Selamat datang di Sirkus Marakayangan! Mari silakan masuk. Tidak usah malu, datang dan saksikan pertunjukannya. Mumpung kami ada di kota Anda. Mari! Mari!
Kau datang lagi. Setelah dua puluh tujuh hari pertunjukan di kota kecil yang tak terlalu bergeliat ini; Cimacan. Hanya satu kali kau terlihat absen, yaitu pada hari Minggu kedua pada saat angka pengunjung sedang sangat naik, ketika masa gajian buruh-buruh pabrik gula mulai cair. Di antara kerumunan banyak orang itu, aku mencari-cari sosokmu yang sudah sangat akrab di penglihatanku; kau selalu mengenakan rok berenda polkadot di bawah lutut dengan sepatu boots cokelat mirip seorang koboi perempuan. Rambutmu yang panjang selalu kau kepang dua mirip seorang gadis desa, tapi yang paling mencolok darimu adalah topi cokelat bundarmu yang mirip dengan jamur merang kesukaanku. Dengan gaya yang seperti itu, pikirku kala pertama kali melihatmu, kau sudah masuk dalam kriteria sebagai seorang gadis sirkus. Namun, ada satu kekuranganmu—yang sebenarnya wajib dipunyai oleh seorang gadis sirkus; tak ada cetakan senyuman manis di wajahmu seolah kau adalah perempuan yang sedang kena badai ngamuk. Tapi tak apa, bantahku, aku bisa mengajarimu caranya tersenyum manis dan palsu layaknya para model di papan reklame kota. Pertama kali aku melihatmu, kau bagai anak ayam yang kehilangan induknya. Dalam riuh pembukaan dan ramai orang-orang yang hilir mudik, kau datang seorang diri tanpa ada pendamping atau orangtua. Bagi remaja seusiamu, sudah semestinya kau datang bersama teman-teman perempuanmu; mereka biasanya berisik dan seolah hidup dalam dunia mereka sendiri. Kau terlihat kesepian dan kontras sekali dengan pilihan-pilihan warna pakaianmu yang mencolok. Ketika kau berjalan melewatiku yang sedang sibuk berkoar-koar dengan busana manusia super yang melekat di tubuhku, kau menatapku begitu lama, seolah dalam pikiranku kau bilang kepadaku bahwa aku harus semangat. Ya, harus semangat pikirku, lalu kau berlalu begitu saja.
Hari berikutnya kau datang lagi. Kali ini kau menenteng gula-gula di tangan kananmu dan di luar dugaan, kau menyapaku dengan sebutan nama. Dari mana kau tahu namaku, tanyaku heran. Tak jadi soal dari mana, yang penting maukah kau menemaniku berkeliling wahana sebab aku agak sedikit kesepian. Dan aku tahu kau pun sedang dirundung duka dan sedikit bosan. Baiklah, ucapku tanpa ba bi bu.
Kau memegang tanganku ketika kita berhimpitan dengan orang-orang. Sore itu begitu cerah dengan angin yang sedikit membawa dingin. Cimacan memang berlokasi di bukit-bukit pegunungan jawa barat sehingga cuacanya menjadi segar. Antar aku masuk ke arena itu? Ucapmu seraya tanganmu menunjuk ke salah satu pertunjukan yang sedang buka; Cantik Itu Luka. Aha, jawabku. Baiklah. hari ini aku akan menjadi jembatanmu menuju panggung ilusi, Nona Manis. Mari kita melihat si cantik yang terluka.
Inilah pertunjukan pertamamu bersamaku sebagai pemandunya. Nama pertunjukannya Cantik Itu Luka. Kau bertanya mengapa Cantik Itu Luka? Entahlah, yang kutahu, dahulu nama pertunjukkan ini bukanlah Cantik Itu Luka, tapi Perempuan yang Terluka Dalam Bara Api Pagi. Ujang Sakalor mengganti papan nama pertunjukan itu tiga tahun lalu, bisikku di telinganya saat kami mengantre masuk. Katanya, nama baru ini jauh lebih menjual tiket, mencuri judul dari sebuah buku tebal yang sampulnya sering dibaca Ambet Kasih saat fajar. Pada hari itu juga ia mengganti semua spanduk dan huruf-huruf di atas tenda, menjadi nama Cantik Itu Luka dengan gambar seorang perempuan cantik berambut sangat panjang yang tertusuk oleh puluhan pedang.
Dalam pertunjukkan kau duduk manis. Kau lepas topi jamurmu karena gerah. Petunjukkan belum dimulai namun rupa-rupanya kau sudah tak sabaran. Seperti apa pertunjukkannya? Tanyamu kepadaku dengan nada penasaran. Rambutmu terlihat indah dengan kepang dua, hitam legam dan lurus, seperti rambut Nyi Ambet Kasih. Matamu terlihat kecil seperti orang Tionghoa dengan kulit kuning bersih. Tanganmu kecil, lembut, dengan gerakan cepat kau menjentikan tanganmu di depan wajahku seraya bilang, jangan melamun. Jangan terpesona. Aku tertawa nyengir dengan wajah yang memerah malu. Aku bilang pertunjukkan ini berkisah tentang perjalanan Nyi Rambut Kasih, seorang ratu Kerajaan Sindangkasih yang gulana karena jatuh cinta.
Sebelum melanjutkan perkataanku, tirai panggung mulai dibuka. Orang-orang yang memadati tempat duduk dan berisik, seketika menjadi diam. Seorang laki-laki setengah baya berpakaian hitam-hitam muncul ke panggung membawa sebuah bokor yang berisi bunga tujuh rupa dan dupa. Tak butuh waktu lama panggung itu dipenuhi asap dupa, mengabut, dan baunya sampai pada kursi penonton; beberapa orang yang tak terbiasa dengan aroma dupa membekap hidungnya dengan tangan. Namun kau tidak melakukannya. Seorang perempuan masuk panggung yang berkabut. Sorot lampu panggung berubah warna menjadi biru terang, menyoroti perempuan yang hanya mengenakan bebatan kain samping. Kemudian perempuan itu berlari, berputar di atas panggung sehingga kabut itu hilang tersapu gerakan rambutnya yang sangat panjang. Ketika kabut hilang, barulah semua penonton bisa melihat wajah itu. Perempuan itu sangat cantik, dan kau pun mengakuinya. Kau terpekik ngeri ketika kau menatapnya dengan sungguh-sungguh. Kecantikan yang membuat semua perempuan terluka, ucapmu spontan. Yang lain tak kalah reaktif, berteriak-teriak sambil mengumandangkan nama Ambet Kasih berulang-ulang. Bogoh kabina-bina. Tapi, bantahmu kemudian, perempuan secantik itu hanya akan berakhir tragis karena kecantikannya. Semua pria akan berusaha mendapatkannya, dan pada akhirnya ia tak lebih dari sebuah barang saja, ucapmu sinis. Tapi tunggu dulu, bantahku. Kau lihat lebih dahulu pertunjukan ini, setelah itu barulah kau bisa menilai Ambet Kasih perempuan macam apa. Baiklah, Tuan Penggerutu.
Dikisahkan pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang ratu agung di Kerajaan Sindang Kasih. Namanya Nyi Rambut Kasih. Seperti kisah-kisah raja pada dongeng-dongeng umumnya, Nyi Rambut Kasih dikenal sebagai seorang ratu arif, bijaksana, dan cantik jelita. Nama aslinya Ambet Kasih, namun karena rambut panjangnya yang kelewat indah, orang-orang memanggilnya Nyi Rambut Kasih. Di bawah kepemimpinannya rakyat Sindang Kasih hidup aman dan sejahtera, dan Nyi Rambut Kasih pun tak suka berkonflik dan tak berkeinginan memperluas daerah kekuasaan, hingga hidupnya adem ayem tanpa riak riak masalah besar.
Hingga hari yang membawa badai masalah itu pun datang, dibawa oleh seorang pangeran muda yang membawa sebuah misi dan segerombolan pasukan berkuda, tiba di Kerajaan Sindang Kasih pada suatu Kamis sore, mengaku sebagai utusan Kerajaan Cirebon. Pangeran muda itu menghaturkan diri sebagai anak dari Sunan Gunung Jati dan berniat untuk meminta buah maja yang konon hanya tumbuh di Kerajaan Sindang Kasih sebagai obat wabah demam yang melanda Kerajaan Cirebon.
Aku akan mengabulkan permintaanmu, ucap Nyi Rambut Kasih. Tapi dengan satu syarat.
Apa itu?
Kau harus menikahiku terlebih dulu.
Pengakuan itu mengejutkan banyak orang, termasuk Nyi Siti Armillah—istri sang pangeran yang kebetulan ikut serta dalam misi itu. Bagi orang-orang Sindang Kasih pengakuan itu sungguh mencengangkan dan di luar batas kewajaran. Pertama. Kesan Nyi Rambut Kasih selama ini sudah tertanam kuat sebagai sosok perempuan tangguh—yang tak butuh lelaki, bukan perempuan tipe tipe putri kerajaan yang manja, yang berkalang lelaki, yang cukup hidup dengan dirinya sendiri tanpa campur tangan sosok maskulin. Kedua. Sebagai perempuan sunda masa itu, pantang bagi seorang perempuan untuk meminang lelaki. Perempuan harus menunggu dengan sabar sampai seorang lelaki ingin meminangnya.
Tapi hamba sudah beristri, sanggah sang pangeran seraya menatap mata istrinya, Siti Armillah, yang terlihat gusar dengan ekspresi wajah berlebihan.
Tidak masalah, ucap Nyi Rambut Kasih seraya bangkit dari singgasana, menatap Nyi Siti Armillah dengan penuh selidik, menilik nilik, menimbang, menilai penampilan Nyi Siti Armillah dari atas sampai bawah. Kau bisa menceraikan istrimu, atau paling tidak kau bisa menjadikanku istri pertama dan istrimu sekarang bisa menjadi seorang selir.
Beri hamba waktu.
Aku tidak punya waktu. Aku mau jawabannya sekarang.
Baiklah kalau itu yang Ratu mau. Hamba akan menikahimu. Tapi dengan satu syarat, kau harus masuk agamaku terlebih dahulu, membaca kalimat syahadat sebanyak tiga kali.
Maksudmu kau memerintahku?
Bukan begitu..
Lantas apa namanya kalau bukan memerintah.
Karena ini syarat mutlak supaya kita bisa menikah. Kalau kau tidak mau, aku tak akan menikahimu.
Kau mengancamku?
Bukan begitu, tapi ini wajib.
Terjadi perdebatan panjang, musik dramatis bergema, suara degung berkumandang, nadanya semakin cepat, hingga terdengar bunyi gong yang menandai puncak ketegangan itu berakhir menjadi sebuah peperangan tak terelakan.
Puluhan prajurit utusan dari kerajaan
Puluhan prajurit utusan dari kerajaan seberang perlahan mengepung panggung, menciptakan ilusi peperangan hebat yang membuat para penonton bersorak histeris di dalam tenda sirkus yang pengap. Namun, pikiranku mendadak tidak di sana. Aku menoleh ke arah bangku di sebelahku, tempat kau duduk. Bangku itu kosong. Topi jamur merang cokelat milikmu tergeletak begitu saja di atas kayu usang, ditinggalkan pemiliknya yang entah sejak kapan melangkah pergi menuju wahana Sandekala.
Aku tergesa memungut topi itu, lalu berlari keluar menembus riuh manusia dan aroma dupa yang masih menggantung pekat di udara Cimacan. Langkah kaki boots cokelatmu meninggalkan jejak samar di atas tanah pegunungan yang lembap. Tepat di depan papan kayu bertuliskan: Sandekala, langkahku terhenti. Keadaan mendadak senyap, kontras dengan keriuhan tenda utama yang berjarak beberapa puluh meter di belakangku.
Kau tidak bisa masuk ke dalam, Din, sebuah suara berat menepuk pundakku. Ujang Sakalor, pemilik sirkus, berdiri di sana dengan sebatang rokok yang asapnya mengepul malas. Wajahnya tampak lelah, menyimpan garis-garis kecemasan yang mendalam.
Tapi dia di dalam, Kang. Dia membawa semangkuk mi instan untuk tuyul-tuyul itu, jawabku panik, menyodorkan topi jamur cokelat di tanganku sebagai bukti.
Ujang Sakalor menatap topi itu, lalu menatapku dengan pandangan kosong yang membuat bulu kudukku meremang seketika. Din... wahana Sandekala sudah dikosongkan sejak minggu kedua kita di Cimacan. Tidak ada kuntilanak, tidak ada tuyul, dan tidak ada pengunjung yang masuk ke sana sejak... sejak hari Minggu itu.
Jantungku bagai dihantam bunyian gong pertunjukan drama. Hari Minggu kedua. Hari di mana angka pengunjung sedang sangat naik, hari di mana masa gajian buruh pabrik gula mencair—dan satu-satunya hari di mana kau absen menemuiku.
Maksud Kang Ujang apa? tanyaku dengan suara bergetar.
Dia mati terinjak di depan gerbang, Din. Dua puluh tujuh hari yang lalu, suara Ujang Sakalor tenggelam di antara bunyi terompet sirkus yang melengking dari tenda utama. Di genggamanku, benang-benang rok polkadot itu mendatar, dingin, dan perlahan berubah menjadi bau anyir tanah yang basah.
Seketika itu juga, aku berdiri terpaku di depan pintu wahana yang terkunci gembok berkarat. Di telingaku, suara tawa lirihnya saat hari kedua bertemu kembali berdengung, memantul bersama hawa dingin Cimacan yang mendadak terasa mencekik.
Maukah kau menemaniku berkeliling wahana? Aku agak sedikit kesepian...
Gema suaranya dari hari kedua itu kini merayap kembali ke kepalaku, kali ini dengan arti yang sepenuhnya berbeda.
Aku teringat langkah ringannya saat berpamitan membawa semangkuk mi instan, teringat tatapan matanya yang tajam menembus dukaku seolah ia sedang menatap cermin nasib yang sama; seorang anak yang kehilangan ibu, yang berjalan sendirian di tengah riuh dunia yang asing.
Kau sama sekali bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang hidup. Kau adalah bagian dari Sandekala—jiwa kesepian yang hanya ingin ditemani berkeliling, mencari pengganti sosok ibu yang hilang, sembari menunggu waktu untuk benar-benar pulang. [*]