Pagi itu, sekitar pukul 9, sekelompok ibu-ibu bergegas menuju rumah Ibu Wardhani untuk kegiatan mengaji.
Kelompok pengajian yang bernama MTII ISTIQOMAH itu, rutin mengadakannya di rumah warga secara bergantian.
Di perjalanan menuju rumah Ibu Wardhani, beberapa ibu asyik berbincang, nyerempet ghibah.
Salah seorang yang bernama Bu Zubaidah -yang paling kepo di antara yang kepo- bertanya pada Bu Anita yang ada di sampingnya.
“Eh, Bu Nita …! Bener nggak sih, Bu?! Katanya Pak Ustadz mau menikahi Lisa, adiknya Bu Endang.
“Wah, saya malah baru denger dari Ibu infonya! Bu Bedah tau dari mana?!”
“Minggu lalu, saya gak sengaja denger Bu RT ngobrol sama Bu Endang pas bubar pengajian. Kayaknya Bu Endang nyebut-nyebut nama Pak Ustadz dan Lisa!”
Bu Zubaidah memang seperti punya bakat alami. Telinganya bisa memfilter suara bising knalpot motor brong, supaya bisa menangkap frekuensi rendah bisikan tentang rumah tangga orang.
Baginya, satu kata 'poligami' yang terucap di ujung gang, terdengar senyaring sirine ambulans di telinganya.”
“Bu Bedah, kalo mau tau banget, coba tanya ke akun gosip Lambe Murah di IG!” saran Bu Warni, yang berjalan di belakangnya.
“Oh, iya ya, kenapa saya nggak kepikiran! Eh… emang bisa, Bu Warni?!”
“Ya endak tau! Wong saya cuma saran.”
Suara riuh rendah ibu-ibu ngobrol dan bercanda, terus berlanjut hingga tiba di tujuan.
Tak lebih lama dari waktu wudhu, tibalah rombongan kedua ibu-ibu termasuk Bu Endang dan Lisa.
——
Pembukaan acara sudah berlalu. Selanjutnya pembacaan tartil ayat Al-Qur'an baru akan dimulai.
Datanglah Bu Rohana, yang dikenal suka flexing.
Gemerincing gelang di tangan kanan-kiri bahkan kedua kaki bagai penari India, cukup jadi petunjuk bahwa yang datang pasti dia, meskipun kita tidak melihatnya.
Setiap kali Bu Rohana mengusap hidungnya dengan tisu, barisan cincin di jarinya bisa memantulkan cahaya yang lebih silau dari percikan api las karbit.
Memaksa ibu-ibu pengajian lainnya memejamkan mata atau palingkan wajah, agar tidak merusak retina matanya.
Saking banyaknya perhiasan di badan Bu Rohana, orang-orang bisa menyangka itu Toko Perhiasan mobile yang adaptif terhadap perilaku konsumen zaman now.
Pernah suatu waktu, Bu Yuni—anggota Majelis Taklim lainnya —menanyakan asal usul kekayaan suami Bu Rohana yang cuma sekretaris Camat.
Menurut sumber yang tidak layak dipercaya, kekayaan sang suami berasal dari warisan orang tua.
Tapi ada juga yang bilang, kalau orang tuanya cuma mewarisi penyakit darah tinggi, jantung koroner, ginjal, asam urat, maag, diabetes, kolesterol, ambeien, usus buntu, eksim dan kutu air (gak nanggung-nanggung nih yang nulis).
Entahlah, mana yang benar. Namun yang pasti, perdebatan soal warisan itu menguap begitu saja setiap kali Bu Rohana melintas dengan bunyi gemerincingnya yang prestisius.
Kembali ke suasana ruang tamu Ibu Wardhani yang khusyuk, kekhusyukan itu ternyata punya standar ganda. Di tengah pembacaan ayat suci yang syahdu, fokus jemaah terbelah antara ukhrawi dan duniawi.
Kamera CCTV imajiner di sana mungkin akan menangkap pemandangan kontras: sementara telinga mendengarkan tartil, jempol Bu Zubaidah tetap lincah menari di bawah lipatan mukena.
Dia sedang memastikan apakah akun Lambe Murah sudah mengunggah foto Lisa bersama Pak Ustadz—sebuah misi rahasia yang jauh lebih mendesak daripada menghayati makna ayat yang sedang dibaca.
Sementara itu, Bu Rohana sibuk membetulkan posisi gelang-gelangnya yang seberat beban hidup rakyat kecil, guna memastikan bunyi gemerincingnya tetap terdengar harmonis dan merdu di sela-sela lantunan tartil.”
——
Akhirnya acara pengajian selesai. Bu RT berkesempatan jalan beriringan dengan Bu Rohana.
“Bu Sek-Cam, Insyaallah Pak Ustadz akan nikah sama Lisa bulan depan. Bu Endang bilang gak papa, yang penting Lisanya mau. Istri Pak Ustadz juga terima.”
Bu Zubaidah dan rombongannya berjalan ngintil di belakang. Indera pendengaran dikerahkan—mirip cara kelelawar mencari mangsa—agar tak ada kata-kata yang terlewati.
“Ya nggak papa! Suami boleh kok, menikah lagi. Agama juga nggak melarang,” ungkap Bu Rohana sambil mengelus dadanya yang tertutup bros berlian sebesar jengkol.
"Lagipula," lanjut Bu Rohana dengan suara yang dibuat selembut wedang kembang tahu, "istri yang ikhlas itu kan tiketnya VVIP ke surga. Kita sebagai wanita harus berlapang dada, jangan egois memonopoli suami sendiri. Berbagi itu indah, apalagi berbagi beban rumah tangga."
Ibu-ibu lain manggut-manggut, merasa seperti sedang mendengarkan ceramah dari seorang ustadzah yang ada di tivi. Bu RT bahkan hampir meneteskan air mata haru.
“Wah, Bu Sek-Cam ternyata bijak ya! Benar-benar calon penghuni surga firdaus!” puji Bu RT.
“Iyaaa, betuuul!!” sahut ibu-ibu lainya.
“Yang penting adil, ya Bu?” timpal Bu Zubaidah.
“Bukan… yang penting asal jangan suami saya!” jawab Bu Rohana, kalem.
***
Rabu depan terbit: HAJI SOLEH & SERTIFIKASI HALAL