A Mysterious Sign on A Red Sofa

"Haah?! Kenapa nih pensil? Kok ga mau dipake buat buletin jawaban, ya?" sungut Indri keheranan. 

"Ssttt! Stt!! Pinjem pensil dong oy!" pinta Indri mendesis ke teman di sebelah kanannya. 

"Ga ada! Eh ini! Kecilin woy suara lo," bisik temannya gemas. 

"Kak, Kak! Eh, sorry, sorry, banget gue bangunin lo. Ini pensil yang lo pinjemin ke gue kenapa susah banget dipakenya, ya, pas gue ujian tadi? Mana patah terus lagi," keluh Mira kepada Susi, kakaknya, begitu ia sampai di rumah. 

"Ohya?? Duh, gue juga ga tau deh, Mir. Sebenernya, pensil itu ... ," kakaknya tak bisa menyelesaikan kalimatnya. 

"Ha? Kenapa emangnya pensil itu, Sist?" 

"Itu ... pensil keramat. Horor banget. Jadi, pensil itu sebenernya milik kakak kelas SMA gue. Dia setahun di atas gue. Namanya Mawar. Enam bulan lalu, gara-gara nilai-nilai ujiannya cakep-cakep, temen-temennya nuduh dia jampi-jampiin pensil itu ke dukun. Padahal, dia aslinya emang pinter banget. Eh, tapi loh ya, begitu ada temennya yang diem-diem ngumpetin pensilnya itu buat dia pake buktiin sendiri, nilainya jadi mendadak bagus. Jadinya, makin kuat deh dugaan temen-temennya kalo dia emang bawa ni pensil ke dukun buat dijampi-jampiin," terang Susi panjang lebar. 

"Trus trus abis itu gimana?" kejar Mira. 

"Hmm ... sayangnya, abis itu, kakak kelas gue itu mati, terbunuh, dan mayatnya ditemuin di selokan deket rumahnya. Denger denger, temen-temennya itulah yang ngebunuh dia gara-gara pengen punyain pensil itu. Mereka takut banget ga lulus UN alias Ujian Nasional. Tapi ... itu gosipnya, loh, ya. Gue juga ga tau kebenarannya," jelas Susi lagi. 

"Trus, kenapa pensilnya jadi malah disimpen sama lo, Kak?" 

"Abis kejadian itu, pensil itu dibuang begitu aja sama mereka di sekolah. Mereka katanya takut dapet kutukan, hahahahh! Gue sih waktu itu bodo amat. Mayan kan, bisa buat gue pake, wkwkwk. Eh, tapi kalo dipikir-pikir, seremmm banget uy! Udah ah gue tidur lagi aja, hhihihiii!" Susi menakut-nakutinya. 

"Ah, masa, sih?? Gak percaya gue gitu-gituan, Kak. Gue pengen nyelidikin ah!" ujar Mira tak percaya. 

Mira, karena ia tak mudah percaya begitu saja tentang "pensil keramat", diam-diam menginvestigasi rahasia yang menyelubunginya. Ia mendatangi salah satu teman Mawar yang terduga kuat membunuhnya, Sinta. 

"Iya, ada perlu apa, ya?" tanya Sinta begitu didatangi Mira. 

"Mm ... anu, Kak, apa benar Kakak temannya kak Mawar?" 

Sinta tak bisa menyembunyikan cemas di wajahnya. 

"Iy ... iya. Kenapa, ya? Mawar udah meninggal enam bulan lalu. Ga usah diganggu-ganggu lagi, biar dia tenang di atas sana," kata Sinta berusaha tenang. 

Mira melihat ada yang aneh dengan kain penutup sofa yang sedang yang didudukinya itu.  

"Maaf, Kak. Aku cuma ingin tanya-tanya aja sedikit. Tapi Kak, maaf banget, aku haus. Aku boleh minta minum? Air putih? hehehe ... ," pinta Mira. 

"Ooh ... boleh boleh. Tunggu, ya, sebentar." 

Kesempatan itu tak disia-siakannya. Selagi Sinta berada di dapur, ia menggunting sedikit kain penutup sofa tersebut. 

Setelah mengobrol sebentar dengan Sinta, Mira pamit. 

Esoknya, Sinta ditangkap polisi atas dugaan pembunuhan seseorang: Mawar. 

Setelah tim forensik melakukan pemeriksaan, kain penutup sofa yang berwarna merah yang diduduki Mira kemarin itu, ternyata mengandung DNA Mawar. 

6 disukai 926 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction