Di dalam ruang batas antara penciptaan dan penerimaan, berdiri sebuah toko buku kecil. Tidak ada bangunan lain di sekitarnya. Hanya ada tanah lapang yang ditumbuhi ilalang tinggi, bak savanna yang biasa ditemukan di dataran luas Afrika. Tidak ada tanda kehidupan sedikit pun – kecuali sebuah cahaya lampu oranye yang menyinari papan plang bertuliskan “Toko Buku Kelahiran” di antara gelapnya malam. Toko itu masih berdiri dan tidak pernah tutup sejak ribuan tahun yang lalu, sejak peradaban manusia baru pertama kali dimulai. Kini, toko buku kecil itu masih eksis berdiri, walau penjaga toko terus menerus berganti. Akan tetapi, toko buku itu tidak hanya satu. Mereka memiliki banyak cabang, layaknya sebuah franchise yang makmur. Hanya saja, setiap orang memang ditakdirkan untuk melihat dan masuk ke salah satu cabangnya saja.
Seorang pak tua masih sibuk membersihkan beberapa rak buku yang menyimpan debu. Sesekali, ia tampak mengoperasikan mesin cetak yang sudah usang tapi masih bekerja dengan baik. Malam itu ia hanya tersisa dua buku terakhir, dan salah satunya telah diambil oleh pemiliknya.
“Kring.” Bel yang bergelantung di pintu masuk berbunyi, menunjukkan bahwa seorang tamu telah tiba di toko buku.
Derap langkah pelan terdengar, beradu di antara sepatu kulit keras dan lantai kayu yang telah dilapisi sesuatu–semacam minyak pengawet. Pak tua segera menyadarinya. Kini, ia beranjak ke depan kasir, menyambut kedatangan seseorang.
“Selamat malam, Tuan.” Pak tua berucap dengan ramah.
“Malam.”
Tanpa melalui banyak pembicaraan, pak tua itu memberikan sebuah buku cetakan malam itu. Buku besar dan tebal yang berjudul Life of Rizal Taufan Besari. Pria berjas tersebut menyambut buku yang diberikan, lalu duduk dan membacanya di salah satu bangku pada sudut ruangan.
Suara petir menyambar dari kejauhan, hujan seketika turun dengan derasnya. Pak tua itu bergegas ke sebuah mesin kopi jadul dan meracik sebuah kopi hitam untuk pengunjung berjas.
“Tuan ingin turun malam ini juga?”
“Seselesainya bacaan ini.” Pak tua mengangguk paham.
“Kring.” Bel pintu masuk kembali berbunyi. Seorang remaja laki-laki datang entah dari mana. Ia meniriskan payungnya dan menyandarkannya di depan pintu. Pak tua sudah tahu, bahwa laki-laki tersebut bukanlah tamu toko buku.
“Selamat malam.” Ucapnya. Pak tua merespon balik, “Kamu pegawai baru yang ditugaskan, ya?” Remaja itu mengangguk.
“Baiklah. Saya masih ada tamu, tunggu sebentar, ya. Oh iya, siapa nama kamu?”
“Neri, Pak.”
Pak tua menyalaminya, dan memperkenalkan dirinya balik. Nama pak tua itu adalah Tzur. Ia menceritakan singkat tentang karirnya di toko buku ini. Rupanya, pak Tzur telah bekerja di toko buku ini selama lebih dari lima puluh tahun. Ia paham betul atas makna namanya, sehingga setiap komentar yang diajukan para tamu tidak pernah membuatnya bergidik atau pun iba.
“Berarti beberapa waktu ke depan akan banyak kisah kehidupan yang penuh air mata dari toko buku ini.” Neri merespon dengan senyuman halus. Belum terlalu banyak pembicaraan yang mereka rajut, tapi pria berjas kembali menghampiri.
“Mafia Tambang?”
“Ya.” Pak Tzur mengangguk.
“Tidakkah bisa diubah? Tampaknya ini bukan sesuatu yang baik.”
“Tidak bisa, Tuan. Itu sudah menjadi sebuah ketetapan.”
Pria berjas mengangguk paham. Ia mengeluarkan sebungkus rokok, lalu mencoba menyalakannya, tapi pak Tzur melarangnya karena toko buku ini harus bebas asap rokok.
“Baiklah, saya akan turun sekarang.”
“Hati-hati, Tuan. Di luar masih badai.”
Pria berjas itu melangkah keluar dengan bukunya. Meninggalkan aroma kayu dan vanila, parfumnya. Di depan pintu, ia menyalakan sebatang rokok, lalu berlalu ditelan hujan dan gelapnya malam.
Orang itu adalah tamu terakhir toko buku malam ini, dan malam ini adalah hari terakhir bagi pak Tzur untuk bekerja di toko buku. Ia kembali bergegas menghampiri Neri. Seraya menerangkan semua hal yang ada di Toko Buku Kelahiran. Ia mempraktekkan banyak hal, di mulai dari mesin kopi, mesin cetak, hingga komputer bermonitor tabung yang juga sudah tampak begitu jadul.
“Kamu bisa melihat daftar tamu pada halaman ini. Untuk melihat detail poinnya, kamu tinggal klik namanya. Setelah itu sebuah prompt akan muncul–prompt yang berisikan poin-poin kehidupan seseorang.” Neri terus memerhatikan segala hal yang dijelaskan oleh pak tua itu.
“Prompt ini harus kamu copy dan paste di aplikasi percetakan untuk kemudian dicetak. Tidak usah diubah-ubah, biarkan artificial intelligence-nya yang mengatur semuanya. Setelahnya kamu dapat mencetak buku-buku tersebut.”
Pak Tzur juga mengingatkan Neri untuk tidak salah memberikan buku. Buku yang tertukar dapat menyebabkan kerugian bagi pemiliknya.
“Kalau ada poin-poin yang dirasa kurang dari prompt tersebut, bolehkah saya menambahkannya, Pak?”
“Itulah tugas kita di sini. Kamu bisa menambahkannya, tapi seperlunya saja.” Neri mengangguk paham.
Setelah agenda on-boarding tersebut tuntas dilakukan. Pak tua itu segera bersiap-siap. Ia mengemasi beberapa barang pribadinya, juga sebuah buku lainnya yang tampak mulai luntur.
“Sekarang saya harus turun. Kamu jalani saja pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh. Soal pensiun, entah bagaimana semesta akan mempertimbangkannya, tapi pasti ada satu momen yang dapat membuatmu turun juga.”
Neri tertegun mendengarkan ucapan tersebut. Pak Tzur segera meresponnya dengan nada yang lebih ramah.
“Kenapa? Saya sudah terlalu tua, ya? Saya akui, saya menjalani waktu yang lebih panjang sebelum benar-benar diizinkan turun ke dunia. Mungkin karena saya tidak terlalu perform dengan baik dalam pekerjaan ini.” Ia tersenyum dan sedikit tertawa. Kerutan di wajahnya tampak dengan jelas.
“Ada untungnya juga. Semakin lama saya berada di sini, maka semakin lama juga umur saya di dunia. Tapi entahlah... itu adalah keuntungan atau bukan, yang pasti hal ini adalah suatu keadilan yang tampak diadil-adilkan.” Sambungnya.
Hujan di luar masih mengguyur dengan begitu lebatnya. Akan tetapi, pak tua itu tidak peduli – atau karena dia benar-benar batu? Ia bergegas keluar dan mengambil sebuah payung yang sebelumnya digunakan oleh Neri.
“Saya akan ambil ini. Kamu tidak akan membutuhkannya untuk bertahun-tahun ke depan.”
Neri mengizinkan pak Tzur untuk menggunakan payung tersebut. Ia berlalu ditelan kegelapan malam itu.
...
Tamu terakhir malam ini sudah pergi, tidak ada lagi yang bisa Neri lakukan. Jauh di dalam benak hatinya, ia ingin bisa perform dengan baik dalam pekerjaan ini, lalu segera mendapatkan tawaran untuk pensiun dini dan turun ke dunia. Namun ia tahu, tidak akan semudah itu.
“Untuk apa berlama-lama di sini? Untuk apa juga berlama-lama di dunia?” Neri hanya bergumam.
Ia bergegas menuju komputer yang terletak di meja kasir. Membuka halaman daftar tamu esok hari. Daftar itu masih kosong, mungkin karena belum jadwalnya untuk di-update. Neri kembali berdiri menuju mesin kopi. Ia membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
Dalam lamunan yang panjang malam itu, ia hanya terpaku memandangi hujan yang rintiknya terlihat halus karena cahaya oranye dari bohlam di depan. Tidak ada hal apapun yang bisa ia lakukan selain menunggu daftar tamu kembali di-update.
“Kring.” Bel pintu kembali terdengar. Seharusnya tidak ada siapapun malam ini. Neri kembali mendekat dan sosok bayangan hitam besar berdiri di depan pintu masuk – tampak mengerikan. Bayangan berbulu itu menunduk, seraya mengintip ke arah dalam toko buku.
“Aku mencium aroma orang baru: aroma sungai.... Di mana pak tua yang berbau batu kerikil itu?”
“Ia...sudah, sudah pergi.” Neri menjawab dengan gelagapan.
“Oh, memang sudah waktunya. Ia sudah terlalu lama berada di sini.”
“Jika sudah tidak ada tamu lagi malam ini, kamu bisa matikan lampu yang menyoroti plang nama di luar, juga ubah plang pintu ini menjadi ‘closed’. Kamu juga harus mengunci pintu.” Sambungnya.
“Iya... saya lupa melakukannya. Terima kasih.” Neri beralibi.
“Sama-sama. Tetap berhati-hati di waktu malam. Banyak sekali makhluk aneh yang berkeliaran tanpa maksud yang jelas, dan beberapa dari mereka mungkin adalah jiwa yang jahat.”
Neri mengangguk paham. Makhluk besar tersebut kembali menjauh dari Toko Buku Kelahiran. Segera, ia mematikan saklar lampu yang menyoroti plang di depan, juga mengubah posisi plang pintu dari “open” ke “closed”.
“Ku kira makhluk itu akan melakukan sesuatu yang buruk, tapi tampaknya ia jauh lebih baik daripada perawakannya.”
Tidak ada banyak kejadian lagi setelah itu. Neri hanya kembali termenung menghadap jendela sambil memandangi hujan. Sesekali ia bersikap awas, jaga-jaga jika ada entitas lain yang berniat jahat terhadapnya atau terhadap toko buku ini.
...
Di depan Toko Buku Kelahiran tidak terlihat apapun, hanya kegelapan yang pekat. Neri masih menyeruput secangkir kopi yang kini hanya tersisa sedikit. Hujan masih menerjang lanskap luas di sekitarnya, bersambut dengan petir menggelegar yang tidak ada habisnya.
Dari depan pintu masuk terdengar suara hewan yang mengeong – suara kucing. Neri segera menyadarinya, ia bergegas menuju pintu depan dan memerhatikan lingkungan sekitar sebelum benar-benar membuka pintu.
“Kring.” Suara pintu yang terbuka. Tampak seekor kucing yang terlihat berpeluh air hujan. “Kasihan sekali, ayo masuk.” Lalu kucing itu melompat ke atas mesin cetak yang cukup tinggi.
Komputer yang mati di meja kasir menyala tiba-tiba. Neri menghampirinya, mengecek apakah ada notifikasi yang baru masuk. Rupanya benar, pagi-pagi buta itu ia mendapatkan update soal pengunjung toko buku untuk hari ini. Tidak banyak, hanya ada empat daftar nama.
“Hari ini sepertinya tidak banyak yang akan lahir di yurisdiksi ini.”
Ia mengklik daftar nama paling atas, “Dewa Satyanagara.” Muncul sebuah prompt yang mendeskripsikan perjalanan hidup dari pengunjung toko buku tersebut. “Polisi? Tampaknya semua terlihat baik-baik saja.” Neri bergegas men-copy prompt tersebut dan menyalinnya ke aplikasi pencetakan yang terhubung langsung dengan mesin cetak.
“Hanya 327 lembar. Tampaknya ini tergolong sedikit. Mungkinkah ia mati muda?” Tanpa ambil pusing, ia segera menekan tombol cetak. Mesin cetak yang jadul tersebut mulai bekerja, dan “Ctak!” Listrik padam seketika.
Tampaknya, listrik di Toko Buku Kelahiran pagi itu mengalami konsleting. Penyebabnya adalah air yang mengalir masuk ke mesin cetak. Neri segera menyadari bahwa kucing yang kuyup karena kehujanan itu adalah penyebabnya. Namun, kucing itu telah menghilang entah kemana.
Setelah mencabut colokan mesin cetak dan menyalakan arus listrik kembali, Neri bergegas kembali ke meja kasir. Ia mengangkat sebuah telepon dan menekan tombol satu: call center. Tentu saja, ia mengadukan kejadian konsleting listrik pada mesin cetak. Mekanik listrik harus datang sesegera mungkin sebelum para tamu datang.
Di waktu-waktu kosong, sembari menunggu kedatangan mekanik listrik, Neri kembali mengutak-atik daftar pengunjung yang akan datang dan mengambil buku. Setelah men-coppas prompt dan memindahkannya ke aplikasi artificial intelligence, ia segera mendapatkan beribu-ribu lembar halaman pdf. Neri membacanya satu per satu, di mulai dari daftar isi yang memuat setiap tahun tanggalan kalender dengan headline peristiwa penting.
Kaca-kaca Toko Buku Kelahiran mulai memantulkan cahaya matahari pagi. Hujan yang mengguyur semalaman tampak sudah berhenti. Ia sedang membaca daftar isi dari orang ketiga dengan buku berjudul Life of Indah Niskala. Sesampainya di daftar isi, matanya tertuju kepada satu sub yang memuat headline tidak biasa: 2038 – Film Breakthrough. Rupanya buku ini milik seseorang yang akan menjadi publik figur besar di industri hiburan. Ia menyegerakan membuka halaman tersebut membacanya hingga halaman terakhir dari subbab tersebut.
“... setelah melalui banyak cemooh dari khalayak ramai. Indah Niskala berhasil menyelamatkan karirnya melalui proyek ‘Gerhana Bulan’. Di sana, ia berhasil memerankan peran psikopat-LGBT yang akan mencuri mata banyak orang. Melalui proyek itu juga, ia berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk Busan International Film Festival (BIFF).”
“Kring.” Bel pintu masuk berbunyi, mengejutkan Neri yang sedang terkagum-kagum oleh cerita tersebut. Rupanya mekanik listrik telah datang.
“Silakan masuk, Pak.” Ia berjalan melewati Neri. Aroma air accu menyerebak ke hidungnya.
“Anak baru, ya?” Tanyanya. Neri mengangguk.
“Pasti karena ada makhluk yang masuk? Tidak mungkin jika atapnya bocor.”
“Seekor kucing yang kehujanan, Pak.”
Mekanik listrik tersebut mengingatkan Neri bahwa semua makhluk aneh di luar sana sebaiknya tidak dibiarkan masuk. Beberapa dari mereka memiliki niat buruk. “Kami menyebutnya ruh terlantar. Mereka bisa berubah menjadi apa saja, kecuali manusia. Jika ada makhluk lain selain manusia yang mencoba masuk, sebaiknya dihindari.” Neri mengeryit: pikirannya penuh oleh rasa penasaran soal ruh terlantar–sesuatu yang belum pernah ia dengar.
“Ruh terlantar adalah sisa-sisa energi dari jiwa manusia yang diciptakan untuk turun ke dunia. Mereka tertinggal di alam ini dan menghisap semua energi di sekitarnya. Jika energinya berasal dari hal-hal baik, maka roh terlantar tersebut akan demikian, pun sebaliknya.”
“Kring.” Bel kembali berbunyi. Seorang pria berbadan tegap melangkah masuk dengan derap langkah bak ksatria.
“Selamat pagi, Tuan.”
“Pagi, pagi, pagi, luar biasa!” Pria tersebut merespon tidak biasa.
Neri tahu pasti, tamu pertamanya hari itu adalah ruh seorang calon polisi. Di lihat dari perawakannya, ia tampak cukup sehat dan gagah. Akan tetapi, Neri mengetahui pria tersebut akan mati muda karena gugur dalam pekerjaannya.
“Mesin cetaknya sedang diperbaiki, Tuan. Jika Tuan tidak keberatan menunggu, saya akan buatkan secangkir kopi.”
“Siap, terima kasih.”
Neri bergegas membuatkan pria tersebut secangkir kopi. Sementara itu, pria tersebut memilih untuk tetap berdiri tegak di depan pintu.
“Duduk saja, Tuan.”
“Siap, tidak usah.”
Neri bergumam, “Agak aneh.”
Neri kembali menghampiri pria tersebut dengan membawakan secangkir kopi. Ia baru sadar, bahwa file pdf dari buku milik pria tersebut sudah tersedia di komputer. Neri menawarkan pria tersebut agar membacanya terlebih dahulu sebelum dicetak. Kini pria itu telah berada di meja kasir, fokus membaca buku takdirnya yang belum dicetak.
“Memeluk bom?”
“Iya, Tuan. Tuan bermaksud menyelamatkan sekitar.” Ia hanya mengangguk.
“Kring.” Bel kembali berbunyi, dan tamu kedua bergegas masuk. Sementara itu, mesin cetak masih dalam proses perbaikan. Kembali, Neri menawarkan perempuan itu secangkir kopi dan membaca file pdf dari buku tersebut sebelum dicetak.
...
“Krittt.” Mesin cetak kembali berfungsi setelah beberapa waktu mengalami perbaikan. Mekanik listrik tersebut mencoba mengoperasikannya dan kembali mengecek secara keseluruhan.
“Sudah aman.”
“Baik, Pak. Terima kasih.” Mekanik listrik kembali berlalu meninggalkan Toko Buku Kelahiran.
Neri bergegas mempersiapkan file pdf milik polisi muda tersebut sebelum benar-benar mencetaknya. Dalam beberapa waktu, file tersebut telah berhasil dicetak dan diklip layaknya sebuah buku. Tanpa banyak percakapan, pria itu bergegas meninggalkan Toko Buku Kelahiran dengan maksud turun ke dunia.
...
Tamu pertama, kedua, dan ketiga telah berlalu dari Toko Buku Kelahiran. Tidak ada masalah apapun yang terjadi. Sementara hari sudah semakin gelap, tamu keempat belum juga datang. Neri memutuskan untuk membuka prompt milik tamu keempat sebelum men-coppas-nya ke aplikasi artificial intelligence yang terkoneksi langsung ke mesin cetak.
“Klik.” Tombol mouse berbunyi karena Neri menekan sebuah nama, “Ambar”–sebuah nama yang singkat.
“Ambar lahir, lalu mati karena kesalahan dokter selama proses kelahiran.” Suatu prompt yang sangat singkat. Neri terbelalak melihat riwayat hidup yang telah dicetaknya, tidak sampai satu halaman. Bel pintu kembali berbunyi.
“Selamat so...re.” Seorang wanita cantik datang dengan menggendong bayi.
“Sore.” Ia bergegas masuk ke dalam toko buku, lalu duduk di salah satu bangkunya.
“Saya hanya ditugaskan untuk mengantarkan sebuah kertas kosong.” Wanita cantik itu menyerahkan bayi tersebut kepada Neri.
“Kamu sudah mencetaknya?” Neri mengangguk, sedangkan wanita itu menghela napas panjang.
“Sudah terlambat untuk memperbaikinya, ya?” Neri tertunduk lesu.
“Biar bagaimana pun, bayi ini adalah kertas kosong. Saya tidak mengetahui dan tidak perlu tahu lebih jauh mengenai apa yang akan kamu lakukan dengan hal ini. Tugas saya hanya mengantarkan bayi ini sampai ke sini, dan nanti akan ada yang menjemputnya kembali. Saya pamit.”
Wanita itu berlalu meninggalkan Toko Buku Kelahiran, bersambut latar oranye dari cakrawala yang mulai menggelap di kejauhan.
“Jadi seperti itu rupa malaikat.” Neri bergumam sambil menggendong bayi tersebut.
...
Malam yang gelap telah menguasai seluruh lanskap. Lalu datang seorang pria tampan berpakaian serba putih yang bermaksud menjemput kembali bayi tersebut.
“Kamu sudah mencetaknya?” Neri mengangguk lemah.
“Sudah terlambat. Saya pikir kamu akan melakukan banyak hal terhadapnya. Padahal saya siap menunggu beberapa tahun lagi sebelum datang kembali dan menjemputnya.
“Maaf.” Neri menangis.
“Berapa usiamu?” Pria tampan tersebut memotong tangisan Neri.
“Di toko buku ini, baru satu hari.”
“Bagaimana kamu memahami arti dari suatu usia?” Tanyanya kembali.
“Tak lebih berharga dari selembar kertas.”
Pria tampan itu mengangguk, “Kamu mau mencobanya?”
Neri memahami maksud pertanyaan malaikat itu. Namun, tanggung jawabnya sebagai pengelola Toko Buku Kelahiran masih menahannya.
“Soal toko ini? Tidak masalah, saya bisa menjaganya untuk sementara waktu sampai bayi ini benar-benar siap. Biar bagaimana pun, dia adalah kertas putih.”
Neri mengangguk. Ia bersiap-siap sebelum akhirnya berpamitan dengan malaikat tampan dan bayi tersebut.
“Hati-hati, Ambar. Saya akan menjaga Neri hingga dia benar-benar siap mengelolanya.”
Ia bergegas keluar dari Toko Buku Kelahiran dan memilih untuk turun ke bumi walau hanya untuk satu hari saja.