Aku ingat Yibaqa Sang Juru Tulis pernah bercerita padaku, "Ketika para dewa tak lagi mendengarkan permohonan pengikutnya, ketika yang mati tak lagi beristirahat dengan tenang, seorang pendeta buta bermimpi dalam tidurnya. Di dalam mimpinya, penglihatan sang pendeta sesempurna penglihatan elang. Dia melihat segalanya. Warna, bentuk, cahaya, dan bayangan dengan begitu jelas hingga air matanya tidak bisa dibendung.
"Langit yang menaungi kepalanya segelap ruang bawah tanah yang tidak diterangi obor, tetapi setiap kali ia mengedipkan mata seribu bintang ikut berkedip bersamanya. Kemudian datang tiga bulan—masing-masing lebih besar dari yang lain—dan berperan sebagai penggembala untuk menggiring para bintang dari langit di timur ke langit di barat. Setelah bulan ketiga tak lagi tampak di kaki langit, datanglah malam tanpa setitik pun cahaya. Sang pendeta harus menunggu lama hingga kerlip para bintang kembali muncul.
"Di tempat itu malam merajai segalanya, dan siang dan matahari tidak dikenal.
"Setiap ketiga bulan dan gembala bintangnya hadir di langit, dunia tempat sang pendeta memijakkan kaki berubah sedikit demi sedikit. Pertama mengalir sungai kecil dan bercabang banyak, dan rumput tumbuh di tanah yang semula kering kerontang. Kemudian bunga liar bermekaran di mana-mana, kelopaknya mencuri cahaya bintang yang melimpah sehingga mereka pun sama terangnya seperti bintang-bintang itu sendiri. Ketika ketiga bulan hadir untuk ketiga kalinya, ratusan pohon beringin memaksa keluar dari dalam tanah seperti bayi yang memaksa keluar dari rahim dengan merobek perut ibunya sendiri.
"Pohon-pohon beringin itu tumbuh setinggi tembok yang membentengi ibu kota. Batang serta rantingnya tumbuh melebar sehingga dedaunan antara satu pohon dengan pohon yang lain saling bertemu. Sang pendeta berdiri bergeming. Ia menengadah menatap ratusan akar yang menggantung. Tepat di atasnya, tiga hingga lima akar saling belit jadi satu dan melingkar pada leher seseorang yang sebelumnya tidak ada di sana. Seseorang yang tidak asing, sebab wajahnya adalah wajah yang terpahat pada patung Dewa Matahari yang disembah sang pendeta di kuilnya."
Dulu Yibaqa memberitahuku bahwa ia bekas budak yang terlatih dalam bidang baca-tulis dan bahasa asing. Mantan majikannya menempatkan ia di banyak kuil sebagai juru tulis untuk membuat dokumen administrasi dan keuangan, menerjemahkan dokumen berbahasa asing, dan membuat salinan dari dokumen penting demi kepentingan arsip. Dari pengalamannya sebagai juru tulis di berbagai kuil, Yibaqa membuat satu kesimpulan: apa pun kepercayaan yang dianut, siapa pun dewa yang disembah, selalu ada satu dokumen tentang seorang suci yang bermimpi sama seperti yang dimimpikan sang pendeta buta penyembah Dewa Matahari.
Begitu besar dampak yang bisa dihasilkan dari dokumen seperti itu jika isinya sampai bocor ke tangan yang salah sehingga Yibaqa dan semua juru tulis kuil dipaksa bersumpah diam di hadapan pendeta agung. Bahwasannya selain untuk kepentingan arsip kuil, para juru tulis dilarang membuat salinan dari dokumen tadi secara diam-diam dan menyebarluaskannya ke ranah publik. Membicarakannya di luar tembok kuil pun dilarang. Jika sumpah ini dilanggar maka ganjaran teringannya adalah pencabutan status juru tulis kuil dan pengasingan. Sedangkan ganjaran terberatnya, tanpa diberitahu Yibaqa pun aku sudah bisa menebaknya.
Aku mengerti alasannya. Di saat-saat sulit seperti kala itu, orang biasa tidak bisa lagi berharap pada mereka yang duduk di kursi tinggi. Harapan terakhir mereka ditujukan untuk para dewa. Jika mereka sampai tahu orang suci dari kuil melihat mimpi di mana sosok dewa yang mereka puja tergantung mati di tempat yang tidak pernah dijamah manusia, kekacauan yang berakar dari keputusasaan akan melanda seluruh negeri.
Ah. Manusia memang makhluk yang menarik. Walaupun sebagian ada yang mendedikasikan hidupnya untuk mencari kebenaran, sebagian lagi berpikir hidup dalam kebohongan lebih baik daripada harus menghadapi kenyataan. Aku tidak pernah mengerti kenapa mempercayai sosok yang lebih tinggi keberadaannya menjadi suatu keharusan bagi mereka, sedangkan sosok yang diagung-agungkan saja tidak punya kendali penuh atas hidupnya sendiri.
Para dewa memanglah kejam, tetapi mereka yang menciptakan para dewa jauh lebih kejam.