Take My Hand

Hari ini, aku menerima pesanmu setelah berbulan bulan kita terpisah, setelah berbulan bulan kamu pergi tanpa kata..

Kamu memintaku untuk bertemu ditempat pertama kali kita bertemu.. aku khawatir mengenai kamu yang akan melupakan dimana tempat pertama kita bertemu, itulah kebiasaanmu...

Tapi aku selalu percaya padamu, meski itu selalu berujung sebuah kesalahpahaman ketika kita bertemu. kemudian, kita bertengkar karena saling menunggu ditempat yang berbeda, lalu diakhiri suara tawa menertawakan kebodohan kita...

Tapi kali ini aku benar benar menunggu, menunggumu dengan ditemani sebuket bunga yang kubeli ditaman tempat biasa kita membeli es krim, tempat kita bersenda gurau terlepas dari duniawi yang selalu kita keluhkan.

Aku sudah sampai disini, melihat kekanan dan kekiri. Menunggu seseorang berambut hitam panjang menghampiriku dengan senyumnya yang sangat kurindukan, memelukku dan berkata.

"Aku merindukanmu..."

Aku sudah menunggu cukup lama, kakiku terasa pegal, aku memutuskan untuk duduk disebuah tembok yang selalu kita perdebatkan, karena perdebatan itulah kita saling mengenal.

Entah kenapa sesuatu hal konyol justru bisa membuat kita bertahan begitu lama, sampai sejauh ini. Aku hanya bisa bersyukur kamu masih mengingatku..

Aku mulai lelah, matahari sudah mulai turun dari tahtanya, hendak beristirahat memanggil bulan menggantikannya... Tapi kamu belum kunjung datang... Dan aku masih menunggumu, ditempat yang sama dimana kita berpijak untuk saling bertemu...

Aku kedinginan karena hujan mengguyur cukup deras jika dikatakan sebagai gerimis. Bahkan udara malam tak cukup membuatku untuk berpikir mengenai kemana perginya dirimu hingga kau tak kunjung datang menemuiku...

Ini sudah tengah malam... Akhirnya sebuah langkah kaki dengan selop yang terus beradu membuatku meliriknya perlahan.

Dia membawa sebuket bunga yang mirip dengan yang kubawa, kemudian dia menatap kearah tatapanku menatap sekarang.. menatap kedepan jurang yang dihalangi oleh tembok yang kuceritakan tadi...

"Apa kamu menungguku selama ini? Jangan bersikap bodoh! Jika kamu ingin pergi, maka pergilah! Meskipun aku datang, kamu seharusnya tetap pergi kali ini... Bukannya menungguku, karna kita tidak akan bisa menertawakan hal itu bersama lagi."

Air matanya terjatuh, ya mengingat kini dia membawa sesuatu diperutnya, membuatku menghembuskan napas dalam...

"Bagaimana bisa a-"

Dia melemparkan bunganya kejurang tanpa kata dan alasan. Air matanya mengalir mengikuti aliran bunga yang terjun kedalam sana...

Membuatku terdiam dan terbungkam..

"Kamu harus tenang dialam sana, bukan untukku, tapi untuk bayi kita.."

Kini aku sadar, tangannya sudah tak dapat kugenggam, senyumnya tak dapat kulihat dan air matanya tak dapat kuusap, ingin ku bersamanya lagi, ingin kunantikan dia disini. Namun, menantikannya akan sangat menyakitkan setelah aku tahu semua kenyataan....

9 disukai 1 komentar 5.4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Bunuh diri? 🥺😰
Saran Flash Fiction