Di Bawah Langit Jingga Kampung Halaman
Waktu seolah berjalan lebih lambat ketika kami berusia sepuluh tahun. Di sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan hijau dan hamparan nyiur yang melambai, dunia terasa begitu luas namun sangat aman dalam dekapan alam. Bagi aku dan Bagas, sahabat karibku sejak kami masih belajar mengeja alif-ba-ta, kebahagiaan tidak butuh direncanakan atau dibeli dengan lembaran uang. Ia tercipta begitu saja di antara aroma lumpur basah, embus angin sore, dan tawa lepas tanpa beban yang menggema di sepanjang pematang sawah.
Setiap kali musim panen tiba, desa kami berubah menjadi arena bermain raksasa yang paling menakjubkan. Sawah-sawah yang tadinya dipenuhi padi menguning, kini menyisakan jerami-jerami kering yang ditumpuk tinggi oleh para petani. Bagi orang dewasa, itu adalah sisa panen yang menunggu dibakar atau dijadikan pakan ternak. Namun bagi kami, tumpukan itu adalah bahan baku terbaik untuk membangun sebuah istana megah tempat segala imajinasi liar anak-anak bertumbuh.
Istana Jerami di Sudut SawahSiang itu, matahari sebenarnya menggantung terik di atas kepala, menyengat kulit ari kami yang sudah mulai legam. Namun, rimbunnya pohon-pohon talas hutan dan rumpun bambu di pinggir parit memberikan perlindungan yang cukup. Kami berlari kencang dari halaman rumah menuju petak sawah luas milik kakek Bagas. Kaki telanjang kami sudah kebal terhadap tusukan sisa-sisa batang padi yang memotong pendek di permukaan tanah berlumpur kelabu. Kami tidak butuh alas kaki; menyentuh bumi secara langsung adalah bagian dari cara kami menikmati hari.
"Hari ini kita bangun kerajaan yang lebih besar dari kemarin! Pakai pintu rahasia juga ya!" teriak Bagas dengan napas terengah-engah. Wajahnya dipenuhi keringat, namun matanya berseri-seri memancarkan semangat yang berapi-api.
Kami mulai mengumpulkan tumpukan jerami yang tersebar di petak sawah. Dengan gotong royong khas anak-anak, kami memeluk segundal demi segundal jerami kering yang beraroma matahari. Kami menyusunnya melingkar, membuat dinding-dinding tebal yang kokoh, lalu menyisakan ruang kosong di tengahnya sebagai "kamar rahasia" bagi para ksatria. Bagas, dengan kreativitas alaminya, bertugas membangun dinding dan menatanya agar tidak mudah runtuh disenggol angin. Sementara aku, menjelajahi tepian sawah untuk mencari ranting-ranting bambu bekas yang patah untuk dijadikan tiang penyangga atapnya.
Setelah dua jam bekerja keras diselingi canda tawa dan aksi saling melempar segenggam jerami hingga rambut kami penuh dengan serpihan daun padi yang kering, rumah-rumahan kami akhirnya selesai. Hasilnya memang tidak simetris, cenderung miring ke kanan, tetapi bagi kami itu adalah mahakarya.
Saat kami merangkak masuk melalui pintu kecil yang sengaja dibuat rendah, udara di dalam sana terasa hangat dan sangat nyaman. Aroma khas tanah kering dan jerami mengepung indra penciuman kami sebuah aroma yang kelak di masa depan akan selalu memicu rasa rindu mendalam. Kami berbaring telentang berdampingan di atas alas jerami yang empuk, menggunakan lengan sebagai bantal, menatap langit biru bersih melalui celah-celah atap jerami yang tidak sempurna.
Di dalam istana kecil itu, kami berbagi impian-impian konyol yang luar biasa besar. Bagas ingin menjadi seorang pilot agar bisa terbang melewati desa kami dan menjatuhkan banyak permen dari atas awan untuk anak-anak desa. Sementara aku, terobsesi menjadi petualang yang keliling dunia, menyeberangi lautan seperti di buku-buku cerita perpustakaan sekolah. Kami tertawa terpingkal-pingkal membayangkan masa depan yang rasanya masih sangat jauh dan penuh dengan keajaiban tersembunyi. Tidak ada kecemasan tentang hari esok; yang ada hanyalah detik ini, di dalam benteng jerami kami yang hangat.
Berburu Angin dan Layang-LayangSaat matahari mulai condong ke barat, perlahan-lahan mengikis hawa panas yang menyengat, angin berembus lebih kencang dari arah perbukitan selatan. Ini adalah tanda alam yang paling kami tunggu-tunggu. Musim kemarau di desa kami selalu berarti satu hal: musim layang-layang telah tiba.
Kami keluar dari istana jerami dengan tubuh penuh dengan remah-remah daun padi yang gatal. Kulit leher kami memerah, namun rasa gatal itu menguap begitu saja tanpa bekas saat Bagas mengeluarkan layang-layang andalannya dari balik pohon pisang tempat kami menyembunyikannya tadi pagi. Layangan itu adalah hasil karya kami sendiri. Rangkanya terbuat dari bambu petung yang diraut tipis-tipis menggunakan pisau dapur ibunya yang membuat Bagas sempat kena omel karena pisau menjadi tumpul. Tubuh layangan dibalut kertas minyak berwarna merah menyala dengan lem dari sisa nasi hangat yang dilumatkan. Pada bagian ekornya, kami menempelkan jalinan sisa-sisa plastik tipis agar bisa "menari" dengan anggun di udara.
"Kamu yang pegang layangannya di sebelah sana ya, aku yang pegang gulungan benangnya!" perintah Bagas, bersiap dengan gulungan kaleng bekas susu kental manis yang dililit benang gelasan buatan sendiri dari campuran tumbukan bohlam lampu dan lem kayu.
Aku berjalan mundur sekitar dua puluh langkah, memegang ujung bawah layang-layang merah itu tinggi-tinggi di atas kepala, menantang arah datangnya angin. Angin sore datang menerpa punggungku dengan kuat, membuat kertas minyak layangan bergetar mengeluarkan suara kleper-kleper yang khas.
"Sekarang, Gas! Lari!" teriakku sekuat tenaga.
Bagas berlari sekuat yang dia bisa di atas pematang sawah yang sempit. Aku melepaskan layangan itu ke udara. Pada detik pertama, layangan kami sempat menukik tajam ke bawah akibat hembusan angin yang tidak stabil. Jantungku serasa copot, takut mahakarya kami hancur berantakan menabrak tanah. Namun dengan kelihaian jemari Bagas yang dengan cekatan menarik dan mengulur benang, layangan merah itu berhasil menangkap arus angin yang tepat. Ia melesat tegak lurus, menembus langit tinggi ke angkasa.
Kami berdua berteriak kegirangan, melompat-lompat di atas jerami. Di atas sana, di antara awan-awan putih yang mulai disepuh warna jingga oleh matahari yang hendak pulang, layangan merah kami terbang paling tinggi. Ia bersanding gagah dengan belasan layangan anak-anak desa lainnya yang memiliki berbagai bentuk dan warna. Menatap layangan yang meliuk-liuk di angkasa luas memberikan sebuah kepuasan batin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata oleh anak seusia kami. Rasanya seolah-olah sebagian dari jiwa, impian, dan kebebasan kami ikut terbang tinggi bersamanya, lepas dari gravitasi bumi.
Parit Kecil dan Tawa yang AbadiKetika langit mulai meredup dan berubah warna menjadi gradasi jingga keunguan yang magis, rasa lelah yang luar biasa mulai menjalar di kedua kaki kami. Perlahan, Bagas mulai menggulung benang gelasannya, menurunkan layang-layang merah kami dengan sangat hati-hati agar tidak tersangkut di pepohonan kelapa yang menjulang tinggi di tepian sawah. Setelah layangan aman di tangan, petualangan panjang hari itu ditutup di sebuah parit kecil berair jernih yang mengalir membelah areal persawahan.
Kami duduk di atas sebilah bambu panjang yang melintang di atas parit, menjadikannya jembatan darurat sekaligus tempat nongkrong favorit. Kami merendam kaki kami yang penuh dengan sisa lumpur kering dan potongan jerami ke dalam air parit yang dingin menyegarkan. Arus air yang mengalir tenang langsung meluruhkan segala rasa lelah. Ikan-ikan kecil jenis wader sesekali mendekat berkerumun, mematuk-matuk lembut kulit jari kaki kami yang kotor. Sensasi geli yang ditimbulkannya memicu tawa renyah yang bersahut-sahutan di antara kami berdua.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara para ibu di ujung desa yang mulai meneriakkan nama anak-anak mereka dengan lantang, menyuruh mereka segera pulang karena waktu magrib menjelang. Suara panggilan itu, yang berpadu dengan suara jangkrik sawah yang mulai bernyanyi, adalah alarm alami yang menandai akhir dari hari yang sempurna.
"Besok kita main ke sini lagi, kan? Kita perbaiki lagi atap istananya," tanya Bagas sambil menyeka sisa keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah kotor kehitaman.
"Iya dong gas. Besok kita bawa singkong bakar atau tebu dari kebun belakang rumahku untuk dimakan di dalam istana jerami," jawabku mantap dengan senyum lebar yang tulus.
Kami pun melangkah pulang menyusuri jalan setapak di pematang sawah yang mulai menggelap. Di tangan kanan Bagas mendekap layang-layang merah, sementara tangan kiriku membawa kaleng benang. Kami berjalan beriringan dengan hati yang dipenuhi kebahagiaan murni tanpa syarat. Bayangan tubuh kecil kami berdua tampak memanjang di atas tanah, diterpa oleh cahaya matahari terakhir yang tenggelam di balik kaki langit barat.
Epilog: Gema Masa LaluPuluhan tahun telah berlalu sejak sore berbalut warna jingga yang indah itu. Sawah-sawah luas di desa kami kini sebagian besar telah hilang, berganti wujud menjadi kompleks perumahan yang padat dan jalanan aspal yang bising. Parit kecil tempat kami dulu membasuh kaki dengan riang mungkin sudah tertutup oleh beton-beton saluran air modern. Bagas kini telah hidup jauh di kota seberang, sibuk dengan dunianya sebagai seorang pria dewasa yang memikul banyak tanggung jawab. Aku pun terperangkap di balik meja kerja sebuah kantor di kota metropolitan, tergilas oleh rutinitas kedewasaan yang sering kali melelahkan dan penuh kepalsuan.
Namun, setiap kali angin sore berembus sejuk menyapa wajahku di sela-sela kemacetan kota, atau saat aku secara tidak sengaja melihat selembar layang-layang terbang bebas membelah langit perkotaan yang kelabu, memoriku langsung melesat kembali ke masa lalu dengan kecepatan penuh.
Masa kecil di desa bersama Bagas adalah fondasi paling indah dan kokoh dalam seluruh perjalanan hidupku. Sebuah masa keemasan di mana kebahagiaan tidak pernah diukur dari materi, melainkan dari hal-hal yang teramat sederhana: cukup dengan sebidang tanah sawah yang lapang, segenggam jerami kering untuk berlindung, seutas benang untuk meraih langit, dan seorang sahabat sejati yang selalu ada untuk tertawa bersama di bawah kolong langit yang sama. Kenangan itu akan selalu hidup, abadi, dan menjadi tempat terbaik bagiku untuk pulang setiap kali dunia dewasa terasa terlalu bising untuk dijalani.
TAMAT
Ezra Jo