Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
20
Darah Perak
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Kau sudah dengar?"

"Apa?"

"Kota Neda. Sudah dengar apa yang terjadi pada kota itu bulan lalu?"

"Sedikit. Aku dengar rumornya dari karavan pedagang. Tukang pembual. Mana ada orang waras yang percaya cerita gila seperti itu?"

"... Segila apa cerita yang kau dengar?"

"Seluruh kota terbakar dalam satu malam? Api putih yang tidak pernah padam? Itu saja sudah tidak masuk akal. Lagi pula mana ada api putih?"

"Sepertinya kau harus tanya ahli alkimia soal itu. Terus? Kau dengar apa penyebabnya?"

"Murka seorang dewa setelah mengetahui pengikutnya terbunuh di sana. Menurutku terlalu kejam. Nyawa satu orang dibayar dengan seisi penduduk kota? Kau yakin dia bukan iblis?"

"Shh! Jangan bicara sembarangan. Kalau dia mau dipanggil dewa, kita panggil dia dewa. Atau dewi. Jika kau tidak akan menyembahnya, setidaknya hormati dia."

"Aku tidak pernah dengar ada dewa dengan nama itu. Nah, apa kubilang? Pedagang itu pembual ulung. Seharusnya mereka menulis syair saja daripada berdagang."

"Siapa namanya? Aku lupa."

"Ayanushin. Nama yang konyol."

"Jaga bicaramu."

***

Hondu datang membawa badai. Air menghantam tanah bagaikan hujan anak panah di tengah medan pertempuran. Meskipun begitu, lautan api yang menjadi lawannya menolak bertekuk lutut. Apinya terus berkobar, putih seperti bintang; seekor singa yang menolak dikekang.

Manusia dungu, pikir Hondu. Berhenti melahirkan dewa baru jika kalian tidak bisa menanggung akibatnya.

"Ilya."

Ilya, gadis kurus berusia dua belas tahun, mendongak padanya.

Hondu berlutut di depan gadis itu. "Aku mau kau tetap di sini, tapi jika satu jam sebelum matahari terbenam aku belum juga kembali, pergi ke desa terdekat dan sewa kamar di penginapan. Penginapan mana pun tidak masalah."

Dia menyerahkan kantong uang dan sebilah pisau pendek pada Ilya. Setelah menarik tudung jubah gadis itu hingga hampir menutupi mata untuk melindunginya dari hujan dan angin, Hondu pergi menuruni bukit.

Kota Kerajaan Neda didirikan di antara dua sungai yang mengalir dari pegunungan di utara sehingga tanahnya menjadi salah satu yang tersubur. Namun sekarang tanah subur itu tinggal cerita. Di titik tempat dulunya berdiri salah satu kota paling makmur yang pernah dibangun umat manusia, kini terdapat kawah yang tidak berhenti berkobar.

Panas apinya sudah bisa dirasakan dari jarak sejauh tiga ratus meter dari kawah, dan suhunya semakin tinggi seiring berkurangnya jarak. Jika bukan karena sihir regenerasi, Hondu sudah jadi daging panggang sebelum ia bisa melihat separah apa kondisi di dalam. Namun hal itu bukan berarti ia kebal terhadap panas yang membakar kulit dan saluran pernapasannya. Malah, dia bisa merasakan setiap tarikan napas membakar paru-parunya dari dalam, dia bisa merasakan setiap senti kulit tubuhnya dihanguskan api, diganti dengan kulit baru, lalu terbakar lagi.

Sakitnya yang menyiksa membuat matanya berair. Orang yang tidak biasa menahan sakit seperti Hondu mungkin sudah gila dibuatnya.

Hondu mengeluarkan belati dari saku tersembunyi di sepatu botnya. Hujan badai saja tidak cukup untuk memadamkan kebakaran yang jelas bukan disebabkan oleh tangan manusia, jadi dia harus mencoba cara lain. Maka dari itu, Hondu menikam lengan kirinya dengan belati yang sama sampai ke gagang. Darah merah dan perak mengucur deras, mengalir dari lengan ke jari, lalu membentuk genangan kecil di tanah, saling tumpang tindih, tidak bisa disatukan.

Ada masa ketika darah perak menjadi simbol status sosial tertinggi. Lebih tinggi daripada pendeta agung, lebih tinggi daripada raja; bukti tak terbantahkan dari seorang keturunan dewa yang diberkati, layak untuk disembah. Namun masa tersebut telah lama berlalu. Sekarang jika seseorang berdarah perak berani menunjukkan batang hidungnya di tengah masyarakat, orang itu akan diburu hingga ke ujung dunia. Hondu tidak asing dengan kelompok pemburu darak perak. Oh, dia tahu persis apa yang mereka lakukan pada orang-orang seperti dirinya.

Hondu mencabut belati dari lengannya dengan kasar. Seluruh bilah matanya berlumur darah merah keperakan. Setitik pun kilat baja tidak lagi tampak pada permukaannya. Kemudian ia lemparkan belati itu ke dalam kawah, dan ketika angin kembali melecut, api yang terus berkobar selama satu bulan belakangan padam dalam waktu yang tidak lebih lama dari satu tarikan napas.

Di dalam kawah Hondu berjalan di antara bara api, kolam-kolam lava kecil dari peleburan batu dan logam, serta kepulan asap yang memblokade jalur masuk udara ke paru-paru. Dia batuk seperti orang sekarat, dan darah dari luka menganga di lengannya meninggalkan jejak merah keperakan.

Lalu kakinya tidak sengaja menendang sesuatu yang bundar: kepala manusia. Di tempat yang seluruhnya diratakan oleh api, secara mengejutkan semua rambut di kepala itu masih utuh, kulitnya bersih dari luka bakar yang seharusnya telah mengubahnya jadi setumpuk abu.

Hondu tersenyum simpul.

“Halo, Ayanushin,” ia menyapa, pedang di tangan, ujungnya menggantung di atas mata kanan Ayanushin yang setengah terbuka. “Kau membuat masalah yang seharusnya tidak perlu kubereskan.”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi