Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
58
Merpati di Pinggir Laut
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Kemarin malam Sangkar Merak kedatangan tamu yang tidak biasa. Bagi kalian yang belum pernah menginjakkan kaki ke dalamnya, Sangkar Merak adalah bisnis yang berlokasi di kota pelabuhan, yang berarti setiap pekerjanya sudah terbiasa melihat berbagai macam orang berpenampilan serta berperilaku berbeda dari warga lokal. Namun tamu yang kemarin ... dia betul-betul lain dari yang lain.

Mereka yang berkunjung ke Sangkar Merak datang untuk bersenang-senang setelah seharian bekerja. Ah, bukan. Bukan karena itu. Walaupun ale kami memang sangat terkenal, tidak ada orang waras yang datang ke sini untuk mencicipinya. Lagi pula minuman itu terkenal karena reputasi buruknya. Saking buruknya bahkan sampai ada yang berkelakar, "Kau mau tahu bagaimana rasanya berdiri di depan gerbang neraka? Pergi ke Sangkar Merak dan pesan ale di sana."

Jadi, apakah ale-nya memang seburuk yang dirumorkan? Sayngnya ya, tetapi tentu saja kami punya penawarnya. Apa lagi kalau bukan para merak cantik yang sudah dipelihara dan dirawat dengan telaten.

Awalnya kukira tamu kemarin malam yang mengenakan jubah pengelana yang warnanya mulai pudar itu ingin makan malam sambil menikmati pemandangan dari para merak, dan jika tertarik, ia akan menghabiskan malam bersama salah satunya. Jadi seperti biasa, aku menawarkan setiap merak yang ada pada pengunjung baru yang belum terlalu familiar dengan harta kami yang paling berharga.

Pertama ada Prusia. Dia tidak banyak bicara, sikapnya sedingin musim dingin terparah dalam sejarah, dan matanya tak berhenti menghakimi setiap pengunjung yang berani mendekat. Kemudian ada Zaitun. Ia lebih lembut dalam berperilaku. Setiap kata yang diucapkannya begitu elegan seolah ia terlahir dari keluarga yang seluruhnya berprofesi sebagai penyair. Keberadaan Pirus menenangkan hati setiap orang yang memilih untuk menghabiskan malam bersamanya. Seorang penyanyi pernah berkata suaranya seperti petikan harpa yang dimainkan dewi cinta dan musik. Setelahnya ada Mirah, si merak yang paling membuat terpana sekaligus disegani.

Dibalut sutra merah menyala, lekuk tubuhnya menarik perhatian mereka yang berada di sekitarnya, riasan matanya yang berani memperkuat tatapan matanya yang sudah tajam. Setiap pengunjung bermimpi untuk menyentuhnya. Sayang bagi mereka, ia bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh di puncak gunung yang terlalu terjal untuk didaki. Hanya ia yang bernyali besar yang bisa menggapainya.

Lalu, meskipun aku tidak yakin kalau pengelana ini punya uang yang cukup, aku juga menawarkan satu-satunya merpati yang dipelihara di Sangkar Merak. Dari semua merak yang ada, hanya merpati kami yang memilih untuk mengenakan penutup wajah. Ia punya aturan sendiri dalam berbisnis: tidak ada yang boleh melihat wajahnya kecuali pelanggan yang hendak menghabiskan satu malam bersama. Oleh karena itu, ada rumor yang beredar bahwa kecantikan sang Merpati begitu tak tertandingi sehingga melihat wajahnya barang sekali saja bisa membuat seseorang teringat padanya selama sepuluh tahun.

Tadi kubilang aku sempat ragu ketika menawarkan merpati kami pada si pengelana karena aku tidak yakin ia punya uang yang cukup. Inilah alasannya: sang Merpati selalu jadi favorit para pejabat pemerintahan bergelimang uang dan orang-orang dari kalangan bangsawan. Mereka yang berstatus sedikit saja di bawah saudagar kaya jangan harap bisa menyentuhnya.

Namun siapa sangka kalau si pengelana justru mengeluarkan satu kantung penuh koin emas dan membantingnya ke atas meja? Menilai dari penampilan luarnya siapa yang tidak terkejut? Bahkan pedagang kain sutra yang duduk di sebelahnya saja sampai tersedak ale.

Yah, mau bagaimana lagi? Uang tetaplah uang. Dari mana si pengelana bisa mendapatkan uang sebanyak itu bukan urusanku, dan jelas bukan urusan sang Merpati juga. Jadi, setelah mengambil uangnya, sang Merpati membawa si pengelana ke lantai atas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan paginya, hari ini, aku bertanya pada sang Merpati pelanggan seperti apa si pengelana berjubah pudar itu.

Ia menjawab, "Aku pun tidak tahu harus berkata apa tentangnya. Dia ingin melihat wajahku, maka kutunjukan wajahku padanya. Namun setelahnya dia tidak meminta apa-apa lagi. Dia bahkan tidak menyentuhku."

Aku terdiam, kehabisan akal. Tiga tahun aku bekerja di Sangkar Merak, baru kali ini ada pelanggan yang datang ke rumah bordil dan membayar mahal seorang pelacur tetapi memilih untuk tidak tidur dengannya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi