Disukai
1
Dilihat
147
Kossan Angker vs Tekanan Finansial
Komedi

Andi adalah potret nyata dari anomali ekonomi modern. Pekerjaannya sebagai Desainer Grafis di sebuah perusahaan advertising terdengar elit, tapi gajinya lebih mirip uang jajan anak TK di kawasan elit Jakarta Selatan. Untuk bertahan hidup, Andi hidup sangat ngirit.

Suatu hari, semesta memberinya cobaan. Ibu kosnya menaikkan harga sewa 2x lipat dengan alasan: "Oksigen di Jakarta makin tipis, Mas. Jadi fasilitas oksigen di kos ini mahal." Alasan macam apa itu? Tapi Andi tidak bisa mendebat kapitalisme.

Dengan modal nekat, Andi mencari kos baru. Ia menemukan sebuah iklan: "DISEWAKAN: Rumah Kos Murah. 5 Kamar. Fasilitas Lengkap. Kipas Angin, Kulkas, Dapur. Cuma Rp 250.000/bulan." Lokasinya strategis. Dekat kantor, dekat kuburan, dan dekat rumah sakit jiwa. Paket lengkap.

Andi menemui pemiliknya, Pak Slamet, pria paruh baya yang wajahnya selalu pucat. "Mas yakin mau ngekos di sini?" tanya Pak Slamet ragu. "Ini rumah terkenal angker. Rata-rata penghuni cuma betah 2 hari. Paling lama seminggu, itu pun keluar dalam keadaan gila."

"Kenapa Pak? Hantunya suka nagih utang?" tanya Andi polos. "Bukan Mas. Dulu pemiliknya dibunuh di sini. Arwahnya gentayangan. Hantunya ganas. Mas yakin?"

Andi menghitung cepat di otaknya. Harga kos normal: Rp 800.000. Harga kos angker: Rp 250.000. Selisih: Rp 550.000. Itu cukup buat beli mi instan sebulan penuh plus telur. "Yakin Pak! Hantu nggak butuh duit kan? Kalau dia nggak minta duit, saya aman," jawab Andi mantap.

Sore itu juga Andi pindahan. Rumahnya tua, lembap, dan bau kemenyan campur bau got. Tapi Andi melihatnya sebagai istana. "Wah, ada TV tabung 14 inch! Kulkas satu pintu! Kompor gas! Airnya ngalir deres tanpa dipancing! Surga dunia!"

Malam pertama, teror dimulai. Pintu terbanting sendiri. BLAM! Suara tawa cekikikan di pojok ruangan. Hihihihi... Bayangan hitam lewat secepat kilat. Wuuush... Reaksi Andi? Cuek bebek. Dia sibuk menata kardus mi instan sesuai urutan rasa: Kari Ayam di depan, Soto Mie di tengah, Rendang (harta karun) di belakang. Baginya, suara tawa hantu tak lebih seram daripada suara notifikasi tagihan Paylater.

Malam kedua. Andi pulang kerja jam 11 malam. Wajahnya kusut, matanya merah, aura di sekitarnya lebih gelap dari aura kuburan. Penyebabnya: Klien "Neraka". Minta desain logo perusahaan, referensinya logo Apple tapi digabung sama logo Pertamina, warnanya harus "hijau yang tidak terlalu hijau tapi juga bukan kuning", dan bayarannya "Terima Kasih". Revisi sudah 15 kali, ujung-ujungnya balik ke Desain pertama.

Andi memarkir motor bututnya dengan kasar. Menendang gerbang. Di ruang tamu yang remang-remang, sudah menunggu Hantu Tanpa Kepala. Hantu ini bergaya klasik: badan berdiri tegak pakai jas lusuh, tangan kanannya menenteng kepala sendiri kayak nenteng tas belanjaan.

Andi masuk, membanting pintu. Hantu itu ingin pamer kekuatan. Dia menggelindingkan kepalanya ke arah Andi. GLUDUG... GLUDUG... GLUDUG... Kepala pucat dengan mata melotot dan lidah menjulur itu menggelinding pelan, berhenti tepat di kaki Andi. "Hwaaa... takutlah padaku..." bisik kepala itu.

Andi menatap kepala itu. Lalu menatap layar HP-nya yang menampilkan chat klien: "Mas, logonya bisa dibikin lebih 'pop' nggak?" Emosi Andi meledak. "CLIENT BANGSAAT!!!" teriak Andi.

Dengan sekuat tenaga sisa-sisa frustrasi, Andi melakukan tendangan. DUAAAKKK!!! Kaki Andi menghantam kepala hantu itu dengan presisi sempurna ala Cristiano Ronaldo. Kepala itu melesat ke udara. TUIIIINGGG.... Memantul di tembok, kena plafon, lalu PLUNG! Masuk dengan mulus ke lubang kloset jongkok di kamar mandi yang pintunya terbuka.

Tubuh Hantu Tanpa Kepala itu panik. Tangannya meraba-raba udara, kakinya lari terbirit-birit ke kamar mandi, mencoba menyelamatkan kepalanya. Hantu itu menghilang dalam kepanikan. Andi? Langsung mandi, makan, tidur pulas sambil memaki dalam mimpi.

Pagi harinya. Andi bangun dengan mata sembab. Masuk kamar mandi. Dia melihat ke cermin wastafel. Cermin itu penuh dengan lumpur dan darah segar yang menetes-netes. Tulisan di cermin berbunyi: "MATI KAU..."

Andi menatap cermin itu dengan horor. Matanya terbelalak. Mulutnya menganga. "TIDAAAAKKKK!!!" teriak Andi histeris. Bukan karena darah. Tapi karena saat dia melihat pasta gigi (odol), isinya benar-benar kosong. Dia mengambil pasta gigi itu, dipelintir, digulung, digigit, diinjak... Nihil. Odolnya habis total. Dia lupa beli.

Andi menangis sesenggukan di depan wastafel berdarah itu. "Odol abis... duit tinggal goceng... gajian masih seminggu lagi... Kenapa hidupku seberat ini Tuhan..." Cermin yang tadinya penuh darah perlahan bersih sendiri. Terdengar suara isak tangis hantu dari balik tembok. Si hantu merasa gagal total. Dia sudah capek-capek menakut-nakuti, eh si manusia malah nangisin odol.

Sore harinya. Andi pulang membawa belanjaan bulanan hasil ngutang di warung. Beras, telur, mi instan, dan odol. Dia masak mi instan. Air mendidih. Dia iseng buka kulkas. Di rak telur, ada dua bola mata yang bergerak-gerak menatapnya. Urat-urat merahnya terlihat jelas. Pupilnya membesar-mengecil seperti lensa kamera DSLR.

"Benda apa ini?" gumam Andi. "Haii... tolong kembalikan aku ke kepalaku..." bisik bola mata itu lirih.

Otak Andi yang sudah konslet karena kelaparan berpikir pragmatis. "Wah, bentuknya bulet, kenyal. Lumayan buat topping."

Tanpa ragu, Andi menyomot dua bola mata itu dengan tangan. CEMPLUNG! Dimasukkan ke dalam panci air mendidih bersama mi instan. "AAAAAKKKHHH!!! PANASSS!!! MANUSIA GOBLOK!!!" teriak suara gaib dari dalam panci. Air bergolak. Asap mengepul. Saat Andi mau mengaduk, bola mata itu sudah hilang. Menguap.

"Lho kok hilang?!," keluh Andi kecewa. Dia makan mi itu dengan lahap. Hantu Bola Mata di pojokan dapur menangis karena matanya sekarang rabun kena bumbu soto koya.

 

Malam itu Andi tidur pulas. Datanglah Tuyul. Kecil, botak, cuma pakai celana dalam putih (merek Rider tapi KW). Tuyul ini spesialis pencuri uang. Dia mengendap-endap naik ke kasur, pelan-pelan mengambil dompet Andi di atas meja.

Tuyul membuka dompet itu dengan semangat. "Asyik... dompet tebel nih..." Isinya dikeluarkan satu per satu:

  1. Struk Belanja Minimarket (Kucel, tulisan pudar).
  2. Surat Tilang (Belum dibayar).
  3. KTP (Fotonya burem).
  4. Kartu BPJS (Kelas 3).
  5. Uang Kertas Seribuan (Lecek, bau terasi, ada selotipnya).
  6. Tagihan Cicilan Motor (Ada tulisan tangan Debt Collector: "BAYAR WOY!").

Si Tuyul terdiam. Tangannya gemetar memegang uang seribu rupiah yang menyedihkan itu. Dia menatap wajah Andi yang tidur pulas dengan mulut mangap. "Astagfirullah..." bisik Tuyul. "Ini manusia atau gelandangan berkedok karyawan? Semiskin ini..."

Air mata Tuyul menetes. Dia merasa berdosa mau nyolong uang seribu itu. "Kasihan banget... Udah miskin, tidurnya nyenyak lagi. Beban hidupnya pasti berat banget..." Tuyul itu malah menaruh uang sepuluh ribu (uang curian dari tetangga sebelah) ke dalam dompet Andi. Sedekah. Lalu dia pergi sambil sesenggukan. "Ya Allah, lindungi orang miskin ini..."

Besok malamnya. Andi lagi santai nonton YouTube (numpang wifi tetangga yang bocor). Tiba-tiba lampu kamar Mati-Nyala-Mati-Nyala. Klik. Klak. Klik. Klak. Terdengar tawa perempuan. Hihihihi...

Andi yang lagi nonton tutorial "Cara Kaya Mendadak Tanpa Pesugihan" jadi emosi. Dia keluar kamar. Di pojok ruang tamu, berdiri Kuntilanak. Rambut acak-acakan, gaun putih kotor, sedang asyik mainan saklar MCB. Ctek (mati). Ctek (nyala). Ctek (mati).

Emosi Andi memuncak. Itu bukan soal takut gelap. Itu soal umur lampu bohlam. "HEH!!!" bentak Andi. Kuntilanak itu kaget. Dia menoleh pelan dengan wajah hancur. Bukannya lari, Andi malah maju dengan langkah lebar dan berat seperti raksasa marah. Dia menjambak rambut Kuntilanak itu. PLAK! PLAK! Ditampar bolak-balik.

"GOBLOK!!! JANGAN MAINAN SAKLAR!!!" "Ampun Bang..." cicit Kuntilanak kaget. "Itu ngerusak Lampu, TV, kulkas kossan bisa rusak, LU MAU GANTI?! HAH?! Lu punya duit?!"

"Maaf Bang... iseng doang..." "ISENG NDASMU!!" Kuntilanak itu menangis dan menghilang menjadi asap. Dia trauma. Selama 200 tahun jadi hantu, baru kali ini dia ditampar karena alasan takut disuruh ganti rugi alat elektronik rusak.

Malam itu, para hantu di rumah kos mengadakan rapat darurat di atap. Ada Hantu Tanpa Kepala (pake helm biar aman), Hantu Bola Mata (pake kacamata item), Kuntilanak (pipi bengkak), dan Tuyul (masih sedih). Mereka menghadap Boss Besar: Setan Kepala Kambing. Tubuhnya manusia kekar setinggi 2 meter, berkepala kambing hitam dengan tanduk melengkung tajam, mata merah menyala, membawa aura neraka.

"Kalian semua MEMALUKAN!" geram Setan Kepala Kambing. Suaranya seperti parutan kelapa. "Sama satu manusia miskin aja kalah! Besok, biar aku yang turun tangan. Aku akan bikin dia gila!"

Besok malamnya. Andi pulang lembur. Wajahnya pucat, matanya kosong, jalannya sempoyongan seperti zombie. Hari ini adalah hari terburuk.

  1. Di kantor dimaki atasan.
  2. Ban motor bocor.
  3. Dan yang paling fatal: Gebetan Nikah. Undangan datang. Kondisi patah hati dia harus ngamplopin minimal 100 ribu. Padahal sisa uang di dompet cuma 50 ribu.

Andi membuka pintu kamar. BLAM! Lantai kamarnya sudah digambar Pentagram (Bintang Segi Enam) dengan darah. Lilin hitam menyala di tiap sudut. Di tengahnya berdiri Setan Kepala Kambing. Matanya menyala merah. Asap belerang keluar dari hidungnya. Dia merentangkan tangan, kuku-kukunya tajam setajam silet.

"MANUSIA..." suaranya menggema, membuat kaca jendela bergetar. "BERANI-BERANINYA KAU MENGOTORI WILAYAH KAMI. PERGILAH KAU DARI SINI, ATAU JIWAMU AKAN KUMAKAN!"

Andi diam. Matanya menatap Setan itu. Tatapan kosong. Tatapan orang yang jiwanya sudah mati penuh tekanan. Andi mundur perlahan ke dapur. Setan Kambing tersenyum licik. "Hahaha, dia takut. Akhirnya... memang anak buahku lemah"

Tiba-tiba Andi muncul lagi. Di tangan kanannya tergenggam Golok Daging yang tumpul dan berkarat. Wajah Andi berubah. Dari sedih menjadi BERINGAS. Urat-urat di lehernya keluar. Matanya melotot lebih lebar dari mata setan.

"HEH KAMBING!!!" teriak Andi. Setan itu kaget. "Hah?" "LU NYURUH GUE PERGI?! HAH?!" Andi maju menerjang. "GUE UDAH BAYAR KOS INI DIMUKA 250 RIBU! DUIT GUE UDAH ABIS! DI LUAR SANA KOS-KOSAN MAHAL! LU MAU GANTIIN DUIT GUE?!"

Setan Kambing mundur selangkah. Aura Andi jauh lebih mengerikan. Aura kemiskinan yang bercampur frustrasi asmara dan finansial. "Eh... tunggu..." kata Setan.

"GUE CAPEK!!! PULANG KERJA MAU TIDUR MALAH LIAT KAMBING DI KAMAR! GEBETAN GUE NIKAH SAMA ORANG LAIN! GUE HARUS NGAMPLOPIN PADAHAL GUE MAKAN AJA SUSAH! TERUS SEKARANG LU NGUSIR GUE?!" Andi mengayunkan goloknya membabi buta. SWING! SWING!

"SINI LU, KAMAR GUE JADI BERANTAKAN LU GAMBAR-GAMBAR GINI" Setan Kepala Kambing panik. Dia melompat ke atas lemari. "Woy santai bro! Santai!"

 "TURUN LU! SINI GUE JADIIN SATE KLATHAK!"

Terjadilah adegan kejar-kejaran yang epik dan cinematic. Andi melompat ke atas meja, menebas udara. Setan Kambing salto ke belakang, menghindari tebasan golok. Mereka berlari mengelilingi ruang tamu. Slow motion on. Andi melayang di udara sambil berteriak, air matanya muncrat ke mana-mana: "SINI LU BERESIN KAMAR GUE!!!" Setan Kambing berlari merangkak di dinding kayak cicak, matanya terbelalak ketakutan: "MAMAAAAA!!! ADA ORANG GILA!!!"

Hantu-hantu kroco (Pocong, Kunti) menonton dari balik jendela sambil makan popcorn (curian). "Gila, Boss kita diuber-uber," bisik Pocong.

Setan Kambing terpojok di sudut dapur. Andi sudah siap menebas. Napasnya memburu. "Ampun Bang! Ampun! Saya cuma bercanda!" Setan Kambing memohon, tangannya menutupi wajah. "PERGI GAK LU DARI SINI?!" bentak Andi. "Iya Bang! Saya pindah! Saya pindah sekarang!"

Setan Kambing mencoba lari lewat pintu, tapi pintu terkunci. Dia panik gedor-gedor pintu. Hantu Tanpa Kepala nongol dari tembok. "Boss! Boss kan setan! Bisa nembus tembok! Ngapain lewat pintu?!" Setan Kambing tepuk jidat. "Oh iya! Lupa saking paniknya!"

POOF! Setan Kepala Kambing menghilang menembus tembok, diikuti oleh hantu-hantu lainnya yang kabur terbirit-birit membawa barang-barang mereka (kain kafan cadangan, sisir kunti, botol darah).

Andi berdiri sendirian di tengah ruangan yang berantakan. Napasnya terengah-engah. Goloknya jatuh ke lantai. Klang. Dia melihat sekeliling. Sepi. "Setan kok nyusahin... gak tau aku lagi frustasi?!"

Andi memungut golok, membersihkan pentagram di lantai pakai kain pel, lalu mandi air dingin. Dan langsung tidur untuk melupakan sejenak tekanan hidup. Dalam mimpinya, dia datang ke nikahan gebetannya, tapi bukannya ngasih amplop, dia malah membungkus semua prasmanan sate kambing untuk dibawa pulang.

Sementara itu, di sebuah rumah kosong tiga blok dari sana, sekelompok hantu sedang duduk melingkar, merenungi nasib. Mereka trauma berat. "Serem banget, ternyata Tekanan Hidup Manusia bisa bikin manusia seseram itu, nyaris karir setan kita berakhir."

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi