Asap tipis mengepul dari ketel kecil di sudut angkringan. Malam di perempatan itu tidak pernah benar-benar sepi—motor lewat satu per satu, lampu sein berkedip, dan speaker kecil memutar lagu lawas yang suaranya serak dimakan usia. Kursi kayu berderit setiap kali seseorang duduk, seolah ikut mengeluh bersama malam.
“Teh anget satu, Mas,” kataku.
Penjualnya mengangguk. Gerakannya rapi, tapi tampak hati-hati, seperti orang yang tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun. Saat ia menuang air panas, uap mengepul menabrak cahaya lampu bohlam kuning yang menggantung rendah.
“Ramai, Mas, malam ini?” tanyaku iseng.
“Lumayan. Kalau hujan biasanya lebih sepi,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
Obrolan berhenti sejenak. Aku menyeruput teh, menatap nasi kucing yang tersusun rapi di rak kecil di atas meja angkringan. Entah kenapa, aku merasa penjual ini berbeda. Bukan dari pakaiannya—jaket lusuh dan celana gelap seperti penjual angkringan lain—melainkan dari cara ia memilih kata, seolah setiap kalimat harus melewati pertimbangan panjang.
“Mas sudah lama jualan?” tanyaku lagi.
“Baru beberapa bulan,” katanya. “Sebelumnya… ya coba-coba melamar kerja.”
Aku mengangguk. Cerita yang terasa akrab, hampir klise. Sampai ia menambahkan, dengan nada datar seolah sedang membicarakan rutinitas, “Saya lulusan S2.”
Tanganku berhenti di udara.
“S2?” ulangku.
“Iya.” Ia mengangguk pelan. “S1 juga di Semarang. Lulus, kirim ratusan lamaran. Yang manggil tes bisa dihitung jari. Nggak ada yang nyantol.”
Ia tertawa kecil. Bukan tawa getir, lebih seperti tawa orang yang sudah terlalu sering mengulang cerita yang sama dalam kepalanya.
“Orang tua saya bilang, ya sudah, sekalian S2 saja. Siapa tahu nasibnya beda.”
Lampu angkringan memantulkan bayangan wajahnya. Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan, seolah sedang membuka lembaran lama yang sudah lama ia lipat rapi.
“Waktu kuliah, saya sering kerja sambilan. Jadi asisten untuk penelitian dosen, kadang ngajar les anak SMA.” Ia berhenti sebentar, menata kembali sate usus di atas bara. “Orang tua saya petani di Klaten. Hasil panen cukup buat membiayai saya, tapi nggak selalu mulus.”
Ia menunduk, suaranya melambat. “Pernah sekali, bapak menjual sepeda motor tua supaya saya bisa bayar semesteran. Waktu itu panenan sedang tidak baik. Saya janji ke mereka, nanti setelah lulus, semua akan terbayar.”
Ia tersenyum kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Waktu wisuda, bapak-ibu datang. Juga keluarga. Mereka duduk paling depan.” Ia menghela napas. “Saya lihat wajah bapak waktu foto keluarga—itu wajah orang yang percaya anaknya akan hidup lebih baik.”
Aku membayangkan foto itu: toga hitam, senyum kaku, dan harapan yang dipajang rapi di ruang tamu.
“Tapi setelah toga dilipat,” katanya lagi, “cerita lama terulang. Lamaran, panggilan, wawancara, lalu diam.”
Ia membungkus sate usus dengan cekatan, meski gerakannya sedikit kaku. “Ada yang bilang saya overqualified. Ada yang bilang belum cocok. Lama-lama saya bingung sendiri, sebenarnya yang salah siapa.”
Aku tidak menjawab. Di angkringan itu, jawaban memang tidak selalu dibutuhkan. Beberapa pelanggan datang, memesan kopi dan nasi kucing, lalu pergi. Suara sendok beradu dengan gelas menciptakan irama kecil yang berulang.
“Saya malu pulang,” lanjutnya pelan. “Di kampung, orang taunya saya kuliah tinggi. Masa pulang-pulang jadi petani?”
Ia berhenti, menatap bara yang mulai memerah redup.
“Jadi saya pakai sisa tabungan waktu kuliah buat modal angkringan. Nggak besar, tapi cukup buat mulai.”
“Orang tua tahu?” tanyaku hati-hati.
“Tahunya saya buka usaha sama teman,” katanya. “Nggak bohong juga sih… cuma nggak lengkap. Suatu saat mereka akan tahu juga. Cuma masalah waktu.”
Ia tersenyum, kali ini lebih jujur, seolah sedang berdamai dengan kebohongan kecil yang ia rawat sendiri.
Aku memperhatikan tangannya saat menyeduh kopi. Ia tidak cekatan seperti penjual angkringan lain. Beberapa kali takaran gula meleset, air tumpah sedikit ke meja.
“Saya nggak jago masak,” akunya. “Bikin minuman juga masih belajar.”
“Terus kok berani?” tanyaku.
Ia menoleh ke rak kecil di belakangnya. Di sana, sebuah ponsel disandarkan, layarnya menyala menampilkan video pendek—tangan seseorang mengaduk kopi, memberi takaran gula, menyalakan kompor kecil.
“Kan saya S2,” katanya ringan. “Saya tahu cara belajar. Gratis lagi. YouTube, TikTok, apa saja. Tinggal mau atau nggak.”
Angkringan itu kembali ramai. Ada yang tertawa, ada yang hanya duduk diam. Di sela kepulan asap dan lampu kuning temaram, aku melihat sosoknya berdiri—bukan sebagai orang yang kalah, melainkan orang yang sedang memulai dari titik yang tidak pernah ia bayangkan.
Malam semakin larut. Ketel air mulai kosong, arang di bawah sate memerah redup. Aku membayar, lalu berdiri.
Sebelum pergi, aku menoleh sekali lagi. Ia sedang merapikan dagangan, melipat kursi satu per satu. Di sudut jalan itu, dua gelar akademik tidak dipajang, tidak pula disembunyikan. Mereka hadir sebagai ingatan: kerja sambilan, sepeda motor yang dijual, janji pada orang tua, dan wajah bapak-ibu yang penuh harap.
Semua itu kini menunggu waktunya berguna—dengan cara yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.
Dan mungkin, pikirku sambil melangkah pergi, hidup memang tidak selalu meminta kita naik setinggi-tingginya. Kadang ia hanya meminta kita bertahan, satu cangkir teh anget pada satu malam yang biasa.
Solo, awal tahun 2026.