Ghina, Ayo Move On!

GHINA masih curhat panjang lebar di sampingku, sementara aku hanya bisa menjadi pendengar budiman tanpa bisa memberinya solusi. Buku catatanku ketinggalan di rumah, walhasil aku harus nyatat ulang pagi ini.

Kulihat sesekali Ghina mengusap pelupuk matanya dengan ujung jilbab. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya. Untunglah paragraf terakhir dapat kuselesaikan dengan cepat. Aku menutup buku dan penaku, lalu memasukkannya ke dalam ransel.

"Ya udahlah, Ghin, lupain aja. Kayak di dunia ini cowok cuma satu doang. Banyak tau. Lihat noh di jalan, tinggal mungutin aja." Aku sadar ucapanku tidak membantu sama sekali. Tapi apa boleh buat, aku bukan pakar cinta yang pandai berbicara perihal itu.

Ngomong-ngomong, Ghina ini suka sama teman sekelas kita yang inisialnya BR, bukan makanan burung, lho, ya. Tapi baru-baru ini Ghina tahu kalau BR ternyata sukanya sama teman sebangku aku. Tahu dong ya gimana sekaratnya hati temanku ini? Untungnya sampai sekarang dia masih hidup dan sehat. Aku sudah mewanti-wanti Ghina bakalan gantung diri di tank air depan Mushola. Kan, sayang kalau calon fisikawati ini harus koit sia-sia karena lelaki.

"Tapi aku sayang dia, Ai," gumam Ghina sambil menarik ingusnya dalam-dalam. Aku gak punya tissue dan gak hobi bawa-bawa tissue ke sekolah.

"Kamunya sayang tapi dianya enggak, mau apa coba? Kamu mau terus-menerus mikirin dia? Atau mau ngesot-ngesot ngemis cintanya?" Aku memberondongnya dengan pertanyaan. "Move on, Ghin, move on!"

"Gak bisa, Ai, susah."

"Sebenarnya bukan gak bisa, tapi emang dasar kamunya aja yang gak mau. Heran deh, move on aja susah banget kayak disuruh minum racun aja." Aku bersungut-sungut dongkol. Sumpah ya, gerah aku lama-lama.

4 disukai 343 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction