BANGSAWAN TIDAK BISA DONOR DARAH
Akhir-akhir ini media massa ramai dengan berita tentang tas branded palsu artis sinetron terkenal di Indonesia. Baik media mainstream, maupun media tanpa SIUPP. Masing-masing berlomba menyajikan berita terkini yang paling panas, melebihi panasnya seduhan kopi.
Di sebuah warung kopi yang tidak pernah takut bersaing dengan SETARBAK -Jaringan kafe internasional berlogo ikan duyung (Dugong)- terjadi percakapan yang seru, penuh argumentasi dan debat kusir -tanpa kuda.
“Lo yakin kalo tas brendid itu palsu?” tanya Ibnu -driver ojol Grape- pada rekannya, Arifin.
“Yakin bangetlah, Nu! Buktinye kan banyak.”
“Gue sih percaya kalo tas itu asli. Kan udah klarifikasi sertipikat!” sanggah Ibnu, mantap.
“Semalem di Tipiwan, rame bro debat antara Boi Karyo, Ade Warmindo, Ricko Garing, terus satu lagi siape tuh, Budayawan nyentrik yang suka sarungan?! Nggg!” Arifin berusaha mengingat nama seorang tokoh publik.
“Sukiwo Bejo!” celetuk Juned sambil mencomot gorengan tahu isi Wagyu beef cincang (gaya bingit).
“Oh, iye!” Ipin manggut-manggut, setuju.
“Gue sih gak demen loh liat muka Boi Karyo,” ungkap Ibnu, datar. “Nggak kayak orang intelek. Malah kayak wong ndeso!”
“Biar gitu-gitu, Boi Karyo turunan Bangsawan, loh!” terang Juned, dengan mulut terus mengunyah, mirip sapi di kandang.
“Masa?” tanya Arifin, tak acuh. Lalu dia meneguk sisa kopinya yang sudah tinggal ampas.
“Bener, bro! Coba gugling deh!” saran Juned, yakin.
“Nggak ngaruh, udah jaman e-ay (AI) sekarang!” Ibnu mencibir.
“Jadi Bangsawan itu nggak enak! Nggak bisa donor atau transfusi darah,” tiba-tiba Pak Heru, pensiunan PNS yang sedang ngopi juga, ikut berkomentar.
“Emang kenapa, Paaak?!!” Ibnu, Arifin dan Juned, kompak bertanya serius.
“Karena darah biru,” jawab Pak Heru, singkat.
Setelah membayar kopi, orangtua itu bangkit berdiri, lalu permisi dengan alasan ingin BAB. Ketiga driver ojol itu cuma bisa nyengir kuda -tanpa kusir- sambil menggerutu.
***