Namira melempar ponselnya ke kasur. Bukan keras—lebih ke lelah. Layar masih menyala, menampilkan satu DM yang statusnya seen abu-abu, tak pernah berubah jadi biru.
“Chat dibales dua jam. Story dia aktif, isinya kopi estetik sama caption healing dulu. Tapi DM gue? Nggak pernah dibuka,” gerutunya. “Ghosting tuh jahat banget, tau nggak sih.”
Kamar kosnya kecil dan setengah berantakan. Poster band indie menempel miring di dinding. Charger berserakan saling melilit satu sama lain. Di meja belajar, segelas kopi dingin yang sudah tak lagi punya semangat hidup. Semua terasa pas dengan vibes hatinya: kusut, datar, dan sedikit pahit.
Namira rebahan, menatap langit-langit. Otaknya muter ke mana-mana. Overthinking seperti playlist FYP yang nggak bisa diskip. Apa chat-nya kepanjangan? Apa dia terlalu cepat bales? Atau terlalu kelihatan insecure? Atau dia menganggapku terlalu gampang?
“Kalau nggak suka, bilang aja kek,” katanya ke udara. “Ngilang tuh kekanak-kanakan.”
“Setuju.”
Namira membeku.
Pelan-pelan ia menoleh ke sudut kamar. Di sana berdiri sosok transparan, pakai kemeja lengan panjang yang kusut dan celana kain warna abu-abu. Rambutnya rapi, tapi ada sisa-sisa kekacauan di ujungnya. Wajahnya tenang, malah cenderung bijak—seperti om-om yang biasa muncul di seminar motivasi gratis, bukan yang berbayar.
“Maaf ya, kaget,” kata sosok itu santai. “Aku hantu.”
Namira menjerit—tapi cuma setengah. Sisanya berubah jadi tawa separuh gugup.
“Oke, otak gue finally rusak,” katanya. “Ini pasti efek kurang tidur.”
“Hei,” hantu itu mengangkat jari. “Ghosting itu bukan salah kami. Kami cuma hantu. Yang pengecut itu manusia.”
Namira menutup mulutnya. Ada jeda beberapa detik sebelum ia berkata, “Kok lo bisa tau soal ghosting?”
“Kami update,” jawab hantu itu. “Kami gentayangan juga di dunia digital. Timeline kalian lebih serem daripada kuburan. Aku aja masih belajar bedain story sama status—yang mana yang bisa di-reply, yang mana yang bikin salah paham.”
Aneh. Harusnya Namira lari atau pingsan. Tapi entah kenapa, kehadiran hantu ini terasa… nyaman. Vibes-nya bukan horor, lebih ke life coach dadakan yang salah kostum.
“Kalian bilang takut hantu,” lanjut si hantu, duduk di kursi belajar tanpa menggesernya sedikit pun, “padahal hantu nggak pernah ninggalin chat nggak dibales. Kami transparan. Kalau gentayangan, ya gentayangan. Kalau hilang, ya hilang. Manusia yang suka pura-pura sibuk.”
Namira terkekeh. “Jadi lo datang buat… ngomentarin hidup percintaan gue?”
“Kurang lebih,” katanya. “Anggap aja sesi coaching lintas alam. Gratis. Aku lagi ngumpulin pahala.”
Hantu itu terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, “Dulu aku juga manusia.”
Namira menegakkan badan.
“Aku pernah ghosting seseorang,” katanya. “Aku pikir itu cara paling aman. Nggak ribut, nggak dramatis. Aku ngilang, hidup lanjut.” Ia tersenyum pahit. “Ternyata ada yang tertinggal. Rasa bersalah itu ikut mati bersamaku. Sejak itu aku gentayangan—bukan buat nakutin orang, tapi ngingetin. Hebat kan aku?!”
Namira menelan ludah.
“Aku biasanya muncul di kos-kosan,” lanjutnya ringan, seolah cerita barusan cuma trivia. “Anak muda yang overthinking jam dua pagi itu kayak lampu neon buat kami. Kalau mau manggil, cukup sediakan kopi sachet. Ritual kecil.”
“Serius?”
“Serius,” katanya. “Walau aku nggak bisa minum, aromanya bikin aku ngerasa masih punya urusan yang belum selesai di dunia.”
Hantu itu menghela napas—entah bagaimana caranya. “Kalau mau jujur, bilang aja nggak suka. Jangan ngilang. Itu lebih… hantuwi—eh, manusiawi.”
Namira menatap ponselnya. “Tapi ditolak tuh sakit.”
“Iya,” jawab hantu itu. “Ditolak itu seperti jatuh dari sepeda—sakit, tapi kamu tahu kenapa. Ghosting itu seperti ban bocor pelan-pelan, kamu nggak sadar sampai akhirnya nggak bisa jalan.”
Ia melanjutkan, agak bersemangat, “Cinta itu kayak rumah. Kalau mau masuk, ketok pintu dulu. Jangan tiba-tiba nyelonong ke kamar, numpang tidur, terus kabur subuh-subuh.”
Namira tertawa, kali ini lepas. Ada sesuatu yang mengendur di dadanya. Selama ini ia sibuk marah, sibuk menunggu, sibuk menyalahkan diri sendiri. Padahal mungkin masalahnya sederhana: ada orang yang tak cukup dewasa untuk berkata jujur.
“Kalian manusia lucu,” kata hantu itu lembut. “Takut sama hantu, tapi lebih takut sama kejujuran. Takut ditolak, takut dibilang nggak cocok, takut keliatan gagal. Padahal hidup ya isinya itu-itu aja.”
Namira mengangguk. Ia sadar, selama ini yang paling ia takuti bukan ditinggalkan, tapi menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan memilihnya—dan itu tidak apa-apa.
Hantu itu berdiri. “Sesi terakhir.”
Ia menatap Namira lurus-lurus. “Kalau kamu berani ditolak, kamu berani hidup. Ghosting itu cuma shortcut buat orang yang nggak siap jadi dewasa.”
Sunyi sesaat. Lalu Namira tertawa kecil. Rasanya absurd. Tapi juga terang.
“Oke,” katanya. “Thanks, Om Hantu.”
“Jangan panggil om. Kak aja, kesannya lebih muda,” katanya sambil melambaikan tangan. “Aku pamit. Ingat, kalau ada yang ghosting lagi, panggil aku. Bayarannya cukup kopi sachet. Gula dipisah.”
Dan begitu saja, ia menghilang. Tanpa asap. Tanpa suara. Transparan, jujur, selesai.
Namira menatap layar ponselnya sekali lagi. Ada rasa lega—bukan karena jawaban datang, tapi karena ia tak lagi menunggu.
Ia bangkit, meraih jaket, dan keluar kamar.
Di lorong kos, terdengar suara tawa teman-temannya. Namira ikut bergabung.
Kadang, pikirnya, yang paling absurd justru membuat kita paling jujur.
Alam Ghaib, Awal 2026