Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Blurb
"Terkadang, kita terlalu sibuk menatap pintu yang tertutup, hingga lupa mensyukuri cahaya kecil yang telah kita nyalakan untuk orang lain."
Usia telah menginjak kepala tiga, namun bagi Yusuf, pintu rezeki dan karier seolah tertutup rapat. Cemoohan tetangga dan tekanan hidup perlahan meracuni hatinya, membuat iman yang dulunya kokoh mulai goyah. Puncaknya, ia kecewa pada takdir dan memilih berhenti melangkah ke masjid.
Di tengah keputusasaannya, hadir Pak Karim—seorang kakek renta yang mengingatkan Yusuf pada tugas sederhananya setiap maghrib: menyalakan lentera agar langkah para jamaah lansia tidak tersandung dalam gelap. Dari tugas sepele itulah, Yusuf tersadar bahwa rezeki bukan sekadar materi, melainkan doa-doa tulus dan kedamaian hati yang tak ternilai harganya.
Sebuah kisah spiritual yang mengharukan tentang arti sabar, keikhlasan, dan cara pandang baru dalam merajut husnuzhan kepada Sang Pencipta.
Usia telah menginjak kepala tiga, namun bagi Yusuf, pintu rezeki dan karier seolah tertutup rapat. Cemoohan tetangga dan tekanan hidup perlahan meracuni hatinya, membuat iman yang dulunya kokoh mulai goyah. Puncaknya, ia kecewa pada takdir dan memilih berhenti melangkah ke masjid.
Di tengah keputusasaannya, hadir Pak Karim—seorang kakek renta yang mengingatkan Yusuf pada tugas sederhananya setiap maghrib: menyalakan lentera agar langkah para jamaah lansia tidak tersandung dalam gelap. Dari tugas sepele itulah, Yusuf tersadar bahwa rezeki bukan sekadar materi, melainkan doa-doa tulus dan kedamaian hati yang tak ternilai harganya.
Sebuah kisah spiritual yang mengharukan tentang arti sabar, keikhlasan, dan cara pandang baru dalam merajut husnuzhan kepada Sang Pencipta.
Tokoh Utama
Yusuf
Abdul Karim
#1
Embun Subuh di Desa Sukamaju
#2
Langkah Pertama Menuju Masjid
#3
Profil Yusuf: Pemuda Alim yang Menyimpan Sunyi
#4
Ritual Menyalakan Lentera Masjid
#5
Lamaran Kerja Kesekian yang Kandas
#6
Di Balik Senyum Ramah yang Dipaksakan
#7
Perbandingan yang Menyakitkan
#8
Warung Kopi: Tempat Gosip dan Cemoohan Bermula
#9
Bisikan-Bisikan Tetangga yang Menusuk Hati
#10
Pertanyaan tentang Keberuntungan dan Takdir
#11
Ketika Shalat Mulai Terasa Hambar
#12
Doa yang Berubah Menjadi Protes
#13
Malam Panjang di Sepertiga Malam
#14
Air Mata di Atas Sajadah yang Basah
#15
Keputusan Pertama untuk Berhenti Melangkah
#16
Pintu Rumah yang Tertutup Rapat
#17
Hari Pertama Tanpa Langkah ke Masjid
#18
Keheranan Warga Desa atas Ketidakhadiran Yusuf
#19
Ibu Yusuf yang Cemas dan Penuh Doa
#20
Kamar Sempit yang Menjadi Saksi Kekecewaan
#21
Pertarungan Batin Melawan Bisikan Negatif
#22
Mengapa Harus Aku, Ya Allah?
#23
Menghindari Pertemuan dengan Tetangga
#24
Kenangan Masa Lalu
#25
Rasa Iri yang Mulai Meracuni Pikiran
#26
Pandangan Sinis pada Kitab Suci
#27
Menguji Kesabaran
#28
Malam Badai
#29
Ketika Gelap Menguasai Hati Yusuf
#30
Penolakan Keras terhadap Nasihat Ibu
#31
Titik Nadir Keimanan Seorang Hamba
#32
Hujan Deras dan Ketukan Pintu
#33
Sosok Pak Abdul Karim
#34
Penerimaan Tamu dengan Sikap Dingin
#35
Senyuman Teduh yang Meluluhkan Kekasaran
#36
Titik Nadir Keimanan Seorang Hamba
#37
Alasan di Balik Absennya Yusuf di Masjid
#38
Urusan Apa yang Lebih Penting dari Rumah Allah?
#39
Pelajaran tentang Makna Tugas yang Sepele
#40
Bayangan Langkah-Langkah Tua
#41
Pengakuan Pak Karim tentang Doa Para Jamaah Lansia
#42
Rezeki yang Tak Terlihat
#43
Kalimat yang Menohok Ulu Hati Yusuf
#44
Keruntuhan Ego dan Pertahanan Diri Yusuf
#45
Kesadaran Bahwa Dirinya Selama Ini Buta
#46
Pintu Hati yang Mulai Terbuka Perlahan
#47
Permintaan Maaf dalam Diam
#48
Persiapan Melangkah Kembali ke Masjid
#49
Cahaya Pertama yang Dinyalakan dengan Kesadaran Baru
#50
Sujud Syukur dan Penyesalan yang Membebaskan
#51
Pagi Baru dengan Semangat yang Berbeda
#52
Memulai Kembali Pekerjaan Serabutan dengan Senyuman
#53
Keringat yang Menetes Menjadi Pahala
#54
Mengabaikan Bisikan Tetangga dengan Hati Lapang
#55
Hubungan yang Kembali Hangat dengan Sang Ibu
#56
Memaknai Ujian Bukan sebagai Kebencian Tuhan
#57
Shalat yang Kembali Khusyuk dan Penuh Nikmat
#58
Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
#59
Perbincangan Hangat dengan Pak Karim di Serambi Masjid
#60
Menjadi Tempat Bersandar
#61
Keikhlasan dalam Memberi
#62
Menghapus Standar Duniawi
#63
Doa-Doa Yusuf
#64
Menjaga Hati dari Godaan
#65
Ketenangan Jiwa yang Tidak Bisa Dibeli
#66
Tahun Keempat Puluh
#67
Perubahan Pandangan Warga Desa
#68
Mengajarkan Arti Keikhlasan
#69
Warisan Semangat dari Pak Abdul Karimim
#70
Yusuf dan Lentera Masjid
#71
Ujian Materi yang Masih Ada
#72
Kenangan pada Malam Kelam
#73
Bahagia Itu Sederhana
#74
Pesan Terakhir Pak Karim
#75
Warisan Cahaya untuk Generasi Desa
#76
Sudut Hati yang Kini Diterangi
#77
Epilog: Damai dalam Dekapan
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
1.5k
Tentang Penulis
Amrullah Ibrahim
Seorang yang suka berpikir imajiner dan suka membaca cerita fiksis
Bergabung sejak 2026-07-30
Telah diikuti oleh 37 pengguna
Sudah memublikasikan 118 karya
Menulis lebih dari 8,014,806 kata pada novel
Rekomendasi dari
Rekomendasi
Novel
Bronze
Lentera di Sudut Hati
Amrullah Ibrahim
Novel
6 PEMBUKA MASALAH
Amrullah Ibrahim
Novel
Dua Sujud Satu Muara
Amrullah Ibrahim
Novel
Tahukah Anda...?
Amrullah Ibrahim
Novel
Celap Celup
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Arkan Ar Rimbai
Amrullah Ibrahim
Flash
Kayu Mati yang Mengintai di Sungai Sekampung
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Rindu di Bukit Rendingan
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
CINTA YANG MENJADI TANGGUNG JAWAB
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Segitiga Hati di Simpang Takdir
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Bisik Senja di Ruang Kerja
Amrullah Ibrahim
Flash
Tanduk Misterius di Bawah Rumah Wak Dijah
Amrullah Ibrahim
Novel
Denyut Nadi di Rumah Kita
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Rindu di Bukit Rendingan
Amrullah Ibrahim