Disukai
0
Dilihat
656
Langit dan Jaraknya
Romantis

Jarak.

Hubunganku dengannya mempunyai kata itu.

10.485 km dari tempatku berada, ada manusia lain di sana.

Manusia lain yang mengenalku dengan sangat.

Manusia lain yang kucintai.

Manusia lain yang berkata bahwa aku tak akan lagi menangis sendirian selama ada dirinya dalam hidupku.

Kalimat terakhir ternyata hanya sekedar kata, karena kini aku menangis sendirian meskipun dia masih ada dalam hidupku.

***

"Hai! Tebak aku lagi dimana?" Ucapnya sambil mengalihkan kamera depan menjadi kamera belakang dan memperlihatkan hal-hal di sekelilingnya.

"Langit!! Kamu tuh ya paling bisa buat aku iri tau gak?" Seruku kesal.

Setelah Langit pergi ke Finlandia untuk mengerjakan proyek pertamanya, salah satu hal yang biasa kami lakukan untuk menjaga hubungan ini adalah dengan melakukan panggilan video.

Seperti kali ini, dia sedang memamerkan bahwa dia sedang berada di sebuah tempat yang sangat ingin ku kunjungi. Sebuah hotel yang dibangun secara utuh dari es dan salju setiap musim dingin, yang kemudian akan meleleh pada musim semi. Karena itu hotel ini akan dibangun kembali setiap tahunnya dengan desain dan tema yang berbeda. Hotel ini juga memiliki restoran es, bar es, galeri seni es, juga karya seni dan ukiran dari es yang sangat ku kagumi.

Aku pernah bercerita padanya bahwa suatu saat nanti aku ke Finlandia, tempat pertama yang harus ku kunjungi dan menginap di sana adalah hotel yang sedang ia pamerkan sekarang.

"Jadi kapan mau ke sini? Tahun ini cantik banget loh desainnya" Godanya.

"Tahun ini gak bisa, aku harus fokus selesain skripsi," ucapku sedih.

"Yaudah kalau gitu tahun depan aja. Tapi kayanya gak akan secantik ini deh desainnya," godanya lagi.

"Ngit kamu tau gak, kalau kamu tuh nyebelin?" Ucapku.

"Karena aku nyebelin kamu jadi suka, kan?" Langit dengan segala rasa percaya dirinya.

"Dih, enggak tuh. Kamu sampai kapan di sana?" Tanyaku.

"Sampai kamu datang."

"Ngit, aku serius."

"Aku juga serius, aku nunggu kamu di sini."

"Yang ada kamu kena hipotermia kalau kelamaan di sana."

"Abisnya aku kangen. Gimana dong?" Ucapnya.

"Yaudah kamu yang ke sini. Kamu gak kangen apa makan mie sapi?"

"Aku lebih kangen kamu."

Percakapan kami lebih banyak berakhir tak menyenangkan. Bukan karena terjadi permasalahan serius, tetapi karena kami menjadi lebih saling merindu. Rasa tak ingin mengakhiri panggilan, rasa ingin terus bersama, dan juga waktu yang seakan terlalu sedikit.

Aku sibuk dengan tugas akhirku dan Langit sibuk dengan proyek pertamanya. Mencari waktu luang di tengah kesibukan manusia yang sedang merangkai hidup memang bukanlah hal yang mudah.

Satu tahun Langit telah pergi meninggalkan Yogyakarta, juga diriku. Ia tak pernah kembali. Bahkan saat hari raya pun ia hanya melakukan panggilan video bersama keluarganya.

Sepertinya orang tua Langit lebih mudah menerima bahwa anak semata wayangnya tak kembali saat hari raya, dibanding aku yang masih terlalu sedih atas ketidakhadirannya dalam waktu yang lama.

***

Setiap kali aku merindukan Langit, aku selalu datang ke sini, Malioboro. Tempat yang mempertemukanku dengannya. Saat itu kursi di sampingku yang biasanya kosong terisi oleh seorang lelaki yang memakai pakaian serba hitam mulai dari jaket, celana, bahkan hingga sepatunya.

Saat itu aku tak tahu bahwa dia akan selalu berada di sana untuk waktu yang cukup lama, lalu kemudian pergi ke tempat yang jauh. Bukan di kursi itu, tetapi di sampingku.

Ngit, aku rindu.

Sudah cukup sedihku, aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Aku kembali ke kost dan menyibukkan diri dengan tugas akhir yang menunggu untuk diselesaikan.

Selama satu jam aku hanya memandang laptop yang masih dalam keadaan mati tanpa ada dorongan sedikit pun untuk menyalakannya.

Ngit, sepertinya ini batasku.

Malam ini kalimat yang sering ia ucapkan tak lagi menjadi sebuah fakta. Katanya, ‘Kamu gak akan nangis sendirian selama ada aku di hidup kamu.’

Ngit, aku udah berusaha untuk menjadikan kalimat yang selalu kamu bilang supaya tetap menjadi benar adanya.

Tapi kali ini aku nyerah.

Aku nangis sendirian, Ngit.

***

Tugas akhirku telah selesai beberapa bulan lalu, dan bulan depan aku akan wisuda. Hati kecilku mengharapkan Langit datang di hari kelulusanku, tetapi pikiranku berkata ‘Jangan egois, dia lagi menggapai mimpinya’.

Kemarin kami melakukan panggilan video untuk pertama kalinya setelah tiga minggu hanya bertukar pesan. Langit sedang sibuk dengan proyeknya karena tiba-tiba klien meminta untuk menyelesaikannya satu bulan lebih awal dari seharusnya belum lagi ada permasalah operasional lainnya. Karena itu kami—lebih tepatnya Langit hampir tak mempunyai waktu bahkan untuk sekedar bertukar pesan.

Di panggilan video kemarin kami menceritakan banyak hal-hal yang tak bisa hanya diceritakan melalui teks. Ia bercerita mengenai betapa menyebalkannya salah seorang teman dekatnya di perusahaan yang mengambil udang kesukaannya karena Langit menjahilinya dengan memesankan ramen extra pedas untuk temannya itu yang tak kuat makan pedas, mengenai cuaca di sana, juga mengenai dirinya yang turun beberapa kilogram karena kesibukkannya. Ya, bahkan dalam layar pun ia terlihat lebih kurus dari terakhir kali kami melakukan panggilan video.

Aku juga menceritakan banyak hal padanya, mengenai rencana kebaya yang akan ku pakai saat wisuda, malioboro yang makin ramai, lagu baru yang dirilis penyanyi kesukaan kami, dan hal lainnya. Di akhir panggilan dia menatapku cukup lama, dan aku juga memandangnya melalui layar smartphoneku.

"Aku pengen deh lihat kamu pakai toga. Bawain kamu bunga, terus peluk kamu erat sambil bilang makasih udah berjuang buat mimpi kamu, makasih udah milih kuliah di sini, makasih udah datang ke malioboro waktu itu, makasih udah ngebiarian kursi di samping kamu kosong, makasih udah izinin aku untuk ada di hidup kamu," ucapnya sambil tersenyum.

Mataku sedikit berair, namun aku segera menyingkirkan perasaan yang membuatku hampir meneteskannya. Aku tak ingin memperlihatkan air mata ini padanya. Karena tanpa bicara pun kita tahu jika salah satu dari kita menunjukkan air mata kesedihan, maka perasaan bersalah akan muncul pada satu lainnya.

Aku tersenyum, "Ngit, aku sayang kamu".

***

Saat hari kelulusan tiba, tidak ada Langit. Ia tak datang. Tetapi pada malam hari kami merayakan kelulusanku dengan cara seperti biasa, secara virtual, panggilan video. Ia berteriak senang sambil membawa kue bertemakan angkasa—hal yang aku sukai—dan juga rangkaian bunga warna-warni yang cantik. Kue dan bunga yang tak bisa ku terima, juga cerita hingga larut hari itu cukup untuk menghilangkan rasa sedihku karena ia tak datang.

Aku menceritakan padanya tentang rencanaku yang akan kembali ke Jakarta, kota asalku, dan akan melamar pekerjaan ke perusahaan yang menjadi mimpiku. Dia hanya mengangguk dan meminta maaf karena tak bisa membantuku pindahan. Aku memakluminya.

***

Sudah dua tahun tiga bulan ia tak kunjung kembali. Percakapan kami perlahan menjadi jarang. Dan kini sudah tiga bulan ia hilang tanpa kabar. Aku mencoba segala cara untuk mengabarinya, mencari tahu tentangnya kepada keluarganya, temannya, bahkan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka tak memberitahuku, mereka hanya bilang ‘Langit sedang sibuk’. Hanya itu. Tak ada alasan lain. Tak ada penjelasan lain.

Hari ini, setelah banyak keraguan mengenai hubungan kami yang semakin samar, aku kembali ke Yogyakarta.

Aku ingin melepaskan dia sepenuhnya. Aku lelah menunggu.

Aku pergi ke Malioboro dan duduk tepat di kursi pertama kali aku bertemu dengan Langit.

Malioboro masih ramai, Ngit.

Keraguan muncul kembali. Aku masih ingin berbincang dengannya seperti yang biasa kami lakukan. Aku masih ingin mendengarkan cerita-ceritanya. Aku masih ingin melihat tingkah jenakanya. Aku masih ingin bersama dia.

Langit, kamu masih sibuk ya? Tiga bulan kamu ngilang, selama itu juga perasaan aku perlahan takut dan ragu. Aku takut kamu lupa sama aku, sama janji kamu. Kamu bilang kalau kamu bakal balik ke aku. Tapi kenapa sampai sekarang kamu belum balik, Ngit?

Malioboro semakin ramai. Tapi hatiku semakin kosong. Aku menarik napas panjang, dan menghembuskannya sambil berdiri meninggalkan tempat aku dan Langit pertama bertemu, di sana aku juga meninggalkan Langit.

Jaga diri kamu di mana pun, Ngit.

Saat akan melangkah pergi, seketika tangan kananku di genggam oleh seseorang dari belakang. Aku tersentak, melepaskan genggaman tangan itu dan membalikkan badan.

Aku melihatnya.

Seseorang yang menggenggam tanganku.

Ia lelaki yang memakai pakaian serba hitam mulai dari jaket, celana, bahkan hingga sepatunya.

Ia lelaki yang sama seperti beberapa tahun lalu yang duduk di kursi di sampingku yang biasanya kosong.

Ia lelaki yang ku biarkan pergi menggapai mimpinya. Ia adalah seseorang yang kembali.

Akhirnya kamu datang, Ngit.

Jangan pergi lagi ya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi