Disukai
0
Dilihat
18
Ayanushin
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Yibaqa terbangun di bawah tatapan penasaran ribuan bintang.

Kadang kala, bintang-bintang mengingatkan Yibaqa pada ritual malam pergantian tahun di kota yang telah lama ditinggalkannya. Sang Pendeta Agung akan memimpin barisan pendeta dan juru tulis mendaki ratusan anak tangga ke puncak kuil. Di sana, di bawah gemerlap samudera bintang, orang-orang suci itu akan bernyanyi, memuji, memanggil, dan memohon pada para dewa; memohon perlindungan dan pengampunan, kelimpahan panen, kemenangan dalam pertempuran serta meminta petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan para pejabat pemerintahan agar negeri tetap makmur hingga tahun berikutnya.

Ketika itu Yibaqa masih begitu muda—sangat muda sehingga ia belum mendapat kehormatan untuk bisa menyambut kehadiran Dewi Kesuburan dalam tidurnya. Sekarang, ia kesulitan mengingat berapa lama waktu telah berlalu sejak negeri itu menemui akhirnya di tangan pasukan berkuda dari tanah asing. Yibaqa bahkan tidak ingat lagi seperti apa wajah dan suara dari orang yang telah mengajarinya membaca dan menulis, apakah dia masih hidup atau sudah tiada, atau apakah ia menjalani hidup yang sama seperti dirinya; diperjualbelikan layaknya barang.

Kalung dan gelang rantai adalah perhiasan yang tidak pernah lepas dari tubuh Yibaqa. Pernah sekali ia dibeli oleh pejabat kaya yang memperlakukan budak-budak favoritnya seperti harta karun yang disimpan khusus untuk dipamerkan. Pakaian bagus dan kain yang diimpor dari ujung lain dunia, perhiasan emas dan perak sampai batu permata semua ia berikan pada budak-budak yang paling menarik perhatiannya. Selama bersamanya Yibaqa tidak perlu berbuat banyak. Ia hanya diminta tampil cantik dan duduk manis di sebelah majikannya tiap kali ada yang bertamu serta menemaninya dalam urusan ranjang. Yibaqa tidak pernah menikmati perannya yang kedua. Sekujur tubuhnya selalu nyeri selama sehatian penuh setelah sang majikan selesai menggaulinya.

Kemudian, saat si pejabat kaya sudah bosan dengannya, dia menjual Yibaqa pada penggembala yang terkenal sebagai pemilik hewan ternak terbanyak di seantefo negeri. Yibaqa tidak begitu beruntung di bawah kepemilikan majikan barunya. Jika majikan sebelumnya memberitahu semua orang bahwa Yibaqa adalah budaknya dengan memberikan Yibaqa pakaian dan aksesoris terbaik, maka, sang majikan baru, agar semua orang tahu bahwa Yibaqa kini miliknya, membakar kulit perut kanan Yibaqa dengan tongkat besi yang biasa ia gunakan untuk menandai hewan ternaknya. Yibaqa ingat jeritan yang ia keluarkan membuatnya tidak bisa bicara selama beberapa hari.

Lalu datang pasukan berkuda yang sama yang menjadi penyebab runtuhnya negeri asal Yibaqa, dan, lagi, ia jatuh ke tangan majikan baru. Maka dibawanyalah Yibaqa ke negeri asalnya tempat desa, kota, serta bangunan dari batu dan kayu tidak akan ditemukan, sebab masyarakatnya hidup dalam kemah dari kulit hewan dan selalu berpindah-pindah menurut pergantian musim. Tanah asing itu adalah tempatnya langit dan perhiasannya bisa dinikmati tanpa halangan, tempatnya pegunungan berselimut salju berdiri di cakrawala layaknya tembok yang mengelilingi kota-kota besar, tempatnya rerumputan hijau tumbuh bak karpet tanpa ujung di lembah dan perbukitan sepanjang mata memandang. Pepohonan jarang ditemukan di negeri itu, dan populasi kuda liar serta hewan ternak jauh lebih banyak daripada manusia yang menanganinya.

Yibaqa tiba di sana saat malam telah menyelubungi dunia. Meski begitu, bulan serta ribuan bintang di angkasa bersinar begitu terang sehingga ia berpikir negeri itu diberkati oleh malam yang tak pernah singgah. Begitu terpana dirinya pada apa yang tersaji di atas sehingga ia berkali-kali tersandung dan jatuh terjerembab. Berkali-kali pula, di negeri itu, ia kerap kali berpindah tangan.

Ingatan akan rumah masa kecilnya tergerus oleh waktu, yang bisa ia ingat dengan jelas justru kehidupan yang paling ingin ia buang. Rumah dan keluarga hanya kata yang terbentuk dalam benak, tetapi tidak pernah bisa dituliskan di atas kertas.

Yibaqa berguling dan membelalak ketika mendapati selimut wol di sebelahnya tak berpenghuni. Yibaqa duduk tegak, mencari-cari.

"Ayilakh?"

Panik, Yibaqa mengira Ayilakh telah pergi meninggalkannya. Namun dia teringat sesuatu: ada sungai besar tak jauh dari tempatnya berkemah. Bukankah sebelum matahari terbenam ia dan Ayilakh mengisi persediaan air mereka dari sungai itu? Bukankah sudah jadi kebiasaan Ayilakh untuk mandi di tengah malam yang dingin sampai ujung jarinya membiru? Maka Yibaqa pun meninggalkan kemah. Di tepi sungai ia menemukan Thur'ui, kuda betina tunggangan Ayilakh. Di mana ada Thur'ui, di situ pula Ayilakh berada.

Ayilakh berendam telentang di sungai tanpa sehelai pun kain melilit tubuhnya. Rambut hitam panjang tersapu aliran air, bergelombang bagai tinta yang  tumpah dari botolnya. Di bawah langit malam yang terang, sosoknya mengingatkan Yibaqa pada roh air.

Yibaqa berjongkok di samping Ayilakh. "Kau tidak kedinginan?"

Ayilakh membuka mata. Tersenyum, ia mengulurkan tangan untuk membelai sisi wajah Yibaqa. Seluruh tangannya putih pucat, ujung jemarinya berkeriput dan mulai membiru, sedingin es. Yibaqa membawa tangan itu dari sisi wajahnya ke bibir, mencoba menghangatkannya, tetapi selang beberapa detik saja bibirnya malah dingin juga. Ia menggigil ketika angin bertiup.

Ayilakh menarik tangannya dari genggaman Yibaqa. “Tidak. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga tidak,” gumam Yibaqa sambil memeluk diri.

Ayilakh tidak menelan ucapan Yibaqa bulat-bulat. Ia berdiri untuk mengambil tunik yang sebelumnya ditanggalkan di atas batu terdekat. “Kembalilah ke kemah,” tuturnya sembari menyelimuti Yibaqa dengan tunik itu. “Akan kunyalakan api unggunnya dari sini.”

Kemudian Ayilakh kembali berbaring di sungai dengan mata terpejam, tetapi Yibaqa tetap duduk diam di tempatnya, menonton aliran sungai seolah berharap satu atau dua ikan lenok melompat ke permukaan. Tak lama setelahnya, Ayilakh duduk dengan gerakan yang sangat mendadak sehingga air di sekitarnya berkecipak. Dia berputar menghadap Yibaqa, wajahnya sedikit keruh ketika mendapati jejak aliran darah dari telapak ke pergelangan tangannya.

“Yibaqa,” ia menukas.  “Hentikan itu.”

Yibaqa menelengkan kepala, ekspresinya polos. “Hentikan apa?”

“Kau membuat persembahan darah untukku.”

“Dan?”

“Dan—” Ayilakh mengembuskan napas pelan. Ia beranjak dari sungai, berlutut di depan Yibaqa, lalu mengambil kedua tangannya untuk digenggam erat, dekat ke dada. Satu sentuhan singkat menyembuhkan luka sayat kecil di telapaknya. “—dan aku tidak bisa mengabulkan doamu. Sudah pernah kukatakan ini sebelumnya.”

Sudut-sudut bibir Yibaqa sedikit tertarik ke atas. “Aku tidak lupa, tapi itu tidak jadi masalah. Mengetahui kalau doaku didengar saja sudah cukup membuatku lega. Jadi, dewiku, kumohon, tolong dengarkan suara hambamu ini sebentar lagi saja, ya?”

Sementara hening diisi gemercik air sungai dan desir angin malam, Ayilakh tampak terjerat pada kedalaman mata Yibaqa yang terus menenggelamkannya. Dalam upayanya untuk kembali ke permukaan, genggaman Ayilakh pada tangan Yibaqa mengendur, dan, dengan suara tercekat, ia pun berkata, “Tidak ada lagi rantai yang mengalungi lehermu. Kau perempuan merdeka, Yibaqa. Jangan pernah menyebut dirimu sendiri ‘hamba’ di hadapanku lagi atau di hadapan dewa mana pun. Jika ada di antara mereka yang tersinggung, biarkan aku yang bicara.”

Senyum Yibaqa mengembang. “Dalam bahasa pedang?”

Ayilakh mengangguk. “Dalam bahasa pedang.”

Lantas Ayilakh pun menundukkan kepala pada pergelangan tangan Yibaqa, setetes darah yang mengalir di sana meninggalkan jejak merah pekat pada bibir pucatnya.

Yibaqa sedikit menggigil, tetapi bukan karena angin yang baru saja berembus. Ia berbaring di rumput sambil bersedekap, ibu jarinya mengelus pelan tempat bibir Ayilakh menyentuhnya.

“Ayilakh?”

“Hm?”

“Apa Ayilakh memang benar namamu?”

“Bukan. Itu julukan yang diberikan orang-orang padang rumput untukku.“

“Kalau begitu, siapa nama aslimu?”

“Aku tidak ingat.”

“Hah?” Yibaqa menelungkup. “Bagaimana bisa kau lupa namamu sendiri? Kepalamu pernah terbentur?”

Ayilakh tertawa ringan. “Tidak.” Dia meraih segenggam rambut panjang Yibaqa dan mulai menyisirnya dengan jemari. “Aku berkelana ke banyak tempat. Di setiap tempat persinggahan, orang-orang selalu memanggilku dengan nama yang berbeda. Pada akhirnya aku lupa namaku sendiri.”

“Oh.“ Yibaqa merenung sambil menggigiti kuku jari telunjuknya. Dewi tanpa nama.

Saat Ayilakh tengah mengepang rambut Yibaqa, tangannya tiba-tiba membeku. Terbeliak, ia bertanya pada Yibaqa, “Tadi—kau memanggilku apa tadi?”

Yibaqa menyeringai. “Kau dengar itu?”

Ayilakh mengerjap. “... Ayanushin?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Apa artinya?”

Yibaqa duduk bersila. “Dia yang berkelana.”

Tidak jauh dari mereka, Thur'ui meringkik, dan setelahnya Ayilakh tertawa terpingkal-pingkal.

Reaksi Ayilakh sama sekali bukan yang diharapkan Yibaqa. “Apa?” tanyanya, defensif. “Apa yang lucu?”

“Tidak ada, tidak ada,” sahut Ayilakh setelah tawanya reda. Ia berdeham beberapa kali, dan selepasnya ketika ia tersenyum pada Yibaqa, tidak ada olok-olok yang tersembunyi dalam ekspresinya. Ayilakh berkata lembut, “Bolehkah aku menggunakan nama itu?”

Kilau pada mata Yibaqa serupa pantulan cahaya bulan pada permukaan sungai. “Tentu! Tapi aku mau kau berjanji satu hal.”

“Apa itu?”

Yibaqa mencondongkan tubuh ke depan untuk berbisik, “Jangan lupakan nama itu sampai kau mati nanti.”

Lidah Ayilakh kelu sesaat.

Kaum dewata tidak bisa mati, Yibaqa.

Walau begitu, Ayanushin mengangguk setuju.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi