“Dim, gue harus berangkat sekarang!”
“Tinggal touch up, terus kasih wardrobe-nya aja. Gak nyampe 15 menit kok. Shil, please ya, perut gue sakit banget. Orangnya udah ada di dalam. Nanti gue langsung ke sini kok. Thank you, Shil. Love you.”
Dan Dimas pergi begitu saja sambil memegang perutnya yang sakit karena kebanyakan makan pecel tadi pagi. Aku memandangi nama yang tertera di pintu ruangan yang akan kumasuki:
Giandra Pratama.
Aku menenangkan diriku lalu mengetuk pintu.
“Selamat siang,” ucapku sambil membuka pintu.
Ia berada di sana, duduk dihadapan meja tata rias sembari memainkan ponselnya. Menyadari keberadaanku ia menoleh dan tersenyum.
“Selamat siang, ada apa, ya?”
“Hmm… tadi Dimas, maksud saya MUA-nya lagi ada keperluan sebentar. Jadi saya diminta untuk finishing make-up dan wardrobe-nya.”
Ia menatapku seolah memiliki beribu pertanyaan di kepalanya.
“Oh iya, silakan,” ucapnya.
Aku mengangguk. Setelah bersiap, aku mulai menyelesaikan make-up-nya dan juga mengatur napasku. Pekerjaan Dimas sebenarnya sudah cukup menurutku, tinggal memadukan warna alis dengan warna rambut saja juga sedikit mengaburkan lipbalmnya agar tidak terlalu mencolok.
Dimas adalah seorang make-up artist profesional. Saat ini, ia sedang bekerja untuk sebuah film, yang dimana Giandra Pratama hadir sebagai cameo. Sementara alasan aku berada di sini adalah untuk menemaninya sebentar sebelum terbang ke Bali dan juga untuk mengetahui keadaan di balik layar sebuah film, sembari berharap bahwa suatu saat karyaku menjadi sesuatu yang tak hanya bisa dibaca, tetapi juga bisa dilihat dan didengar.
—
“Hai, telat gak?” tanya Dimas di telepon.
“Gak. Untung aja tadi gak macet, jadi gue gak harus beli tiket baru.”
“Apa kata gue, gak akan macet, soalnya gue udah mohon-mohon ke si Komo supaya diam aja di rumah.”
Aku tersenyum.
“Thanks, ya, Shil. Nanti lo pulang gue beliin ice cream,” lanjut Dimas.
“Oke. BTW, shootingnya lancar?”
“Lancar kok. Oh iya, lo berapa hari di Bali?”
“Sekitar seminggu. Tanggal 17 gue udah harus ke Bandung soalnya,” jawabku.
“Oh,” jawab Dimas singkat.
“Kenapa emang? Tumben banget nanya ginian.”
“Lo sama Giandra saling kenal?”
“Giandra Pratama?”
“Iya.”
“Siapa sih yang gatau Gi,” ucapku.
Giandra Pratama, atau biasa dikenal Gi, adalah seorang musisi yang cukup populer dikalangan wanita. Suaranya yang merdu, kepribadiannya yang baik dan hangat, pintar, jago memasak. Ia pandai dalam berbagai hal. Ia adalah bakat dan kerja keras, yang menjadikan kata sempurna seakan ada dalam dirinya. Seolah hidup sangat cocok dengannya.
“Maksud gue secara pribadi,” jelas Dimas.
“Engga. Gue ketemu deket kayak tadi baru hari ini.”
“Oh.”
“Kenapa?”
“Gak, nanya aja. Safe flight, Shil. Kabarin kalau udah sampai.”
Aku mengiyakannya.
—
Setelah dua acara peluncuran novel ketigaku di Bali selesai, aku kembali ke Jakarta. Pesawatku terlambat sekitar dua jam, dan itu berarti aku harus membatalkan rencana jalan soreku.
Aku selalu memilih kursi di dekat jendela—entah itu di pesawat, kereta, ataupun mobil.
Karena bagiku, setiap perjalanan adalah waktu untuk diriku sendiri, melamun sambil menatap semua yang terlintas.
Tapi dalam perjalanan kali ini, sepertinya aku akan menghabiskan waktu berbincang dengannya—penumpang di sebelah kiriku yang membawa novel pertamaku, Bintang Utara.
“Ashilla Shakira?” tanyanya sambil duduk.
Aku melihat ke arahnya, seluruh pakaiannya berwarna hitam termasuk masker dan topinya, membuatku kesulitan menerkanya.
Bukan aku yang memulai kali ini.
Ia membuka masker dan topinya.
Tapi ia,
Giandra Pratama.
“Hai! Kamu Ashilla, kan? Penulis Bintang Utara,” tanyanya sambil memperlihatkan novelku.
“Hai! Ya, aku Ashilla. Kamu Gi,” pikiranku berlarian.
Giandra mengangguk.
“Saya ingat kamu. Finishing make-up.”
Ia mengingatku.
“Saya waktu itu masih ragu, takutnya saya salah orang. Terus saya tanya ke Dimas. Dan, ya, saya benar. Itu kamu,” jelasnya.
Sepertinya inilah alasan mengapa Dimas bertanya apa aku saling kenal dengan Giandra. Dan mungkin juga, inilah alasan mengapa saat itu ia tampak mempunyai beribu pertanyaan di kepalanya.
—
Pertemuan kedua itu berlanjut menjadi pertemuan tak terhitung. Kami saling bertukar pesan, makan bersama, mengunjungi studio masing-masing, bahkan berlibur bersama—bertiga dengan Dimas tentunya. Hari-hari yang kulewati dengan Giandra membuatku semakin mahir menyembunyikannya. Menyembunyikan sebuah rahasia yang tak pernah ingin kusebarluaskan meski pada satu orang pun.
“Shil, hari ini jadi, kan, ke studio?” tanya Giandra di telepon.
“Iya jadi. Mau snack apa?”
“Gausah. Aku udah beli banyak makanan juga minuman. Semua yang kamu suka ada di sini,” jawabnya sambil menyebutkan satu per satu semua kesukaanku.
Giandra menyebutkan semuanya dengan benar. Kecuali satu. Satu yang paling kusukai. Yang tak akan pernah kuberitahukan padanya.
—
Dua tahun sudah berlalu sejak pertama kali kami bertemu di lokasi shooting. Dan hari ini, untuk kedua kalinya, aku merayakan ulang tahunku bersama Giandra. Ia mengajakku merayakannya di Bali—kali ini tanpa Dimas, yang sedang ada kerjaan di kota lain.
Giandra mengetuk pintu kamar hotel.
“Shil, udah siap?”
“Bentar,” jawabku sambil merapikan rambut lalu mengambil tas.
Aku membuka pintu.
“Ayo!”
Kata Giandra ia sudah menyiapkan segalanya di tepi pantai. Dia banyak sekali membual tentang betapa indahnya rancangan pesta ulang tahun kali ini. Dan aku mempercayainya, Giandra mahir segala.
—
Kami pergi sekitar jam empat sore, kata Giandra acara utamanya nanti sekitar jam lima. Aku tak tahu apa lagi yang sudah ia siapkan. Hampir semuanya sudah tersedia sejak kami datang. Kue, lilin, makanan ringan, buah-buahan, ice cream, dan hadiah.
Dimulai dengan tiup lilin, potong kue, buka kado, dan menikmati makanannya. Kami banyak mengulas balik cerita-cerita kami bersama. Awal pertemuan, pesawat, studio, ulang tahun Dimas, rencana proyek bersama, dan rencana perjalanan seru esok hari.
“Shil, berdiri deh,” ajaknya sambil memegang tanganku dan berdiri.
Aku mengikutinya berdiri. Sudah jam lima, lebih delapan menit.
“Ini acara utamanya?” tanyaku.
Giandra hanya tersenyum. Ia berlutut di hadapanku, menggenggam tangan kananku.
“Gi,” aku menggeleng.
“Aku ingin terus genggam tangan kamu. Terus bareng sama kamu, pergi ke seluruh tempat sama kamu.”
“Gi, berdiri deh,” aku tak ingin Giandra melanjutkan rencananya.
“Shil, aku capek nyari alasan buat peluk kamu. Aku ingin peluk kamu tanpa kamu nanya ada apa. Aku ingin terus nemenin kamu ke mana pun tanpa kamu ngerasa bersalah.
Ashilla Shakira,
hidup bareng aku selamanya, ya?
Kita jalanin semuanya sama-sama.”
“Enggak, Gi. Aku gak bisa,” tolakku.
“Aku tau kita, Shil. Aku tau bahwa kita lebih dari teman. Bahwa kita saling sayang. Semua orang sadar akan itu, Shil. Aku cinta kamu, dan aku tau kamu juga cinta sama aku, kamu sayang sama aku.”
Giandra, bagaimana ia bisa tahu rahasia yang selama ini kusembunyikan sendiri? Bukankah aku mahir menyembunyikannya?
“Berdiri, Gi,” pintaku.
Giandra berdiri.
“Maaf, aku gak bisa. Kita gak bisa.”
“Kenapa? Kasih aku alasannya, Shil.”
“Kita terlalu beda. Aku gak bisa beri kamu cinta yang sepadan. Rumahku terlalu dingin untuk kamu yang selalu hangat. Kita temenan aja ya,” pintaku.
“Kamu bisa temenan sama aku? Kamu bisa lihat aku sama orang lain?”
Tidak.
“Aku gak bisa, Shilla. Aku gak bisa lihat kamu sama cowok lain yang bukan aku. Aku gak mau ngebiarin diri aku lepasin kamu. Kita coba dulu, ya, Shil. Kita coba kasih ruang buat cinta supaya dia bisa berekspresi sepenuhnya. Aku ingin bilang aku sayang kamu setiap hari. Aku ingin peluk kamu setiap hari, ngelihat kamu setiap hari. Hati aku capek nyembunyiin dan nahan perasaanku ke kamu. Shilla, sayangi aku, ya, cintai aku. Jangan disembunyiin lagi, jangan nahan perasaan kamu. Aku cinta kamu, Shil.”
“Gak bisa, Gi,” lirihku. “Bahkan untuk mereka yang sama kayak aku, yang rumahnya terlalu dingin untuk ditempati. Mereka aja gak bisa ngerasain cinta yang aku kasih sepenuhnya. Apalagi untuk kamu. Kamu yang selalu penuh cinta. Kamu yang tumbuh dengan cinta. Aku gak mau ngebuat kamu ngerasain seolah kamu cinta sendirian,” jelasku, dengan air mata yang tak sanggup kutahan.
“Kamu pikir aku gak akan bisa ngerasain cinta kamu? Kamu salah, Shilla. Mata kamu yang bicara. Mata kamu yang ngasih tau ke aku semua rahasia yang bibir kamu gak pernah bisa ucapin. Semua rasa yang kamu rahasiain dari semua orang, yang kamu tutup-tutupin. Semua sedih, kecewa, takut, marah, bahagia, juga cinta. Mata kamu yang bilang semuanya ke aku.”
Aku menggeleng, “Engga, Gi. Aku capek. Karena pada akhirnya, aku akan nyalahin diri aku sendiri yang gak bisa ngasih cinta yang lebih, juga nyalahin takdir yang gak pernah ngasih aku kesempatan untuk tinggal di rumah yang penuh cinta.
Kita terlalu beda untuk jadi pasangan. Aku takut kamu kedinginan sama aku. Aku takut jadi gak tau diri, takut bergantung sama kamu, takut ingin terus sama kamu. Sementara aku gak bisa ngasih apa yang kamu kasih, semua perhatian, cinta, rasa aman.”
Giandra menatapku lekat, lalu memelukku dan mengusap kepalaku seperti yang biasa ia lakukan.
Beberapa menit berlalu, Giandra melepaskan pelukannya. Melihatku dan menghapus air mataku yang hampir mengering.
“Duduk yuk!”
Aku mengangguk.
Hari ini semburat langit jingga terlihat sangat indah. Sungguh ironi, bukan?
Aku dan Giandra hanya berdiam setelahnya. Menikmati senja juga menenangkan hati yang sedang bertarung. Memilih cinta atau rasa takut.
Saat matahari perlahan ditelan lautan, Giandra memecah keheningan.
"Dulu, aku selalu bingung harus percaya yang mana—kehendak bebas atau takdir.
Ada yang bilang, seluruh garis hidup kita itu udah ditentuin. Dari situ muncul pertanyaan di kepalaku, kalau semuanya udah ditentuin, buat apa kita berjuang untuk sesuatu, kalau pada akhirnya semua akan sesuai dengan takdir. Mau kita berusaha atau engga, kalau takdirnya berhasil maka akan berhasil.
Ada juga orang yang bilang kalau hidup kita itu kita yang tentuin, sesuai dengan apa pilihan kita. Aku bener-bener bingung harus percaya yang mana.
Dan seiring berjalannya waktu, aku nemuin garis tengah diantaranya. Bahwa takdir mengikuti kehendak bebas. Bahwa semua hal udah ditulis, tapi semuanya punya berbagai kemungkinan yang udah ditulis juga. Jadi sisanya tergantung kita milih yang mana.
Aku udah pilih jalanku. Aku mau terus sama kamu, Shil. Lebih dari temen. Aku sayang kamu. Dan aku tau kamu juga sayang sama aku. Aku akan nunggu kamu, even a lifetime. Aku harap kamu memilih cinta dibanding rasa takut kamu.”
Senja kala itu merobohkan segalanya. Tubuhku akhirnya melepaskan segala rasa takut dan rendah diri yang selama ini tanpa sadar kugenggam. Aku mempersilakan diriku bersandar padanya.
—
“Mama!”
Suaranya berlomba dengan deburan ombak—suara yang tak pernah kubayangkan akan hadir dan ikut mengisi rumah penuh tawa yang aku dan Giandra bangun.
“Papa menang! Kai gak dapat peluk dari mama. Wlee…,” ucap Giandra sambil memelukku dan menjulurkan lidahnya pada Kai yang masih berlari ke arahku.
“Mamaaa…”
Aku melebarkan tanganku, bersiap memeluk Kai. Tak pernah kutahu bahwa langkah kecilnya dapat menciptakan kebahagiaan sebesar ini.
“Curang, harusnya papa aja yang dikasih peluk sama mama.”
Dekapan mereka begitu hangat, membuatku lupa seberapa dinginnya hidup yang pernah kulalui.
—
Karena pada akhirnya,
ada cinta yang tak bisa dihindari.
Ada cinta yang ditakdirkan untuk terjadi.
Dan itu adalah Giandra Pratama.
----END----
--23--