Di ruang belajar sempit yang menghadap tembok tetangga, seorang anak duduk membungkuk di depan buku PR. Pensilnya bergerak pelan, kadang berhenti lama, seolah huruf-huruf yang harus ia tulis tak cukup kuat melawan sunyi. Televisi menyala di ruang tengah, suaranya sayup, hanya terdengar saat iklan menggema. Di atas meja, segelas susu sudah dingin, dan jam dinding berdetak seperti pengingat yang tak pernah lelah.
Namanya Sendra. Usia sembilan tahun. Ia tahu cara mengerjakan soal matematika, tapi tak tahu cara menjawab pertanyaan yang lebih sulit: kenapa Ayah tak pernah duduk di sebelahnya? Kenapa Ayah tak pernah mengecup keningnya sebelum ia tidur?
Ayahnya ada, setidaknya di Kartu Keluarga. Tapi ia telah lupa kapan terakhir kali ayahnya mengelus rambutnya, kehadirannya hanya tinggal formalitas. Bahkan sebelum itu pun, Ayah lebih sering hadir sebagai bayangan: pergi pagi sebelum Sendra bangun, pulang larut ketika Sendra sudah tidur. Di akhir pekan, Ayah sibuk dengan hobinya: memancing, menonton pertandingan bola, atau mengutak-atik motor tua di garasi. Sendra pernah mencoba ikut, tapi Ayah hanya berkata, “Nanti kalau sudah besar.”
Sepulang sekolah, Sendra biasanya dititipkan pada Nenek Marni. Nenek sudah tua, rambutnya memutih, jalannya pelan, dan ia buta huruf. Setiap kali Sendra mengerjakan PR di rumah nenek, Nenek hanya bisa duduk di kursi bambu, meraba-raba punggung Sendra, dan berkata, “Belajarlah yang rajin, Nak. Nenek nggak bisa baca, jangan sampai kamu kayak Nenek.” Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Sendra seperti doa yang paling tulus.
Ibunya, Bu Rini, bekerja di kantor desa. Pulang sore, lanjut memasak, mencuci, menemani Sendra belajar, dan kadang masih harus menyelesaikan laporan di laptop tuanya. Wajahnya lelah, tapi senyumnya tetap ada. Ia tak pernah mengeluh, hanya sesekali menatap langit-langit kamar dengan mata yang kosong.
Suatu malam, Sendra bertanya pelan, “Bu, kenapa Ayah nggak pernah nanya PR Sendra?”
Bu Rini terdiam. Ia tahu jawaban itu tak bisa dijelaskan dengan logika anak SD. Ia hanya mengusap kepala Sendra dan berkata, “Ayah sibuk, Nak.”
Tapi Sendra tahu, kesibukan itu bukan soal waktu. Itu soal pilihan.
Di sekolah, Sendra mulai menarik diri. Ia tak suka pelajaran olahraga, karena tak ada Ayah yang menonton dari pinggir lapangan. Ia tak suka menggambar keluarga, karena bingung harus menggambar wajah Ayah seperti apa, terutama ekspresinya. Ia mulai sering sakit kepala, sulit tidur, dan kadang menangis tanpa sebab. Di malam-malam sunyi ia kadang terbangun tergagap tanpa sebab.
Suatu hari, di pelajaran Seni Budaya, Bu Rara meminta murid-murid menggambar keluarga mereka. Sendra menggambar Ibu, Nenek, dan dirinya sendiri. Di sudut kertas, ia menggambar sosok abu-abu tanpa wajah. Bu Rara menghampiri dan bertanya, “Sendra, ini siapa?” Sendra menjawab pelan, “Ayah... tapi Sendra lupa wajahnya.” Bu Rara terdiam, menatap gambar itu lama, lalu mengusap bahu Sendra tanpa berkata apa-apa.
Guru BK memanggil Bu Rini. “Bu, Sendra tampaknya butuh lebih banyak perhatian dari figur ayah. Ia cerdas, tapi emosinya rapuh. Sayang, kemampuan matematika dan Bahasa inggrisnya bagus hanya saja sering tampak murung bu. Apakah ada masalah di rumah?”
Bu Rini hanya menggeleng pelan. Ia tahu, tapi tak tahu harus bagaimana. “Enggak bu,” jawabnya sekenanya.
Lukisan Keluarga Karya Sendra
Suatu sore, Ayah pulang lebih awal. Entah mengapa. Mungkin bosnya tak masuk, atau mungkin karena pagi tadi, saat hendak mengambil dompet di bawah meja makan, tangannya menyentuh secarik kertas yang terselip di antara remah roti dan serpihan waktu, hal kecil yang selama ini luput dari perhatiannya.
Di atas kertas itu, tergambar keluarga:
Ibu dengan senyum lelah dan apron yang mulai pudar warnanya.
Nenek duduk di kursi bambu, tongkat di tangan, matanya seperti menyimpan musim yang telah berlalu.
Dan Sendra, lalu ada pula sesosok bayangan abu-abu tanpa wajah, seperti kenangan yang tak pernah sempat tumbuh.
Di pojok gambar, tertulis kecil dengan huruf miring:
“Ayah, bolehkah kamu hadir?”
Ayah menatap gambar itu lama, seolah waktu berhenti di sana. Tangannya gemetar pelan, matanya memanas, bukan karena air mata, tapi karena ada senja yang diam-diam menyusup ke dadanya, membawa rasa yang tak bisa ia tolak.
Ia teringat masa kecilnya sendiri. Ayahnya dulu juga jarang ada. Pulang malam, pergi pagi, bicara seperlunya. Ia tumbuh dengan janji-janji yang tak pernah ditepati. Ia pernah bersumpah tak akan mengulangnya. Tapi kini, ia justru menjadi bayangan yang sama.
“Sendra... apakah aku benar-benar tak pernah hadir untukmu?”
Bisikannya lirih, nyaris tenggelam oleh sunyi, seakan ia takut suara itu menjelma jawaban yang tak sanggup ia terima. Ia duduk lemas di kursi ruang tamu, menatap motor tuanya di garasi, besi klasik yang lebih sering ia rawat daripada anaknya sendiri. Di dinding, foto keluarga tergantung miring. Di sana ia tersenyum, tapi senyum itu terasa asing, seperti milik orang lain.
Dalam hati, ia bergumam: “Aku sibuk, iya. Tapi sibuk apa? Sibuk membuktikan diri? Sibuk lari dari hal yang paling penting? Aku takut... takut gagal jadi ayah. Jadi aku memilih absen, karena absen tak pernah salah. Tapi ternyata... absen juga menyakiti.”
Langit-langit rumah mulai mengelupas, seperti kulit waktu yang tak sempat dirawat. Di sudut rak, piala kecil bertuliskan “Juara 2 Lomba Cerdas Cermat SD” berdebu. Ia bahkan tak tahu kapan Sendra meraihnya.
Ada suara kecil dalam dirinya yang lama ia bungkam:
Apa gunanya nafkah tanpa pelukan? Apa gunanya rumah tanpa kehangatan?
Ia melangkah pelan menuju ruang belajar. Cahaya jingga sore menyusup lewat jendela, mewarnai dinding kusam dengan lembut. Udara terasa berat, seperti rumah yang terlalu lama menahan napas. Di sana, Sendra duduk membungkuk, menatap buku PR yang terbuka namun tak disentuh. Pensilnya diam, seperti hatinya.
“Apa itu?” tanya Ayah, suaranya serak, seperti orang yang baru belajar mengeja.
“Matematika,” jawab Sendra singkat, menunduk.
Ayah mendekat, duduk di kursi sebelah. Kursi itu berderit pelan, seolah terkejut karena baru kali ini ia duduki. Ruangan itu meski dengan lampu yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini seolah menyala lebih terang.
“Coba sini, Ayah lihat,” katanya, berusaha terdengar biasa. Tapi ada gugup yang tak bisa ia sembunyikan. Ia merasa seperti seorang pegawai baru yang masuk kerja di hari pertama, kikuk, gugup dan belum kenal seorangpun yang ada di ruangan itu.
Sendra menyerahkan buku itu perlahan. Ia tampak ragu. Ayah membaca soalnya, mencernanya, seolah mengulang apa yang ia lihat puluhan tahun silam, dan berusaha untuk mengingatnya. Lalu ia mulai menjelaskan. Suaranya pelan, tapi jelas. Sendra mendengarkan. Matanya berbinar, meski masih menyimpan ragu, seperti anak yang ingin percaya, namun takut kecewa.
Di tengah penjelasan, Ayah berhenti. Sesekali batuk. Ia menatap anaknya lekat, lalu berkata lirih, “Maaf ya, Sendra. Ayah jarang ada.”
Sendra menunduk. “Sendra kira... Ayah nggak suka sama Sendra,” ucapan itu jujur dan murni, meluncur begitu saja tanpa permisi.
Kata-kata itu menghantam seperti tamparan yang tak bisa dihindari. Pukulan telak yang tak menunggu siap untuk bertahan. Ayah terdiam lama, lalu menarik napas panjang, seakan menyelam ke dalam dirinya sendiri. Ia mahfum. Ia mengerti.
“Ayah salah, Nak. Ayah pikir tugas Ayah cuma cari uang. Tapi ternyata... kamu butuh lebih dari itu. Kamu butuh Ayah yang duduk di sini. Yang nanya PR. Yang bilang ‘selamat tidur’. Yang tahu kamu suka angka.”
Sendra menatap Ayah, mata kecilnya menyala dan berkaca. “Sendra cuma pengin Ayah tahu... Sendra suka angka. Tapi Sendra lebih senang kalau Ayah tahu Sendra.”
Ayah tersenyum, senyum getir yang mengandung pengakuan atas luka yang ia buat tanpa sadar.
“Mulai sekarang, Ayah mau tahu. Soal angka. Soal sekolahmu. Soal teman-temanmu. Soal kamu. Soal semua yang bikin kamu bahagia.”
Ia memeluk anaknya. Erat sekali seolah tidak akan pernah melepasnya. Pelukan yang bukan sekadar rangkulan, tapi permintaan maaf yang tak bisa ditulis di kertas terindah sekalipun. Ia mencium kening Sendra berkali-kali, seperti menebus kerinduan bertahun-tahun.
Malam itu, mereka mengerjakan PR bersama. Tak ada air mata, hanya suara pensil yang menari dan tawa kecil saat Ayah salah hitung. Bu Rini mengintip dari dapur, tersenyum hangat. Ada angin kelegaan yang menyusup di dadanya, malam itu bukan sekadar PR, tapi bibit perbaikan yang mulai tumbuh.
Nenek Marni mendengar tawa itu dari kamarnya. Ia tersenyum, menutup mata, berbisik lirih, “Syukurlah...”
Sejak malam itu, Ayah berusaha berubah. Tak selalu sempurna. Kadang ia masih sibuk, kadang lupa. Tapi ia belajar hadir, bukan hanya di foto keluarga, tapi di ruang belajar, di hati anaknya.
Dan Sendra, perlahan, sembuh. Ia menggambar keluarga lagi, dengan Ayah di sampingnya, memegang pensil, tersenyum. Wajah Ayah tak lagi abu-abu. Gambar itu kini memiliki wajah.
Dan sunyi itu perlahan menyingkir. Sebab sunyi, bila diwariskan, menjadi luka.
Namun ketika dihadapi, ia bisa menjadi jembatan.
Dan malam itu, di ruang belajar sempit, sunyi akhirnya berubah menjadi suara.
Blora, November 2025