Disukai
41
Dilihat
1112
Malioboro, dia menghilang
Romantis

--Yogyakarta, Desember 2021

Yogyakarta. Kota yang memperkenalkanku padanya. Tempatku berbagi rumah. Aku ingin melepaskan dia. Itu sebabnya aku kembali ke kota ini. Aku terlalu lelah menunggu. Selama ini aku selalu mempercayai hatiku untuk tetap menunggunya. Tapi kali ini sepertinya logika-ku yang menang, ntah sampai kapan.

Malam hari setelah menyimpan barang-barang di hotel, aku pergi menggunakan taksi ke Malioboro. Tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Kuharap aku menemukan dia disini, lagi. Satu perjuangan terakhir.

--Malioboro, November 2016

Semenjak kuliah di kota ini, aku lebih sering keluar sendirian di malam hari. Bukan untuk nongkrong, tapi untuk menenangkan diri. Malioboro selalu berhasil menghilangkan rasa sedihku. Begitu juga kali ini. Jarak antara kampus dan Malioboro tak terlalu jauh sekitar 30 menit-an dan jarak dengan kost-an ku sekitar 40 menit. Sendiri di tengah keramaian seperti ini membuatku merasa lebih tenang. Walau mungkin bagi sebagian orang ini terlihat menyedihkan. Namun ini menyenangkan bagiku. Menyaksikan orang berlalu-lalang, mendengarkan interaksi tawar-menawar antara penjual dan pembeli, memperhatikan andong dan becak yang mengantarkan penumpang, dan juga mendengarkan nyanyian para pemain musik di pinggir jalan.

Hari ini Malioboro lebih ramai dari biasanya padahal ini bukan akhir pekan. Juga tak seperti biasanya, kursi di sampingku yang biasanya kosong kini terisi oleh seorang lelaki yang memakai pakaian serba hitam mulai dari jaket, celana, bahkan sepatunya. Saat itu aku tak tahu bahwa dia akan selalu berada di sana untuk waktu yang lama dan mungkin akan sangat lama. Bukan di kursi itu, tapi di sampingku.

Obrolan kami berawal dari ketidaksengajaan yang dimulai oleh seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya dan berujung meminta tolong pada lelaki itu. 

***

"Om, tolongin Dimas. Dimas gak tau mama Dimas dimana," ucap anak kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca.

"Emangnya tadi kamu kemana sampai kepisah sama orang tua kamu?" Lelaki itu membalas dengan nada lembut.

"Tadi Dimas lihat ada mainan, terus Dimas kejar. Tapi Dimas ketinggalan, waktu Dimas lihat ke sekeliling, Dimas gak lihat mama," anak itu mulai menangis kecil.

"Yaudah om bantu cari mama kamu, ya. Jangan nangis pasti ketemu kok," lelaki itu berdiri.

Dia melihat sekeliling dan melihat ke arahku.

"Hmm.. Mbak, bisa bantuin saya gak?" Tanyanya padaku.

"Bantu apa, ya?" Ucapku bingung.

"Bantu saya nyari orang tua anak ini. Ya, saya bisa sendiri sih. Tapi supaya saya tidak disangka penculik, jadi lebih baik mbak ikut saya seenggaknya nanti gak ada salah paham. Gimana?" Jelasnya.

"Mas, jangan berpikiran buruk kaya gitu. Yang ada orang tua anak ini akan berterimakasih sama mas-nya karena udah nemuin anak mereka," aku tak mengerti dengan pikiran orang ini.

"Ya, iya sih. Tapi seenggaknya...," dia berhenti sebentar. "Mau bantu saya gak?" Lanjutnya.

Aku mengiyakannya.

Kami pergi ke arah anak lelaki itu datang untuk mencari orang tuanya. Setelah berjalan cukup jauh kami akhirnya menemukan ibu dari anak bernama Dimas ini. Ibu itu sedang duduk sambil menangis dan dikelilingi oleh beberapa orang yang sepertinya sedang menenangkan ibu ini. Setelah Dimas dan Ibunya bertemu, persis seperti apa yang dibicarakan oleh lelaki tadi. Sang ibu malah menuduh lelaki itu sebagai penculik anaknya dengan tuduhan bahwa dia—lelaki itu sengaja menculik sang anak lalu berpura-pura menemukan anak yang diculiknya untuk mendapat imbalan tanpa mendapat julukan penculik. Aku yang mendengarkan ocehan ibu itu benar-benar kehabisan kata-kata. Bagaimana mungkin dia menuduh orang lain yang menemukan anaknya seperti itu.

Lelaki itu hanya diam dan melirik ke arahku. Aku mengerti! Aku mulai menjelaskan yang terjadi sebenarnya. Mulai dari Dimas yang tiba-tiba datang dan meminta bantuan hingga akhirnya kita berhasil bertemu dengan ibu itu. Sang ibu percaya, dan mengucapkan terima kasih. Tetapi itu kurang bagiku. Aku meminta pada ibu itu untuk meminta maaf pada lelaki yang dituduhnya sebagai penculik. Setelah meminta maaf, semuanya kembali melanjutkan aktifitas masing-masing. Aku dan lelaki itu juga kembali ke tempat tadi. Di perjalanan aku bertanya padanya.

"Mas-nya kok tau bakal dituduh penculik?" Tanyaku.

"Saya gak tau. Saya cuman nebak aja, dan kebetulan kejadian. Lagi pula akhir-akhir ini di berita juga di sosial media lagi banyak cerita tentang modus penculik seperti itu," jawabnya.

"Emang iya, ya?"

"Jarang baca berita ya, mbak?"

"Saya gak terlalu tertarik sama berita."

Lelaki itu mengangguk dan tersenyum, "Makasih udah mau bantuin saya."

"Sama-sama," balasku.

***

Setelah hari itu, beberapa hari setelahnya kami kembali bertemu. Bukan di Malioboro, tetapi di kampus. Ternyata dia juga kuliah di tempat yang sama denganku. Namanya Langit, dia mengambil jurusan Teknik Mesin dan sekarang dia semester 3. Sementara aku, aku mengambil jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea, semester 1. Aku dan Langit mulai berteman dekat. Dia orang yang menyenangkan juga sangat aneh. Mungkin karena dia terlalu cerdas jadi sering membuat cerita aneh untuk hiburannya. Orang cerdas memang selalu punya pikiran out of the box, pikirku.

Hari-hari berikutnya kami menjadi sangat dekat. Dan mulai mencintai satu sama lain. Aku bahagia saat bersamanya. Kita seperti anak kecil yang sedang bermain di lapangan luas tanpa peduli panas, hujan, maupun badai sekalipun. Yang kita pedulikan hanyalah bermain dengan menyenangkan.

Kita berbagi segala hal yang kita rasakan, sedih, senang, kecewa, marah, dan segala rasa yang ada di muka bumi ini. Kita memahami satu sama lain dengan sangat baik juga mendukung satu sama lain. Aku bahagia bertemu dengannya.

--Bandar Udara Internasional Adisutjipto, Agustus 2019

Sore ini aku mengantarnya ke Bandara. Jarak. Ternyata hubunganku dengannya juga mempunyai kata itu. Sebenarnya tak apa jika jarak itu ada, asalkan sang pemilik memilih untuk pulang ke tempatnya berasal.

Kemarin kami pergi ke Malioboro, membicarakan banyak hal yang tak ada habis-habisnya. Karena besok kita-lebih tepatnya Langit, dia tak akan berada disini. Langit akan pergi, meraih mimpinya. Setelah lulus kuliah, dia direkomendasikan oleh dosennya untuk mengerjakan sebuah project baru di Finland. Dan perusahaan itu menyetujuinya. Langit bilang project itu rahasia jadi dia tak bisa memberitahukan apapun padaku.

Malam sudah larut, tetapi percakapan masih terasa sangat singkat. Sejak awal kami memutuskan untuk berpacaran, kami sepakat untuk tidak melarang satu sama lain mengejar mimpi masing-masing, sejauh apapun jarak yang akan membatasi. Karena kita tahu bahwa mimpi menjadi sumber dari segala dunia kita, setidaknya untuk aku dan Langit. Di akhir percakapan malam kemarin dia memberiku sebuah pertanyaan.

***

"Shill, kalau seandainya aku bangun rumah lain dan aku ninggalin rumah yang kita buat. Apa yang bakal kamu lakuin?" Tanya Langit.

Aku terdiam sejenak menerka pertanyaan Langit, "Hmm.. Aku juga akan pergi dari rumah itu. Dan aku gak akan menyebutnya lagi sebagai rumah."

"Rumah akan tetap menjadi rumah walau sang pemilik pergi."

"Kalau gitu aku bakal ngehancurin rumah itu. Jadi tempat itu gak lagi bisa lagi disebut rumah."

"Rumah itu bukan cuma punya kamu. Tapi punya aku juga. Lagipula kalau kamu hancurin rumah itu kamu bakal pulang kemana? Kamu bakal ngebiarin diri kamu nangis sendirian lagi?"

" 'Rumah itu bukan cuma punya kamu. Tapi punya aku juga', terus kenapa kamu harus pergi dan membangun rumah lain? Dan, bukannya waktu kamu ngejar mimpi kamu, aku bakal nangis sendirian?"

"Kamu gak akan nangis sendirian selama ada aku di hidup kamu. Aku cuma mau bangun rumah lain yang lebih besar untuk kita, untuk mimpi-mimpi kita, untuk kebahagiaan kita."

Aku terdiam.

"Tunggu aku. Aku janji bakal kembali ke kamu."

"Sampai kapan?"

"Sampai semuanya selesai. Dan saat itu aku akan menjadi lebih hebat di mata kamu. Juga merasa lebih pantas untuk berbagi rumah."

"Kamu gak perlu menjadi lebih hebat. Cukup kembali dengan diri kamu yang kamu mau. Aku bakal tetap sayang sama kamu. Hmm.. Ngit, kalau suatu saat nanti aku lelah nunggu, tapi aku masih sangat mencintai kamu, aku harus gimana?"

"Saat hari itu tiba, apa kamu udah ngelakuin segalanya?" 

Aku mengangguk, "Segalanya. Nunggu kamu, cari kamu, dan terus cinta sama kamu."

"Saat hari itu tiba, berarti itu giliran aku. Datang ke kamu dengan membawa segala mimpi yang udah berhasil aku raih." 

***

Semua percakapan semalam menjadi satu-satunya harapan yang bisa ku percayai. Setengah jam lagi Langit akan terbang, meraih mimpinya. Dan aku akan menunggunya sembari mengejar mimpiku. Kami mengucapkan perpisahan, berharap ini bukan pertemuan terakhir.

Pesawat yang ditumpangi Langit lepas landas, terbang menyusuri langit jingga. Setelah pesawat itu tak lagi berada pada jarak pandangku, aku menghela napas panjang dan entah kenapa, seketika segalanya menjadi sunyi-sepi. Hati dan pikiranku membisu. Rasa sepi dan sunyi yang dulu sangat akrab denganku, kini terasa asing, sepertinya aku harus mencoba berteman kembali dengan mereka.

Kehadiran Langit benar-benar mengubah kehidupanku, mengubah segala. Dia menunjukkan padaku bahwa warna hidup tak hanya hitam dan putih. Dia memperkenalkanku pada warna abu, hijau, biru, kuning, merah, dan beribu warna kehidupan lainnya. Tanpa dia sadari, dia telah membuatku berdamai dengan diriku sendiri, juga dengan semua kejadian tak menyenangkan di masa lalu. Sejujurnya, pada awal kedekatan kami, aku merasa takut, takut dia terbawa menjalani kehidupan hitam-putih sepertiku. Dunianya terlalu berwarna, dan aku takut menghapus seluruh warnanya. Ternyata aku keliru, malahan dia yang membuatku mencoba untuk 'menghidupi hidup' seperti yang dia lakukan. Warnanya yang terang memberi cahaya yang dibutuhkan duniaku.

Aku berdiam beberapa jam di bandara lalu kembali ke kost-ku. Tanpa menyalakan lampu, aku langsung merebahkan diri ke kasur dan menatap langit kamar yang gelap tanpa bintang. Aku mempunyai bintang di kamarku, pemberian Langit. Pada ulang tahunku kemarin, dia mengubah kamarku menjadi luar angkasa, kesukaanku. Dia menata semua hiasan, lampu LED, dan lampu tidur proyektor bertemakan bulan-bintang.

***

"Ngit, ini gak kebanyakan? Yang ada aku pusing ngeliatnya," aku tertawa kecil melihatnya yang bersemangat memasang seluruh pernak-pernik.

"Ya kamu jangan nyalain semuanya, satu hari satu warna sesuai perasaan kamu. Kalau kamu lagi bingung gatau lagi ngerasa apa, kamu nyalain aja semuanya," dia membalikkan badan, menghadapku. "Aku udah ngasih mereka perintah untuk jagain kamu untuk sementara. Dan tugas mereka berakhir waktu Langit kamu udah ada di samping kamu lagi," lanjutnya sambil tersenyum. Aku pun ikut tersenyum melihat tingkah Langit.

Dia melebarkan tangannya, dan aku menghampirinya, melingkarkan tangan di pinggangnya. Dia memelukku erat dengan satu tangan di punggung dan satunya mengusap kepalaku.

"Aku bakal balik ke kamu."

Aku mengangguk.

--Jakarta, November 2021

Sudah 2 tahun 3 bulan jarak itu tinggal dalam hubunganku dengan Langit. Tahun pertama, kita masih sering mengabari keadaan masing-masing juga menceritakan hari yang terlewati. Semua masih terasa sama walau jarak itu ada. Untuk hari-hari berikutnya, kami mulai jarang bertukar kabar. Dia sibuk dengan pekerjaannya, dan aku sibuk dengan tugas akhirku. Oleh karena itu, kami sepakat untuk setidaknya satu atau dua kali dalam seminggu untuk bertukar kabar. Namun perlahan, waktu yang kami lewati bersama semakin berkurang, bahkan pernah dalam waktu satu bulan kami hanya berkomunikasi dua kali saja. Hanya berbicara jika ada hal penting.

Sejak keberangkatan Langit dari Yogyakarta kala itu, dia tak pernah sekalipun kembali ke Indonesia. Sekedar untuk bertemu keluarganya saat hari raya pun tak pernah. Apalagi saat tahun baru, alasannya selalu sama, dia sibuk. Aku masih tak tahu apa yang dikerjakannya, dan dia juga sepertinya tak berkeinginan untuk memberitahu, jadi aku tak pernah membahasnya.

Saat aku lulus, kupikir Langit akan datang dan mengucapkan selamat. Tapi tidak. Dia tidak datang, dan aku sedikit kecewa. Ya, aku tahu, dia memang tak pernah menjanjikan untuk datang. Aku hanya sedikit berharap. Dia pasti sedang sibuk. Dan aku mengerti. Pada malam hari setelah kelulusan, kami merayakannya bersama, secara virtual tentunya.

***

"Happy Graduation Shilaaaaa," dia berteriak senang sambil membawa kue bertemakan angkasa dan juga rangkaian bunga warna-warni yang cantik. "Selamat udah gak perlu pusingin lagi tugas yang menumpuk," lanjutnya.

"Makasih Langit.." Aku tersenyum.

"Maaf aku gak bisa datang, perusahaan lagi sibuk-sibuknya ngejar deadline karena masalah operasional waktu itu," raut wajahnya menunjukkan perasaan bersalah.

"Iya gak apa-apa kok, lagian tadi aku.." Aku tak bisa melanjutkan ucapanku. Karena setelah acara resmi kelulusan, aku berfoto dan mengobrol sebentar dengan teman-teman, lalu langsung pergi ke kost-ku. Menangis. Aku rindu Langit. Aku ingin dia ada di sini.

Aku terdiam dan tak menatap layar.

"Kamu kecewa ya aku gak datang? Maaf yaa, aku..."

Aku memotong ucapannya.

"Gak apa-apa, lagian kamu juga sibuk, kan? Yang ada aku harus berterima kasih ke kamu karena udah sempetin waktu buat ngerayain kelulusan aku. Beli bunga dan kue yang gak bisa aku terima secara langsung, makasih Langit," aku tersenyum.

***

Malam itu kami mengobrol hingga larut untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan tanpa ada interupsi tentang pekerjaan. Percakapan panjang seperti dulu, percakapan sederhana, percakapan yang menyenangkan. Aku menceritakan padanya tentang rencanaku yang akan kembali ke Jakarta, kota asalku, dan akan melamar pekerjaan ke perusahaan yang menjadi mimpiku. Dia hanya mengangguk dan juga meminta maaf, lagi, karena tak bisa membantuku pindahan. Aku memakluminya.

Mengenai perasaanku padanya, jujur, aku masih mencintainya, dengan besar yang sama, walau terkadang perkataan mereka--teman yang mengetahui hubunganku dengan Langit membuatku sering berpikir ulang untuk meneruskan hubungan ini atau tidak. Saat mereka bertanya mengenai kelanjutan hubunganku dengan Langit, mereka pasti mengeluarkan satu diantara puluhan pertanyaan andal.

"Lo yakin Langit masih cinta sama lo?"

"Lo yakin dia gak selingkuh? Gak tertarik sama wanita lain?"

"Lo yakin bisa nunggu dia? Yang mana bahkan untuk sekali pun gak pernah lagi datang ke sini buat ketemu lo. Shilla, gue cuma gak mau lo ngehabisin waktu lo untuk nunggu tanpa kepastian."

Ya, aku tahu tujuan mereka baik. Mereka seperti itu karena mereka peduli. Mereka tak ingin aku kecewa terlalu dalam, berharap terlalu banyak. Terlebih karena dalam tiga bulan terakhir ini, dia benar-benar menghilang, tak ada kabar. Aku sudah mencari dia, mencoba menghubungi dia berulang kali, padahal aku tahu nomornya sudah tak aktif lagi. Dan tak ada seorang pun yang dapat kuhubungi untuk mengetahui kabarnya. Kali terakhir kami berbincang adalah saat hari ulang tahunku, dia membeli bunga dan juga kue, tetapi kali itu keduanya bertemakan warna biru. Dia bilang untuk hadiahnya aku harus menunggu sedikit lebih lama, hadiah sangat istimewa sehingga butuh waktu lama untuk datang katanya.

Dan sampai saat ini, hadiah itu belum kuterima, apalagi seseorang yang menjanjikannya pun tak pernah lagi kutemui, tak pernah lagi menghubungi, dia menghilang. Di percakapan terakhir itu, dia sama sekali tak menyinggung soal pekerjaannya. Tak ada pemberitahuan mengenai akan seberapa sibuk dia dengan pekerjaan, biasanya jika dia akan memiliki jadwal yang padat di minggu atau bulan berikutnya dia akan memberitahuku terlebih dahulu sehingga aku mengerti dan tak akan terlalu sering menghubunginya. Hal ini membuatku sedikit resah, dan berujung terus memikirkan apa yang selalu teman-temanku katakan. Jika memang hari itu adalah kali terakhir kami bersama, mengapa harus diakhiri dengan kebahagiaan? Mengapa tak ada tangisan? Mengapa tak amarah? Tak ada kekecewaan? Bukankah lebih sulit untuk berhenti berharap ketika sebuah pertemuan berakhir dengan kebahagiaan? Tak ada alasan untuk berhenti, tak ada alasan untuk membenci, tak ada seseorang untuk disalahkan.

Berulang kali aku berubah pikiran, untuk terus bertahan atau melepaskannya. Dan bulan depan aku memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta, pergi untuk mengenang, pergi untuk melepasnya. Aku akan menerima takdir kita, mungkin Tuhan memang ingin kita bersama hanya untuk beberapa tahun saja. Bukannya aku tak ingin menunggu, tapi dia yang menghilang tanpa kabar. Meninggalkanku begitu saja. Aku merasa terkhianati, bukankah seharusnya jika dia sudah tak lagi menginginkan hubungan ini berlanjut, dia seharusnya memberitahuku dahulu? Setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal dan berterima kasih atas semua waktu yang telah dilewati bersama.

--Malioboro, Desember 2021

Aku duduk di tempat yang sama seperti beberapa tahun lalu. Tak banyak yang berbeda, angkringan, nyanyian para musisi, lampu-lampu, suasana, segalanya masih sama, hanya saja sedikit lebih ramai. Bisakah aku melepaskannya di tempat yang menjadi awal semuanya dimulai? Melupakan semua tentangnya, tentang janjinya untuk kembali. Aku menghela napas panjang, memperhatikan sekitar dan tenggelam dalam perasaanku.

Langit, aku merindukanmu. Aku ingin bertemu dengan Langit-ku.

Ngit, Malioboro sedang ramai seperti hari itu. Di tempatmu, pasti tak ada nyanyian menenangkan seperti ini, kan? Di sana, pasti hanya ada tumpukan pekerjaan yang membuatmu tak mempunyai waktu untukku.

Ngit, tak bisakah kamu tiba-tiba duduk di sampingku, lagi? Ayo kita bercerita tentang banyak hal. Aku akan bercerita terlebih dahulu.

Ada satu cerita yang sangat penting mengenai perasaanku saat ini. Aku ingin berhenti menunggumu, aku lelah.

Tak bisakah kamu menemuiku saat ini? Tak bisakah kamu berhenti sejenak mengejar mimpimu dan menemuiku atau bahkan hanya mengabariku?

Langit, aku masih mencintaimu, sangat.

Sudah empat jam aku berada disini, mengenang semua hal tentang seseorang yang ingin kulepaskan. Malam semakin larut, namun semakin banyak orang yang datang. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel. Saat sedang menunggu taksi, seseorang memegang pergelangan tangan kananku. Aku terkejut dan melihat ke kanan. Seorang anak perempuan memegang pergelangan tanganku.

"Kak, kakak lihat mamaku gak?" Ucap anak itu.

"Emangnya tadi kamu kemana sampai kepisah sama orang tua kamu?" Ucapku sambil menyejajarkan tinggiku dengannya.

"Tadi aku ngejar-ngejar gelembung. Terus waktu gelembungnya hilang aku udah disini. Tapi aku gak ngeliat mama aku," jelasnya dengan suara menahan tangis. 

"Yaudah kakak bantu cari mama kamu, ya. Jangan nangis pasti ketemu kok."

Saat aku dan anak perempuan ini mencari mamanya. Aku teringat akan Dimas--seorang anak lelaki yang juga terpisah dari orang tuanya dan meminta tolong pada Langit. 

Ngit, saat itu aku membantumu dari tuduhan sebagai penculik. Jika saat ini aku juga di tuduh sebagai penculik, siapa yang akan membelaku?

Pikiran anehmu sepertinya tertular padaku, Ngit.

"Mama!!" Ucap anak itu.

Aku melihat ke arah yang di tuju anak itu. Akhirnya mereka bertemu. Sang ibu memeluk anaknya sambil melontarkan puluhan pertanyaan 'kamu dari mana?', 'tau gak mama khawatir sama kamu?', 'kalau kamu hilang gimana?', dan pertanyaan lainnya. Ibu itu melihat ke arahku.

Langit, bela aku.

"Makasih ya mbak, udah bantuin anak saya. Kalau gak ada mbak, saya gak tahu gimana nasib anak saya," ibu itu berterima kasih padaku sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya. Beberapa saat setelah itu aku kembali menunggu taksi.

Ngit, sepertinya saat ini semesta sedang berpihak padaku, aku tak disangka penculik.

Lima menit berlalu dan taksi belum juga terlihat. Aku memasang earphone-ku, memutarkan musik. Dan meletakkan ponselku ke tas kecil yang ku bawa. Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku. Sepertinya hari ini banyak anak yang hilang. Aku melihat ke arah kiriku. Dan segalanya berhenti. Dia bukan anak hilang, tetapi, seseorang yang kembali. Seseorang yang berhenti sejenak menggapai mimpinya untuk bertemu denganku.

Langit.

Dia kembali.

"Halo. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Maaf sudah membiarkanmu menangis sendirian. Maaf sudah membiarkanmu membantu anak kecil itu sendirian," ucapnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum sangat lama, air mataku tiba-tiba turun tanpa kusadari. "Ngit..."

Dia memelukku, sangat erat. Begitu juga denganku. Memeluknya, dengan sangat erat.

"Aku kembali. Dan tak akan pergi lagi. Aku sudah berhasil menggapai mimpiku. Dan sekarang aku ingin hidup bersama dengan orang sangat kucintai. Dengan orang yang telah sabar menungguku. Shilla, ayo kita kembali rumah."

Malioboro, aku menemukannya lagi.

Di sini, di tempatmu.

--Rumah Kita

Aku sedang mencari rumah lalu kutemukan dia.

Aku bertanya padanya, 'Apa bisa kau kujadikan rumah? '

Dia bilang, 'Tidak.'

'Kenapa? ' Tanyaku.

'Jika kau menjadikanku rumah dan aku menjadikanmu rumah, kita tak akan pernah bersama. Kita hanya akan saling berpapasan lalu pergi ke rumah masing-masing. Aku tak bisa menjadikan diriku sendiri sebagai rumah untukku, kau juga tak bisa menjadikan dirimu sendiri sebagai rumah untukmu. Jadi, bukankah lebih baik jika kita membuat rumah baru yang bisa kita tinggali bersama? ' Jawabnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Nama tokohnya sama seperti nama keponakan saya Dimas @Elysiaaan
@mahmud96 : Terima kasih kembali :)
Seru dan menyenangkan, terima kasih kak.
@romelliahastawan : Terima kasih sudah membaca :)
Makasih sdh menuliskan kisah ini ya kaa
@sunarsir : Terima kasih :)
Keren Kak
Rekomendasi