Disukai
4
Dilihat
32
Wanita Berkulit Pisang
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suatu sore, di desa pantai yang bau ikan asin dan kotoran kambing bercampur, Pak Kob menanam istrinya di kebun pisang belakang rumah. Ia gali lubang dengan cangkul yang berkarat, masukkan tubuh Selen yang masih hangat ke dalamnya, lalu timbun dengan tanah hitam yang basah. Ia tanam pisang di atasnya, supaya kalau nanti ada yang tanya, ia bisa bilang, “Ini kebun pisang, bukan kuburan.”

Selen mati karena Pak Kob memukul kepalanya dengan palu. Bukan karena Selen selingkuh. Bukan karena Selen mencuri uang. Melainkan karena Selen terlalu cantik. Cantik yang membuat orang-orang di pasar menoleh, membuat kepala desa datang ke rumah dengan dalih “bantuan beras”, dan membuat Pak Kob sendiri tak bisa tidur malam-malam. Cantik yang membuat masalah: semakin dipandang, semakin jadi gila.

Ia pikir, kalau Selen sudah di dalam tanah, kecantikannya akan busuk bersama dagingnya. Tapi seminggu kemudian, tepat malam jumat kliwon, ketika Pak Kob sedang mabuk tuak di beranda, pisang di kebun yang di bawahnya terkubur jasad Selen, berbuah seketika. Buahnya besar, kuning mengkilap, dan baunya seperti kulit Selen yang dulu selalu wangi minyak kelapa.

Pagi harinya, Selen bangkit. Ia keluar dari tanah seperti orang yang hanya pingsan seharian. Rambutnya penuh akar pisang, kuku-kukunya hitam, tapi wajahnya tetap cantik—bahkan lebih cantik. Matanya yang dulu biasa, kini berkilau seperti mata kucing yang baru dibunuh. Ia berjalan ke dapur, menyiapkan kopi, dan bilang, “Sayangku, kenapa kau tanam aku di kebun pisang? Aku masih haus.”

Pak Kob terkejut sampai menjatuhkan gelasnya. Ia ingin lari, tapi kaki-kakinya seolah dicangkok ke lantai. Selen duduk di depannya, minum kopi, dan tertawa. Tertawanya seperti orang yang baru saja menemukan lelucon bagus di tengah pemakaman.

“Aku sudah mati,” kata Selen, “tapi kecantikanku belum. Jadi aku balik. Kau pikir aku bisa mati kalau aku dikubur? Aku tidak mati, hanya pindah ke tempat lain.”

Sejak hari itu, Selen hidup lagi di rumah. Tapi ia tidak sama. Ia tidak makan nasi, hanya makan pisang yang tumbuh dari tubuhnya sendiri. Ia tidak mandi, tapi tubuhnya selalu wangi. Dan setiap malam, ia menuntut Pak Kob untuk bercinta dengannya selama empat jam. Pak Kob takut, tapi tubuhnya tidak. Tubuhnya selalu menurut, seperti anjing yang dicambuk tapi tetap setia.

Orang-orang desa mulai bergunjing, “Istri Pak Kob bangkit dari kubur,” kata mereka di warung kopi. “Mungkin ia jin, hantu, setan atau siluman. Atau mungkin hanya perempuan biasa yang terlalu keras kepala.”

Kepala desa datang lagi, kali ini membawa polisi. Tapi ketika mereka melihat Selen yang duduk di beranda, rambut basah, dada terbuka sedikit, mereka lupa mau menangkap siapa. Mereka hanya duduk, sambil menatap dadanya dan pulang dengan muka merah. Pak Kob mencoba membunuh Selen lagi, sebab ia tidak ingin istrinya itu diculik, atau diperkosa orang lain. Ia tusuk dengan pisau, tapi pisau itu patah. Ia racuni dengan racun tikus, tapi Selen hanya muntah pisang busuk dan tertawa. Ia coba bakar, tapi api tidak mau menempel di kulitnya. “Kau tidak bisa membunuhku, sayang,” kata Selen sambil mengelus pipi suaminya yang basah oleh air mata dan keringat. “Aku hanya bisa dilukai, tapi itu hanya akan membuatku lebih cantik.”

Suatu malam, ketika bulan penuh dan ombak di pantai berbunyi seperti orang yang sedang digigit hantu, Selen bilang, “Aku hamil.”

Pak Kob pucat. “Hamil apa? Kau sudah mati.”

“Hamil dari kesakitanku,” jawab Selen. “Anak kita akan lahir dengan kulit pisang dan mata harimau. Ia akan menjadi perempuan cantik, yang akan membuat para lelaki jadi gila dan saling bunuh.”

Sembilan bulan kemudian—atau mungkin sembilan hari, karena waktu di desa itu sudah kacau sejak Selen bangkit—Selen melahirkan. Tidak di rumah sakit, tapi di kebun pisang. Ia berbaring di tanah basah, menjerit, dan dari antara kedua paha kakinya yang menganga, keluar bayi yang kulitnya kuning keemasan, seperti pisang matang. Bayi itu menangis kuat-kuat, seolah-olah tangisannya itu bisa membuat para dewa di atas sana meminta ampun. Ia lalu membuka mata yang berwarna hijau, lalu tertawa kecil. Pak Kob ingin membuangnya ke sungai, tapi Selen bilang, “Jangan. Ini anak kita. Namanya Sakura, seperti nama bunga di negeri penjajah itu.”

Dan Sakura tumbuh cepat. Dalam seminggu ia sudah bisa jalan. Dalam sebulan ia sudah bicara. Dan dalam setahun, ketika ia sudah setinggi lutut, orang-orang desa mulai hilang. Ada yang ditemukan di kebun pisang, tubuhnya digigit, wajahnya tenang seolah sedang mimpi indah. Ada yang hanya meninggalkan bau wangi minyak kelapa di tengah jalan. Pak Kob lama-lama jadi sinting. Ia duduk di beranda setiap hari, memandang kebun pisang yang kini sudah menjadi hutan, dan berbisik, “Aku hanya ingin istri yang biasa saja. Istri yang mukanya nenek-nenek juga tidak apa, asalkan dia bisa mati.”

Suatu sore, ketika Sakura sudah setinggi orang dewasa dan mulai mengajak laki-laki desa ke kebun, Selen datang ke beranda. Ia duduk di samping suaminya, lalu tangan satunya di bahu Pak Kob yang kurus. “Kau semakin tua,” kata Selen, “Tapi wajahku tetap sama, tidak berubah. Selalu cantik.”

“Itu tidak adil,” balasnya.

Pak Kob menoleh. Wajah Selen masih sama seperti hari pertama ia bangkit: cantik yang menyakitkan. Tapi di matanya, ada sesuatu yang baru—semacam belas kasihan, atau mungkin hanya rasa bosan. “Maukah kau mati bersamaku?” tanya Pak Kob.

Selen tertawa. “Aku sudah mati. Kau yang belum.”

Malam itu, mereka tidur di kebun pisang, bercinta sampai pagi. Pak Kob memeluk Selen dan untuk pertama kali sejak ia menanamnya, ia tidak takut. Ia mencium bau pisang, bau tanah, bau kematian yang manis. Dan ketika fajar datang, orang-orang desa menemukan dua tubuh yang saling memeluk di bawah pohon pisang. Tubuh Pak Kob sudah membusuk, tapi tubuh Selen tetap cantik dan wangi. Di samping mereka, Sakura duduk, mengupas pisang, sambil memakannya perlahan. Sakura tersenyum ke arah orang-orang yang datang dan katanya, “Ibu bilang, aku cantik, dan kecantikan harus diwariskan.”

Sejak hari itu, situasi desa tidak pernah sama. Setiap musim pisang, ada saja perempuan muda yang bangkit dari tanah setelah mereka mati, atau laki-laki yang hilang di kebun. Dan di warung kopi, orang-orang masih bercerita tentang Pak Kob dan istrinya yang cantik itu, seolah cerita itu baru terjadi kemarin, padahal sudah puluhan tahun. Karena di desa itu, waktu tidak berjalan lurus. Waktu berputar, seperti penyakit yang tidak pernah sembuh, hanya pindah dari tubuh satu ke tubuh lain. Dan di kebun pisang, buah-buahnya selalu matang terlalu cepat, terlalu manis, dan terlalu beracun.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi