Pagi ini, Ni’un bin Na'in berencana mengikuti Job Fair yang diselenggarakan oleh Pemkot Bekasi.
Dia bergegas keluar kamar dengan penampilan yang bikin cicak di plafon merasa pangling. Mungkin jika di cerita Fabel, si cicak akan usil menyeletuk: “Bujug buneng… si Ni'un mao maen lenong kali. Kan maen dah, ah!”
Satu stel jas ungu yang tampak terlalu besar, membungkus badannya yang mungil.
“Mao kemana Un, pake jas kedombrangan gitu?! tegur Ni’an—abangnya—yang sedang mencuci motor di halaman.
“Mao ikut jop fer di Blau Plasa,” balas Ni’un sambil merapikan dasinya yang bergambar Labubu.
“Apaan sih, jop fer?”
“Ngelamar kerja!”
“Oooh! Lah itu… jas dari mana?!”
“Minjem ama temen.”
“Pake jas segala. Emang lu mao ngelamar jadi menejer?”
“Jadi prodaksyen kru.”
“Kan maen dah, ah! Roman(seperti)nya keren juga itu kerjaan lu!” puji Ni’an. “Eh iya, apaan sih prodaksyen kru?!”
“Udah ngapah, jangan nanya mulu! Gua mao jalan nih, tar telat!”
Sesampainya di Blau Plaza, Ni’un dengan tergesa-gesa menuju lokasi Job Fair yang berada di underground. Mungkin karena kurang hati-hati, kaki kirinya terperosok di selokan yang salah satu grill penutupnya hilang.
Akibatnya, ujung sepatu pantofel pinjaman itu menganga lebar, mirip mulut buaya lagi berjemur.
“Waduuh …! Jeblag nih sepatu gua,”gumam Ni’un.
Tanpa ragu, pemuda yang baru lulus SMA itu segera meneruskan langkahnya dengan kaki kiri sedikit diseret, agar sol sepatunya tidak begitu kelihatan mangap. Jalannya seperti cara berjalan orang yang terkena struk ringan.
Ni’un segera menemukan stand PT. IKLANIN AJA Broadcast Advertising, tempat dia melamar kerja. Semua yang datang memakai dress code, berupa busana semi formal.
Cuma Ni’un yang mengenakan jas lengkap. Seketika saja pemuda itu jadi pusat perhatian. Beberapa ada yang tertawa dan berbisik-bisik.
“Buset, itu orang mau ngelamar kerja atau mau sulap? Jasnya gede bingit” bisik seorang pelamar ke temannya.
“Mungkin dia mau jadi saksi nikah darurat, ” sahut yang lain sambil tertawa tipis.
“Badannya kecil, tapi jasnya udah kayak bedcover!”
“Eh, lihat deh, sepatunya juga kegedean! Mangap, lagi.”
“Bhuahaha… gue kira itu perahu karet tim SAR!!”
Di lokasi underground yang Ac-nya tidak maksimal atau mungkin ruangan terlalu padat, bau khas ‘lemari’ dari jas pinjaman itu mulai bereaksi dengan hawa Bekasi yang ‘nyolot’, berpadu dengan bau amoniak, sulfur dan asam asetat setara cuka 10 persen—yang keluar dari badan Ni'un.
Menghasilkan komposisi aroma yang sangat autentik. Komposisi yang sulit ditiru ahli parfum Paris.
Suasana tampak hiruk pikuk, tak ubahnya pasar Tanah Abang menjelang lebaran, karena banyaknya pelamar dengan wajah penuh harapan, keringat dan perjuangan.
“Ngelamar posisi apa, Mas?” tanya pemuda di sebelah Ni'un, sambil menunggu giliran menyerahkan CV.
“Prodaksyen kru,” jawab Ni’un lugas, dengan vibes bangga. “Kalo Mas, apa?”
“Disainer Seni.”
Akhirnya, tiba giliran Ni’un duduk di depan meja PT. IKLANIN AJA Broadcast Advertising. Di hadapannya, Mbak Maya—HRD yang kelihatannya sudah kelelahan itu, menatap Ni’un dengan pandangan menyelidik.
“Selamat pagi, Mas!” sapanya, sambil membuka map coklat milik Ni'un.
“Pagi, Mbaak! Saya siap jadi prodaksyen kru yang paling rajin!” jawab Ni’un semangat, sampai-sampai tangannya yang tertutup lengan jas kedombrangan itu menyenggol pulpen Mbak Maya hingga menggelinding jatuh ke bawah meja.
“Aduh, maaf Mbak! Biar saya ambilkan!”
Ni’un dengan sigap membungkuk ke bawah meja. Di saat itulah, karena posisi kakinya menekuk maksimal, sol sepatunya yang jebol bener-bener menyerah total.
KREKEEK! Sol sepatu itu terlipat dan menonjol keluar tepat di depan mata Mbak Maya yang juga ikut menunduk, karena mengira jatuhnya pulpen lebih dekat ke dirinya.
Mbak Maya kembali tegak, menatap Ni’un dengan wajah datar.
“Mas Ni’un... di industri kreatif, kami butuh orang yang teliti soal detail. Tapi kalau sepatu Mas sendiri detailnya sudah 'mangap' begini, saya khawatir nanti Mas baru angkat kabel, sepatunya sudah tertinggal di lokasi shooting.”
Wajah Ni’un langsung merah padam.
“Ini... faktor kesalahan teknis di jalan tadi, Mbak.”
“Satu lagi, Mas,” Mbak Maya menutup hidung pakai tisu. “Jasnya... unik ya. Baunya sangat autentik. Seperti baru saja dikeluarkan dari museum tekstil yang nggak dibuka sepuluh tahun!”
“Ooh!” refleks, pemuda lugu itu mengendus-endus jasnya. “ Baru tau saya Mbak , bau jas dari museum tekstil, kayak gini.”
Sudah hampir sebulan Ni'un belum juga mendapat panggilan kerja. Padahal dijanjikan akan dihubungi dalam waktu dua minggu. Dia juga sudah tak berharap lagi. Malam ini dia sedang berada di rumah teman akrabnya, Samin.
“Un, Un, dapet kerja kagak, malah sepatu gua lu bikin jeblag! Apes banget dah, ah!”
“Iya’, maap bro!”
“Lagian lu bukan ambil SMK aja , biar cepet kerja kayak gua!” lanjut Samin, sambil menaikkan kaki kiri ke kursi yang didudukinya.
“Tadinya gua pengen kuliah abis SMA, Min!” Ni’un berkilah.
“Lah terus, ngapa lu gak kuliah?!”
“Duitnya kagak, bro …! Keburu dipake baba gua buat kawin lagi!”
“Et, dah!”
***