Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Blurb
Aris Wiratama pernah menjadi pewaris tunggal Wiratama Group, kerajaan properti yang dibangun ayahnya, Bambang Wiratama, di atas logika dingin untung dan rugi. Dua tahun lalu, sebuah kecelakaan mobil merenggut fungsi lengan kirinya dan membuat langkahnya pincang. Di ranjang rumah sakit, ayah kandungnya sendiri memutuskan bahwa anak cacat tidak punya harga di perusahaan, lalu pergi begitu saja.
Aris ditemukan sekarat di tepi hutan oleh Dirman, tukang kayu miskin, dan istrinya. Dua tahun kemudian ia hidup sebagai anak angkat mereka di Desa Karangjati, tidur di kamar berlantai semen, membantu di bengkel kayu jati yang sederhana, dan menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.
Ketika tengkulak licik bernama Juragan Karta memaksa Dirman menerima pesanan mustahil, sepuluh kursi makan dalam lima hari, Aris memakai kembali insting desain dan naluri bisnis yang dulu ia benci untuk menyelamatkan keluarga barunya. Kemenangan kecil itu berubah pahit begitu terungkap bahwa pesanan itu adalah jebakan Bambang Wiratama sendiri, cara licik memaksa Aris pulang dengan menghancurkan keluarga miskin yang merawatnya.
Kepercayaan yang retak ditambal pelan-pelan lewat kerja jujur dan luka di tangan, bukan lewat kata-kata. Reputasi kursi buatan Aris menyebar sampai ke sebuah galeri di kota, tempat sehelai kertas yang terselip diam-diam di celah kayu membongkar rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar dendam keluarga. Wiratama Group sedang merampas tanah Desa Karangjati secara ilegal untuk kawasan mal mewah, dan bengkel kayu Dirman berada tepat di titik pusat rencana itu.
Dibantu Budi si sahabat setia, Pak Hardi mantan pegawai logistik yang pernah dibuang perusahaan yang sama, dan Lila jurnalis independen yang percaya pada bukti, Aris menyeret kembali semua yang dulu ia hindari: kecerdikan membaca kelemahan lawan, keberanian berdiri di depan kamera, kepala dingin di tengah ancaman. Perang berpindah dari buldoser yang menghadang di depan bengkel, ke ruang sidang, ke pasar saham, sampai ke desa yang dikepung tanpa listrik dan air demi memaksa warga menyerah.
Tekanan yang dilancarkan Bambang Wiratama akhirnya berbalik menyerang perusahaannya sendiri. Bocoran dokumen yang disebar Aris satu per satu menjatuhkan harga saham Wiratama Group, memaksa para pemegang saham turun tangan, sementara warga Karangjati memilih bertahan dengan air sumur dan singkong rebus daripada menjual tanah leluhur mereka. Lewat rangkaian sidang, pengkhianatan kecil, dan pengorbanan besar, termasuk kesaksian terakhir Pak Hardi, kebenaran menang. Bambang Wiratama dipaksa mundur dari kursi CEO, tanah Desa Karangjati kembali sah menjadi milik warganya, dan bengkel kecil Dirman tumbuh jadi usaha bersama para perajin desa.
Namun kemenangan terbesar Aris bukan soal tanah atau hukum. Di bab-bab penutup novel ini, ia berdiri di depan meja makan baru yang dibangunnya bersama Dirman dari sisa kayu jati, jauh lebih sederhana dari meja mahoni masa kecilnya, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, meja itu terasa penuh.
Jujurnya Kayu berbicara tentang seorang anak yang kehilangan segalanya dan justru menemukan dirinya sendiri di antara serpihan kayu dan keringat orang-orang yang tidak pernah menuntutnya jadi sempurna.
Aris ditemukan sekarat di tepi hutan oleh Dirman, tukang kayu miskin, dan istrinya. Dua tahun kemudian ia hidup sebagai anak angkat mereka di Desa Karangjati, tidur di kamar berlantai semen, membantu di bengkel kayu jati yang sederhana, dan menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.
Ketika tengkulak licik bernama Juragan Karta memaksa Dirman menerima pesanan mustahil, sepuluh kursi makan dalam lima hari, Aris memakai kembali insting desain dan naluri bisnis yang dulu ia benci untuk menyelamatkan keluarga barunya. Kemenangan kecil itu berubah pahit begitu terungkap bahwa pesanan itu adalah jebakan Bambang Wiratama sendiri, cara licik memaksa Aris pulang dengan menghancurkan keluarga miskin yang merawatnya.
Kepercayaan yang retak ditambal pelan-pelan lewat kerja jujur dan luka di tangan, bukan lewat kata-kata. Reputasi kursi buatan Aris menyebar sampai ke sebuah galeri di kota, tempat sehelai kertas yang terselip diam-diam di celah kayu membongkar rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar dendam keluarga. Wiratama Group sedang merampas tanah Desa Karangjati secara ilegal untuk kawasan mal mewah, dan bengkel kayu Dirman berada tepat di titik pusat rencana itu.
Dibantu Budi si sahabat setia, Pak Hardi mantan pegawai logistik yang pernah dibuang perusahaan yang sama, dan Lila jurnalis independen yang percaya pada bukti, Aris menyeret kembali semua yang dulu ia hindari: kecerdikan membaca kelemahan lawan, keberanian berdiri di depan kamera, kepala dingin di tengah ancaman. Perang berpindah dari buldoser yang menghadang di depan bengkel, ke ruang sidang, ke pasar saham, sampai ke desa yang dikepung tanpa listrik dan air demi memaksa warga menyerah.
Tekanan yang dilancarkan Bambang Wiratama akhirnya berbalik menyerang perusahaannya sendiri. Bocoran dokumen yang disebar Aris satu per satu menjatuhkan harga saham Wiratama Group, memaksa para pemegang saham turun tangan, sementara warga Karangjati memilih bertahan dengan air sumur dan singkong rebus daripada menjual tanah leluhur mereka. Lewat rangkaian sidang, pengkhianatan kecil, dan pengorbanan besar, termasuk kesaksian terakhir Pak Hardi, kebenaran menang. Bambang Wiratama dipaksa mundur dari kursi CEO, tanah Desa Karangjati kembali sah menjadi milik warganya, dan bengkel kecil Dirman tumbuh jadi usaha bersama para perajin desa.
Namun kemenangan terbesar Aris bukan soal tanah atau hukum. Di bab-bab penutup novel ini, ia berdiri di depan meja makan baru yang dibangunnya bersama Dirman dari sisa kayu jati, jauh lebih sederhana dari meja mahoni masa kecilnya, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, meja itu terasa penuh.
Jujurnya Kayu berbicara tentang seorang anak yang kehilangan segalanya dan justru menemukan dirinya sendiri di antara serpihan kayu dan keringat orang-orang yang tidak pernah menuntutnya jadi sempurna.
Tokoh Utama
Aris Wiratama
Budi
Bambang Wiratama
Dirman
Istri Dirman
#1
Awal Kehancuran
#2
Pensil Dua Ribu Rupiah
#3
Rantai
#4
Logo di Atas Kemacetan
#5
Demam dan Vonis Lama
#6
Amplop Berlogo Emas
#7
Sepuluh Kursi, Satu Jebakan
#8
Jurang di Meja Kayu
#9
Dingklik dari Kayu Limbah
#10
Pameran di Kota
#11
Putusnya Rantai Emas
#12
Loker 114
#13
Serangan ke Jantung Desa
#14
Runtuhnya Arogansi Berkerah Putih
#15
Retak di Balik Laporan
#16
Papan Catur di Atas Serbuk Jati
#17
"M"
#18
"HARI"
#19
Akar yang Terbuka
#20
"Bukti"
#21
akhirnya
#22
Batas Garis Tanah
#23
Kunci di Antara Besi Tua
#24
PASAK TERAKHIR DI ATAS TANAH MERAH
#25
Batas Kayu dan Tanah
#26
Titik Balik
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
bagus banget
Disukai
13
Dibaca
1.4k
Tentang Penulis
Ahmad Sabiq Hamizan
-
Bergabung sejak 2026-04-13
Telah diikuti oleh 23 pengguna
Sudah memublikasikan 2 karya
Menulis lebih dari 61,207 kata pada novel
Rekomendasi dari Drama
Novel
Pasar Orang-Orang Mati
Jauza M
Novel
Jujurnya Kayu
Ahmad Sabiq Hamizan
Skrip Film
Kubayar Pelangi dengan Hujanmu (Skrip)
Anis Maryani
Novel
Bukan Lelaki Arimbi
Shinta Larasati Hardjono
Flash
Harapan Ayah
nirjana
Skrip Film
Heal
Tirta Mustika Yudhistira
Novel
LALAKA
PALRIS JAYA
Flash
Kota yang kehilangan langit
Deny riski kohilay
Cerpen
Sembunyi dibalikata Baik-baik Saja
Lilis Alfina Suryaningsih
Novel
Aksara Samudera
yhantlies92
Cerpen
Perjamuan Malam Sullivard
Populartflower
Novel
TANPA TAPI
Rahma Pangestuti
Novel
Pengantin Sang Badai
Arslan Cealach
Cerpen
Semuanya Telah Pergi
Amanda Chrysilla
Novel
Bukan Mandul
Mambaul Athiyah
Rekomendasi