Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
19
Tongkat, Payung, dan Kulit Kacang
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Ayah meninggal di usia ketika aku baru belajar merasa dewasa.

Hari itu hujan turun deras, seperti tidak mau memberi jeda. Tanah pemakaman berubah licin, sepatu-sepatu kotor, payung-payung saling bertabrakan. Orang-orang berdiri rapat, sebagian menunduk, sebagian sibuk menutup wajah—entah dari hujan, entah dari duka.

Ayah terbaring tenang di hadapanku. Lelaki sederhana yang sepanjang hidupku selalu menjadi pegangan. Ia bukan orang yang banyak bicara, tapi kehadirannya cukup untuk membuat dunia terasa bisa dilalui. Seperti tongkat bagi orang yang matanya belum sepenuhnya percaya pada jalan di depan.

Ketika liang lahat ditutup, aku baru sadar: tongkat itu tidak ada lagi.

Aku berdiri tanpa sandaran, dengan lutut yang tiba-tiba terasa asing. Gemetar. Dewasa, rupanya, bukan soal usia. Ia soal kehilangan. Belajar dari kehilangan, lebih tepatnya.

Di sekelilingku, payung-payung terbuka. Hitam, putih, abu-abu. Semua berfungsi sempurna: menahan hujan, menjaga badan tetap kering. Aku menatapnya lama, lalu paham satu hal sederhana—payung hanya penting ketika hujan. Begitu reda, ia dilipat, dimasukkan ke tas, dilupakan. Ditinggalkan.

Ayah juga begitu.

Bukan dilepaskan, ditinggalkan karena tidak berguna, tapi karena tugasnya telah purna.

Aku menoleh ke adikku. Ia masih remaja. Bahunya gemetar, matanya sembab dan merah. Hujan dan air mata bercampur tanpa bisa dibedakan.

"Kak," katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan. "Kenapa orang yang paling berjasa justru pergi duluan? Kenapa Tuhan kayak gitu?"

Pertanyaan itu menohok. Bukan karena kurang ajar, tapi karena jujur.

Aku menggenggam tangannya. Dinginnya menjalar ke telapak tanganku.

"Dik," kataku lirih, lebih ke diriku sendiri. "Tidak salah jika tongkat akhirnya ditinggal. Tidak salah juga payung akhirnya kita lipat, meski keduanya telah berjasa besar bagi kita."

Ia menatapku, bingung.

"Kehilangan atau kepergian bukanlah pengkhianatan," lanjutku. "Kadang itu tanda bahwa kita harus mulai jalan sendiri. Ayah bukan pergi untuk bikin kita lemah. Ia pergi supaya kita belajar berdiri."

Adikku menggeleng. "Aku takut, Kak. Takut salah jalan. Takut gagal."

Aku menarik napas. Kata-kata berikutnya tidak datang dari kepala, tapi dari perut.

"Takut itu wajar. Semua orang takut. Tapi ingat satu hal: kebaikan ayah bukan utang yang harus kita bayar. Itu bekal."

Aku menunjuk tanah basah di bawah kaki kami.

"Kayak kacang," kataku. "Yang kita makan isinya. Kulitnya memang dibuang. Tapi bukan berarti kita nggak berterima kasih sama kacangnya. Kalau kamu sibuk menggenggam kulitnya, kamu malah nggak punya tenaga buat jalan ke depan."

Ia terdiam. Lama.

Hujan mulai mengecil. Suaranya berubah dari deras menjadi rintik-rintik pelan, seperti napas yang mulai tenang setelah tangis panjang. Satu per satu payung ditutup. Orang-orang mulai bergerak pulang, menutup babak hari itu dengan langkah berat tapi pasti.

Aku dan adikku berjalan meninggalkan pemakaman tanpa payung. Gerimis sisa membasahi wajah kami. Dingin, tapi jujur.

"Sekarang kita nggak pegang tongkat," kataku. "Nggak bawa payung. Yang kita punya cuma diri kita sendiri. Dan pilihan-pilihan yang bakal kita ambil."

Adikku mengangguk. Matanya masih basah, tapi ada cahaya kecil yang bertahan.

Di jalan setapak itu aku akhirnya paham: hidup memang kejam, tapi tidak licik. Ia akan mengambil penopang kita satu per satu, bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk memaksa kita menemukan keseimbangan sendiri.

Kehilangan bukan musuh. Ia ruang kosong yang bikin kita harus memilih lagi: mau berhenti, atau mau tumbuh.

Dan mungkin, menjadi dewasa adalah soal berani berjalan—tanpa tongkat, tanpa payung—dengan bekal yang ditinggalkan orang-orang yang mencintai kita sepenuh hati.

Akhir Januari, 2026

 

 

 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi