Iphone & Klepon

Ini tahun kedua Kirana menjalani masa SMA. Terpisah dari teman kelasnya saat masih di kelas X. Karena ia memilih jurusan Ilmu Sosial di kelas XII. Tapi entahlah, Kirana sekarang seperti tidak punya teman di kelas. Teman-temannya masing-masing punya geng. Kirana seorang diri tidak ikut grup. Memang tidak diajak oleh teman-temannya. Kirana merasa sendiri dan dikucilkan.

"Kenapa wajahmu kusut begitu?" celetuk Ayahnya ketika memberi pakan rumput pada sapi-sapinya. Rupanya sedari tadi memperhatikan wajah anak perempuannya yang kurang bersemangat mengambil rumput di keranjang lalu dimasukan ke dalam tempat pakan sapi. Sudah menjadi kewajiban Kirana membantu Ayahnya menyabit rumput untuk pakan sapi. Selain sebagai petani Ayah dan Ibunya menyambi beternak sapi.

Kirana agak terkesiap dan tiba-tiba nyengir kuda ke arah Ayahnya.

"Yah, Ayah punya uang nggak?" Kirana manja pada Ayahnya tapi tangannya masih lihai mengambil rumput dari dalam keranjang.

"Hmm, kamu minta uang lagi?" guman Ayahnya.

"Buat apa?" sambung Ayahnya.

"Buat beli aipon, Yah. Kalo bisa aipon 12..." jelas Kirana.

"Apa? Klepon! Dimana kamu mau beli selusin klepon?" senewen Ayahnya dengan alis menaut.

"Ih, Ayah! Bukan klepon tapi aipon, tulisannya I-P-H-O-N-E...!" jelas Kirana detail.

"Benda apa itu?" Ayahnya masih belum paham barang apa yang dimaksud anak perempuannya.

"Itu lo,Yah. Hap'e canggih, layar sentuh, kita makenya tinggal dicolek-colek aja..." ungkap Kirana agak sumringah.

"Klepon kan bisa disentuh dan dicolek juga..." seloroh Ayahnya.

"Ih, Ayah! Jangan becanda melulu deh, aipon bukan klepon, berapa kali sih Kirana harus jelasin..." Kirana agak kesal.

" Hmm, lagian Ayah emang nggak ngerti, aipon barang apaan?" ungkap Ayahnya lebih serius.

"Itu loh , Yah. Hap'e yang logonya sebuah apel bekas gigitan, entah habis digigit kampret atau apa-apa lah..." deskripsi Kirana lembut pada Ayahnya.

"Emang harganya berapa?" selidik Ayahnya.

"Kalo aipon 12 itu yang paling murah itu harganya 13?"

"13 ribu?"

"13 juta, Yah..."

Mendengar perkataan anak perempuannya itu. Suara petir seakan menggelegar dan menyambar dirinya.

"Apa? Udah gak waras kamu ya, mau beli hap'e seharga sebuah sepeda motor, emang kamu pikir Ayah punya uang sebanyak itu, kalo pun punya uang sebanyak itu gak bakalan beli hap'e semahal itu, mending pake bekal bertahan hidup, ato sekali-kali buat beli klepon pastinya maknyos, ah mantap..."

"Aah, Ayah, tapi Kirana mau beli aipon, temen-temen Kirana udah pada punya, cuma Kirana aja yang gak punya, punya hap'e juga tergolong jadul buatan C_..."

"Hadeh kamu ni, beli barang itu jika kita mampu bukan apa yang kita mau..." sergah Ayahnya.

"Iih, Ayah. Kirana bisa jadi korban perisakan kalo nggak punya aipon..." rengeknya.

"Ih, ngeri sekali, gara-gara nggak punya aipon mau dikucilkan. Udah kamu lawan aja, jangan malu dibilang miskin tapi malu bila pura-pura kaya..."

"Aduuh, nggak bisa Yah, tetep aja nanti Kirana nggak punya temen..."

"Lebih baik nggak punya temen ato gak punya keluarga?"

"Mma maksud Ayah?"

"Apa mau kamu Ayah PHK?

"PHK?

"Pemutusan hubungan keluarga alias kamu dipecat jadi anak Ayah, Ayah coret kamu di kartu keluarga kalo masih minta aipon 12"

"Ya udah deh Yah, beli aipon yang harganya lebih murah yang penting merek aipon..."

"Ni anak masih keras kepala juga. Ok, ok"

"Horeee...saranghae Ayah"

3 disukai 886 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction