The Room 13

Aku tinggal disebuah apartemen kecil diujung jalan dikotaku, ditemani seekor kucing hitam rusuh yang kuberi nama Max.

Awalnya aku tak berniat menjadikannya sebagai hewan peliharaan, namun karena dia selalu datang keapartemenku hanya untuk sekedar mengeong dan pergi begitu saja, namun kini, dia akan tinggal selama yang dia inginkan.

Max selalu kutinggalkan sendirian dipagi hari, bukan karena aku tidak suka, tapi karena aku harus bekerja untuk menghidupi diri dengan makanannya.

Tahu kenapa kusebut Max sebagai kucing rusuh? Bukan tanpa alasan aku mengatakannya, dia selalu membuat keadaan rumah berantakan setiap aku pulang dimalam hari.

Setiap malam dia akan berbaring diatas kasurku dengan tatapan tanpa dosanya, menyebalkan sekali punya kucing seperti itu bukan?

"Selamat pagi" ucapan seorang wanita tua yang tinggal disebeleh apartemenku.

Oh akan aku perkenalkan dulu siapa dia. Dia adalah bibi May, dia tinggal seorang diri diapartemen itu, maksudku dia benar benar sendiri tinggal diapartemen nomor 12 tepat disamping kamarku nomor 13.

Setiap pagi dia akan menyiram tanaman dan menyapaku sebelum aku pergi bekerja, dia wanita yang aneh. Dia selalu mengatakan hal hal yang tidak masuk akal mengenai apartemenku, seperti bau amis, bahkan dia bergosip mengenai potongan tubuh yang dia temukan dikamarku, apa dia berusaha menakutiku?. Aku cukup mencurigai gerak geriknya..

Suatu hari ditengah malam setelah aku pulang bekerja, aku menggusur sebuah kantong yang diberikan oleh atasanku. Biasanya berupa barang yang harus aku periksa, maklumlah aku bekerja diperusahaan dagang...

Aku memasuki kamarku dan mendengar ketukan beberapa kali...

Tok tok tok...

Tokkk tokkk tokkk...

Tok tok tok..

Suaranya berirama, kecil, lalu kencang, kemudian kecil masing masing sebanyak 3 kali, entah apa yang dilakukan wanita tua itu. Membuatku semakin terusik, belum habis aku kesal karena Max yang memporak porandakan rumah, kini suara bising yang terdengar dari balik dinding membuatku semakin kesal....

Sampai suatu saat dimana suara ketukan itu terjadi setiap hari dan semakin menjadi jadi. Aku memutuskan untuk menghampirinya dan bertanya,

"Kamu mendengarnya juga? Aku pikir itu berasal dari apartemenmu. Tapi selalu aku periksa, dan itu bukan dari kamarmu.."

Perkataannya sungguh membuatku merinding dan sadar akan sesuatu...

Aku kembali kekamarku dan mengelus Max untuk meminta maaf kepadanya.

Sungguh, wanita itu semakin menyebalkan, semakin membuatku muakk.

Sudah bulat! Besok aku akan merekomendasikannya kepada bossku, agar dia bisa berhenti menghancurkan tempatku..... dan agar dia berhenti bergosip tentang tubuh seorang wanita yang tinggal dikamar 14 yang dia temukan dikamarku....

Aku bisa kehilangan pekerjaan jika dia terus mengatakannya...

Akan aku pastikan boss menerima rekomendasiku. Toh dia tinggal sendirian....

4 disukai 432 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction