Flash Fiction
Disukai
32
Dilihat
3,654
Pupa
Drama

“Dasar lemah, jelek, tidak berguna”

Aku kembali teringat cerita yang sering dibacakan ibuku saat masih kecil. Hampir setiap malam ibuku membacakan dongeng berjudul “Pupa”—menceritakan perjalanan hidup seekor kupu-kupu- ini. Entah atas dasar apa, semenjak teringat akan cerita itu, ada energi baru yang mengisi jiwa lelahku.

Aku seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang berusaha menata hidupku. Segalanya terasa berat, baru, dan juga asing. Benar kata orang, menjadi dewasa tidak mudah. Semua hal harus dipikirkan matang-matang sebelum mengambil aksi.

Mengingat dan membaca dongeng ini diusia dewasa membuat makna lain terbentuk. Pada usia anak-anak, cerita ini hanya sekedar dongeng pengantar tidur. Tetapi di usia 20-an, maknanya bertambah, menjadi penyemangat, atau mungkin pengharapan. Berharap bahwa masa-masa sulit yang dialami saat ini adalah bagian diriku saat menjadi pupa—orang mungkin lebih kenal dengan sebutan kepompong. Menunggu dan terus berusaha menyempurnakan sayap serta warnanya. Lalu suatu hari bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu yang indah, bebas, tak terikat, dan tak menderita.

Aku memang tak sehebat ibuku dalam bercerita, tetapi jika kau ingin mendengar ceritanya, aku bisa bercerita sebisaku. Akan ku coba, selamat mendengarkan.

--

“Dasar lemah, jelek, tidak berguna,” para hewan mengejek Kupu-Kupu yang sedang dalam proses metamorfosisnya.

Dia masih memerlukan waktu untuk menjadi utuh. Menjadi seekor pupa memang terlihat seperti itu, kecil, lemah, jelek, dan tidak berguna. Tetapi saat dia menjadi seekor kupu-kupu, semua hal itu tak lagi berlaku. Dan menjadi pupa adalah salah satu proses untuknya bertumbuh.

Singkat cerita, ejekan itu terus berlanjut setiap hari tanpa jeda, dan hal ini membuat pupa kehilangan pandangan akan dirinya di masa depan. Dia lupa akan sayap dan warna indah yang akan dimilikinya selepas perjuangan ini. Juga lupa gambaran tentangnya melintasi langit biru dan mengunjungi bunga-bunga. Dia memang tetap berusaha di dalam sana, hanya saja dengan tujuan yang berbeda. Tidak lagi untuk bertumbuh, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Pupa mempunyai sahabat yang dimilikinya sejak ia masih menjadi ulat, namanya Lebah. Mereka menceritakan segala hal kepada satu sama lain. Mengenai hari yang telah dilewati, juga khayalan untuk pergi bersama ke seluruh dunia dan mengunjungi seluruh bunga yang dijumpai dihari yang akan datang. Lebah dengan sabar menunggunya berproses. Ia selalu datang setiap hari mengunjunginya dan menjadi tameng ketika hewan lain mengejek Pupa. Walau kata-kata mereka tetap sampai ke telinga Pupa.

Penantian Pupa selesai. Hari ini dia sudah bisa keluar dari cangkangnya dan menjadi Kupu-Kupu. Lebah mengunjungi Pupa dengan perasaan gembira karena akhirnya mereka akan terbang bersama untuk pertama kalinya. Sesampainya di sana, dia bingung karena Pupa belum juga keluar dari cangkangnya.

“Pupa, kenapa kamu masih di dalam sana? Sudah waktunya kamu keluar,” ucap Lebah.

“Tidak, aku tidak mau. Aku takut mereka akan mengejekku lebih buruk,” tolak Pupa.

“Waktumu menjadi pupa sudah selesai. Sayapmu telah terbentuk sempurna, warnanya pun sudah terlukis dengan sangat indah. Kau harus keluar dari sana dan melihat dirimu sendiri. Kau harus menunjukkan pada mereka bahwa kau telah berusaha dan bertahan dalam masa pupa-mu. Jika kau keluar dari sana mereka akan terpukau dengan cantikmu,” rayu Lebah.

“Aku takut,” ucap Pupa.

“Percaya padaku, kau telah bertahan dan bekerja sangat baik selama ini. Kau hanya perlu satu keberanian saja, keluar dari cangkang itu dan kau akan melihat dunia barumu.” Ucapan lebah diabaikan Pupa—dia masih takut.

Hari-hari berikutnya Lebah terus meyakinkan Pupa, namun tak kunjung berhasil. Dan hari ini, seperti biasa, Lebah menghampiri Pupa. Tak ada senyum di wajah Lebah, hanya kesedihan yang tampak.

“Pupa, tidak, aku tidak ingin memanggilmu Pupa. Kau adalah Kupu-Kupu sekarang, walau kau belum keluar dari cangkangmu. Kau ingat, kau pernah berjanji padaku bahwa saat kau sudah menjadi Kupu-Kupu kita akan mengunjungi seluruh bunga di dunia? Bolehkah aku menuntut janji itu sekarang? Sejujurnya, aku sedikit kecewa terhadapmu. Karena kau lebih mementingkan omongan mereka yang bahkan tidak tahu siapa dirimu dibandingkan dengan dirimu sendiri dan juga aku sebagai sahabatmu yang tahu siapa dirimu sebenarnya. Sepenting itukah mereka sehingga membuatmu tidak berani keluar dan menjalani hidup yang ada di depanmu?” ucap Lebah sedih.

Pupa mendengar lebah dengan seksama. Kali ini ia luluh.

“Kau benar. Tidak seharusnya aku seperti ini. Ucapan mereka yang terus menerus mengejekku membuatku lupa siapa diriku dan apa yang aku harapkan. Menjadi kupu-kupu, terbang bebas, dan bermain bersamamu sepanjang waktu mengelilingi dunia,” ucap Pupa.

Pupa memberanikan diri, menarik napas, dan mencoba keluar dari tempatnya. Tubuhnya sakit saat keluar dari cangkang. Tapi dia tahu, bahwa rasa sakit yang dia rasakan membantunya untuk menguatkan sayap, dan juga satu-satunya jalan keluar agar dia bisa melihat dunia yang lebih luas.

--

Selesai.

Setelah dipikir-pikir bukankah dongeng itu terlalu berat untuk diterima anak-anak? Apa hanya perasaanku saja? Mungkin iya. Kau tahu mengapa ibuku sering membacakan cerita ini dibandingkan cerita anak lainnya? Kata ibuku, karena sifat ketidaksabaranku. Menginginkan hal-hal dan harus didapatkan didetik itu juga, tak boleh nanti, tak boleh besok, harus saat ini, detik ini. Sifat itu terkadang masih terbawa hingga sekarang. Dan lewat dongeng masa kecilku, perlahan aku menyadari bahwa waktu diperlukan untuk menyempurnakan segala sesuatu. Untuk menyembuhkan luka, untuk memberi kebahagiaan sejati, dan untuk memberi makna.

Maaf aku hanya bisa menemanimu sebentar. Aku harus kembali mengerjakan skripsiku. Terimakasih telah mendengarkanku. Mari bertemu di lain waktu. Sampai jumpa.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi