Kuil kami adalah salah satu dari sekian kuil penyembah dewa-dewi kuno yang tersisa di negeri ini. Jika kau berkelana ke seluruh pelosok negeri hanya untuk menyambangi kuil yang sama, maka kau akan mendapati bahwa jumlah keseluruhannya bisa dihitung jari.
Sejak sang raja memutuskan untuk menganut kepercayaan baru yang dibawa pendeta asing dari barat, ia mendeklarasikan bahwa kepercayaan lama yang kami anut adalah ajaran sesat. Maka dimulailah penghancuran kuil pemujaan dewa-dewi kuno, pendeta serta pengikutnya diasingkan hingga dipersekusi.
Sang raja berkata ia akan bersikap murah hati: kami akan diampuni dari semua kesulitan yang ditimpakan kepada kami dengan satu syarat, yaitu kami harus meninggalkan kepercayaan lama dan menerima kepercayaan baru yang dibawa dari tanah asing yang belum pernah kami pijak.
Hati setiap manusia berbeda. Bahkan jika dua sahabat dekat memiliki tujuan yang sama, selalu ada satu atau dua hal yang berbeda dari cara keduanya mencapai tujuan tersebut Oleh karenanya, berbeda pulalah keputusan yang dibuat di antara para pengikut dewa-dewi kuno. Ada yang berpindah kepercayaan karena takut suatu waktu akan dibunuh, ada yang tetap berpegang teguh pada kepercayaan lamanya meskipun nyawalah taruhannya.
Aku tidak membenci mereka yang memutuskan untuk memeluk kepercayaan baru, tidak pula aku merasa lebih baik karena menolak meninggalkan ajaran lama.
Bersikeras untuk tetap berpegang teguh pada kepercayaan yang kini dianggap ajaran sesat, kehidupanku yang dulu dan sekarang bagaikan bintang di langit dan sebutir pasir di dasar laut. Aku yang dulu hidup bebas kini harus mengendap-endap di desa sendiri; seekor tikus kecil yang tersesat di tengah kawanan kucing yang kelaparan.
Aku tak lagi berdoa di kuil yang dibangun dari batu dan kayu, melainkan di tengah hutan jauh dari jangkauan manusia. Dikelilingi pohon burja berkulit seputih cahaya bintang, aku dan beberapa orang lainnya berlutut di atas tanah berselimutkan rumput hijau.
Tanpa patung, tanpa lilin dan dupa dan tanpa nyanyian. Kami berdoa pada setiap pohon, setiap helai rumput dan daun, pada matahari di atas kepala kami, pada setiap tetes embun, setiap burung yang bernyanyi dan semua makhluk yang menjadikan hutan ini sebagai tempat tinggal. Dunia ini ada karena dewa-dewi kami menciptakannya, dan di mana ciptaannya berada, di situ pulalah mereka ada.
Hutan ini jauh dari segala bentuk peradaban manusia, jadi ketika seorang penunggang kuda tiba-tiba muncul dari balik pepohonan, tak sedikit dari kami yang lari ketakutan. Pada saat si penunggang kuda turun dari tunggangannya, hanya ada aku seorang di tengah bukaan kecil itu.
Dari jubahnya yang lusuh dimakan cuaca sampai gaya pakaian di baliknya yang terkesan asing, aku menyimpulkan bahwa ia datang dari jauh. Meskipun ia membawa pedang di pinggang, ia tidak menunjukkan niat buruk.
Ia bertanya, "Apa tempat ini ... semacam kuil?"
Kuil merupakan sebutan yang kurang tepat. Hutan suci lebih cocok untuk menggambarkan tempat peribadatanku, dan aku pun menjawabnya demikian.
"Dewa atau dewi mana yang kau sembah?"
Lifa, Ibunda dari Semua Makhluk Hidup di Dunia.
"Kalau begitu, apa dewimu keberatan jika orang yang tidak pernah menyembahnya berdoa kepadanya sekarang?"
Semua yang hidup di dunia adalah anak-anaknya. Aku yakin ia akan merangkul semua yang memanggil kepadanya.
Begitulah, tanpa bertanya lebih jauh, ia berlutut di tanah dan mulai berdoa dalam diam. Hutan tenggelam dalam keheningan, burung-burung yang bernyanyi di kejauhan pun terdengar suaranya.
Ketika si orang asing selesai berdoa, ia bergumam, "Aku telah berkelana ke ratusan negeri, ratusan kota kutelusuri hingga ke pelosok. Aku telah menyambangi ribuan kuil dan menyembah ribuan dewa. Namun, tak peduli seberapa sering aku berdoa, dari seribu dewa yang mendengar suaraku, tak satu pun dari mereka menjawab.
"Pikirmu, diamnya para dewa disebabkan karena mereka buta, tuli atau bisu?
"Atau, mungkinkah, selama ini di suatu tempat yang tak bisa kita raih, tidak ada sosok agung yang pantas disebut dewa, dan kita berbicara sendiri pada udara hampa seperti orang bodoh?"
Terhenyak, aku berkata, "Setiap dewa menjawab doa pengikutnya dengan caranya masing-masing. Aku tidak bisa bilang bagaimana, tapi jika kau memperhatikan dunia di sekitarmu baik-baik, kau akan tahu sendiri. Lalu, suatu hari nanti, kau pasti akan mendapatkan jawaban atas doamu dengan cara yang tak pernah kau duga."
Kemudian, setelah menimbang-nimbang, aku memberanikan diri untuk bertanya, "Doamu yang belum dikabulkan meski telah dipanjatkan ribuan kali itu ... kau berdoa untuk apa?"
Aku tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Sebab, dengan senyum tipis di bibir, si pengelana menepuk puncak kepalaku dan pergi dengan menunggangi kudanya, meninggalkanku sendiri di antara pohon burja.