Ambang
Penulis: Dessy Oktavia
Drama
Kategori
995
Dilihat
0
Suka
Blurb
Damar berusaha melawan dan berdamai dengan rasa bersalah akibat traumanya di masa lalu, tapi ia terus diabaikan oleh Kakeknya, sampai Damar takut kejadian itu terulang kembali.
Premis
Remaja dengan gangguan mental Borderline Personality Disorder, berusaha melawan rasa bersalah dan trauma masa kecilnya, meski sulit karena perlakuan keluarga yang terus mengabaikannya.
Pengenalan Tokoh
- Damar: pelajar 17 tahun, yang juga seniman dan perokok yang bertubuh kurus dengan banyak luka sunut rokok di kedua tangannya karena self harm. Damar terus dihantui rasa bersalah dan trauma karena tidak sengaja membunuh ibunya sendiri saat berusia 9 tahun. Masa kecil Damar memang tidak mudah. Ia tidak mendapat perhatian yang cukup dari ayahnya, bahkan hingga ayahnya meninggal. Ia juga dibully oleh teman-temannya karena ia susah membaca akibat Disleksia. Ditambah, saat ini, selama Ia tinggal dengan kakeknya, kakeknya selalu mengabaikannya karena kesalahannya di masa lalu itu. Ia pun kini mengidap BPD, Insomnia kronis, dan OCD tipe checker.

- Mbah Jatmiko: Kakeknya Damar, juragan kontrakan berusia 65 tahun, yang mengidap Diabetes Melitus. Meski kematian anaknya sudah 8 tahun berlalu, tapi Mbah Jatmiko masih berat untuk benar-benar memaafkan dan bersikap seperti dulu lagi pada Damar.

- Laras: Careworker sekaligus Asisten Rumah Tangga Mbah Jatmiko, yang berusia 36 tahun. Laras adalah wanita bawel yang peka dan perhatian, baik pada Mbah Jatmiko, maupun pada Damar. Karena Mbah Jatmiko masih terus mengabaikan Damar, Laras lah yang menjadi jembatan yang menghubungi antara kakek dan cucu tersebut.

- Gupita: Ibunya Damar, seorang Asisten Chef, yang berusia 34 tahun saat ia meninggal. Ia adalah wanita yang tegas dalam mengambil keputusan, berani, tapi sangat penyayang. Disaat mengetahui Damar mengidap Disleksia, ia langsung resign dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, demi menterapi Damar membaca di rumah. Setelah suaminya meninggal pun, ia memutuskan untuk berbisnis catering rumahan. Dan saat rumah mereka didatangi perampok, ia berusaha melindungi Damar.
Sinopsis
Damar memiliki rasa bersalah dan trauma yang mendalam, hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Gangguan mentalnya itu cukup parah hingga mengganggu sekolahnya dan membuat ia tidak naik kelas. Damar ingin pindah sekolah ke SMK seni dan tinggal di kost-kostan, tapi ia bingung bagaimana menyampaikannya pada Mbah Jatmiko yang tetap cuek padanya.
Dibantu oleh Laras, Damar berusaha mendapatkan hati kakeknya, tapi semua tetap sulit, dan ujung-ujungnya hanya pertengkaran.
Tapi perlahan, mereka mulai mencoba mengalahkan ego dan gengsi masing-masing, hingga dapat kembali ber bincang dalam satu meja makan. Namun, semua itu tak berarti lagi, setelah Damar tidak sengaja menyakiti Laras. Mbah Jatmiko marah, dan Damar pun meledak. Damar mengeluarkan semua unek-unek yang ia rasakan, seraya menyakiti dirinya sendiri. Mbah Jatmiko yang panik melihat itu, akhirnya tumbang karena terserang Krisis Hipertensi.
Dihantui rasa bersalah, baik pada ibunya maupun pada kakeknya, membuat Damar terdorong untuk melakukan bunuh diri.
Tapi, Tuhan masih sayang pada Damar dan kakeknya. Mereka diberi kesempatan kedua, dan hidup memulai awal yang baru.
Rekomendasi