Tahun 1990. Bau tanah basah sehabis hujan pagi di Bukit Rendingan, Kabupaten Pesawaran, selalu berhasil menusuk indra penciuman siapa pun yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana. Bagi Chafia, aroma itu bukanlah sesuatu yang menenangkan. Justru, bau itu adalah penanda bahwa ia sedang diasingkan.
Di usia dua puluh tahun, ketika kebanyakan gadis seusianya di kota besar sedang menikmati semaraknya pusat perbelanjaan, deru mobil sedan, dan lampu neon diskotik yang berpendar warna-warni, Chafia justru mendapati dirinya terlempar ke sebuah dimensi waktu yang seolah berhenti bergerak. Tidak ada suara klakson kendaraan. Tidak ada dering telepon rumah yang berdenting nyaring. Yang ada hanyalah suara gemerisik daun karet, lolongan anjing kejauhan, dan suara aliran air Sungai Way Rendingan yang bergemericik konstan, menghantam batu-batu kali sebesar kepala kerbau.
Semua ini adalah keputusan ayahnya. Sebuah hukuman tak kasat mata akibat nilai ujian semester Chafia yang merosot tajam, dipadu dengan kenakalannya yang dianggap sudah melewati batas ambang toleransi keluarga priyayi kota.
"Kau butuh penyucian pikiran, Chafia," ucap ayahnya dingin dua hari lalu sebelum memasukkannya ke dalam bus antarkota. "Pergilah ke rumah Bibi Marni di Pesawaran. Di sana tidak ada mal, tidak ada teman-teman sosialitamu, dan yang paling penting, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan."
Maka, di sinilah Chafia sekarang. Di teras rumah panggung ...