Matahari siang itu tidak bersinar. Dia menyengat. Seolah-olah Tuhan sedang memegang kaca pembesar raksasa dan mengarahkannya tepat ke ubun-ubunku yang tertutup helm berbau apek ini.
Aku, Heru, seorang ksatria jalanan berseragam oranye (yang kini warnanya lebih mirip coklat kena debu), memarkir motor bututku di depan sebuah rumah kos-kosan suram di pinggiran kota. Kosan ini memiliki aura mistis, jenis tempat di mana lumut tumbuh subur di tembok dan jemuran pakaian dalam bergelantungan seperti bendera kekalahan.
Di tanganku, tergenggam sebuah benda keramat. Sebuah paket kecil. Sangat kecil. Seukuran kotak sabun batang. Dibungkus plastik hitam (khas paket murah), dengan label COD: Rp 25.500,-.
Target hari ini: Bapak Rian. Alamat: Kosan "Berkah Selalu" (padahal kelihatannya "Sial Melulu"), Kamar No. 4. Status Aplikasi: Penerima Ada di Lokasi.
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma knalpot dan selokan mampet, lalu mengeluarkan auman khas kaumku. Auman yang bisa menembus dinding beton dan mimpi siang bolong.
"PAKEEEEEEEEEEEET!!!!!"
Suaraku menggelegar. Burung gereja di kabel listrik terbang kaget. Kucing garong di tong sampah melompat kabur. Hening. Tidak ada jawaban.
Aku menunggu lima detik. Prosedur standar. Lalu aku berteriak lagi, kali ini dengan vibrato ala penyanyi seriosa.
"MISIIII!!! PAKET COD KAK RIAAANNN!! PAKETNYA SAMPAIII!!"
Masih hening. Rumah kos itu sunyi senyap seperti kuburan elit. Jendelanya tertutup rapat, gordennya ditarik penuh.
Aku mengecek aplikasi lagi. GPS menunjukkan titik biru tepat di atas kepalaku. Artinya, si Rian ini ada di sini. Di dalam radius 5 meter dariku. Apakah dia mati? Apakah dia sedang semedi? Atau dia sedang di kamar mandi, bertarung melawan sembelit?
Mataku yang tajam, terlatih mendeteksi alamat palsu dan anjing galak, menangkap pergerakan. Di jendela kamar nomor 4. Ada celah kecil di gorden. Sebuah mata terlihat mengintip. Mata itu liar, penuh ketakutan, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Begitu mata kami bertemu, SRET! Gorden itu tertutup rapat lagi secepat kilat.
"Aha!" batinku. "Ada kehidupan! Kau tidak bisa lari dariku, Rian. Target performaku bulan ini masih kurang 2%."
Aku turun dari motor. Aku mendekati pagar yang digembok rantai kapal. "Mas Rian!" teriakku, kali ini nadanya sedikit menekan. "Saya liat Mas ngintip tadi! Keluar dong Mas, panas nih! Saya mau lanjut ke kelurahan sebelah!"
Masih hening. Ini penghinaan. Aku, seorang profesional yang menerjang badai dan banjir demi mengantar paket, diabaikan begitu saja?
Kecurigaan mulai tumbuh. Jangan-jangan si Rian ini pingsan? Atau sakit parah? Atau jangan-jangan dia tersandera di kamarnya sendiri? Sebagai warga negara yang baik, aku merasa bertanggung jawab.
Aku mengguncang pagar besi itu. Klang! Klang! Klang! "MAS RIAN! KELUAR MAS! JANGAN BIKIN SAYA MASUK YA!"
Ancaman kosong. Mana berani aku masuk tanpa izin. Itu pelanggaran hukum. Tapi, rasa penasaran dan frustrasi karena kepanasan membuat logika purbaku mengambil alih. Pagar ini pendek. Paling cuma satu setengah meter. Ada pijakan di tembok samping.
"Oke, Rian. Kamu main petak umpet. Aku yang jaga."
Dengan gaya kikuk ala Jackie Chan yang kebanyakan makan gorengan, aku memanjat pagar itu. Kaki kiriku nyangkut sedikit di jeruji besi, membuat celana bahanku berbunyi krek (robek dikit di selangkangan, standar risiko kerja). Hap! Aku mendarat di halaman kosan.
Aku berjalan menuju pintu kamar nomor 4. Langkahku mantap. Aku mengetuk pintu dengan sopan tapi tegas. Tok. Tok. Tok.
"Mas Rian, ini kurir. Paketnya kecil kok. Tinggal bayar 25 ribu, terus saya pergi. Sumpah saya bukan mau nawarin asuransi."
Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam kamar. Suara benda jatuh. Gubrak! Lalu suara langkah kaki terburu-buru. Tap tap tap tap!
"Lho? Mas?"
Aku mencoba mengintip lewat ventilasi udara. Dan pemandangan yang kulihat sungguh di luar nalar. Jendela belakang kamar itu terbuka lebar. Seorang pria kurus kering, memakai kaos kutang (singlet) bolong dan celana kolor motif Spongebob, sedang memanjat keluar jendela dengan gerakan akrobatik yang putus asa.
Dia membawa tas ransel kecil yang terlihat kosong, wajahnya pucat pasi seperti mayat berjalan.
"WOY! MAS! MAU KE MANA?!" teriakku kaget.
Pria itu, Rian, menoleh ke arahku sebentar. Matanya melotot horor. "JANGAN KEJAR GUE, BANGSAT! GUE GAK PUNYA DUIT! AMPUN BANG! BILANG SAMA BOS LU, BULAN DEPAN GUE BAYAR!"
Setelah berteriak, dia melompat keluar jendela, mendarat di kebun singkong tetangga, dan mulai berlari kencang.
Aku bengong. Bos? Bulan depan? Otakku memproses informasi. Ah! Dia pikir aku maling?! Atau dia pikir aku mau nagih utang? Tunggu, dia lari membawa tas. Jangan-jangan dia maling yang sedang membobol kosan Rian, dan sekarang dia kabur?!
Insting kepahlawananku (dan ketakutan kehilangan paket) menyala. Kalau dia kabur, paket ini retur. Kalau retur, performaku turun. Kalau performa turun, bonusku melayang. Kalau bonus melayang, aku nggak bisa bayar cicilan panci ibuku. Demi Panci Ibuku.
"WOY! JANGAN LARI! BALIK SINI!"
Tanpa pikir panjang, aku berlari memutar ke belakang kosan. Aku melihat Rian si Kolor Spongebob sudah melompati pagar kebun dan menuju hamparan sawah yang luas di belakang komplek.
"Kejar, Heru! Kejar demi 25 ribu!"
Maka dimulailah adegan kejar-kejaran paling tidak epik dalam sejarah umat manusia. Bukan kejar-kejaran mobil mewah di jalan tol seperti Fast & Furious. Ini adalah kejar-kejaran dua pria dewasa yang kurang gizi di tengah pematang sawah yang becek.
Rian berlari di depan. Kecepatannya luar biasa untuk orang yang kelihatannya jarang makan. Dia melompati galengan sawah seperti kijang. Aku di belakangnya, berlari sambil memegang paket di tangan kanan dan memegangi helm di tangan kiri (bodohnya aku lupa lepas helm).
"BERHENTI! GUE CUMA MAU NGASIH BARANG!" teriakku. Suaraku serak karena teriak lawan angin.
"BOHONG! SEMUA DC (DEBT COLLECTOR) NGOMONGNYA GITU! MATI AJA LU ANJING!" Rian membalas teriak tanpa menoleh.
"GUE BUKAN DC! GUE KURIR!"
"MANA ADA KURIR MANJAT PAGAR TERUS NGEJAR SAMPE SAWAH?! LU PASTI MATA-MATA PINJOL!"
Sialan. Dia ada benarnya juga. Secara logika, tingkah lakuku memang mencurigakan. Tapi aku sudah kepalang basah (secara harfiah, kakiku sudah masuk lumpur).
Kami berlari menembus hamparan padi yang baru ditanam. Matahari membakar kulit. Lumpur sawah yang lengket menghisap sepatu kets KW-ku. Plok. Plok. Cprot. Cprot. Suara langkah kaki kami terdengar menjijikkan.
Rian tiba-tiba terpeleset. Gubrak! Dia jatuh telungkup ke dalam lumpur hitam yang bau kompos. Aku bersorak dalam hati. Kesempatan!
Tapi Rian memiliki semangat hidup seekor kecoak. Dia bangkit seketika, wajahnya sekarang hitam legam penuh lumpur, hanya matanya yang putih melotot. Dia terlihat seperti monster rawa.
"JANGAN DEKET-DEKET! GUE LEMPAR KEONG MAS LU!" ancam Rian sambil memungut keong sawah.
"MAS! DENGERIN DULU! SAYA HERU! DARI EKSPEDISI 'KILAT LAMBAT'! INI PAKET ATAS NAMA RIAN!"
"GUE GAK PESEN PAKET! GUE MISKIN!"
"INI COD 25 RIBU DOANG YA ALLAH!"
Rian tidak percaya. Dia kembali berlari. Kali ini dia menuju parit irigasi yang agak lebar. "Gue bakal nyebrang! Jangan ikutin gue!" teriaknya histeris.
"Mas! Itu dalem Mas! Jangan nekat!"
Rian tidak peduli. Dia melompat. Gaya lompatannya heroik. Kaki merentang, tangan menggapai udara. Sayangnya, dia lupa hukum fisika dan kondisi gizi buruknya. Dia tidak sampai ke seberang. BYURRR!
Rian jatuh tepat di tengah parit irigasi yang airnya coklat keruh.
Aku berhenti di pinggir parit. Napasku memburu seperti kompresor tambal ban yang mau meledak. Dadaku sakit. Helm di tanganku sudah penuh lumpur karena tadi sempat kulempar saking beratnya.
"Mas..." panggilku ngos-ngosan. "Mas Rian... masih idup?"
Dari dalam air keruh itu, muncul kepala Rian. Ada eceng gondok nyangkut di telinganya. Dia terbatuk-batuk, memuntahkan air sungai rasa limbah rumah tangga. "Uhuk... uhuk... Lu... lu gigih banget sih Bang... Gue nyerah... Gue nyerah..."
Rian merangkak naik ke pinggir parit, lemas tak berdaya. Dia terbaring terlentang di rumput liar, menatap langit. Aku duduk di sebelahnya, sama-sama hancur. Sepatuku sebelah hilang tertelan lumpur. Celanaku basah kuyup.
Kami berdua terdiam selama satu menit. Hanya suara napas ngik-ngik kami yang terdengar, diiringi suara jangkrik siang hari yang mungkin sedang menertawakan kami.
Setelah detak jantungku turun dari 180 ke 120, aku membuka suara.
"Mas Rian," kataku sambil menyodorkan paket kecil yang plastik hitamnya kini sudah berlumpur. "Ini paket lu. Sumpah. Gue kurir."
Rian menoleh pelan. Dia menyipitkan mata, menatap paket itu. "Lu... lu beneran kurir?"
"Iya, Bambang! Liat nih seragam gue!" Aku menunjuk jaket oranyeku yang sekarang warnanya sudah abstrak. "Ada logonya kan? Walaupun ketutupan lumpur."
Rian bangun perlahan, duduk memeluk lutut. Dia mengusap wajahnya, membuat lumpur makin rata. "Gue kira lu Debt Collector dari aplikasi 'PinjamDuluBayarKapan2'. Soalnya gue telat bayar 3 bulan. Mereka ngancem mau datengin lapangan."
"Ya ampun, Mas. Kalo DC mah gayanya sangar, badannya gede, naik motor NMAX. Liat gue! Gue kurus, motor gue Beat getar, muka gue muka orang susah! Mana ada DC tampangnya melas kayak gue?"
Rian menatapku lekat-lekat. Lalu dia tertawa. Tawa miris. "Iya juga ya. Lu keliatan lebih menderita daripada gue."
"Sialan. Yaudah nih, bayar. COD Rp 25.500."
Rian meraba saku celana kolor Spongebob-nya. Wajahnya berubah panik lagi. "Waduh, Bang."
"Kenapa lagi? Dompet lu hanyut?"
"Enggak. Duit gue... basah semua." Dia mengeluarkan uang kertas lecek yang sudah basah kuyup, berwarna coklat kena air parit, dan sobek di ujungnya. "Laku gak ya Bang?"
Aku menatap uang itu. Selembar 20 ribu dan selembar 5 ribu. Dua-duanya menyedihkan. "Yaudah lah, Mas. Nanti gue jemur di knalpot. Yang penting setoran masuk."
Rian menyerahkan uang itu. Aku menyerahkan paketnya. Transaksi selesai. Di tengah sawah. Di bawah terik matahari. Dengan kondisi kami berdua seperti korban bencana alam.
Rian membuka paket itu dengan tangan gemetar. Dia merobek plastiknya. Isinya sebuah kotak kecil berwarna pink.
Aku penasaran. Setengah mati penasaran. "Mas, kalo boleh tau... kita udah lari-larian hampir mati, lu nyebur parit, gue ilang sepatu... itu isinya apaan sih? Penting banget kayaknya?"
Rian membuka kotak itu. Dia mengeluarkan isinya. Dua buah bulatan kecil bening dalam wadah plastik.
Softlens. Warnanya: Twilight Vampire Red (Merah Vampir).
Hening lagi. Angin sawah bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma kegagalan.
"Softlens?" tanyaku datar.
"Iya, Bang," jawab Rian pelan, wajahnya memerah malu (walaupun gak kelihatan karena lumpur).
"Lu... dikejar utang jutaan, hidup dalam ketakutan, manjat jendela kayak maling... cuma buat beli softlens warna merah mata vampir?"
Rian menunduk. "Gue... gue mau ikut Cosplay Event minggu depan, Bang. Gue mau jadi Edward Cullen versi kearifan lokal. Biar bisa dapet pacar wibu, siapa tau dia kaya dan bisa lunasin utang gue."
Aku menatap Rian. Aku menatap langit. Aku menatap lumpur di kakiku.
Ingin rasanya aku membenamkan Rian kembali ke dalam parit itu dan menahannya di sana selama lima menit. Jadi, semua drama ini... semua kelelahan ini... hanya demi ambisi seorang pemuda pengangguran yang ingin cosplay jadi vampir di tengah lilitan utang pinjol?
"Mas Rian," kataku dingin.
"Iya, Bang?"
"Besok-besok, kalo paketnya COD, tolong sediain duit pas dan JANGAN LARI KE SAWAH. Gue kurir, bukan pelatih tentara."
"Iya Bang, maaf Bang. Gue trauma suara motor matic."
"Terus ini kita baliknya gimana? Motor gue di depan kosan, sepatu gue ilang satu."
Rian nyengir, memperlihatkan giginya yang kuning kontras dengan wajah lumpurnya. "Jalan kaki, Bang. Lewat pematang lagi. Nanti gue traktir es teh manis di warung depan."
"Pake duit siapa? Duit lu kan udah abis buat bayar ini?"
Rian terdiam. "Oh iya... Yaudah Bang, lu yang traktir gue ya? Kan lu abis dapet bonus performa?"
Aku menghela napas panjang. Sangat panjang. "Jalan aja lah, Mas. Sebelum gue berubah jadi Hulk dan ngebanting lu ke sawah lagi."
Kami berjalan beriringan kembali ke kosan. Pemandangan yang sangat absurd. Seorang kurir tanpa satu sepatu, helm penuh lumpur, berjalan tertatih-tatih. Di sebelahnya, seorang pria kolor Spongebob, basah kuyup, memegang kotak softlens seperti memegang piala Oscar.
Warga kampung yang melihat kami hanya bisa geleng-geleng kepala. "Abis nyari belut, Mas?" tanya seorang petani.
"Bukan, Pak," jawabku. "Abis nyari arti kehidupan."
Sampai di depan kosan. Aku naik ke motor. Jok motorku panas, tapi pantatku yang basah membuatnya mendesis seperti setrikaan. "Makasih ya Bang Heru," kata Rian melambaikan tangan. "Bintang lima buat pelayanannya!"
"Bintang satu buat kelakuan lu!" balasku.
Aku menyalakan motor. Suara mesin motor Beat-ku terdengar merdu, tanda aku bisa pulang. Tapi saat aku melihat spion, aku melihat wajahku sendiri. Ada lumpur di pipi. Ada daun kering di helm.
Aku, Heru. Hari ini aku tidak hanya mengantar paket. Hari ini aku mengantar harapan seorang cosplayer miskin, sambil menghancurkan harga diriku sendiri di kubangan lumpur.
Tapi tak apa. Di aplikasi, aku menekan tombol: PAKET DITERIMA. Status: SUKSES.
Dan itulah satu-satunya hal yang penting bagi seorang kurir. (Selain sepatu sebelah kiriku yang sekarang mungkin sedang dijadikan rumah oleh keong sawah).
Seminggu kemudian, aku melihat foto di Instagram (via explore). Foto Rian. Memakai kostum vampir jas hitam murah, bedak tebal keputihan, dan softlens merah itu. Caption-nya: "The dark side is lonely... but cool. #CosplayLife #Vampire #PinjolHunter"
Aku me-like foto itu. Lalu aku komen: "Bayar utang woy, jangan gaya doang." Detik berikutnya, aku diblokir. Dasar Rian.