Tatapan

Pagi selalu menjadi hal yang kutunggu tunggu, memesan sebuah kopi dari cafe ternama, duduk disana dan memandangi orang orang berlalu lalang.

Satu... Dua... Tiga... Seratus...

Banyak orang dan wajah yang selalu kutatap, apa yang membuatku berani menatap mereka?, Karna mereka tak dapat menatapku dari balik kaca yang gelap ini.

Mereka memang tak pernah menatapku balik, tapi.. akan selalu ada satu tatapan yang tak pernah aku harapkan namun selalu setia disana menunggu.

Sebuah tatapan disetiap pagi, yang kadang kupergoki, tingkahnya dingin bahkan dia tak pernah menunjukkan rasa malu ketika aku memiringkan kepala bermaksud bertanya tanpa kata.

Namun, apa yang kudapat? Justru sebuah senyuman singkat tanpa menjawab pertanyaan.

Dia pria yang sungguh aneh, membuatku takut pada awalnya, namun semakin lama.. semakin kuterbiasa.

Aku akan selalu menatapnya dan mengacungkan kopiku sebelum meminumnya, begitupun dirinya yang bermaksud membalas. Semakin lama kami berinteraksi... Semakin jarang kupergoki dia menatapku, atau bahkan ada disana untuk menyeruput kopinya yang tak pernah kutahu apa itu.

Pria itu kini memberikan tatapan dingin, seolah olah dia berhenti tertarik. Kenapa? Itu membuatku kesal. Tatapannya, sapaannya semakin jarang... Tak hanya di cafe, bahkan dirumah dia seperti orang lain.

Semakin jarang kami bertemu, semakin gila aku dibuatnya. Hidupku berhenti berwarna, semuanya kelam dan gelap. Dia datang tanpa kata dan pergi tanpa yang lainnya.

Dia masih tetap sama, aku yang berbeda. Dia duduk disana, menatap seorang wanita. Sedangkan aku disini menjadi salah satu orang yang menatapnya.....

6 disukai 1.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction