POV Shirin (Umma)
Ajakan Mom Ella untuk temu main kedua anak kami pagi ini, membuat saya merasa seperti tersingkap di bawah sorot cahaya, di hadapan banyak mata. Sebab kedekatan tertentu, kadang membuat saya seperti vampir yang dihantam sinar terik. Walaupun saya telah menghabiskan masa muda tanpa teman signifikan, bukan berarti saya tidak bahagia, ‘kan?
Saya hampir memiliki segalanya. Suami pengertian yang bekerja sebagai dosen di kampus yang hanya perlu menempuh jalan kaki dari apartemen kami di Margonda, Depok. Dua putra kami yang masih kecil-kecil, Arshile atau Arsh (12 tahun), penyayang seperti ayahnya, punya sikap kepemimpinan, dan selalu menggandeng saya, Ummanya, kalau ke mana-mana. Juga, Miqdad atau Mike (5 tahun), manis, rambutnya bergelombang. Mereka adalah hasil kasih sayang leluhur kami selama bertahun-tahun, sesuatu yang amat saya syukuri sebagai orang yang sangat menghargai identitas dan cerita garis keturunan.
Semenjak walikota New York City dimenangkan oleh seorang Muslim, Zohran Mamdani—banyak embel-embel bertebaran di SD Internasional Arshile, “Zohran is Beauty”, foto masa kecil politikus keturunan Gujarat dan Uganda itu dishare di grup kelas, yang paling keterlaluan adalah beberapa guru dan wali kelas menyebut Arshile sebagai “Little Zohran” karena putra saya itu aktif di organisasi dan mengkampanyekan dirinya sebagai Ketua Student Council, bersama Ella sebagai wakilnya.
Bukan nilai-nilai pemimpin New York City itu yang mengusik. Saya hanya belum rela—anak dengan tidur setenang Arshile menanggung nama seberat itu. Namun, saya bisa apa? Saya hanyalah seorang ibu biasa yang percaya pentingnya sebuah nama. Mengapa? Sebab selain nama menjadi identitas yang terus berkembang sepanjang usia umat manusia, nama adalah bidang yang tak pernah lepas dari saya, yang bekerja sebagai pengamat nama dan pemilik forum online untuk membahas nama pertama di Indonesia, namakenari.com.
***
POV Arshile
Hari ini spesial, karena Ella dan aku akan bertemu. Aku memandang langit pagi Margonda dari pintu geret kaca apartemen keluargaku dengan bangga. Beberapa hari yang lalu di sekolah, Mrs. Intan memanggil anak kelas 6 yang berminat menjadi perwakilan Student Council. Di situlah pertama kali aku bertemu dengan Ella. Dia cantik, terutama pink di pipinya kalau berpendapat dengan memaksa dan bernada marah.
Sebelum Abah pergi ke UI, aku harus meminjam dasi untuk melengkapi kemeja biru muda dan celana biru tuaku. Aku harus tampil mengesankan. Aku menoleh ke samping, di atas meja dekat pintu geret, Umma tidur dengan melipat tangan di atas laptop yang menayangkan layar berisi coding yang tak kumengerti. Aku hanya paham kalau website nama bayi Ummaku sedang bermasalah.
Aku mengerutkan senyum, mengelus pundak Ummaku. “Umma, maaf Arsh bangunin Umma. Abah mau berangkat ngajar.”
Umma mengangkat wajahnya, tersenyum sepintas, lalu matanya mencari-cari, “Astaghfirullah, jam berapa ini?” Kemudian beliau berlari ke Abah.
“Jafar, aku,” kata Umma dengan suara kalem. Aku berdiri di belakang beliau. “Stres sendiri mau ketemuan di Margositi.”
Aku menarik kepalaku ke belakang, memijat lembut lengan Umma, sementara Abah meyakinkan. “Shirin ..., dengar, kamu luar biasa. Tidak perlu minder. Kamu punya website nama bayi terkenal, itu jugalah pencapaian. Kamu punya Arshile, Miqdad, anak-anak kita yang ganteng, apalagi yang perlu dicemaskan?”
“Iya, kok, Umma, Arsh juga gak akan malu-maluin, kok. Arsh tahu cara ber-manner,” kataku menenangkan beliau, Ummaku yang pencemas, tetapi amat kusayangi. “Nanti aku akan jagain Mike juga, kok ....”
“Hm, makasih, Sayang,” kata Umma pelan, tersenyum tipis.
“Abah, aku pinjam ini, ya!” ucapku setelah mengambil dasi dari lemari keluargaku.
“Sip,” jawab Abah agak keras agar suaranya sampai padaku. Beliau menatap Umma dengan sayang. “Begitu, ya, Rin? Adakah yang ingin kamu ucapkan?”
“A-aku ... takut pertemuanku dengan Mom-nya Ella tidak berjalan lancar. Aku tahu pikiranku astaghfirullahalazim banget. Aku hanya, tidak bisa mengalihkan rasa curiga pada orang baru. Pikiranku dipenuhi ‘gimana kalau’-’gimana kalau’,” balas Umma. Aku berada di kamar, duduk di atas kasur, mendengarkan pembicaraan mereka dari jauh, sekaligus menyentuh gemas rambut adikku.
“Nah, sekarang alternatifkan pikiran ‘gimana kalau’ itu jadi: gimana kalau semuanya berjalan lancar? Aku dapat teman baru? Aku akan semangat menjalaninya. Begitu, Rin!” kata Abah bersemangat. Aku senang mendengar jawabannya.
“Baiklah, doakan kami ya, Far,” kata Umma pada Abah.
“Tentu, Sayang. Have fun, guys.” Sebelum Abah membuka pintu apartemen, aku berlari mendekat, menggenggam jemari Ummaku. “Arshile, jaga Umma dan Adek, ya? Abah berangkat dulu. Allah Hafiz. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” balas Umma dan aku.
Sesuai rencana, jam 9 tepat, Umma, aku, dan Mike, turun ke lobby, berjalan kaki di sekitar Rumah Sakit Bunda. Aku menggandeng Umma di bagian dekat jalan raya, sementara Mike di bagian yang berpapasan dengan restoran, kafe, toko buku, jembatan penyeberangan, apartemen lain, hingga akhirnya area mal tempat kami akan bertemu Ella dan keluarganya.
Setelah sampai, aku melihat Ella dengan blazer merah, bersama Mom-nya, wanita berhijab putih dengan anting raksasa di telinganya.
Aku menata kerahku, melihat Umma yang menjadi kaku, tetapi tampak cantik yang tenang ketika mengenakan kemeja putih, celana krim yang tidak ketat, dan kerudung coklat semi kelabu itu.
“Umma,” ucapku menarik tangannya ke dadaku. Mata beliau melebar, Mike berhenti berjalan. “Arsh bangga sama Umma. Umma masih kuat?”
Umma tertawa. “Makasih, Sayang. Arsh sapa mereka duluan, gih. Umma gak terbiasa.”
“Sip.” Aku mengacungkan jempol, lalu berjalan menyambut mereka. Aku menatap mata Mom Ella, berjabatan bagai diplomat, dan memperkenalkan diri. “Pagi, Tante ... “ aku tersenyum pada Ella “Pagi Ella .... perkenalkan, nama saya Arshile Hafiz. Ini Umma saya, nama beliau Shirin Almuhdar. Lalu ini adik saya, Miqdad Rasyid. Salam kenal, Tante, salam kenal lagi, Ella ....”
“Hai, Arsh. Keren-keren kalian ya. Keluarga Arab jangan-jangan, nih? Nama saya Nada Widiatmoko, terus ini, pasangan kamu—” Mom Ella menyenggol lengan putrinya padaku.
Ella mendengkus kesal karena dicengin Mom-nya. Aku tertawa.
“E-eh, canda. Ini putri saya satu-satunya, namanya Cut Estella Jinan.”
Dari tadi aku mencoba membaca raut muka mereka satu persatu. Mom Ella tampak puas, tersenyum ramah, Ella masih sedikit menyernyit, Mike tampak bingung dan polos, dan Umma? Umma ... tampak sinis yang tak yakin, tetapi mengapa?
***
Kembali ke POV Shirin (Umma)
Rasanya tidak baik-baik saja mendengar nama yang saya cintai berwujud teman berpolitik Arshile. Saya membuat kombinasi itu sekiranya 15 tahun lalu saat saya masih 20 tahun, dan memulai forum nama bayi saya sebagai blog. Pengunjungnya juga hampir nol pada saat itu. Saya merasa ini semacam intrusi ke ranah pribadi, dan saya sangat kecewa menemukannya di ruang publik. Saya tidak yakin bisa melanjutkan semua ini.
“Umma? Yuk,” ajak Arshile menarik tangan saya hingga saya mengikutinya.
Di lift, mata saya terbuka lebar ke arah lantai. Miqdad mengayun-ayunkan tangan saya. Kepalanya tampak dekat dan ia seperti membuat senyuman.
“Anak-anak biarin aja ke Pleitopia, kita bisa ngobrol ya, Mom.”
“Boleh, Mom,” balas saya lembut, meski sebenarnya dalam hati ingin misuh.
Saya memerhatikan rambut tebal Arshile dan mendengarkan obrolannya dengan Ella.
“Kamu udah isi tabel rencana yang dibuat Mrs. Intan, La?”
“Udah, dong, semuanya udah kumasukin di tas kecil ini,” kata Ella mencoba anggun, membuka tutup tas kecilnya.
“Naiss ..., tapi bener kan, saranku buat sepersekian hasil koperasi mau dibuat sumbang buku mau dipake?”
“Gak usah itu, Arsh, mending dibuat memajukan koperasi itu lebih lagi.”
“Yaah, kamu itu gimana, sih?” keluh Arshile. Heran. Aku baru mendengar reaksi anakku yang seperti ini.
“Udaah! Jangan maksa aku!” Ella berteriak ekspresif.
Pintu lift terbuka, Ella mencengkeram tangan Arshile, begitu pula Arshile mengajak Miqdad. Mereka berlari menuju playground bernuansa pastel yang dimaksud Nada. Sesuatu dalam dada saya melapang, karena begitu seharusnya menjadi anak-anak. Tidak memikirkan perkara dewasa terlalu banyak.
“Jagain adeknya, ya ...! Nanti Umma kembali ...!” sahut saya setelah memasangkan gelang karcis pada mereka.
Tinggal saya dan Nada, berjalan santai menuju kafe terdekat di lantai yang sama.
Rahang saya agak mengeras, tidak nyaman berjalan bersamanya. Ini kan memang tempat beli kopi favorit saya, mengapa dia malah mengikuti, sih?
“Mom Arsh juga suka beli kopi di sini?” tanya Nada saat membuka pintu kafe lebih dulu. Saya masih diam saja. “Tapi gak heran kok, kita kan Gen Z moms ....”
Saya akhirnya masuk, dengan menampilkan muka sedatar mungkin. Saat mengantre, Nada mulai bertanya, “Susah gak sih, jadi Mom-nya Arsh? Cerita dong, apa susahnya dan apa enaknya?”
Saya menganggapnya lalu lalang, karena tidak begitu berminat. “Kalau Mom Ella sendiri apa hayo ... susah dan enaknya jadi Mom-nya Ella?”
Dia tertawa, “Lucu juga, kamu, Mom. Kalau dari saya ya ... Ella orangnya serius, kadang bossy ... itu ribetnya. Kalau senangnya, dia gas aja kalau diajak jalan-jalan kayak gini. Maksudnya enjoy, gitu.”
Aroma biji kopi menyeruap di udara. Kami duduk di booth setelah memilih pesanan.
“Jadi gimana kerjaan? Seminggu ini ada yang menarik?” tanya Nada.
“Saya membetulkan bug yang ada di website forum saya, mungkin itu. Saya belajar hal baru selain penamaan.”
“Keren dong, terus-terus?”
“Forum namakenari.com milik saya meningkat popularitasnya, dan saya bentar lagi akan diwawancarai stasiun televisi.”
“Oh, jadi forum itu punya Mom?”
“Ya, Mom pernah buka itu?” tanyaku, melirik sinis. Sengaja bertanya begitu, agar terkuak semua cara ia menamai Ella.
“Huh? Ya pernah dong, Mom.”
Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, barista memanggil nama kami. Saya berdiri.
“Sekalian ya, Mom,” pinta Mom Ella agar kopinya diambilkan.
Saya mengambilkan miliknya tanpa komentar, sementara ia malah scrolling ponsel.
Saya meletakkan Flat White di meja hadapannya, lalu menyeruput Americano saya sendiri.
“Thanks, Mom. Btw, ini foto Ella pas masih di UAE.” Nada menunjukkan foto putrinya dari ponsel di tangannya, “Jadi, Ella lahirnya di Dubai, pas ayahnya kerja di sana. Nama bidannya Tsurayya, sempet mau pakai nama itu tapi gak jadi, soalnya nemu yang lebih bagus lagi, yaitu Estella.” Nada menutup ponselnya, tetapi tangannya tidak bergerak menjauh dari benda itu. Ia tampak menunggu sesuatu dari saya, seolah ia sendiri merasa perlu memvalidasi cerita tentang nama anaknya.
Saya menarik napas, menyiapkan serangan. “Ya iyalah, orang itu Mom ambil dari sembarang tempat kan inspirasinya?”
Senyum Nada langsung membeku. Tangannya yang tadi memegang ponsel berganti meremas wadah Flat White-nya. “Maksudnya apa ya, Mom?” tanyanya pelan, tetapi matanya menatap saya tanpa berkedip.
“Saya tidak bermaksud menuduh, saya hanya bertanya,” akui saya.
“Saya tahu itu hanya bertanya, Mom. Tapi saya tidak suka jika pertanyaan itu diungkapkan dengan nada menghakimi. Nama anak saya murni pilihan kami berdua. Tolong jangan menggeneralisasi ya, Mom.”
Saya membalas dengan lebih tajam. “Oh, begitu, ya, tapi blog saya sebelum berbentuk website namakenari.com pernah memuat kombinasi yang sama persis dengan nama anak Anda. Nama anak Anda persis seperti yang pernah saya posting 15 tahun yang lalu.”
Nada meletakkan Flat White-nya dengan keras di atas meja. “Blog kamu? Emangnya di dunia ini cuma kamu yang bisa merangkai nama? Jangan berlagak seperti kamu punya hak cipta atas gagasan! Sekarang jujur, kamu ke sini buat cari teman atau mau menagih royalti nama?” Bentakan Mom Ella terdengar keras, membuat orang-orang di kafe melihat ke arah kami. Tidak peduli, lebih baik saya luruskan semua ini dulu.
“Saya tahu itu Mom ambil namanya dari blog saya dulu.”
“Eh, dengerin, ya! Gue mikir keras sama suami buat nama ini! Jangan seenaknya lu nuduh gue nyuri inspirasi di depan umum!” teriaknya lagi.
“Maaf, Bu ... kalau mau ramai di luar ya? Ini bukan tempat buat bertengkar,” kata penjaga sampai menghampiri kami. Saya sudah sangat malu tak kepalang, jadi saya beranjak.
“Salahin dia, Mas! Main nuduh,” ucap Mom Ella.
“Tapi jujur, itu dari mana nama Cut Estella Jinan?” Saya tetap keukeuh, kembali menoleh sebelum keluar. Suara saya meninggi.
“Dari cocoklogi gue sama ayahnya Ella lah. Lu mau bilang apa?”
“Ibu-ibu, silakan keluar. Tidak boleh berisik di sini, ganggu pelanggan yang lain.”
*
Kami berdiri di depan kafe tadi. Mata saya berkaca-kaca, dan Mom Ella dari tadi mondar-mandir, kehilangan kesabaran menunggu putrinya. Sebelum pertahanan saya runtuh, saya berlari ke toilet di lantai tersebut.
Saya menekan pipi dan wajah di depan cermin toilet wanita. Air mata saya luruh. Astaghfirullahalazim. Saya berpikir betapa egoisnya saya. Jika benar Mom Ella mengambil nama itu dari blog saya, ya biarlah, itu sudah jadi konsekuensi mempublikasikan gagasan ke internet. Lagipula, nama anak tidak bisa punya hak kekayaan intelektual. Mengapa saya bisa setidakrela ini dan menjadi keanak-anakan?
Tak lama, lengan saya ada yang menyentuh. “Umma ..., Umma kenapa?” Suara Arshile cemas. “Mom Ella marah-marah tadi. Yuk Umma, kita samperin mereka. Umma, Arshile sampe masuk kamar mandi perempuan, nih ....” Arshile mengelus-elus lengan saya, memberi kekuatan sekaligus menyadarkan, di sampingnya, Mike ikut merengek.
“Umma gak pandai berkawan, Arshile. Umma cuma bisa bikin musuh,” jawab saya jujur.
“Dulu, aku sama Ella juga gitu, Umma. Umma tenang saja, itu bukan tidak bisa dibenerin. Ini cuma masalah ketidakcocokan cara ngomong. Yuk sekarang kita cepat menyusul, sebelum mereka pulang.”
Akhirnya saya diajak kedua anak saya turun menuju parkiran. Di sepanjang jalan, Arshile mengoceh tentang apa yang harus saya katakan dan lakukan setelah ini. Dengan gerakan tangan yang penuh, ia berkata:
“Umma, Arsh tau, nama lengkap Ella kedengeran familiar di Umma. Saking familiarnya sampai mengusik pikiran Umma. Cuma, Umma ndak bisa mengatakan langsung di pertemuan pertama dengan nada mengaku-ngaku kalau itu nama buatan Umma. Umma harus menunggu cukup dekat sama Momnya Ella sampai ia jujur sendiri.” Mata Arshile fokus ke jalan depannya, ke arah outlet pakaian dan make-up yang ada di dalam Margositi.
“Duh, Arsh, Umma ini paling gak bisa urusan sosial. Umma tidak sepandai Arsh karena dulu Umma kesulitan berteman.”
“Sekarang Arsh maafin Umma, tidak papa. Tapi, habis ini, Umma tanyakan apa benar mereka ambil nama Ella dari blog Umma, terus, Umma harus mengalah, minta maaf dan berterima kasih, tentang kenyataan apa pun yang dikatakan mereka, InsyaAllah nanti ketegangan sama mereka akan cair.”
Saya mengangguk-angguk. Sesampainya di parkiran, suami Nada menunggu di depan mobil miliknya. Ia mengenakan topi yang terlalu kasual dan tidak cocok untuk jas dan kaos yang dikenakannya. Ia menatap kami dengan wajah kesal dan menantang.
“Ada apa ini?” Kepalanya mengangkat satu kali.
“Maaf, Om, Tante, Umma saya adalah seorang pengamat nama. Umma mengira kalau nama Ella diambil dari blog miliknya. Umma gak berniat mengatai Tante mencuri inspirasi namanya, tapi Umma ingin tahu bagaimana Om dan Tante memilih nama itu, begitu kan, Umma?”
Tangan Miqdad saya cengkeram, karena kecemasan sudah memenuhi tubuh saya. “Ya,” kata saya pelan.
“Yaudah kalau gitu, tapi hakmu apa, sih?” tantang suami Nada.
“Tidak ada. Saya cuma ingin bertanya,” jawab saya lemah.
“Om, Tante, seperti yang tadi saya katakan, Umma saya sangat menghargai nama. Itu seperti seorang pembisnis menghargai uang, arsitek menghargai bangunan. Semoga bisa dipahami, ya, Om-Tante.”
“Okelah, saya ceritakan, biar clear. Sebetulnya, saya yang milih nama ini. Saya baca artikel tentang nama di internet pas zaman kuliah, ya udah, setelah itu suka dan gak mikir nama-nama lain.”
“Kalau boleh tahu, apa begini wujud blog artikelnya?” tanya saya, menjulurkan ponsel saya yang berisi screenshot website lama saya.
Pria itu terdiam sejenak, meneliti, “Ya ... ya, itu dia.”
“Bang!” Nada menarik tangan suaminya.
“Dan apa katamu, Umma?” tanya Arshile.
“Yang tadi?” tanya saya.
“Iya, Umma siap?” tanya Arshile balik dengan pelan, seolah saya perlu keyakinan tambahan darinya, tetapi memang iya, saya membutuhkannya. Saya mengangguk.
“Baik, yang diiyakan oleh ayahnya Ella memang blog lama saya, dan saya mengaku saya telah egois. Saya seharusnya paham apa pun yang di-post akan jadi hak khalayak umum. Dan saya berterima kasih pada Mom Ella yang telah menyadarkan saya untuk tidak mudah menghakimi. Sebelum pulang, bolehkah saya bersalaman minta maaf?”
Senyum Arshile mengembang. Ini semua idenya.
Mom Ella ragu-ragu maju, menerima salaman saya. “Ih, jadi malu, kan. Bang Doni pakai jujur segala,” canda Nada, “Maaf juga ya, Shirin. Makasih banyak Arshile dan Miqdad.”
“Enggak, kami yang seharusnya minta maaf. Yuk salim dulu, Mike.” Saya memegangi tangan Miqdad yang sudah lunglai di dekapan saya. Miqdad berhasil saya suruh menyalimi tangan ayah dan ibunya Ella.
“Sama-sama, Tante, dadah! Kita pulang dulu ya, Ella, Om, Tante!” ucap Arshile melambaikan tangan dan menggandeng tangan saya untuk pulang jalan kaki.
Setidaknya meskipun saya belum berhasil mendapatkan satu kawan, saya juga gagal mendapat musuh tambahan. Saya bersyukur dengan semua yang sudah digariskan Tuhan, dan semua yang apalagi kalau bukan terjadi karena Arshile. Semua demi si Zohran kecil.