Remahan

Secangkir kopi dan sepotong kue diatas meja. Sepasang kursi dan seorang ayah dihadapanku.

"Kenapa kamu terus potong potong kuenya?" Dapat kudengar helaan napasnya ketika aku mulai mendentingkan garpu kepiring berisikan kue.

Tak kuhiraukan kata katanya, dentingan garpu yang membuat kueku semakin mengecil membuatku terfokus padanya.

"Sampai kapan kamu motong kuemu jadi remahan?" Suaranya diselingi seruputan espressonya yang panas.

"Sampai cukup untuk semua" kutumpukan tanganku di atas meja dan yang lain masih asik menghancurkan bentuk kue yang sudah tak karuan.

Ayah berdehem, dia menatapku dengan tatapan seriusnya. Kini mulai lagi..

"Semua orang tidak akan puas hanya dengan remahan, tapi satu orang akan puas dengan satu potong" ucapannya menatap langsung wajahku, membuatku harus mendongak memberikannya sopan santun.

Dia menarik lagi cangkir kopinya, menuangkannya diatas kueku yang sudah menjadi bubur, tatapannya datar saat menuangkan sisa kopinya, membuat seluruh penampakan hitam membawa kelam kedalam kue putih yang kuhancurkan.

"Kamu menghancurkannya dan orang lain masuk membuatnya kelam dan gelap. Apa yang bisa kamu lakukan? Bahkan bentuknya sudah tak karuan"

perkataannya membuatku bungkam, perkataan ayahku memang benar adanya, tapi apa yang kubisa lakukan sekarang? Semuanya sudah kuberikan remahan, kini hanya tersisa sebuah garpu dengan krim disetiap jarinya.

apakah sopan memberikannya kepada orang terakhir?

kurasa tidak... Ayah memang benar...

11 disukai 5.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction