Disukai
0
Dilihat
1
SIMFONI HITAM
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Simfoni Hitam

​Malam selalu punya cara sendiri untuk merayakan kesepian. Di sudut kedai kopi yang temaram, denting piano mengalun lambat, memainkan melodi melankolis yang seolah dirajut dari helai-helai kesedihan. Di sanalah Elara duduk, menatap cangkir kopinya yang sudah mendingin. Matanya yang sembap menatap lurus ke depan, tepat pada punggung seorang pria yang duduk beberapa meja darinya.

​Rendra. Nama itu adalah bait doa yang paling sering Elara bisikkan pada semesta, sekaligus luka paling dalam yang ia pelihara sendiri.

​Sudah lima tahun Elara mencintai Rendra dalam diam. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk berpura-pura menjadi sekadar "sahabat baik". Elara adalah orang pertama yang Rendra hubungi saat pria itu patah hati, orang yang bersedia merajut kembali serpihan hati Rendra yang hancur karena wanita lain.

Namun, Elara juga orang yang harus menelan pahitnya kenyataan bahwa sejauh apa pun Rendra melangkah, pandangan pria itu tidak akan pernah jatuh padanya.

​Malam ini, Rendra memintanya bertemu dengan nada suara yang terdengar begitu bahagia di telepon. Kebahagiaan Rendra adalah detak jantung Elara, namun entah mengapa, malam ini firasatnya terasa mencekik leher.

​"Hei, El. Maaf ya membuatmu menunggu lama," Rendra tiba-tiba sudah duduk di hadapannya, membawa aroma parfum maskulin yang sangat Elara hafal. Senyum Rendra merekah begitu lebar, tipe senyuman yang selalu berhasil membuat dada Elara berdesir, sekaligus ngilu.

​"Enggak apa-apa, Ren. Aku juga belum lama sampai kok," bohong Elara. Ia sudah di sana sejak dua jam yang lalu, hanya demi memastikan ia tidak terlambat semenit pun untuk menemui Rendra.

​Rendra meraih cangkir kopinya, lalu menatap Elara dengan mata yang berbinar-binar. "El, aku ingin kamu menjadi orang pertama yang tahu. Aku... aku akhirnya menemukannya."

​Jantung Elara seakan berhenti berdetak. "Menemukan... apa?"

​"Cinta sejatiku," ucap Rendra lirih, namun binar di matanya begitu benderang. "Alya. Kami memutuskan untuk menikah bulan depan. Aku ingin kau menjadi saksi di hari bahagia kami, El. Kau sahabat terbaikku, tanpamu, aku tidak akan bisa melewati masa-masa sulit dulu."

​Dunia di sekitar Elara mendadak hening. Alunan piano di kedai itu seolah berubah menjadi sebuah simfoni hitam sebuah musik kematian bagi harapan-harapan kecil yang selama ini ia pupuk di dalam dadanya. Renda-renda mimpi yang ia rajut setiap malam kini koyak tak bersisa.

​Elara merasakan dadanya begitu sesak, seolah pasokan oksigen di dunia ini tiba-tiba habis. Ada air mata yang mendesak ingin keluar dari sudut matanya, namun dengan sekuat tenaga ia menahannya. Ia meremas jemarinya di bawah meja hingga memutih, mencoba mengalihkan rasa sakit di hatinya ke fisik.

​"El? Kamu baik-baik saja?" Rendra mengernyitkan dahi, menatap wajah Elara yang mendadak pucat.

​Elara memaksakan sebuah senyuman. Senyuman paling topeng, paling palsu, dan paling menyakitkan yang pernah ia buat seumur hidupnya. "Aku... aku baik-baik saja, Ren. Aku hanya... terlalu bahagia untukmu. Akhirnya sahabatku ini menemukan pelabuhan terakhirnya."

​"Makasih ya El. Kamu memang yang terbaik," Rendra mengacak rambut Elara pelan, sebuah gestur keakraban yang biasa ia lakukan. Namun kali ini, sentuhan itu terasa seperti sayatan sembilu bagi Elara. Setiap kedekatan fisik yang Rendra tawarkan hanyalah penegasan bahwa batas di antara mereka tidak akan pernah bisa dilompati.

​Malam itu, Elara pulang dengan jiwa yang kosong. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ia sedang menyeret seluruh beban di dunia. Begitu pintu kamarnya tertutup, pertahanan yang ia bangun dengan susah payah di depan Rendra runtuh seketika.

​Elara merosot di balik pintu, menekuk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tangisnya pecah dalam keheningan malam. Kamar yang gelap itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang perempuan hancur berkeping-keping karena cinta yang tak pernah bertuan.

​Isak tangisnya terdengar begitu menyedihkan, sebuah ratapan dari hati yang telah patah sebelum sempat memiliki. "Kenapa bukan aku, Ren? Kenapa harus orang lain?" bisiknya di sela-sela tangis yang sesak.

​Ia mengingat setiap momen yang mereka lalui bersama. Saat Rendra sakit, Elaralah yang memasakan bubur dan menjaganya semalaman. Saat Rendra gagal dalam kariernya, Elaralah yang memeluknya dan meyakinkannya bahwa ia berharga. Elara memberikan seluruh ketulusannya, seluruh waktunya, dan seluruh cintanya tanpa sisa. Namun, bagi Rendra, semua itu hanyalah kenyamanan dari seorang sahabat.

​Rendra mencintainya, ya. Tapi jenis cinta yang Rendra miliki untuknya tidak akan pernah cukup untuk membawanya ke pelaminan. Elara terjebak dalam kutukan "orang yang selalu ada, tapi tidak pernah menjadi yang terpilih."

​Hari pernikahan itu pun tiba. Gedung pertemuan dipenuhi dengan bunga-bunga putih yang indah dan wewangian yang semerbak. Di atas pelaminan, Rendra berdiri dengan setelan jas yang membuatnya tampak begitu gagah. Di sebelahnya, Alya anggun dengan gaun putih yang menjuntai. Mereka adalah sepasang kekasih yang tampak begitu sempurna di mata dunia.

​Elara berdiri di pojok ruangan, mengenakan gaun berwarna hitam pilihan warna yang sengaja ia pilih sebagai tanda berkabung atas hatinya yang telah mati. Dari kejauhan, ia melihat bagaimana Rendra menatap Alya. Tatapan penuh pemujaan, penuh pelindung, dan penuh cinta yang mendalam. Tatapan yang selama lima tahun ini selalu Elara impikan tertuju padanya, walau hanya sedetik.

​Ketika tiba gilirannya untuk menyalami pengantin, Elara melangkah naik ke pelaminan. Setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

​Rendra langsung memeluk Elara dengan erat saat perempuan itu sampai di hadapannya. "Terima kasih sudah datang, El. Berkat doa dan dukunganmu, aku bisa berdiri di sini hari ini."

​Elara melepaskan pelukan itu perlahan. Ia menatap mata Rendra untuk terakhir kalinya sebagai pria yang ia cintai secara bebas. "Selamat, Rendra. Bahagiakan dia. Jika kamu menyakitinya, aku adalah orang pertama yang akan menghajarmu," ucap Elara, mencoba menyelipkan nada bercanda untuk menyembunyikan getar parau di suaranya.

​"Pasti, El. Terima kasih," jawab Rendra tulus.

​Elara kemudian beralih pada Alya. Ia menggenggam tangan wanita cantik itu. "Alya, tolong jaga Rendra. Dia tidak suka kopi yang terlalu manis, dia sering lupa makan jika sudah bekerja, dan dia selalu butuh pelukan hangat saat dunianya sedang runtuh. Tolong... cintai dia lebih dari apa pun."

​Alya tersenyum manis, matanya berkaca-kaca mendengar ketulusan Elara. "Terima kasih, Kak Elara. Aku akan menjaganya dengan seluruh hidupku."

​Elara mengangguk, lalu berbalik dan berjalan turun dari pelaminan. Saat langkahnya mencapai anak tangga terakhir, setetes air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya jatuh, mengalir membasahi pipinya. Ia terus berjalan lurus, keluar dari gedung pernikahan itu, tanpa sekali pun menengok ke belakang.

​Hujan deras mengguyur kota sore itu, seolah semesta ikut menangis bersama Elara. Perempuan itu berjalan di bawah rintik hujan tanpa payung, membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang mengalir deras di wajahnya.

​Ia tahu, perjalanannya mencintai Rendra telah usai. Simfoni hitam di hatinya telah memainkan nada terakhirnya. Ia telah memberikan segalanya, namun takdir tetap berkata bahwa ia hanyalah bab figuran dalam buku kehidupan Rendra, sementara Alya adalah judul utamanya.

​Cinta bertepuk sebelah tangan adalah jenis rasa sakit yang paling sunyi. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kata putus, yang ada hanyalah penerimaan yang dipaksakan dan kehilangan yang harus dirayakan sendirian.

Elara berhenti di jembatan kota, menatap aliran air di bawahnya. Bersama dengan jatuhnya air hujan, ia melepaskan sisa-sisa harapannya. Ia akan belajar melupakan, walau ia tahu, separuh dari jiwanya telah tertinggal di hari pernikahan Rendra, mati rasa dalam sepi yang abadi.

TAMAT

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi