Disukai
1
Dilihat
13
Maaf Hanya Bisa Ngasih Ini
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Juli. Bagi sebagian orang, Juli adalah bulan liburan sekolah. Bagi yang lain, Juli adalah bulan biasa. Tapi bagiku, Juli tahun ini adalah bulan "Jihad Finansial".

Semua bermula dari informasi intelijen yang kudapatkan secara tidak sengaja. Saat itu, aku sedang membersihkan ruang HRD, dan mataku yang slewengan ini menangkap data karyawan di layar komputer yang lupa dimatikan. Nama: Devi. Tanggal Lahir: 14 Agustus.

Jantungku berhenti berdetak selama tiga detik (semoga bukan gejala serangan jantung dini). Agustus! Bulan depan! Sekarang tanggal 15 Juli. Artinya, aku punya waktu tepat 30 hari untuk menyiapkan kado terindah bagi pujaan hatiku ini.

Sebagai pemuja rahasia yang jabatannya hanya Office Boy, aku sadar diri. Gajiku UMR (Uang Masuk Rungkad). Cicilan motor bututku masih jalan. Makan siangku masih mengandalkan warteg paket "Nasi + Sayur + Kuah Banyakin". Tapi, cinta itu buta, tuli, dan seringkali tidak bisa matematika.

Sore itu, sepulang kerja, aku mampir ke sebuah Mall di Jakarta Pusat. Bukan untuk belanja, tapi untuk numpang ngadem (AC kosan mati) dan cuci mata. Saat aku berjalan melewati butik bernama "Elegance & Co", langkahku terhenti. Di balik kaca etalase yang bening tanpa noda sidik jari, terpajang sebuah Gaun Midi Dress berwarna Peach Pastel.

Gaun itu sederhana, tapi memancarkan aura keanggunan yang luar biasa. Bahannya terlihat lembut seperti awan. Potongannya sopan tapi manis. Ada aksen pita kecil di pinggangnya. Tiba-tiba, otakku melakukan simulasi Augmented Reality. Aku membayangkan Mbak Devi memakai gaun itu. Dia berputar pelan, roknya mengembang. Dia tersenyum padaku. Cahaya ilahi turun menyinari wajahnya. "Mas Aryo, makasih ya gaunnya. Aku suka banget," kata Devi dalam imajinasiku.

"Cantik..." gumamku tanpa sadar.

Aku memberanikan diri mendekat untuk melihat label harganya. Aku menyipitkan mata. Angka nol-nya banyak sekali. Seperti barisan semut yang sedang upacara bendera. Rp 2.500.000,-

Dua juta setengah. Duniaku runtuh. Lututku lemas. Itu setara dengan gajiku sebulan full tanpa makan, tanpa bensin, dan tanpa bayar kosan. Itu setara dengan 250 bungkus nasi padang. Tapi bayangan Devi memakai gaun itu terlalu kuat. Terlalu indah. Aku menatap pantulan wajahku di kaca etalase. Wajah pas-pasan, berminyak, dan penuh harapan kosong.

"Bisa, Yo. Pasti bisa," bisikku pada diri sendiri. "Demi Devi. Demi senyum itu. Lu harus usaha. Lu laki-laki! Lu harus jadi The Provider (walau provider-nya sinyalnya sering ilang)."

Malam itu, aku menyusun "Rencana Pembangunan Jangka Pendek Semesta Aryo". Target: Rp 2.500.000 dalam 30 hari. Tabungan saat ini: Rp 500.000 (Itu pun duit buat servis motor sebenernya). Kekurangan: Rp 2.000.000. Strategi: KERJA RODI.

 

Mulai hari itu, hidupku berubah menjadi neraka duniawi yang kusebut "Perjuangan Cinta". Aku tidak bisa mengandalkan gaji OB. Itu posnya sudah pas-pasan buat hidup. Aku harus mencari Side Hustle alias ceperan. Dan karena aku tidak punya skill koding atau desain grafis, aku mengandalkan satu-satunya aset yang kupunya: Fisik dan Urat Malu yang Sudah Putus.

Minggu 1: Joki Antre Tiket Konser K-Pop Ada info di Twitter kalau boyband Korea "NCT-Apalah-Gitu" mau konser. Tiketnya dijual offline di sebuah mal. Fans-fansnya (Sijeuni?) butuh orang buat antre dari subuh. Aku mendaftar. Bayaran: Rp 300.000 per tiket. Aku datang jam 3 pagi. Mal belum buka. Aku duduk di trotoar bersama ratusan gadis remaja yang berisik dan membawa lightstick. Aku, seorang pria dewasa berjaket ojol kucel, duduk di antara lautan cewek ABG. "Om, bias-nya siapa?" tanya seorang gadis di sebelahku. "Hah? Bias? Oh... Biasalah... Duit," jawabku jujur. Aku berhasil mengamankan 2 tiket. Dapat 600 ribu. Pengorbanan: Masuk angin, kaki kram, dan kuping berdengung dengerin lagu Korea dari speaker portable tetangga antrean.

Minggu 2: Tester Keripik Pedas Level Kematian Temanku yang punya usaha keripik pedas butuh orang buat bikin konten video reaksi. "Yo, lu makan keripik level 50 ini, kalau lu bisa abisin tanpa minum selama 5 menit, gue kasih 200 ribu," tantangnya. Aku terima. Rasanya? Seperti menelan aspal panas yang dicampur lahar gunung Merapi dan cabe rawit setan. Mulutku terbakar. Lambungku berdemo. Mataku menangis darah (hiperbola, tapi rasanya begitu). Aku berhasil. Dapat 200 ribu. Pengorbanan: Diare 3 hari, lidah mati rasa seminggu, dan panggilan alam yang terasa seperti meluncurkan roket panas dari belakang.

Minggu 3: Badut Lampu Merah (Part Time) Ini yang paling ngenes. Ada penyewaan kostum badut Mampang yang butuh tenaga lepas buat akhir pekan. Aku memakai kostum kepala besar itu. Panasnya? Jangan tanya. Di dalam kostum itu suhunya mungkin setara permukaan matahari. Aku joget-joget di lampu merah Perempatan Tomang. Setiap kali mobil mewah lewat, aku berharap itu bukan mobil Pak Bos atau mobil orang kantor. Di balik topeng badut yang tersenyum lebar itu, ada wajah Aryo yang banjir keringat dan air mata. "Demi gaun Devi... Demi gaun Devi..." mantrakku sambil goyang pinggul. Dapat 300 ribu selama dua hari. Pengorbanan: Dehidrasi akut, berat badan turun 2 kilo (diet alami), dan trauma mendengar lagu "Joko Tingkir Ngombe Dawet".

Minggu 4: Kuli Angkut Pindahan Kosan Ada info di grup Facebook, anak kosan mau pindahan butuh tenaga angkut. Lantai 3. Tanpa lift. Tangga putar sempit. Barangnya: Kulkas, lemari kayu jati (kenapa anak kos punya lemari jati?!), dan tumpukan buku yang beratnya naudzubillah. Aku mengangkut kulkas itu di punggungku. Tulang belakangku berbunyi krek-krek. "Ayo Aryo, bayangin kulkas ini adalah Devi. Eh jangan, Devi enteng. Bayangin ini adalah beban cintamu!" Dapat 400 ribu. Pengorbanan: Pinggang encok, tangan lecet, dan kehilangan kemampuan berdiri tegak selama 24 jam.

Total terkumpul di akhir bulan: Rp 1.500.000 (dari sampingan) + Rp 500.000 (tabungan) + Rp 500.000 (sisa gaji bulan ini yang kuirit-irit makan promag). TOTAL: Rp 2.500.000,- PAS!

Aku sujud syukur di lantai kamar kosku yang dingin. "Devi... Tunggu aku. Gaun itu akan jadi milikmu."

 

H-3 Ulang Tahun Devi. Uang sudah di tangan. Tapi ada satu masalah besar: Mental. Aku, Aryo, si OB introvert, tidak punya keberanian untuk menyerahkan kado semahal itu secara langsung. Aku takut Devi curiga. Aku takut Devi menolak. Aku takut pingsan di depan Devi saking gugupnya.

Aku butuh perantara. Aku mendatangi Mas Hanif di area merokok (walaupun aku gak ngerokok). "Mas Hanif..." panggilku pelan.

Hanif menoleh, menghembuskan asap vapenya. "Woi, Juragan Aryo. Keliatan kurusan lu Yo. Diet?"

"Bukan diet Mas. Tekanan batin." Aku duduk di sebelahnya. "Mas, saya mau minta tolong. Hidup dan mati."

"Waduh, berat amat. Mau pinjem duit? Gue lagi kering nih Yo, abis diporotin Feby buat beli vas bunga."

"Bukan Mas. Saya... saya mau ngasih kado buat Mbak Devi. Ulang tahunnya tanggal 14 besok."

Mata Hanif membelalak. "Wih! Ciyeee! Aryo The Secret Admirer akhirnya bergerak! Kado apa Yo? Cokelat? Bunga?"

"Gaun Mas. Harganya... lumayan."

"Gaun? Wuih, niat banget lu. Terus minta tolong apa?"

"Tolong Mas Hanif yang kasih ke Mbak Devi. Bilang aja dari... dari 'Pengagum Rahasia' atau apalah. Jangan bilang dari saya. Saya takut dia ilfeel kalau tau OB yang ngasih."

Hanif menatapku tajam. Dia mematikan vapenya. "Yo, dengerin gue. Kado itu nilainya bukan cuma di barangnya. Tapi di siapa yang ngasih. Kalau lu nitip ke gue, nilai perjuangan lu ilang setengah."

"Tapi saya gak kuat mental Mas! Sumpah! Liat Mbak Devi senyum aja saya gemeteran. Tolonglah Mas... Sekali iniii aja. Nanti pulang kerja saya mau beli barangnya. Besok saya titip ke Mas."

Hanif menghela napas panjang, melihat wajahku yang memelas (efek kurang gizi sebulan). "Yaudah. Oke. Tapi gue tetep saranin lu kasih sendiri. Kalau sampe besok lu berubah pikiran, lu kasih sendiri. Kalau lu beneran mau pingsan, baru gue bantuin."

"Makasih Mas Hanif! Mas Hanif emang pahlawan!"

"Udah sana, beli kadonya. Jangan lupa makan, muka lu kayak mayat idup."

Malam itu, jam 7 malam. Aku memacu motor bututku menuju Mall. Di saku jaket bagian dalam, tersimpan amplop tebal berisi uang tunai 2,5 juta rupiah. Uang hasil keringat, darah, dan air mata (serta diare). Rasanya tebal dan hangat. Ini bukan sekadar uang. Ini adalah kristalisasi cintaku.

Di tengah jalan, aku merasa haus. Tenggorokanku kering. Aku mampir ke sebuah minimarket pinggir jalan untuk beli air mineral.

Saat aku sedang parkir, tiba-tiba terjadi keributan di depan pintu. "MALING! WOY JANGAN KABUR!" teriak kasir. Seorang pria paruh baya, berpakaian lusuh, mencoba lari keluar tapi dihadang oleh warga yang sedang nongkrong. BUKK! Satu pukulan mendarat di wajah pria itu. Dia tersungkur. Barang curiannya berhamburan dari balik jaketnya yang kusam.

Bukan rokok. Bukan uang. Bukan barang elektronik. Yang jatuh ke lantai adalah: Dua kotak susu formula bayi dan satu bungkus popok.

Warga yang emosi sudah siap menghakimi. "Dasar maling! Gebukin aja!" "Bakar! Maling ini!"

Pria itu meringkuk di lantai, melindungi kepalanya, tapi juga berusaha melindungi kotak susu itu agar tidak penyok. Dia menangis. Suaranya menyayat hati. "Ampun Pak... Ampun... Anak saya laper Pak... Saya gak punya uang..."

Aku terpaku di depan kasir. Duniaku melambat. Aku melihat susu formula itu. Aku melihat wajah pria itu yang babak belur. Aku melihat warga yang sudah memegang helm dan balok kayu.

Setan di kepalaku berteriak: "Jangan ikut campur, Aryo! Itu bukan urusan lu! Lu punya misi suci! Gaun Devi! 2,5 Juta! Inget perjuangan lu jadi badut! Inget diare lu! Jalan terus! Abaikan!"

Malaikat di kepalaku berbisik lirih: "Yo... lu pernah ngerasain laper kan? Lu pernah ngerasain gak punya duit kan? Liat bapak itu. Dia bukan maling profesional. Dia ayah yang putus asa."

Kakiku berat. Hatiku bergejolak hebat. Gaun Devi vs Kemanusiaan. Cinta vs Nurani.

Pria itu dipukul lagi. "Ampun Pak..." rintihnya. Darah menetes dari pelipisnya.

Kupejamkan mataku dalam-dalam. Cukup! Aku tidak bisa membiarkan ini.

Aku berlari menerobos kerumunan warga. "STOP! BERHENTI! JANGAN PUKUL!" teriakku lantang, merentangkan tangan melindungi bapak itu.

"Minggir Mas! Ini maling!" bentak seorang warga.

"DENGAR DULU!" teriakku. Aku menunjuk barang curian di lantai. "Dia nyuri susu! Buat anaknya! Bukan nyuri motor!"

"Ya tetep aja nyuri! Harus dikasih pelajaran!"

Aku menarik napas panjang. Tanganku merogoh saku jaket dalam. Mengeluarkan amplop tebal itu. Amplop berisi impianku. Amplop berisi senyum Devi. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan isinya.

"Saya bayar," kataku pada kasir yang bengong. "Saya bayar semua barang yang dia ambil. Dan saya ganti rugi kerugian toko. Berapa totalnya?"

Kasir menghitung cepat. "Susu dua, popok satu... sama ganti rugi keributan... total 300 ribu Mas."

Aku menghitung uang 300 ribu. Menyerahkannya. Warga mulai tenang, mundur perlahan. Emosi mereka surut melihat uang.

Aku membantu bapak itu berdiri. Dia gemetar hebat, wajahnya lebam. "Pak... ini susunya," kataku sambil memungut kotak susu yang penyok dikit.

Bapak itu menangis, bersujud di kakiku. "Makasih Mas... Makasih... Mas malaikat..."

"Berdiri Pak, jangan sujud sama saya," kataku sambil menahan air mata. "Pak... jangan nyuri lagi ya. Kasian anak Bapak kalau Bapak dipenjara atau mati digebukin."

Bapak itu mengangguk-angguk. "Saya udah gak kerja 3 bulan Mas... Istri saya meninggal... Anak saya nangis terus..."

Hatiku hancur. Aku melihat sisa uang di tanganku. 2.2 juta rupiah. Aku melihat bapak itu. Uang 2 juta ini... bagiku adalah gaun untuk gebetan. Bagi bapak ini, adalah nyawa untuk anaknya.

Tanpa berpikir lagi (sebelum aku menyesal), aku mengambil semua sisa uang itu. Aku menggenggam tangan bapak itu, dan menaruh uang 2.2 juta itu di telapak tangannya yang kasar.

"Pak... ini buat beli susu dan kebutuhan bapak. Dan untuk modal cari kerjaan. Tolong, dipake yang bener ya Pak. Demi anak Bapak."

Bapak itu melongo. Dia menatap uang itu, lalu menatapku. Dia meraung menangis. "Mas... ini kebanyakan... Mas siapa?"

"Saya cuma mas-mas biasa yang kebetulan lewat. Udah Pak, pulang. Anaknya nunggu."

Aku menyuruh bapak itu pergi. Warga membubarkan diri. Aku berdiri sendirian di depan minimarket. Amplopku kosong. Dompetku kosong. Hanya tersisa uang receh 30 ribu di saku celana (sisa kembalian bensin).

Aku menatap langit Jakarta yang polusi. Tidak ada bintang. "Selamat tinggal, Gaun Peach," bisikku. "Maafin aku, Devi."

Meskipun uang sudah habis, kakiku tetap melangkah menuju Mall itu. Seperti ziarah ke makam impian yang mati muda. Aku berdiri di depan butik "Elegance & Co". Gaun itu masih di sana. Terpajang indah di manekin, disinari lampu sorot. Indah sekali. Aku menempelkan telapak tanganku ke kaca etalase yang dingin.

"Cantik banget..." bisikku, suaraku parau. "Harusnya kamu jadi milik Devi besok. Harusnya kamu bikin dia bahagia."

Bayangan Devi memakai gaun itu perlahan memudar, Aku tersenyum kecut. Tanganku bergetar. Sakit. Tapi sudahlah. "Gapapa Yo. Mungkin takdir lu emang bukan jadi Pangeran yang ngasih gaun."

Satpam butik menatapku curiga (karena aku nempelin muka di kaca kayak cicak). Aku mundur. "Bye, Gaun."

Aku berjalan gontai keluar Mall. Di tangan cuma ada 30 ribu. Besok ulang tahun Devi. Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong setelah semua drama batin ini. Masa iya aku bilang, "Dev, sebenernya aku mau beliin gaun 2,5 juta tapi duitnya aku kasih ke maling susu"? Dikira ngarang cerita FTV.

Aku mampir ke minimarket lagi (yang beda, takut ketemu kasir tadi). Aku menuju rak cokelat. Cokelat import? Mahal. Cokelat mewah? Gak cukup. Pilihanku jatuh pada Silverqueen Chunky Bar ukuran sedang. Harganya 25 ribu. Sisa 5 ribu. 3 ribu untuk air mineral, dan 2 ribu buat parkir. Pas.

Aku membeli cokelat itu. Tidak ada pita. Tidak ada kotak kado. Hanya sebatang cokelat yang kubungkus pakai kantong kresek putih kecil. "Maaf ya Dev. Cuma ini yang mampu aku kasih. Isinya cokelat, tapi bungkusnya doa."

14 Agustus. Hari H. Aku datang ke kantor lebih pagi, membersihkan meja Devi sampai mengkilap (lebih mengkilap dari masa depanku). Aku menunggu momen spesial. Pukul 09.00. Karyawan mulai datang. Aku mengintip dari pantry.

Devi datang. Setiap melewati kubikel, rekan-rekannya mengucapkan ulang tahun. Ya, hanya ucapan. Dia tersenyum, membalas ucapan teman-temannya. "Makasih ya semua." Tidak ada kue tart. Tidak ada kejutan balon. Tidak ada tumpeng. Maklum, budaya korporat di sini keras. Ulang tahun cuma formalitas. Apalagi lagi pertengahan bulan, dompet karyawan sudah mode survival. Si Botak (Bos) malah langsung ngasih tumpukan berkas. "Selamat ulang tahun Devi. Hadiahnya revisi laporan keuangan ya, ditunggu secepatnya."

Devi hanya menghela napas. "Makasih Pak. Siap." Wajahnya terlihat lelah. Senyumnya dipaksakan. Dia duduk, tenggelam dalam pekerjaannya.

Aku melihatnya dari jauh. Hatiku sakit. Dia layak mendapatkan perayaan. Dia layak mendapatkan gaun itu. Tapi dia hanya dapat tumpukan kertas.

Siang hari berlalu. Sore tiba. Jam 17.00. Karyawan mulai pulang. "Duluan ya Dev! HBD sekali lagi!" "Bye Devi!"

Devi masih duduk di sana. Mas Hanif tadi siang datang ke mejanya, memberikan setumpuk berkas tambahan. "Dev, tolong ya ini dicek dulu. Buat besok pagi. Sori banget harus lembur pas ultah," kata Mas Hanif. Aku curiga ini akal-akalannya Mas Hanif biar Devi pulang telat, sesuai rencanaku (yang sebenernya udah gagal total karena gaunnya gak ada).

Jam 18.00. Kantor sepi. Lampu sebagian sudah dimatikan. Hanya lampu di kubikel Devi yang menyala. Suara ketikan keyboard terdengar kesepian. Devi menyandarkan kepalanya di meja. Dia menghela napas panjang. "Hhhh... capek banget, ultah kadonya lemburan," gumamnya pelan.

Ini saatnya. Aku, Aryo, dengan seragam OB yang sudah rapi (aku setrika ulang pas istirahat), memegang cokelat Chunky Bar di tangan kanan yang gemetar.

Aku berjalan mendekat. Langkah kakiku terdengar di lantai sunyi. Tap... Tap... Tap...

Devi mengangkat kepalanya, kaget. "Eh... Mas Aryo? Belum pulang?"

Aku berhenti di depan mejanya. Jarak kami hanya terpisahkan partisi kubikel. Jantungku berdetak secepat drummer band metal. Keringat dingin mengucur. Lidahku kelu. Semua latihan pidato semalam hilang.

"Mbak... Mbak Devi..." suaraku tercekat.

"Iya Mas? Butuh sesuatu? Galon masih belum habis kok,"

"Bukan Mbak. Anu... Selamat..." Otakku panik. Selamat apa Aryo?! Selamat Ulang Tahun! Tapi mulutku yang bodoh ini malah berkhianat. "Selamat... Idul Fitri Mbak..."

Hening. Devi melongo. "Hah? Idul Fitri? Mas, Lebaran udah lewat 3 bulan lalu."

Aku menepuk jidatku sendiri. "Eh! Maksud saya... Selamat Ulang Tahun Mbak Devi!"

Devi tertawa kecil. Tawa yang renyah, walau matanya terlihat lelah. "Oh... kirain saya salah liat kalender. Makasih ya Mas Aryo."

"Ini Mbak..." Aku menyodorkan cokelat batangan itu. Tanpa bungkus kado, cuma cokelat telanjang. "Maaf Mbak... cuma ngasih ini, cokelat biasa. Buat... buat nemenin lembur. Biar manis."

Devi menatap cokelat di tanganku. Lalu dia menatap mataku. Perlahan, dia mengambil cokelat itu. Dia memegangnya dengan kedua tangan, seolah itu adalah benda berharga.

Tiba-tiba, mata Devi berkaca-kaca. Air mata menetes di pipinya.

Aku panik setengah mati. "Lho? Mbak? Kok nangis? Cokelatnya kadaluarsa ya? Maaf Mbak! Jangan dimakan! Saya buang aja!"

Devi menggeleng cepat. Dia menghapus air matanya. "Enggak Mas... Enggak..." suaranya serak. "Saya nangis karena... ini satu-satunya pemberian dihari ulang tahun saya. Temen-temen cuma WA. Pacar gak punya. Orang tua jauh. Saya ngerasa kesepian banget hari ini. Kerja lembur, capek..."

Dia menatap cokelat itu lagi, lalu tersenyum lebar. Senyum yang tulus, sampai matanya menyipit. "Makasih banget ya Mas Aryo. Ini kado terbaik hari ini. Karena cuma ini satu-satunya kado saya."

Aku terpaku melihat senyumnya. Cokelat 25 ribu. Cokelat yang kubeli dengan sisa uang receh. Ternyata bisa membuat orang yang ku cintai ini menangis terharu.

"Sama-sama Mbak Devi," kataku pelan, hatiku yang tadinya mendung kelabu karena gagal beli gaun, tiba-tiba mekar berbunga-bunga. Rasanya hangat sekali. "Dimakan ya Mbak. Biar kuat lemburnya."

"Pasti Mas. Saya makan sekarang." Devi membuka bungkusnya. Mematahkan sepotong. Memakannya. "Enak. Manis." Dia menawariku. "Mas Aryo mau?"

"Eh, enggak Mbak. Itu buat Mbak semua. Spesial."

Devi tersenyum lagi. Senyum yang akan kurekam dalam memori otakku selamanya. "Mas Aryo hati-hati pulangnya ya. Makasih udah inget ulang tahun saya."

"Iya Mbak. Mbak juga hati-hati. Jangan malem-malem."

Aku pamit mundur. Berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan, seolah aku sedang berjalan di atas awan. Ternyata benar. Gaun 2,5 juta mungkin akan membuatnya terlihat cantik. Tapi cokelat 25 ribu yang diberikan dengan tulus di saat dia kesepian, membuatnya merasa dihargai. Dan itu jauh lebih mahal.

 

Aku turun ke lantai dasar. Di taman samping gedung, di area khusus merokok, aku melihat sosok familiar. Mas Hanif. Dia sedang duduk santai, mengepulkan asap vapenya ke udara malam.

"Lho, Mas Hanif? Belum pulang?" tanyaku kaget.

Mas Hanif menoleh, tersenyum penuh arti. "Nungguin lu lah. Gimana? Sukses?"

Aku duduk di sebelahnya. Menghela napas lega. "Sukses Mas. Walaupun..."

"Walaupun apa? Gaunnya kegedean?"

Aku menggeleng. Lalu aku menceritakan semuanya. Tentang kerja rodiku sebulan. Tentang bapak pencuri susu di minimarket. Tentang uang 2,5 juta yang melayang demi kemanusiaan. Tentang cokelat 25 ribu yang kubeli dengan sisa uang. Dan tentang reaksi Devi tadi.

Mas Hanif mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk, sesekali menghisap vapenya. Dia tidak memotong ceritaku.

Setelah aku selesai cerita, Mas Hanif diam sejenak. Lalu dia menepuk bahuku keras-keras. "Gila lu Yo. Sumpah, lu keren banget."

"Keren apanya Mas? Saya gagal Mas. Gaun gak dapet."

"Lu gak gagal, bego. Lu justru menang banyak." Mas Hanif menatapku serius. "Kalau lu kasih gaun itu, Devi mungkin seneng. Dia bakal bilang 'Wah bagus banget', terus dipake sekali dua kali ke kondangan. Tapi lu? Lu bakal ngerasa bersalah seumur hidup karena ngebiarin bapak itu dipukulin masa."

"Tapi kan..."

"Dengerin gue. Hati lu itu, Yo... itu lebih mahal dari gaun apapun di butik manapun. Lu korbanin impian lu demi nolong orang asing? Itu namanya karakter, Man. Itu namanya laki-laki sejati."

Mas Hanif tersenyum. "Dan soal Devi... Lu liat sendiri kan reaksinya? Cewek kayak Devi, yang udah capek lelah dengan dunia kerja, dia gak butuh barang mewah dari cowok yang dia belum kenal deket. Itu malah bikin dia beban. Tapi perhatian kecil? Ketulusan? Cokelat murah di saat dia ngerasa sendirian? Itu yang ngena di hati."

"Jadi... saya gak salah langkah Mas?"

"Gak salah sama sekali. Lu udah nanem benih yang bagus hari ini. Devi gak bakal lupa sama cokelat itu. Dan Tuhan juga gak tidur soal duit lu yang lu kasih ke bapak itu. Ada rahasia dibalik rahasia."

Aku tersenyum. Beban di dadaku hilang sepenuhnya. "Makasih Mas Hanif. Mas Hanif emang mentor terbaik."

"Yoi. Udah sana pulang. Istri gue udah nelpon nih, nyuruh beli martabak. Jangan lupa berdoa, siapa tau jodoh gak kemana."

Mas Hanif berdiri, membereskan vapenya. "Oh iya Yo, satu lagi."

"Apa Mas?"

"Besok-besok kalau mau ngasih selamat, jangan 'Selamat Idul Fitri' lagi ya. Malu-maluin."

Eh? Jadi Mas Hanif tadi menguping saat aku menyerahkan coklat itu?

Aku tertawa lepas. "Siap Mas! Grogi Mas!"

Kami berpisah di parkiran. Aku menyalakan motor bututku. Malam ini, dompetku kosong. Rekeningku nol. Tapi hatiku penuh. Dan di lantai 12 sana, ada seorang wanita cantik yang sedang makan cokelat pemberianku sambil tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi