Simfoni Sunyi di Ujung Napas
Di sudut kafe yang temaram, secangkir kopi latte yang sudah mendingin sejak dua jam lalu menjadi saksi bisu bagi dua hati yang sedang diambang kehancuran. Aroma pekat kopi yang biasanya menenangkan, sore itu terasa mencekik. Senja di luar jendela kaca bergerak lambat, menyisakan semburat jingga keunguan yang tampak seperti luka lebam di langit.
Andika menatap Kirana dengan mata yang tak lagi mampu menyembunyikan badai. Ada genangan air yang siap tumpah di sudut netranya. Sementara Kirana, dengan senyum pucatnya yang selalu berhasil melumpuhkan dunia Andika, perlahan mengulurkan tangan. Ia menggenggam jemari laki-laki itu. Tangannya teramat dingin, bahkan lebih dingin dari es batu yang mencair di dalam gelas di meja mereka. Seolah-olah, aliran darah di dalam tubuh mungil itu sedang bersiap untuk pamit dan menghentikan tugasnya.
"Jangan menangis," bisik Kirana. Suaranya parau, nyaris habis disapu oleh desir angin sore yang menyelinap masuk lewat celah pintu. "Aku hanya sedang bersiap untuk pulang lebih awal, Andika. Bukankah kita selalu tahu bahwa hari ini akan datang?"
Andika menggeleng kuat-kuat. Ia menolak keras untaian kalimat itu. Dadanya mendadak terasa begitu sempit, seperti dihimpit oleh bongkahan batu besar yang tak kasatmata. Rasa sesak itu menjalar hingga ke tenggorokan, membuatnya kesulitan bahkan hanya untuk sekadar menarik satu napas pendek. Selama tiga tahun terakhir, mereka berdua telah menjelma menjadi sepasang prajurit yang melawan vonis dokter dengan sisa-sisa kekuatan yang ada.
Kanker stadium akhir yang bersarang di tubuh Kirana bukan lagi sekadar diagnosis medis di atas lembar kertas putih. Penyakit itu telah menjelma menjadi musuh kejam yang perlahan, senti demi senti, merenggut tawa riang, pipi ranum, dan kilau hidup dari sepasang mata perempuan yang teramat dicintainya.
"Kamu berjanji akan melihat salju pertamaku di Paris, Kirana. Kamu sudah menandatangani paspormu, kita sudah merencanakan semuanya. Kamu berjanji!" Suara Andika bergetar hebat di ujung kalimat. Pertahanannya runtuh. Air matanya luruh tanpa bisa ditahan lagi, jatuh berderai membasahi punggung tangan Kirana yang kini dipenuhi bekas tusukan jarum infus yang membiru.
Kirana tidak ikut menangis. Ia hanya tersenyum senyuman paling indah, paling tulus, sekaligus paling menyayat hati yang pernah Andika lihat sepanjang hidupnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, perempuan itu menyeka air mata yang membasahi pipi kekasihnya menggunakan ibu jari yang bergetar.
"Terkadang, Andika, takdir itu kejam. Ia hanya mengizinkan kita menemani seseorang sampai di persimpangan jalan, bukan sampai di garis akhir," kata Kirana lirih, menatap Andika dengan binar mata yang meredup.
Malamnya, apa yang paling ditakuti Andika akhirnya terjadi. Kondisi Kirana memburuk secara drastis saat mereka baru saja tiba di rumah. Napas perempuan itu memendek, wajahnya seputih kapas, dan kesadarannya perlahan merosot. Ambulans membawa mereka membelah malam yang pekat, menuju ruang ICU rumah sakit yang kemudian menjelma menjadi panggung dari sebuah akhir yang paling memilukan.
Ruangan itu berbau obat yang menyengat. Suara monitor jantung berbunyi konstan, detak demi detak yang terdengar laksana jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa waktu kehidupan. Andika duduk setia di samping ranjang besi itu. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Kirana yang kian lama kian terasa mendingin dan kaku.
Di bawah pendar lampu bangsal yang putih pucat dan dingin, wajah Kirana tampak begitu pasrah. Namun, setiap helaan napasnya yang ditarik lewat masker oksigen terdengar seperti sebuah perjuangan fisik yang teramat berat dan menyiksa. Dada perempuan itu naik turun dengan tidak beraturan.
"Andika..." panggil Kirana sangat lirih, hampir berupa bisikan di antara deru mesin respirator. Matanya setengah terpejam, sayu dan kehilangan cahaya.
"Aku di sini, Sayang. Aku di sini, tidak ke mana-mana," Andika mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana. Ia menumpukan dahinya di atas lengan Kirana. Air matanya mengalir deras, membasahi kain seprai rumah sakit. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa sakit di hatinya begitu nyata hingga menjelma menjadi rasa ngilu yang menusuk-nusuk fisiknya sendiri. Tubuhnya gemetar menahan kesedihan yang teramat masif.
"Terima kasih... sudah menjadi... bahagia terbaik dalam hidupku," ucap Kirana terbata-bata. Ia harus menyisakan jeda yang panjang di setiap kata demi meraup secuil oksigen yang kian menipis di paru-parunya. "Cari... bahagia yang baru setelah ini, ya? Jangan... terus menangisiku."
"Tidak, Kirana! Jangan bicara seperti itu! Bahagiaku itu hanya kamu. Kalau kamu pergi, aku harus mencari ke mana?" ratap Andika. Tangisnya pecah menjadi suara senggukan yang memilukan, memecah kesunyian malam di dalam ruangan ICU yang dingin itu. Ia merasa dunianya sedang direnggut secara paksa, dan ia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawannya.
Kirana tidak menjawab lagi. Ia sudah tidak memiliki energi bahkan untuk sekadar mengangguk. Perempuan itu hanya menatap Andika dengan binar mata terakhirnya sebuah tatapan yang sarat akan cinta yang teramat dalam, seolah ia sedang merekam setiap jengkal garis wajah lelaki yang dicintainya untuk dibawa serta ke keabadian. Bibirnya membentuk lengkungan senyum tipis untuk yang terakhir kali.
Perlahan, perlahan sekali, genggaman tangan Kirana melonggar. Jemarinya yang kurus terkulai lemas, terlepas dari kaitan jari-jari Andika, jatuh tak berdaya di atas seprai putih. Bersamaan dengan jatuhnya tangan itu, garis bergelombang di layar monitor jantung mendadak berubah menjadi sebuah garis lurus yang kaku.
Tiiiiiiitttt...
Bunyi panjang dan monoton itu bergema keras, merobek seluruh sisa harapan, doa, dan mukjizat yang Andika gantungkan di langit-langit kamar. Suara itu menandakan bahwa perjuangan Kirana telah usai. Jiwanya telah terbang bebas, meninggalkan raga yang sudah lelah bertarung.
Dunia Andika runtuh seketika tanpa ada yang tersisa. Hening yang mencekam mendadak merayap ke seluruh penjuru ruangan.
Ia menatap wajah Kirana yang kini telah memejamkan mata dengan begitu damai, seolah perempuan itu hanya sedang tertidur lelap setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Tidak ada lagi kerutan menahan sakit di dahinya.
"Kirana? Bangun, Sayang... Tolong jangan bercanda," bisik Andika dengan suara yang habis. Ia mengguncang pelan bahu Kirana, berharap keajaiban dalam dongeng-dongeng fiksi tiba-tiba mendatangi mereka. Namun, tubuh itu tetap bergeming.
Andika kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas dada Kirana yang tak lagi berdetak. Ia mendekap erat tubuh yang perlahan mulai mendingin itu, menangis sejadi-jadinya hingga dadanya terasa sesak berkejaran dengan napasnya yang memburu. Suaranya tercekat di tenggorokan, berubah menjadi jeritan batin yang teramat perih dan menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.
Dokter dan perawat masuk dengan langkah pelan, memberikan penghormatan terakhir sebelum menarik kain putih untuk menutup seluruh wajah cantik Kirana.
Saat kain itu perlahan menutupi wajah perempuan itu, Andika merasa separuh dari jiwanya sendiri ikut mati dan terkubur di sana.
Di luar, hujan mendadak turun dengan lebat, seolah alam semesta turut menangisi kepergian sepasang kekasih yang dipisahkan oleh maut di usia yang teramat muda. Andika berdiri mematung di samping ranjang, memandangi sosok yang kini telah tertutup kain putih sepenuhnya.
Di dalam hatinya yang hancur berkeping-keping, ia tahu, rasa sesak dan kehampaan ini akan tinggal selamanya, mengunci namanya dalam simfoni sunyi yang tak akan pernah berujung.
TAMAT