Aku melihatnya dari balik jendela: si ksatria pengembara berpakaian lusuh yang bersandar pada tiang sebuah kios buah. Di antara banyaknya gadis pencuci yang saling bergosip dan melirik ke arahnya, matanya hanya tertuju pada gadis pemain seruling di depan penginapan. Musiknya lebih merdu dari nyanyian burung, lebih lembut dari desahan dedaunan yang ditiup angin musim gugur.
Ketika musiknya selesai dimainkan, beberapa orang yang menonton .masing-masing melemparkan sekeping koin perunggu padanya. Dalam mangkuk yang kini terisi koin-koin perunggu, sekeping koin perak berkilat di bawah sinar matahari. Di sampingnya, sebutir apel merah pekat menarik perhatian mereka yang lewat.
Gadis pemain seruling itu buta. Mereka yang sudah sering berlalu-lalang di pasar sudah lama tahu, tetapi ketika uang tak seberapa yang ia dapatkan setelah memainkan serulingnya dicuri, tak satu pun dari mereka ada yang peduli. Jadi, ketika si ksatria pengembara memutuskan untuk berdiri di samping si gadis pemain seruling, semua orang tahu apa maksudnya.
Si gadis pemain seruling tidak melihat siapa yang telah meletakkan koin perak ke dalam mangkuknya ataupun siapa yang telah menaruh sebutir apel di sebelah mangkuk itu. Di sebelahnya, dengan pedang di tangan, si ksatria pengembara tetap diam seribu bahasa.
Namun, dari balik jendela, aku melihatnya. Aku melihatnya ketika si ksatria pengembara melemparkan koin perak dan meletakkan apel itu di sebelah mangkuk koin si gadis pemain seruling.