Disukai
4
Dilihat
33
Lintah Darat
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Biarpun Mati Utang Harus Lunas.”

Semua orang di Dusun Rawa Bangkai tahu bahwa satu-satunya hal yang bisa menahan Toi si lintah darat dari siksa neraka adalah buku catatan utangnya. Maka, ketika tubuh Toi ditemukan membusuk di parit dekat gapura desa dengan sebilah celurit tertancap manis di punggungnya, warga desa tidak merayakan kematiannya dengan doa, melainkan dengan sujud syukur massal di balai desa. Namun, kegembiraan itu hanya berumur jagung. Tepat ketika beberapa perempuan pemandi jenazah baru saja selesai memandikan jasadnya—sambil menahan napas karena bau anyir darah yang bercampur dengan bau tuak murahan—Toi tiba-tiba bangkit duduk di atas dipan pemandian, menyemburkan air kapur barus dari mulutnya, dan berteriak, “Bajingan! Siapa yang berani-beraninya memandikan kalung emasku pakai air sabun cuci piring?”

Kejadian itu tidak serta-merta membuat warga berlarian ketakutan. Di Rawa Bangkai, hal-hal klenik dan mistis sudah menjadi makanan sehari-hari, sama lumrahnya dengan kemiskinan dan janji manis kepala desa menjelang pemilu. Seorang pria yang bangkit dari kematian bukanlah hal yang paling absurd yang pernah mereka lihat; tahun lalu, seekor babi hutan terpilih menjadi ketua RT karena tidak ada satupun warga yang berani mencalonkan diri. Yang membuat warga pucat pasi adalah kenyataan bahwa Toi kembali hidup, yang berarti utang-utang mereka dengan bunga dua puluh persen per bulan itu belum lunas. Toi turun dari dipan, masih terbungkus sebagian kain kafan, mencabut celurit dari punggungnya dengan bunyi cras yang basah, lalu melemparkannya ke tanah.

“Dengar ya, asu,” kata Toi kepada warga yang berkerumun dengan mulut ternganga. “Aku baru saja sampai di meja administrasi akhirat, dan malaikat penjaga pintunya bilang berkasku ditolak. Katanya, neraka sedang diaudit oleh Tuhan, dan roh yang pembukuannya di dunia belum seimbang tidak boleh masuk. Jadi, sebelum semua utang kalian lunas sampai ke perak terakhir, aku tidak akan bisa mati dengan tenang. Sekarang, mana buku catatanku?”

Begitulah misteri ini dimulai. Sebuah pembunuhan di mana korbannya sendiri terlalu sibuk menagih utang sampai lupa memedulikan siapa pembunuhnya. Kopral Sanusi, satu-satunya aparat kepolisian di pos polisi Rawa Bangkai, ditugaskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan yang korbannya masih segar bugar keliling desa menagih cicilan panci. Sanusi adalah polisi malas yang perutnya buncit karena terlalu banyak makan gorengan gratisan dari warung Wak Kaw. Baginya, menyelidiki pembunuhan biasa saja sudah merepotkan, apalagi menyelidiki pembunuhan yang korbannya menolak untuk mati.

“Jadi, kau sama sekali tidak ingat siapa yang menusukmu dari belakang semalam?” tanya Sanusi sambil mengisap rokok kretek dalam-dalam, duduk di hadapan Toi yang sedang sibuk menghitung tumpukan uang lecek di teras rumahnya. Luka di punggung Toi tidak berdarah lagi, melainkan mengeluarkan asap tipis berbau menyan setiap kali ia tertawa.

“Aku sedang mabuk, San. Kepalaku pusing mikirin utang Kades Toidi yang sudah nunggak tiga bulan,” jawab Toi tanpa menatap sang polisi. Jari-jarinya yang sudah mulai berhias lebam mayat dengan cekatan membolak-balik halaman buku catatannya yang tebal dan kucel. “Lagipula, buat apa kau repot-repot mencari pembunuhnya? Aku sudah hidup lagi. Tidak ada pasal pembunuhan kalau tidak ada mayatnya, kan?”

“Bukan begitu aturannya, bodoh,” gerutu Sanusi. “Laporan sudah masuk ke polsek kabupaten. Kalau aku tidak menemukan siapa yang menusukmu, atasanku bakal menendangku ke Papua. Kau pikir aku mau? Coba sebutkan siapa saja yang punya motif membunuhmu.”

Toi tertawa keras, asap menyan mengepul dari lubang di punggungnya. “Semua orang di desa ini, San! Kau sendiri utang uang sekolah anakmu padaku. Wak Kaw utang modal warung. Pak Kades utang buat kampanye. Janda Selangit utang buat beli susuk pemikat dari dukun Empung. Kalau kau mencari siapa yang ingin aku mati, kau harus menangkap satu desa!”

Sanusi menghela napas panjang. Realitas ini menamparnya dengan keras. Menjadi detektif di Rawa Bangkai adalah sebuah komedi satir yang ditulis oleh Dewa yang sedang mabuk. Sanusi memulai penyelidikannya dengan mendatangi Janda Selangit. Selangit adalah perempuan yang kecantikannya sering kali digambarkan oleh warga desa seperti bunga bangkai: memikat dari jauh, tapi bisa membuatmu muntah darah kalau kau terlalu dekat. Desas-desus mengatakan bahwa Janda Selangit memelihara tuyul, tapi bukan tuyul biasa. Tuyulnya sudah dimodifikasi secara genetik lewat ilmu hitam tingkat tinggi sehingga alih-alih mencuri uang, tuyul itu mencuri sertifikat tanah. Janda Selangit sedang duduk di beranda rumahnya, menyisir rambut panjangnya yang hitam legam ketika Sanusi datang.

“Aku dengar Toi menagih utang ke rumahmu tadi malam,” Sanusi membuka percakapan, mencoba mengintimidasi meskipun matanya tidak bisa lepas dari belahan dada Selangit yang sengaja dibiarkan terbuka.

Janda Selangit tersenyum, senyum yang bisa membuat malaikat maut ragu-ragu mencabut nyawanya. “Benar, Pak Polisi. Dia datang menagih. Tapi saya bilang saya belum punya uang. Saya tawarkan bayaran dalam bentuk lain, tapi dia menolak. Katanya, alat kelaminnya sudah mati rasa sejak digigit lipan bulan lalu. Jadi dia pulang dengan tangan kosong.”

“Kau tidak menusuknya dari belakang saat dia berjalan pulang?”

“Untuk apa? Pisau dapur saya terlalu tumpul bahkan untuk memotong tempe,” Selangit tertawa renyah. “Lagipula, kalau saya mau membunuhnya, saya tidak akan repot-repot pakai celurit. Saya tinggal mengirim santet paku berkarat ke perutnya. Jauh lebih bersih dan tidak meninggalkan sidik jari.”

Alibi yang sangat masuk akal di Rawa Bangkai. Sanusi mencoret nama Janda Selangit dari daftar tersangka utama, meskipun ia masih curiga perempuan itu menyembunyikan sesuatu di balik senyum iblisnya. Tersangka kedua adalah Kepala Desa Toidi. Toidi adalah representasi sempurna dari pejabat korup tingkat terbawah: rakus, bodoh, tapi entah bagaimana selalu terpilih kembali. Proyek pembangunan jembatan desa mangkrak selama tiga tahun, dan uangnya konon dipakai Toidi untuk membeli burung perkutut seharga lima puluh juta dan menyewa penari ronggeng dari pantura. Sanusi menemukan Toidi di kantor balai desa, sedang sibuk memarahi sekdesnya karena dana bantuan sosial beras terekam kamera televisi bocor dan dimakan ayam.

“Pak Kades,” panggil Sanusi. Toidi menoleh, wajahnya semerah tomat busuk.

“Ada apa lagi, San? Kalau kau mau minta jatah bulanan, belum cair! Uang desa nyangkut di birokrasi kabupaten!” sergah Toidi.

“Bukan itu. Ini soal Toi.”

“Toi?” Toidi mengerutkan dahi, bingung, sambil menunjuk pada dirinya sendiri.

“Yaelah, bukan kamu, pak. Toising si tukang tagih itu!”

“Oh.”

“Dia bilang Anda berutang banyak padanya.”

Toidi mendengus kasar. “Bajingan lintah darat itu! Ya, aku utang padanya. Lalu kenapa? Semua orang juga utang. Dan kau mau menuduhku membunuhnya?” Mata Toidi membelalak. “San, kau tahu sendiri aku ini benci melihat darah. Waktu pemotongan hewan kurban saja aku pingsan melihat sapi disembelih.”

“Tapi celurit yang menancap di punggung Toi itu ada cap toko material milik adik Anda, Pak Toidi.”

Toidi terdiam sejenak. Matanya bergerak liar ke kiri dan kanan, kebiasaan lamanya setiap kali sedang mencari alasan bohong yang masuk akal. “Celurit? Oh, celurit itu! Itu kan celurit inventaris desa. Hilang dicuri orang tiga hari lalu. Kau tahu sendiri keamanan desa ini bobrok. Makanya kerjamu yang bener, jangan cuma makan gorengan saja!”

Sanusi tahu Toidi berbohong. Tapi menangkap kepala desa tanpa bukti kuat hanya akan memicu amukan warga—bukan karena warga mencintai Toidi, tapi karena kalau Toidi dipenjara, tidak ada yang mau menandatangani surat pengantar BLT (Bantuan Langsung Tunai) mereka. Hari-hari berlalu, dan desa Rawa Bangkai memasuki fase surealisme yang paripurna. Toi si mayat hidup terus berkeliling menagih utang. Karena tubuhnya perlahan-lahan mulai membusuk meskipun ia hidup, baunya menjadi sangat tak tertahankan. Warga desa mulai membayar utang-utang mereka bukan karena takut ditagih, melainkan agar Toi cepat-cepat pergi dari halaman rumah mereka sebelum bau busuknya membuat lalat hijau bersarang di lauk pauk mereka.

Ajaibnya, produktivitas desa meningkat drastis. Para petani bekerja siang malam di sawah. Para pemalas mulai mencari kerja serabutan di kota. Janda Selangit bahkan beralih profesi membuka usaha laundry manual, karena tuyulnya disewakan ke luar kota. Semuanya bersatu padu mengumpulkan uang untuk melunasi utang kepada mayat berjalan itu. Mereka menyadari satu hal: birokrasi neraka rupanya lebih efektif menggerakkan roda ekonomi desa dibandingkan program pemerintah pusat manapun. Namun, misteri siapa pembunuh Toi belum juga terpecahkan. Sanusi semakin frustrasi. Ia mulai mewawancarai kambing, sapi, hingga pohon beringin keramat di alun-alun, berharap ada saksi mata dari dimensi lain. Hingga pada hari ketujuh, kebenaran itu terbongkar dengan cara yang sangat konyol, seakan alam semesta sendiri sedang melempar lelucon murahan. Sore itu, Toi mendatangi rumah Sanusi. Tubuh Toi sudah kehilangan sebagian telinganya yang jatuh saat ia sedang memarahi tukang ojek. “Buku catatanku sudah hampir kosong, San,” kata Toi dengan suara sengau karena hidungnya sudah mulai keropos. “Tinggal satu nama lagi. Kalau ini lunas, malaikat sudah janji akan memberiku tiket VIP ke neraka jalur bebas hambatan.”

“Siapa orang terakhir itu?” tanya Sanusi, merasa lega karena teror bau busuk ini akan segera berakhir.

Toi menyodorkan buku catatannya. Di halaman terakhir, tertulis sebuah nama dengan tinta merah: Sanusi. Sisa utang: Rp 15.000.

Sanusi membelalakkan matanya. “Lima belas ribu? Uang apa itu, asu? Utangku yang dua ratus ribu kan sudah aku bayar pakai BPKB motorku bulan lalu!”

“Itu utang beda, San,” kata Toi sambil nyengir, memperlihatkan giginya yang hitam dan gusi yang penuh ulat. “Itu utang denda keterlambatan pembayaran lima hari lalu. Plus bunga harian. Totalnya, lima belas ribu.”

“Bajingan kau, Toi! Kau sudah mati masih saja meres orang miskin!”

“Cuma lima belas ribu kok pak, tidak banyak. Kalau dapat uang kaget kan bisa bisa ketutup.” Toi terkekeh.

“Diam kau, jelek!”

Sanusi merogoh sakunya, mengeluarkan dompetnya yang setipis harapan hidupnya. Ia menarik selembar uang dua puluh ribu lalu melemparnya ke wajah Toi. “Nih, kembaliannya, ambil saja, itu buat modal perjalananmu ke neraka, asu!”

Toi menangkap uang itu dengan tangkas. Ia tersenyum puas. Ia mengambil pulpen dari saku kemejanya yang berlumuran darah kering, lalu mencoret nama Sanusi dari buku tersebut. Detik itu juga, langit di atas desa Rawa Bangkai mendadak gelap. Suara petir menyambar, meskipun sedang musim kemarau jahanam yang membuat tanah retak-retak. Angin berhembus kencang, membawa aroma bunga melati yang sangat pekat, menutupi bau busuk tubuh Toi.

Toi menengadah ke langit. “Akhirnya … administrasiku kelar juga. Ternyata birokrasi langit nggak seburuk kelurahan.”

Tubuh Toi mulai bercahaya redup, bersiap untuk akhirnya hancur menjadi debu. Namun, sebelum ia benar-benar menghilang, Sanusi yang masih penasaran berteriak menembus deru angin.

“Toi! Tunggu! Sebelum kau pergi ke neraka, beri tahu aku! Siapa sebenarnya yang menusuk punggungmu malam itu? Aku butuh laporannya buat kapolsek!”

Togar yang tubuhnya sudah setengah menjadi pasir menoleh lambat-lambat ke arah Sanusi. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung, seolah ia sendiri baru memikirkan hal itu.

“Oh, itu .…” suara Toi bergema, aneh dan jauh. “Sebenarnya tidak ada yang membunuhku, San.”

“Apa maksudmu? Celurit itu menancap di punggungmu!”

“Malam itu, setelah aku mabuk tuak di warung Wak Kaw, aku berniat buang air kecil di parit dekat gapura,” cerita Toi, suaranya semakin menipis. “Tapi mataku siwer. Aku melihat bayanganku sendiri di genangan air parit. Aku pikir bayangan itu adalah Ken, tukang becak yang kabur bawa lari utangnya. Aku emosi. Aku cabut celurit yang biasa aku bawa untuk menakut-nakuti orang, lalu aku melompat ke parit mau membacok bayangan itu.”

Sanusi ternganga. Mulutnya terbuka lebar hingga seekor lalat bisa saja masuk dan bertelur di sana. “Lalu?”

“Lalu ... yah, kau tahu sendiri kan parit itu banyak lumpurnya? Aku terpeleset tahi sapi. Aku jatuh terlentang, dan celurit yang aku pegang ... terlempar ke udara, berputar-putar, dan dengan sangat akurat menancap di punggungku sendiri saat aku mendarat di tanah.”

Hening. Angin tiba-tiba berhenti. Petir tidak lagi menyambar. Alam semesta seolah ikut terdiam mendengar pengakuan yang sebodoh itu.

“Jadi ... kau mati karena terpeleset tahi sapi dan menusuk dirimu sendiri?” kata Sanusi tidak percaya, bahwa selama tujuh hari ini ia telah menginterogasi seluruh desa, dicurigai atasannya, dan stres memikirkan pembunuh berdarah dingin, hanya untuk mengetahui bahwa korbannya mati karena kebodohannya sendiri yang sungguh tolol.

“Kira-kira begitulah,” kata Toi nyengir. “Malu sebenarnya mau bilang dari awal. Masa lintah darat paling ditakuti mati gara-gara tahi sapi. Tolong tulis di laporanmu aku mati dibunuh ninja bayaran atau apa kek, biar agak keren dikit sejarahku di desa ini.”

Sebelum Sanusi sempat mengumpat atau memukul kepala jenazah itu dengan batu bata, tubuh Toi sepenuhnya hancur menjadi abu abu-abu kehijauan, terbawa angin senja yang bertiup melewati desa Rawa Bangkai, meninggalkan buku catatan tebalnya jatuh berdebuk ke tanah. Sanusi berdiri sendirian di halaman rumahnya, menatap tumpukan abu itu. Ia menyalakan rokok kretek terakhir dari bungkusnya, menghisapnya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya ke udara. Di desa ini, kematian bukanlah sebuah tragedi agung, melainkan sekadar punchline dari lelucon yang berkepanjangan. Esok harinya, kehidupan di Rawa Bangkai kembali normal. Kades Toidi melanjutkan proyek fiktifnya. Janda Selangit kembali memamerkan belahan dadanya di beranda. Dan Sanusi memalsukan laporan kepolisiannya, menulis bahwa Toi tewas dibunuh oleh komplotan begal bersenjata api demi menjaga wibawa almarhum (dan agar Sanusi dipuji atasannya karena menangani kasus kelas berat). Semuanya kembali seperti sedia kala. Hingga siang harinya, seorang pria botak berkacamata hitam dengan jaket kulit imitasi dan tas selempang datang dengan sepeda motor bebek berknalpot bising, berhenti di warung Wak Kaw dan memesan kopi.

“Permisi, Bu,” kata pria itu sambil tersenyum lebar, memperlihatkan gigi emasnya. “Saya debt collector baru dari Koperasi Simpan Pinjam Cemerlang, menggantikan almarhum Pak Toising. Dengar-dengar, satu desa ini masih butuh pinjaman lunak?”

Wak Kaw menatap pria itu, lalu menatap celurit pemotong daging di atas talenannya, dan tersenyum getir. Di Rawa Bangkai, orang boleh mati suri, babi bisa jadi RT, dan tahi sapi bisa membunuh manusia, tapi kapitalisme tidak akan pernah mati.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi