aku menatap ke arah depan. Pak Torro sedang menulis kronologi Invasi Polandia di papan tulis dengan tenaga penuh hingga kapurnya patah-patah. Meminta izin ke toilet sekarang sama saja dengan bunuh diri secara akademis dan sosial. Aku akan dipermalukan di depan kelas, dihukum berjemur, dan nilaiku hancur.
Aku harus menahannya. Aku adalah pria tangguh. Aku adalah kapten dari tubuhku sendiri. Aku menginstruksikan otot gluteus maximus (otot bokong) dan sphincter (otot anus) untuk bersatu padu membentuk barikade pertahanan paling kokoh di alam semesta.
Teknik Pertahanan Pertama: The Statue of Liberty.
Aku duduk tegak lurus 90 derajat. Punggungku tidak menyentuh sandaran kursi kayu yang keras itu. Kedua paha kurapat, kutempelkan erat-erat seolah-olah aku sedang menyembunyikan bongkahan berlian bernilai triliunan rupiah di selangkanganku.
Aku mencengkeram ujung meja kayu hingga buku-buku jariku memutih. "Tahan, Heru. Tahan. Anggap ini adalah ujian kedewasaan," raungku memotivasi diri sendiri di dalam pikiran.
Tiga puluh menit berlalu. Invasi ususku semakin brutal. Rasa mulasnya datang bergelombang layaknya ombak tsunami yang menghantam pesisir pantai. Setiap gelombang datang, perutku melilit hebat, seakan-akan ada tangan tak kasat mata yang sedang memeras ususku seperti memeras kain pel basah.
"Ru, lu ngapa dah?" bisik Dimas di sebelahku. Dia menyadari ada yang salah denganku karena wajahku sudah sepucat mayat yang diawetkan. "Muka lu putih bener kayak tembok Puskesmas. Lu sakit?"
Aku tidak berani menoleh. Kalau aku menggerakkan leherku, konsentrasi pertahanan bokongku bisa buyar.
"D-diem lu, Dim... G-gue lagi fokus... P-Perang Dunia Kedua..." desisku dengan gigi gemeretak menahan sakit.
Dimas mengernyitkan dahi. "Fokus apaan, pulpen lu aja kagak lu pegang. Tangan lu gemeteran tuh."
Aku mengabaikannya. Tsunami gelombang kedua datang. KRRRUUUOOOOGGGHHH!!! Bunyi perutku kali ini cukup keras hingga Dimas melotot ke arah perutku.
"Anjir, suara apaan tuh? Lu nangkep kodok di perut lu?!" bisik Dimas panik.
"Sssshhh!! Diem!" balasku memejamkan mata erat-erat.
Satu jam telah berlalu. Pertahananku mulai goyah. Pasukan Seblak Jeletot di dalam perutku sudah berada di ujung gerbang perbatasan. Mereka menabrak-nabrak pintu keluar dengan brutal. Sensasi panas dan tekanan yang luar biasa di area rektum membuatku merasa seperti sedang duduk di atas gunung berapi aktif yang siap erupsi.
Aku tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan fisik jepitan bokong. Aku harus menggunakan Teknik Pertahanan Kedua: Manipulasi Psikologis dan Titik Akupuntur.
Pernahkah kalian mendengar mitos bahwa menahan batu di dalam saku bisa menahan rasa mulas? Aku tidak punya batu! Aku hanya punya penghapus karet merek Joyko. Tanpa pikir panjang, aku memasukkan tangan kiriku ke dalam saku celana abu-abuku, menggenggam penghapus itu, dan meremasnya sekuat tenaga seolah nyawaku bergantung pada benda kenyal tersebut.
Selain itu, aku mencoba menyilangkan kakiku rapat-rapat. Kaki kanan kutindihkan di atas kaki kiri, lalu kutekan ke bawah. Tujuannya adalah memotong aliran darah dan saraf sensorik ke area perut bawah, mematikan rasa mulas itu secara paksa.
Lalu, aku mencoba mengalihkan pikiranku. "Pikirkan hal lain, Heru. Pikirkan padang pasir. Gurun Sahara yang kering kerontang. Kering. Tidak ada air. Tidak ada cairan. Semuanya kering," aku merapal mantra sugesti di dalam otakku.
Namun, otakku berkhianat! Alih-alih membayangkan gurun pasir yang gersang, otakku malah memproyeksikan visualisasi Air Terjun Niagara yang sedang tumpah ruah! Visualisasi bendungan Katulampa yang jebol! Visualisasi bubur kacang hijau yang dituang dari panci besar!
"TIDAAAAAK!!!" batinku menjerit histeris. Keringatku kini sudah membasahi seragam putihku hingga tembus ke dalam. Punggungku basah kuyup. Tubuhku bergetar hebat. Mataku berkunang-kunang.
Pak Torro, yang sedang berjalan menyusuri lorong antar meja, tiba-tiba berhenti tepat di sebelah mejaku.
Suhu ruang kelas yang pengap terasa semakin membeku. Bau kapur tulis dan wangi cologne maskulin milik Pak Torro menusuk hidungku.
"Heru!" bentak Pak Torro, suaranya meledak tepat di telingaku.
Aku tersentak hebat. Kekagetan itu membuatku refleks menegakkan tubuh dengan cepat. Dan pergerakan mendadak itu... adalah sebuah kesalahan mekanis yang paling fatal.
Cengkeraman otot bokongku yang selama satu jam ini dipertahankan dengan kekuatan setara dewa... melonggar sepersekian milimeter.
Satu milimeter. Itu saja yang dibutuhkan oleh Pasukan Seblak Jeletot.
Saat otot itu melonggar, tidak ada suara ledakan yang dahsyat. Tidak ada letusan yang memekakkan telinga. Yang terjadi hanyalah sebuah desisan pelan, sangat hening, sangat mematikan.
Psssssssss.......
Di detik yang sama, aku merasakan sebuah kehangatan yang tidak wajar mengalir perlahan di celah selangkanganku. Bukan gas. Ini bukan sekadar kentut yang lolos. Ini adalah materi semi-padat yang panas, kental, dan basah.
Jiwaku serasa tercabut dari ragaku dan melayang menembus atap sekolah. Mataku kosong. Waktu berhenti sepenuhnya. Bumi berhenti berputar. Albert Einstein bangkit dari kubur untuk menangisi hukum relativitas umum yang baru saja bekerja menjatuhkan harga diriku ke dasar celana dalam.
AKU BOKER DI CELANA.
Di tengah pelajaran Pak Torro. Di bangku baris ketiga. Di samping teman sebangkuku. Bendungan itu telah jebol. Meskipun tidak tumpah ruah secara keseluruhan, tapi jumlah 'kebocoran' yang berhasil menerobos pertahanan celana dalamku sudah cukup untuk menghancurkan kehidupanku sebagai seorang remaja pria normal.
"Heru! Kamu denger saya nggak?!" bentakan kedua Pak Torro mengembalikan jiwaku secara paksa ke dalam ragaku yang sudah ternoda ini.
Aku menelan ludah yang rasanya seperti menelan paku payung. Aku perlahan mendongak, menatap Pak Torro dengan mata berkaca-kaca menahan penderitaan absolut.
"I-i-iya, Pak... D-dengar, Pak..." suaraku bergetar parah, melengking seperti kaset rusak.
"Kenapa kamu diam saja dari tadi? Mana catatanmu?! Wajahmu pucat begitu, kamu tidur sambil melek ya?!" omel Pak Torro galak, menunjuk buku catatanku yang masih kosong melompong.
"S-s-saya... saya lagi menyerap materinya secara m-m-mental, Pak..." jawabku ngawur, otakkuk sudah tidak berfungsi normal karena 90% aliran darahku fokus pada apa yang terjadi di dalam celanaku.
Pak Torro mendengus kasar. Beliau memukulkan penggaris kayunya ke mejaku. BTAK! "Alasan! Catat semua yang ada di papan tulis! Kalau sampai bel bunyi catatanmu belum selesai, kamu saya jemur di lapangan!" ancamnya, lalu berbalik dan berjalan kembali ke depan kelas.
Aku menghela napas panjang. Bukan napas lega, melainkan napas keputusasaan.
Kini aku sedang duduk di atas ranjau biologis yang kuciptakan sendiri. Aku bisa merasakan kehangatan yang menjijikkan itu menempel di kain celana dalam Spiderman kesayanganku. Aku tidak berani bergerak. Sedikit saja aku bergeser, kotoran itu akan menyebar ke area yang lebih luas, dan yang paling mengerikan... bisa menembus celana abu-abuku!
Misi sekarang berubah. Bukan lagi menahan boker, tapi menahan agar tidak ada yang tahu bahwa aku sudah boker!
Masalah utama dari kotoran adalah AROMA.
Bau belerang busuk sisa pencernaan Seblak Jeletot perlahan mulai menguar, mencari jalan keluar dari balik celanaku. Aku harus menciptakan ruang kedap udara (Vacuum Seal) antara bokongku dan permukaan kursi kayu!
Aku menekan bokongku sekuat tenaga ke alas kursi. Aku tidak boleh memberikan celah sedikit pun bagi gas beracun itu untuk terbang ke hidung Dimas.
"Ru... lu nyium bau aneh nggak sih?" bisik Dimas tiba-tiba, hidungnya mengendus-endus udara di sekitarnya seperti anjing pelacak BNN. "Bau... bau got mampet campur telor busuk..."
Jantungku berdegup sekencang mesin bor listrik. Gila, cepet banget baunya nyebar! batinku panik.
Aku harus menggunakan Teknik Pengalihan Isu. "B-bau apaan? Gue nggak nyium apa-apa. Hidung lu kali tuh, lu belom mandi kan tadi pagi?" tuduhku cepat, mencoba melemparkan kesalahan secara halus.
"Enak aja lu! Gue mandi pake sabun dettol tadi!" protes Dimas pelan. Tapi dia kembali mengendus. "Sumpah, baunya tajem bener dari arah lu, Ru."
Aku tidak punya pilihan lain. Aku merogoh saku tasku secara perlahan, sangat perlahan agar bokongku tidak bergeser. Aku mengeluarkan sebotol cologne murah merek Gatsby varian Cool Ocean (yang aromanya lebih mirip cairan pembersih lantai).
Aku pura-pura menjatuhkan pulpenku ke bawah meja. Saat aku menunduk (sambil tetap menjaga segel bokongku tetap rapat di kursi), aku membuka tutup botol cologne itu, dan MENYEMPROTKANNYA SECARA BRUTAL ke arah celanaku sendiri di bawah meja!
PSSST! PSSST! PSSST! PSSST! Setengah botol cologne kuhabiskan dalam waktu tiga detik. Aroma parfum murahan yang sangat menyengat hidung itu langsung meledak memenuhi radius mejaku, bertarung sengit melawan aroma kotoran seblak di udara.
"UHUK! UHUK!" Dimas terbatuk-batuk hebat sambil mengipas-ngipas wajahnya. "Gila lu, Ru! Lu mandi parfum di kelas?! Pantes bau aneh, parfum lu baunya kayak karbol WC! Pusing kepala gue!"
"S-s-sory... t-tadi gue nggak sengaja kepencet di tas," ngelesku dengan wajah sok polos.
Berhasil! Aroma kotoran itu berhasil tersamarkan secara sempurna oleh bau menyengat parfum murahan! dimas tidak curiga bahwa dia sedang duduk bersebelahan dengan senjata biologis!
Namun, penderitaanku belum berakhir. Waktu seolah berjalan mundur, dua puluh menit terakhir pelajaran Pak Torro adalah penyiksaan fisik dan mental terpanjang dalam 16 tahun kehidupanku.
Setiap kali aku harus menulis, tubuhku tegang. Aku tidak berani menyandarkan punggungku. Aku tidak berani bernapas terlalu dalam. Aku duduk dengan postur sekaku patung Jenderal Sudirman di jalan protokol.
Kotoran basah di dalam celanaku itu terasa dingin. Suhu AC kelas mulai membekukan kehangatannya, menciptakan sensasi lengket dan basah yang menjijikkan di kulitku. Sesekali pantatku terasa gatal, tapi aku tidak berani menggaruknya. Ini adalah neraka duniawi.
"Tuhan," doaku merintih dalam hati. "Kalau Engkau membiarkanku selamat dari kelas ini tanpa ketahuan, hamba berjanji tidak akan pernah makan seblak level kiamat lagi seumur hidup hamba. Hamba akan rajin menabung dan membantu ibu mencuci piring. Tolong percepat waktu, ya Tuhan..."
TENG! TENG! TENG! TENG! Bel tanda pergantian jam pelajaran akhirnya berbunyi dengan lantang. Suara yang lebih merdu dari nyanyian malaikat surga!
Pak Torro menghentikan tulisannya di papan tulis. Beliau merapikan buku-bukunya. "Oke, cukup sekian untuk hari ini. Jangan lupa PR halaman 150 dikerjakan! Selamat siang."
Pak Torro melangkah keluar dari kelas.
Begitu bayangan guru killer itu menghilang di balik pintu, seisi kelas langsung mendesah lega. Semua murid mulai merenggangkan badan, mengobrol, dan bersiap untuk pelajaran selanjutnya.
Tapi bagiku, misi utama baru saja dimulai. Operasi Evakuasi Barang Bukti.
"Dim, gue ke toilet bentar ya," kataku pelan, suaraku masih serak karena dehidrasi akibat menahan boker.
"Yoi. Jangan lama-lama, abis ini pelajaran Bu Eni," jawab Dimas tanpa curiga.
Aku berdiri dari kursiku. Saat aku berdiri, aku harus memastikan tidak ada damage visual yang tertinggal. Aku melirik ke alas kursiku. Bersih. Puji syukur kepada Tuhan, bahan celana SMA yang tebal dan warnanya yang abu-abu gelap berhasil menahan kotoran itu agar tidak tembus ke luar! Tidak ada bercak cokelat!
Tapi, masalah mekanisnya adalah saat aku berjalan. Kalau aku berjalan normal, kotoran di dalam celana dalamku itu akan tergesek-gesek, menyebar ke segala arah, dan berpotensi menetes ke bawah selangkangan celana seragamku!
Maka, aku harus mengadopsi gaya berjalan yang sangat khusus. The Cowboy Walk. (Jalan ala Koboi).
Aku membuka kedua pahaku sedikit lebar (mengangkang) agar bagian dalam pahaku tidak saling bersentuhan. Aku melangkah dengan sangat pelan, sangat hati-hati, dengan lutut sedikit ditekuk. Pantatku kukencangkan ke belakang. Posturku saat itu persis seperti orang yang baru saja disunat atau terkena penyakit ambeien stadium akhir.
"Lu ngapa jalan ngangkang gitu, Ru? Habis sunat ulang lu?" teriak salah satu teman sekelasku dari barisan belakang.
"K-kram... selangkangan gue kram abis main bola kemarin..." dustaku sambil tersenyum menahan tangis kehancuran harga diri.
Aku berjalan keluar kelas. Melintasi lorong sekolah yang sedang ramai dengan langkah tertatih-tatih. Setiap tatapan mata siswa lain terasa seperti tikaman belati. Aku berkeringat dingin, menahan napas agar baunya tidak tercium saat aku berjalan melewati kerumunan. Jarak dari kelasku ke toilet ujung sekolah yang biasanya bisa ditempuh dalam satu menit, kini terasa seperti pendakian Gunung Everest tanpa tabung oksigen.
Lima menit kemudian, aku akhirnya tiba di toilet pria yang sepi dan berbau pesing. Sebuah tempat suci yang menyambut kedatanganku.
Aku mengunci diri di dalam bilik toilet (WC Jongkok). Aku menarik napas panjang, bersiap menghadapi realita yang brutal.
Dengan tangan gemetar, aku membuka ritsleting celanaku. Aku melorotkan celana abu-abuku perlahan hingga ke lutut. Lalu, mataku tertuju pada celana dalam Spiderman kesayanganku.
Kondisinya... tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata manusia. Itu adalah lokasi tempat kejadian perkara (TKP) sebuah bencana alam. Lumpur berwarna cokelat kekuningan menodai seluruh permukaan kain katun bagian belakang. Aromanya sangat mematikan hingga membuat mataku perih.
Aku menatap celana dalam itu dengan pandangan kosong. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Kalau aku memaksakan diri mencucinya di wastafel sekolah, selain menjijikkan, baunya akan menyebar ke seluruh lorong dan aku akan dituduh sebagai tersangka terorisme biologis.
Hanya ada satu jalan keluar untuk menghapus aib ini secara permanen.
Aku melepaskan celana dalam itu dengan sangat hati-hati (hanya menggunakan dua jari telunjuk dan jempol) agar tidak mengotori tanganku. Aku menatapnya untuk terakhir kalinya. Celana dalam Spiderman ini adalah hadiah ulang tahun dari ibuku tahun lalu. Warnanya sudah mulai memudar, tapi ia sangat nyaman dipakai. Dan kini, ia harus mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan reputasiku.
"Maafkan aku, Peter Parker," bisikku lirih, menahan air mata kesedihan yang nyata. "Terima kasih atas perlindunganmu hari ini. Pengorbananmu tidak akan pernah kulupakan."
Aku membungkus celana dalam itu menggunakan banyak sekali kertas tisu toilet hingga bentuknya menyerupai bola mumi berwarna putih. Aku mengikatnya dengan karet gelang yang kutemukan di saku (entah darimana).
Lalu, dengan langkah khidmat, aku membuang bola tisu berisi aib masa remajaku itu ke dalam tong sampah besar di sudut toilet, dan menimbunnya dengan sampah-sampah kertas lainnya agar tidak terlihat.
Aku membersihkan diriku dengan air keran sebanyak mungkin, lalu memakai kembali celana seragam abu-abuku secara langsung.
Ya. Sejak menit itu hingga bel pulang sekolah berbunyi di sore hari, Heru si siswa SMA yang malang, harus menjalani sisa hari akademisnya tanpa mengenakan celana dalam (Commando Mode). Gesekan kasar kain celana seragam pada kulitku terasa aneh dan menggelikan, seolah mengingatkanku secara konstan pada tragedi kelam yang baru saja kualami.
Tapi tidak apa-apa. Aku selamat. Tidak ada satu pun manusia di sekolah ini yang tahu bahwa aku telah buang air besar di celana saat pelajaran guru paling killer se-kabupaten. Rahasia ini akan kubawa sampai mati.
Atau setidaknya, sampai aku menceritakannya sendiri kepada dunia sebagai bukti bahwa aku pernah selamat dari kiamat pencernaan.