Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
30
Alasan Masih Berdiri
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

‎Hari itu cafe Andrew ramai. Tapi Andrew tidak terima dengan vibes keramaiannya. Sebab yang datang, banyak dari masa lalunya.

‎Mereka semua meremehkan Andrew. Sebab dulu ia penakut dan seorang pecundang. Bahkan pendapatan Andrew yang sudah tiga digit perbulan, tetap membuat mereka buta.

‎Mereka tetap melihat pria dengan satu putri tersebut, masih sama dengan pemuda lemah yang mereka kenal dulu.

‎Pandangan mereka tidak pernah berubah, padahal jika mau diadu bela diri, Andrew sekarang bahkan seorang pejudo yang cakap.

‎Tapi memang mereka tahu, mental berbicara. Mereka pernah dengar dari Azizi, istri Andrew. Jika mantan teman sekelas mereka tersebut ahli bela diri. Mereka percaya, tapi mereka tahu betul mental berbicara lebih banyak.

‎Saat ini Andrew sedang membersihkan gelas, gelas yang sebelumnya mereka pakai. Dan dengan sengaja membuang abu serta puntung rokok ke gelas. Tujuannya supaya Andrew makin repot membersihkan.

‎Salah satu dari mereka memperhatikan Andrew, bergantian memperhatikan. Lalu mereka tertawa, tetapi penyebab tertawa nya disamarkan. Mereka begitu bukan tanpa tujuan.

‎Mereka paham sebetulnya yang dianggap remeh tahu sedang ditertawakan. Tawa mereka sengaja disamarkan pada Andrew bukan karena takut, tapi lebih ke mempermainkan psikologis pria 32 tahun tersebut.

‎Penyebabnya mereka mengerti ahli judo baru unggul satu lawan satu, dua pun sudah kerepotan. Sedang jumlah mereka cukup untuk memenuhi empat meja kafe. Mereka bukan anak kecil atau orang dungu, yang bisa dibodohi dengan tayangan bertema bela diri di televisi.

‎Azizi yang sedang menyapu cafe tahu betul suaminya sedang dipermainkan. Ia berdehem beberapa kali. Meski tahu itu percuma, sebab pelindungnya pun dipermainkan, apalagi dirinya. Nol kemungkinan mereka takut.

‎Waktu sudah larut. Hampir jam empat pagi. Azizi mempertanyakan waktu istirahat mereka yang layaknya burung hantu. Pun Andrew. Padahal mereka semua punya pekerjaan di pagi hari. Berbeda dengan Andrew serta Azizi yang pekerja malam.

‎Bahkan itu sampai menjadi salah satu pemicu skizofrenia Azizi, dimana ia mengira mereka adalah antek Anti Kristus. Azizi harus ditenangkan Andrew karena terus mengamuk saat di rumah. Itu terjadi beberapa kali.

‎Andrew pun sudah beberapa kali curhat pada psikiater mewakili sang istri. Azizi sendiri sudah satu tahun ini tidak berani keluar rumah kecuali ke cafe, akibat mengira semua orang akan berlaku sama. Layaknya teman lama Andrew yang sering berombongan ke kafenya.

‎Andrew juga mulai terganggu kejiwaannya. Salah satu bebannya ialah, pemasukan semakin sedikit, karena orang yang mau mampir ke kafe tidak jadi, sebab bangku sudah diduduki.

‎Andrew melamun menatap layar. Melihat saldo banknya yang makin hari makin berkurang. Cila, sang putri, yang harus ikut diajak ke psikiater, karena pemasukkan yang semakin sedikit, menggoyang tubuh Andrew.

‎Andrew tersadar, tersenyum dan mengelus rambut putrinya itu. Berusaha menutupi betapa depresinya ia. Cila sudah kehilangan ibunya secara mental, ia tak mau Cila kehilangan kembali. Yaitu kehilangan dirinya.

‎Ia pun berjanji pada dirinya sendiri, untuk merawat Azizi dan Cila, meski para brengsek terus berulah hampir setiap hari di cafe. Andrew harus kuat sampai modal terkumpul cukup, untuk pulang ke tempat kelahiran, dan membuat usaha baru disana.

‎Meski Andrew tahu itu akan lama, Andrew mau tak mau harus pasrah pada skenario ilahi, yang kini harus ia jalani. Andrew seringnya hampir rubuh. Azizi serta Cila lah, yang terus membuat Andrew tetap berdiri.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi