Di suatu pagi yang cerah, Pak Haji Soleh duduk di teras rumahnya, mengenakan gamis putih bersih dan peci haji, sementara kucingnya si Muezza (yang artinya 'Yang Dicintai') mondar-mandir di kakinya, mengeong lapar.
Pak Haji membuka kaleng makanan kucing rasa tuna. Dia melihat labelnya dengan serius, lalu mendengus kesal. Tanpa menunda waktu lagi, pengusaha konveksi baju Muslim itu mengambil ponselnya dan mulai menelepon kantor MUI.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Akhi (saudaraku) di kantor MUI?" sapa Pak Haji dengan dialek khasnya, penuh penekanan di huruf 'h' dan 'q'. "Ana (saya) Soleh, Haji Soleh. Mau tanya soal makanan kucing ini, antum ada waktu sebentar?"
"Wa'alaikumussalam, Pak Haji. Ya silakan, apa pertanyaannya?"
"Begini, Antum (anda) tau? Di label ini nggak ada logo halal MUI-nya, Akhi," kata Pak Haji dengan nada serius. "Padahal, kita sebagai umat Muslim kan wajib makan yang halal dan thayyib (baik). Ini berlaku juga buat Muezza ana."
Dari seberang sana, terdengar suara seorang lelaki yang kebingungan:
"Afwan (maaf), setahu kami, sertifikasi halal itu untuk konsumsi manusia, Pak. Bukan untuk hewan peliharaan..."
"Astaghfirullah! Antum ini gimana toh, Akhi?" potong Pak Haji Soleh, mulai ngegas. Suaranya naik satu nada. "Hewan itu makhluk Allah juga! Muezza ini nanti pipis di tanah Allah, pup di tanah Allah! Kalau dia makan yang haram, nanti tanahnya jadi najis berat, Akhi! Kita semua yang kena imbasnya! Itu namanya zalim sama lingkungan!”
Istri Pak Haji menyahut dari dapur.
"Abiii...! Jangan berisik, ini rendang jengkolnya udah mateng. Halalan Thayyiban. Cepetan dimakan daripada pusing ngurusin kucing!"
"Sebentar Umiii, Abi masih belum selesai!" suara Pak Haji turun dua nada.
Seseorang di seberang telepon menghela napas panjang. Sepertinya ini kali pertama dia mendapat telepon aneh.
"Pak Haji Soleh yang dirahmati Allah," ujar si lelaki mencoba bersabar, "Begini, najis itu urusan fiqih ibadah manusia. Kucing itu bukan mukallaf (makhluk yang dibebani kewajiban syariat), Pak Haji. Dia nggak dosa makan tikus hidup-hidup, apalagi makan tuna kalengan..."
"Astaghfirullah! Antum ini kurang visioner dalam urusan halal-haram, Akhi!" Pak Haji Soleh makin meninggikan suaranya, penekanan 'q' dan 'h' makin kentara. "Ini bukan soal dosa kucingnya, tapi soal ekosistem halal di rumah ana! Ana ini mau menciptakan lingkungan yang thayyib seutuhnya! Antum tahu thayyib artinya apa? Baik! Termasuk baik buat kesehatan rohani ana sekeluarga!"
"Jadi antum nggak bisa kasih sertifikasi halal buat makanan Muezza ana?" tanya Pak Haji, suaranya mulai terdengar kecewa tapi masih penuh izzah (kemuliaan diri).
Terdengar suara lelaki itu berbisik dengan rekan kerjanya di kantor MUI lalu kembali bicara ke Pak Haji.
"Mohon maaf sekali, Pak Haji. Prosedurnya memang tidak ada. Mungkin Bapak bisa pastikan saja bahan dasarnya ikan tuna, kan ikan itu halal zatnya."
"Wah, antum ini banyak dalih!" Pak Haji Soleh mendengus kesal. "Sudah ana duga, pasti birokrasinya ribet! Syukron (terima kasih) infonya, Akhi! Assalamu'alaikum!"
Pak Haji menutup teleponnya. Perasaannya cemas. Dia menatap kaleng makanan kucing di tangannya dengan pandangan menghakimi. Muezza mengeong lagi, kali ini lebih nyaring.
"Sabar ya, Muezza," bisik Pak Haji ke kucingnya. "Kita cari toko yang jual kurma impor. Kurma kan sunnah, pasti halal lidzatihi (halal zatnya). Besok Abi (ayah) belikan kurma yang banyak buat anti (kamu) makan!”
——
Pak Haji Soleh mengambil beberapa butir kurma ajwa dari toples di meja tamunya. Kurma pilihan yang mahal, katanya oleh-oleh langsung dari Madinah (padahal beli di toko grosir dekat Pasar Tanah Abang).
Muezza si kucing menatap bingung saat Pak Haji meremas kurma itu dengan jari-jarinya yang besar, seperti pisang Lampung. Mencoba membuatnya lembek.
"Makan, Muezza... makan yang banyak!" perintah Pak Haji dengan suara lembut tapi tegas. "Ini makanan thayyib, penuh berkah, bukan tuna kalengan yang syubhat (meragukan) itu!"
Muezza mendekat perlahan, mengendus gumpalan kurma yang lengket di lantai. Dia menjilat sedikit, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mundur teratur. Dia menatap Pak Haji dengan mata penuh protes, seolah berkata, "Yang serius dong, Bi! Ana butuh makanan kucing. Ini apaan, kok kayak kecoa?!"
"Kenapa anti (kamu) tidak mau makan, Muezza?!" Pak Haji mulai panik. "Anti jangan kufur niq-matt!" Coba lihat di luar sana, banyak yang susah cari makanan!"
Pak Haji Soleh lupa, Muezza hanyalah seekor kucing yang tidak memerlukan iman dan taqwa. Sekaleng tuna, cukup baginya.
Pak Haji mencoba menyuapkan paksa sedikit kurma ke mulut kucingnya. Muezza berontak, mencakar pelan tangan Pak Haji, lalu lari ngacir ke arah dapur, berharap ada sisa ikan goreng di sana.
Pak Haji Soleh terdiam, memandang sisa kurma yang berantakan di lantai.
'Ana yang salah, atau Muezza yang kurang iman?!' kata Pak Haji Soleh dalam hati, sambil merenungkan kembali definisi "thayyib" yang sebenarnya.
Kira-kira setara waktu mengisi air di bak mandi, putra Pak Haji— Zidan, pulang dari bermain bola bersama temannya, Adi. Mereka masuk ke rumah Pak Haji untuk mengambil minum.
"A'ssalamu'alaikum, Abi!" sapa Zidan.
"Wa'alaikumussalam warrahmatullah, waladi (anakku)," jawab Pak Haji Soleh, masih sedikit murung dan risau karena penolakan Muezza. Dia menatap Adi, teman Zidan.
"Sini, Akhi Adi, duduk sebentar sama Abi," panggil Pak Haji dengan isyarat tangan. Adi yang polos pun mendekat dengan ragu.
"Ente tahu, Akhi Adi?" Pak Haji memulai dakwahnya, suaranya kembali berwibawa. "Pentingnya kita menjaga apa yang masuk ke dalam perut kita. Bukan cuma perut kita loh, tapi juga perut makhluk Allah yang lain!"
Adi hanya mengangguk, bingung. Zidan yang sudah hafal gaya abi-nya, hanya melirik mata sambil menuang air minum.
"Tadi Abi mau kasih makan Muezza kurma, tapi dia nggak mau! Ini musibah, Akhi!" keluh Pak Haji, nadanya dramatis.
"Ini menunjukkan betapa kita sudah dijauhkan dari yang thayyib karena terlalu sering makan makanan kalengan dari pabrikan yang nggak paham syariat...!"
"Padahal kan, kurma itu thayyib."
Pak Haji menggelengkan kepala kecewa. "Jadi antum berdua, mulai sekarang, kalau mau makan apa-apa, lihat dulu! Ada label halalnya nggak? Jangan cuma mikir enak di lidah, tapi mudharat (bahaya) di akhirat!"
Adi dan Zidan saling pandang. Adi memberanikan diri bertanya.
"Tapi Abi, kata Ibu saya, ikan tuna itu kan halal dari sononya. Nggak perlu label halal, katanya..."
Pak Haji Soleh melotot.
"Itu kata Ibu antum! Besok suruh ibumu telepon Abi, kita bahas fiqih perikanan! Pokoknya, kurma itu lebih utama dari tuna kalengan!”
Zidan dan Adi berlari keluar dari rumah Pak Haji, menahan tawa. Mereka menuju rumah Adi yang hanya berjarak satu kali throw in (lemparan ke dalam) Arhan Pratama, pemain sepakbola Timnas Indonesia yang terkenal itu.
"Gawat, Di! Nyokap lo ditantang debat fiqih sama bokap gue!" bisik Zidan sambil terkekeh.
Adi masuk ke rumahnya dan mendapati ibunya sedang melipat pakaian di ruang tamu.
"Bu, tadi kata Abi Soleh, Ibu disuruh telepon dia. Mau bahas fiqih perikanan," lapor Adi polos, mengulangi pesan itu persis seperti yang dia dengar.
Ibu Adi menghentikan aktivitas melipatnya. Dahinya berkerut.
“Fiqih perikanan?! Ada-ada aja Pak Haji itu," gumam Ibu Adi sambil tersenyum tipis, menganggap itu cuma guyonan khas tetangganya yang ekstra religius itu. "Memang apa katanya, Nak?"
"Katanya ikan tuna kalengan itu syubhat, Bu. Lebih utama makan kurma," jelas Adi serius.
Ibu Adi tertawa lepas mendengarnya. Ide Pak Haji Soleh memberi makan kucing kurma pasti lucu sekali dibayangkan.
"Ya sudah," kata Ibu Adi santai, kembali fokus melipat baju. "Besok saja Ibu telepon beliau. Ibu mau tanya, kalau ikan tuna itu syubhat, berarti ikan tongkol yang sering Bapak makan di warteg, hukumnya apa? Mubah (diperbolehkan), makruh, atau haram jadah?"
Ibu Adi cekikikan sendiri membayangkan ekspresi Pak Haji Soleh saat nanti ditanya soal hukum ikan tongkol.
***
Rabu Depan Terbit: MUDIK LEBARAN SULTAN KW
Setelah 10 cerita gue kasih gratis buat nemenin hari-hari lo, kali ini gue mau nantang lo buat naik level bareng gue di karya premium pertama ini.
Berbagi cerita itu asyik, tapi dapet apresiasi nyata dari lo itu luar biasa. Anggap aja dukungan kecil lo itu sebagai "bensin" biar mesin ide gue tetep bergerak dan produktif.
Kita simbiosis mutualisme: Lo dapet isi pikiran terbaik gue, gue dapet suntikan semangat buat terus berkarya.
Gimana, DEAL kita jaga kualitas literasi bareng-bareng?